
Sekitar lima menit kemudian, seorang wanita berusia lanjut datang menghampiri satpam. Ghani meliriknya, dan kemudian menunduk. Meskipun usianya tak lagi muda, namun auranya masih memancarkan kewibawaan. Ghani menggigit bibirnya, berharap wanita itu membawa kabar baik untuknya.
"Nyonya!" sapa satpam.
Wanita itu menanggapinya dengan anggukan dan senyuman. Tindak tanduknya sangat anggun dan elegan, kepercayaan diri Ghani semakin terkikis saat berhadapan dengannya.
"Nyonya ini, apakah beliau ibunya Bylla?" Gumam Ghani dalam hatinya.
"Apakah kamu yang bernama Ghani?" tanya Bu Mirna sambil membenarkan kacamata bening yang merosot di hidungnya.
"Iya, Nyonya." Jawab Ghani sedikit gugup.
Bu Mirna menatap Ghani dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Sedikit ragu, jika cucunya mengenal lelaki seperti Ghani. Walaupun Bylla memang pribadi yang rendah hati, dan tidak memandang harta dalam memilih teman. Namun aneh saja jika ia menganggap Ghani istimewa.
"Sudah lama mengenal Bylla?" tanya Bu Mirna.
"Belum, sekitar tiga bulan. Bylla sangat sering membantu anak-anak yatim yang tinggal bersama saya, saya sangat berterima kasih padanya." Jawab Ghani.
"Anak-anak yatim, apa salah satunya bernama Alina?" tanya Bu Mirna.
"Iya, betul Nyonya." Jawab Ghani.
"Oh jadi dia kakaknya Alina. Apakah Bylla menganggapnya berbeda, sampai-sampai ia mau menemuinya. Padahal, sejak kemarin ia selalu menolak siapa pun yang ingin bertemu dengannya." Batin Bu Mirna dalam hatinya.
Bylla pernah bercerita tentang Alina, ketika bocah kecil itu masuk rumah sakit, karena tertabrak mobilnya.
"Silakan masuk, Bylla menunggumu di taman belakang! Ayo saya antar!" kata Bu Mirna sambil tersenyum.
"Terima kasih, Nyonya." Jawab Bylla.
Lalu mereka berjalan menyusuri pelataran rumah. Ghani berdecak kagum kala menatap bunga-bunga yang ditata dengan rapi di halaman rumah, juga ada ayunan dan air mancur yang semuanya terlihat sangat elok.
Tak lama kemudian, mereka mulai memasuki pintu utama. Ghani melepaskan alas kaki kumalnya di sana, lalu kembali mengikuti langkah Bu Mirna.
Lagi-lagi Ghani berdecak kagum, kala netranya memandang perabotan yang serba mewah. Sofa, meja, hiasan dinding, dan pernak-pernik lainnya, yang Ghani yakini harganya tidaklah murah. Satu barang saja, pasti sudah bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhannya selama satu tahun penuh.
Mereka terus berjalan, hingga tiba di belakang rumah. Satu hal yang pertama kali menarik mata Ghani, adalah sosok wanita yang sedang duduk di atas kursi roda. Pandangannya datar, menatap kosong ke arah kolam renang. Semilir angin, menerpanya, dan meriapkan rambut coklatnya. Namun ia tetap bergeming, bahkan jernihnya air kolam, juga kicauan burung yang terdengar bak melodi, sama sekali tak mengalihkan perhatiannya.
"Temuilah dia! Kau tahu, sejak keluar dari rumah sakit, hanya kamu satu-satunya orang luar yang berhasil membuatnya keluar dari kamar!" kata Bu Mirna sambil menatap Ghani.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa yang menarik dalam dirimu, yang membuat Bylla menganggapmu berbeda. Tapi apapun itu, kuharap adalah sesuatu yang tulus, bukan kepalsuan. Hatinya sangat rapuh saat ini, aku sangat berterima kasih, jika kau berhasil membangun kembali semangat hidupnya," batin Bu Mirna sambil menilik wajah Ghani.
Tidak ada yang istimewa darinya, penampilannya, wajahnya, semua jauh di bawah rata-rata. Ia terlalu sederhana, jika dibandingkan dengan lelaki-lelaki lain yang ada di sekitar Bylla.
