Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Masa Lalu Alina


__ADS_3

Alina terpaku di tempatnya, perlahan ia tenggalam dalam rasa takut yang teramat kuat. Bangunan mewah itu mengingatkannya pada kejadian di masa silam. Kejadian menyakitkan yang menjadi awal dari kisah pahit dalam hidupnya.


Samar-samar, Alina menatap bayangan gadis kecil yang menangis di depan jenazah. Gadis itu meraung-raung, sambil berteriak. Berharap ada keajaiban yang membuat keluarganya hidup kembali.


"Alina, hei Alina! Kamu kenapa?" teriak Ghani sambil mengguncang tubuh Alina.


Lamunan Alina buyar seketika, lantas ia menatap Ghani lekat-lekat. Mata bulatnya mulai memburam, dan detik selanjutnya air mata tumpah membasahi kedua pipinya.


Ghani semakin heran, lalu ia menggendong tubuh Alina, dan menyeka air matanya.


"Kamu kenapa, kamu tidak suka tinggal di rumah ini?" tanya Ghani sembari menatap Alina dengan lembut.


"Suka Bang, tapi aku capek," jawab Alina berbohong. Ia masih takut untuk mengatakan yang sebenarnya pada Ghani.


"Harusnya bilang dari tadi, biar Abang gendong. Maaf ya, Abang tidak tahu kalau Alina capek. Ya udah ayo masuk ya," ucap Ghani sambil melangkahkan kakinya.


Semakin Ghani mendekati pintu utama, semakin erat Alina mencengkeram kemejanya. Gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ghani, sesekali matanya melirik. Takut jika ada bahaya yang tiba-tiba mendatanginya.


"Di mana Paman dan Bibi, apakah mereka ada di dalam sana. Bagaimana kalau mereka mencoba membunuhku. Ya Allah semoga mereka tidak mengenaliku," batin Alina kala Ghani mulai melangkah memasuki ruang tamu.


"Bibi pengasuh baru datang besok pagi. Jadi malam nanti, tidur sama Abang dulu, ya," kata Ghani.


"Iya Bang." Jawab Alina dengan pelan.


Ghani berjalan menuju ruang tengah, di sana ada Satya, Bryan, dan Tommy yang sedang berbincang bersama. Mereka sedang membahas undangan konser, dalam acara ulang tahun salah satu stasiun televisi yang cukup terkenal. Karena inilah, Tommy memaksa Ghani untuk segera kembali. Ini merupakan konser besar yang perdana bagi Ghani.


"Assalamu'alaikum." Sapa Ghani .


"Waalaikumsalam." Jawab mereka serempak.


"Gadis yang manis. Siapa namamu, Nak?" tanya Tommy sambil mengusap pipi Alina, kala Ghani sudah duduk di sebelahnya.


"Alina," jawab Alina dengan pelan. Matanya melirik ke sana, ke mari. Meneliti setiap jengkal ruangan itu, seolah sedang mencari sesuatu.


"Kenapa tidak ada Paman dan Bibi, di mana mereka? Apakah rumah ini sudah dijual? Mudah-mudahan saja iya, aku takut bertemu dengan mereka, aku tidak mau dibunuh." Batin Alina dalam hatinya.


Detik selanjutnya, Alina tetap duduk di atas pangkuan Ghani, sambil memeluknya dengan erat. Ia mencuri dengar perbincangan Ghani dan yang lainnya. Namun nama paman dan bibinya sama sekali tak disinggung. Apakah benar, rumahnya sudah dijual? Satu pertanyaan yang terus mengusik benak Alina.


***

__ADS_1


Jarum jam menunjukkan tepat pukul 09.00 malam. Ghani mengajak Alina berbaring di ranjang kamarnya. Malam ini personel Batas istirahat lebih awal, untuk persiapan latihan esok hari.


Ghani berbaring di sebelah Alina, setelah menutupi tubuh gadis kecilnya dengan selimut tebal bermotif panda. Ghani membimbingnya berdoa, kemudian mengusap puncak kepalanya dengan lembut.


"Sekarang tidur ya. Sudah berdoa, sudah ditemani Abang di sini, pasti nanti Alina mimpi indah," ucap Ghani sambil tersenyum.


"Iya Bang," jawab Alina sambil mengangguk.


Alina memejamkan matanya, sementara Ghani, ia terus mengusap kepalanya dengan lembut.


Namun tak lama kemudian, Alina kembali membuka matanya.


"Bang," panggil Alina dengan pelan.


"Hmmm, kok belum tidur. Kenapa?" tanya Ghani sambil menatap wajah Alina. Sejak tiba di rumah ini, sikap Alina mendadak aneh, ada apa dengannya?


"Aku ingin pulang, aku ingin tinggal di rumah bersama Kak Bayu dan Bang Arron," jawab Alina dengan pelan. Kedua tangannya meremas ujung selimut yang menutupi dadanya.