"Te...terima kasih, Nyonya." Jawab Ghani dengan sangat gugup. Mendengar kata satu-satunya, ahh jiwanya seakan terbang bebas ke awang-awang.
"Saya akan pergi, silakan duduk di sana, sebentar lagi Bibi akan menyiapkan minuman untuk kalian!" kata Bu Mirna seraya tangannya menunjuk ke arah kursi yang berada di tengah taman.
"Terima kasih, tapi tidak perlu repot-repot Nyonya."
"Tidak apa-apa, tidak usah sungkan." Sahut Bu Mirna.
Lalu Bu Mirna melangkah pergi, meninggalkan Ghani yang masih terpaku di tempatnya. Ghani masih ragu untuk melangkah menghampiri Bylla, tatapan kosongnya, aura dinginnya, seolah membuat tubuh seseorang yang memandangnya, mematung seketika.
Kenapa dia duduk di kursi roda, apa yang terjadi dengannya?
Satu pertanyaan yang terus berputar-putar dalam benak Ghani, pertanyaan yang membuatnya berani untuk melangkahkan kakinya. Meskipun berat, dan membutuhkan waktu yang lama, namun akhirnya Ghani berhasil tiba di dekat Bylla.
"Assalamu'alaikum, Bylla!" sapa Ghani sambil duduk di kursi, di depan Bylla.
"Waalaikumsalam." Jawab Bylla tanpa menoleh.
Kini Ghani dapat melihat jelas, bekas luka yang masih tampak samar-samar di wajah Bylla. Juga pelupuk mata yang merah dan sembap. Rupanya wanita yang menjelma dalam rindunya, sedang mengalami hal buruk tanpa sepengetahuannya.
"Seperti yang kau lihat, aku sekarang jelek, dan juga cacat. Aku sangat hina." Jawab Bylla dengan nada datar, dan tanpa mengalihkan pandangannya. Netranya tetap menatap kosong, pada satu titik semu.
Ghani masih terdiam, namun ia menatap wanita di hadapannya dengan semakin lekat. Raut wajahnya, tatapannya, nada bicaranya, semua menyiratkan keputus asaan. Seperti tak ada lagi gairah untuk melanjutkan hidupnya.
"Hina tidaknya seseorang, bukan dinilai dari fisiknya, tapi dari hati dan kepribadiannya." Ucap Ghani dengan pelan.
"Tapi fisik itu juga penting, semua orang mengukur kesempuranaan dari fisik, bukan hati!" Kata Bylla dengan sinis.
Bylla menggigit bibirnya, menahan rasa sesak yang kian menghimpit dalam dadanya. Reymond meninggalkannya karena lumpuh, dan keluarganya, mereka melarang ia ikut ke Paris, juga karena fisiknya yang masih lemah.
"Apa kau juga termasuk orang yang seperti itu, Bylla? Jika iya, berarti selama ini aku juga hina di matamu?"
Sontak, Bylla langsung menoleh, menatap wajah Ghani yang juga menatapnya.
"Kau tidak hina!" Tiga kata yang Bylla lontarkan, berhasil membuat Ghani menarik sudut bibirnya, dan membentuk sebuah senyuman.
__ADS_1
"Aku tidak tahu kenapa takdirku sepahit ini, sudah tak ada lagi hal yang bisa aku syukuri. Kali ini tidak ada yang lebih baik, selain mati!" Ucap Bylla dengan kepala yang tertunduk. Air mata kembali menitik membasahi pangkuannya.
"Jangan pernah berbicara seperti itu Bylla, bersyukurlah selagi Allah masih memberimu umur panjang. Kau tahu, di luar sana banyak orang yang menghabiskan puluhan bahkan ratusan juta, demi mempertahankan nyawanya." Kata Ghani.
"Apa yang sebenarnya terjadi Bylla, kenapa kau seputus asa ini?" batin Ghani tanpa mengalihkan pandangannya.
"Bersyukur? Dengan semua kejadian yang menimpa, apa yang bisa ku syukuri?"
"Bersyukur karena Allah masih peduli padamu. Kau tahu, Allah menguji kita, karena Dia sedang jatuh cinta dengan kita." Jawab Ghani dengan tegas.
Sesungguhnya Ghani sangat ingin bertanya, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa ia duduk di kursi roda, kenapa pernikahannya batal, kenapa Reymond malah pergi dengan wanita lain.
Namun Ghani memendam pertanyaan itu dalam-dalam. Ia tidak mau mengusik ranah privasi Bylla, kecuali dia sendiri yang berniat mengatakannya.
"Jatuh cinta. Dulu kau bilang Allah jatuh cinta, karena merindukan kita. Tapi, ujian tidak membuatku lebih dekat dengan-Nya, justru aku semakin menjauh. Sejak kejadian malam itu, hingga saat ini, aku sama sekali belum menghadap pada-Nya. Jiwaku goyah, karena begitu banyak hal pahit yang menimpa. Aku manghabiskan hari-hariku dengan berdiam diri, aku terlalu rapuh menghadapi semua ini," batin Bylla, lagi-lagi sambil menitikkan air mata.
"Kau lihat keadaanku sekarang, aku cacat, dan lelaki yang akan menjadi calon suamiku, tidak bisa menerima semua ini. Dia lebih memilih pergi, dan mencari pengganti yang lebih sempurna. Kau bisa bayangkan bagaimana perasaanku, dua tahun lebih kita menjalin hubungan, dan akhirnya kandas satu minggu menjelang pernikahan." Ucap Bylla sambil mengangkat wajahnya. Menatap hamparan langit luas yang biru membentang, seolah ia mengadu pada yang di atas sana, atas apa yang dia rasakan dalam hatinya.
"Bersyukurlah, setidaknya kau mengetahui sifat aslinya, sebelum kau terikat hubungan halal dengannya. Percayalah, Allah tidak akan mengambil apa yang kau punya, tanpa menggantinya. Percayalah, pasti ada jodoh lain, yang jauh lebih baik daripada dia!" Kata Ghani dengan senyuman lebar.
"Kejam sekali dia, tidak tahukah bahwa hidup itu adalah perubahan, hidup ibarat roda yang berputar. Tak pernahkah ia memikirkan, jika hal ini bisa saja terjadi padanya, atau anaknya kelak. Apakah dia rela diperlakukan seperti ini. Seseorang yang telah dibutakan oleh keindahan dunia, ia tak bisa memahami hakekat hidup yang sebenarnya." Batin Ghani sambil menghela napas panjang.
"Iya, awalnya aku juga bisa menerima hal itu. Namun aku semakin rapuh, saat kenyataan kembali menamparku, menggoreskan luka, yang bahkan luka lama saja masih basah dan menganga," ucap Bylla, kali ini kedua bahunya terlihat naik turun, seirama dengan tangisnya yang semakin pilu.
"A...apa maksudmu?" tanya Ghani sedikit gugup. Melihat Bylla menangis, ia bingung harus bersikap seperti apa. Menggenggam tangannya, mereka tidak sedekat itu. Membiarkannya, ahh itu terlihat seperti tidak peduli.
"Allah memanggil adikku, disaat aku belum sempat meminta maaf padanya. Ahh jangankan meminta maaf, menyapanya sambil tersenyum pun, aku belum sempat. Dan aku tidak bisa menatapnya untuk terakhir kali, lagi-lagi karena kendala fisik. Apakah takdir memang sengaja menguburku dalam penyesalan, menenggelamkan diriku dalam luka yang tiada dasarnya. Apakah aku kuat menghadapi semua ini?" jawab Bylla disela-sela tangisnya.
Bylla memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Kabar buruk itu kembali terngiang dalam ingatannya. Lalu kenangan masa lalu ikut melintas begitu saja, bagaimana sinisnya dia kepada Mika, bagaimana bencinya ia kepada adiknya.
Disaat kebenaran belum lama ia sadari, disaat ia masih menunggu waktu untuk menemui, takdir lebih cepat memanggilnya ke hadapan Illahi.
Untuk hari ini, esok, dan juga nanti, Mika hanya ada dalam bayangannya, gadis itu tak akan pernah menjelma dalam nyata. Dan dengan musibah yang menimpanya, ia bahkan tak bisa menghadiri pemakaman adiknya. Satu hal yang benar-benar meruntuhkan ketegaran Bylla, satu hal yang memupuskan semua mimpi dan harapannya.
Perpisahan yang paling menyakitkan adalah kematian!
Perasaan yang paling menyiksa adalah penyesalan!
Bersambung...
__ADS_1