"Ada apa, kamu tidak suka dengan rumah ini?" tanya Ghani. Kini ia bangkit dari tidurnya, ia duduk sambil menatap Alina lekat-lekat.


"Aku rindu Kak Bayu," jawab Alina masih dengan suara pelan.


Cukup lama Alina terdiam. Ia hanya menatap Ghani lekat-lekat, tanpa mengucapkan sepatah kata.


"Alina!"


"Dulu ini adalah rumahku Bang," jawab Alina dengan sangat pelan. Suaranya seperti tertinggal di tenggorokan. Ia menjawab sambil menitikkan air matanya.


"Apa!" teriak Ghani dengan mata yang membelalak lebar. Ia sangat kaget mendengar pengakuan Alina.


"Di lantai dua, memang banyak direnovasi. Tapi di teras dan di lantai bawah, sama sekali belum ada perubahan. Aku ingat ini rumahku Bang. Aku tidak mau bertemu Paman dan Bibi, aku takut dibunuh Bang," ucap Alina sambil menangis. Air matanya berderaian tiada henti.


"Alina, jangan menangis! Ayo cerita sama Abang, jelaskan semuanya. Kamu jangan takut, ada Abang di sini. Abang tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti kamu, ya. Ayo cerita!" kata Ghani seraya menyeka air mata Alina.


Perlahan Alina bangkit dari tidurnya, ia mengusap sisa-sisa air matanya dengan selimut. Ia duduk menghadap Ghani, dengan pandangan mata yang sendu. Seolah ia benar-benar menggantungkan harapannya pada Ghani.


"Sejak keluargaku tiada, Paman dan Bibi sangat membenciku. Mereka membuangku di Surabaya, katanya aku anak pembawa sial. Paman mengancam akan membunuhku, jika aku berani kembali ke rumah ini. Rumah ini dulunya milik Mama dan Papa, tapi sejak mereka kecelakaan dan meninggal, rumah ini menjadi milik Paman dan Bibi." Alina bercerita sambil sesenggukan.


Ghani berpikir sejenak, kenapa bisa seperti ini? Menurut keterangan Satya, rumah ini milik Tommy. Dia selalu memberikan tempat tinggal untuk semua band yang ada dalam naungannya. Mungkinkah Alina dan Tommy memiliki hubungan?

__ADS_1


"Alina!" panggil Ghani.


Alina tak menjawab, namun ia kembali menatap Ghani dengan lekat.


"Kamu kenal dengan bapak yang tadi? Yang duduk di sebelah Abang, yang terlihat paling tua?" tanya Ghani. Dan Alina menjawabnya dengan gelengan kepala.


"Sebenarnya, pemilik rumah ini adalah dia," ucap Ghani sambil tetap menatap Alina.


"Tapi aku tidak mengenalnya Bang, apa mungkin rumah ini sudah dijual," gumam Alina seraya menautkan jari jemarinya.


"Meskipun rumah ini sudah dijual, tapi paman dan bibinya harus bertanggungjawab. Mereka telah merampas apa yang menjadi haknya Alina. Aku harus mencari keadilan untuk Alina," batin Ghani dalam hatinya.


"Alina, kamu ingat siapa nama paman dan bibimu?" tanya Ghani.


"Ingat Bang. Paman bernama Frans Been Jackson, dan Bibi bernama Laras Kurniawan." Jawab Alina.


Ghani memijit pelipisnya, ia mencoba mengingat-ingat nama yang baru saja Alina sebutkan.


"Been Jackson, sepertinya nama itu cukup familiar. Tapi siapa ya, ahh kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingatnya." Gerutu Ghani dalam hatinya.


"Aku takut Bang," ucap Alina dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


"Ada Abang, Alina. Kamu tidak perlu takut lagi, ya. Sekarang ayo tidur, dan lupakan semuanya. Percayalah, bersama Abang kamu pasti baik-baik saja, ya!" kata Ghani sambil meraih tubuh Alina dan kemudian membaringkannya.


Ghani kembali mengusap puncak kepalanya dengan lembut, hingga gadis kecil itu terlena dalam mimpinya.


Setelah Alina tertidur, Ghani kembali berpikir keras. Berusaha mencari jawaban, siapa Been Jackson sebenarnya.


Dan tak lama kemudian, Ghani mendapatkan satu ide yang cukup brilliant.


Ghani bergegas turun dari ranjang, ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia mencoba mengetik nama Frans Been Jackson, berharap nama itu muncul di pencariannya.


Selang beberapa detik, nama Frans Been Jackson benar-benar muncul. Dia adalah pembisnis besar yang cukup berpengaruh di Indonesia. Namanya banyak disanjung oleh semua kalangan.


Namun mata Ghani tiba-tiba membelalak lebar, kala menatap sebaris kalimat yang tertera di sana.


"Jadi, orang yang merampas masa depan Alina, itu adalah orang tuanya dia," gumam Ghani dengan pelan. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat, saat menyadari fakta yang sangat mengejutkan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2