
Kirana sang surya, memberikan warna keemasan, pada bunga-bunga yang tumbuh di taman rumah sakit. Semilir angin berhembus sepoi-sepoi, membelai lembut pada kedua wajah yang sedang duduk berhadapan.
Sang wanita menikmati indahnya pagi dengan senyuman yang merekah di bibirnya. Sedangkan sang lelaki, ia menatap wajah wanitanya dengan pandangan datar.
Mereka adalah Bylla dan Reymond. Pagi-pagi sekali Reymond sudah datang ke rumah sakit. Dia membawakan bubur ayam kesukaan Bylla, serta apel merah, dan juga matcha latte hangat.
Reymond menyuapi kekasihnya, dan kemudian mengajaknya jalan-jalan ke taman. Bylla merasa terharu saat Reymond mendorong kursi rodanya. Cinta lelaki itu begitu tulus, ia sama sekali tak merasa risih, meskipun sekarang, keadaannya tidaklah sempurna.
Bylla menatap daun pucuk merah yang bergoyang tertiup angin. Dua hari tiga malam, ia hanya berbaring di atas ranjang. Tanpa menatap sang mentari, tanpa menikmati hembusan angin pagi, benar-benar membosankan.
Bylla terlalu fokus dengan alam sekitarnya, sampai ia tak menyadari perubahan raut wajah kekasihnya.
"Hmmm sangat segar, Rey, sangat menyenangkan! Aku sudah bosan berbaring terus di dalam kamar," ucap Bylla sambil menghirup nafas dalam-dalam. Senyuman manis terus merekah di bibir ranumnya, manik biru di dalam matanya, menyiratkan binar-binar kebahagiaan.
"Bylla!" panggil Reymond, tanpa menanggapi kalimat yang Bylla lontarkan.
"Iya Rey." Jawab Bylla.
Kini pandangan matanya beralih menatap Reymond. Ada sedikit rasa gelisah yang menyeruak dalam hatinya, kala menatap wajah kekasih yang datar dan tanpa senyuman.
"Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu, ini tentang pernikahan!" kata Reymond mengawali pembicaraannya.
"Iya, katakan saja bagaimana pendapatmu!" jawab Bylla.
Reymond menghela nafas panjang, dan mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu ia menatap Bylla lekat-lekat, dan mulai membuka suara.
"Resepsi pernikahan di rumahku tetap dilangsungkan minggu depan, sesuai dengan rencana sebelumnya." Ucap Reymond.
__ADS_1
"Baiklah, aku bersedia. Minggu depan, keadaanku pasti sudah lebih baik, aku pasti kuat menyambut para tamu yang hadir. Luka-luka ini, bekasnya mulai memudar, minggu depan pasti tinggal samar-samar. Tidak akan terlihat setelah tertutup make up. Rey, tidak hanya di rumahmu, tapi di rumahku juga. Resepsi di rumahku tidak akan ditunda, semua akan berjalan sesuai dengan kesepakatan sebelumnya," kata Bylla sambil tersenyum senang.
Reymond, lelaki yang sangat dicintainya, sebentar lagi akan menjadi pasangan halalnya. Kegelisahan dalam hatinya, kini sirna sudah. Ternyata kekasihnya tidak berniat menunda pernikahannya. Reymond benar-benar lelaki yang sempurna bagi Bylla.
"Kamu salah Bylla, maksudku bukan seperti itu." Sahut Reymond dengan pelan.
"Salah?" tanya Bylla mengulangi ucapan Reymond. Ia mengernyitkan keningnya, kurang paham dengan apa yang Reymond maksudkan.
"Iya."
"Aku, aku tidak mengerti dengan ucapanmu," kata Bylla.
"Aku akan menjelaskannya! Bylla, minggu depan aku akan menikah, menggelar resepsi besar seperti yang sudah kurencanakan. Tapi maaf, aku menikah bukan dengan kamu. Aku ingin hubungan kita berakhir sampai di sini saja, Bylla!" ucap Reymond tanpa rasa bersalah.
Tubuh Bylla membeku seketika, ucapan Reymond bagaikan petir yang menyambar tepat di ulu hatinya. Meluluhlantakkan, dan membuatnya hancur berserakan. Bibir Bylla bergerak-gerak, seolah ingin bicara, namun sangat sulit untuk mengeluarkan suara.
"Maafkan aku Bylla, aku tahu ini menyakitimu, tapi aku tidak punya pilihan lain. Lupakan aku, dan lupakan kenangan cinta kita. Hapus semua perasaanmu untukku, aku yakin, suatu saat nanti, kau akan mendapatkan penggantiku!" sambung Reymond dengan suara yang pelan. Kendati demikian, arti dari kalimat itu sangat menyakitkan.
Sungguh ia tak percaya dengan apa yang telah dilakukan Reymond padanya. Lelaki yang ia kenal sejak dulu, yang dua tahun terakhir mengisi hatinya. Dia menjelma bak malaikat dalam hidupnya, namun tiba-tiba kini berubah menjadi sosok yang kejam. Ada apa dengannya?
"Kamu tidak salah, tapi takdirmu yang salah. Bylla, aku memang mencintaimu. Tapi dengan keadaanmu sekarang, tidak mungkin aku menikahimu. Apa kata orang, jika pewaris tunggal keluarga Jackson menikahi wanita lumpuh. Meskipun kau terlahir di tengah keluarga berada, tapi itu tidak cukup Bylla, fisik itu juga penting. Aku butuh pendamping hidup yang sempurna, dan sekarang kamu sudah tidak sempurna. Jadi maaf Bylla, dengan terpaksa aku harus melupakan kamu, dan menggantinya dengan yang lain." Kata Reymond dengan panjang lebar.
Bylla membuka mulutnya lebar-lebar, sambil menggelengkan kepalanya. Lelaki yang selama ini ia anggap sempurna, ternyata punya daya pikir yang sangat dangkal. Dia bukan pemilik rasa yang tulus, dia mencinta dengan memandang harta dan juga rupa. Benar-benar lelaki yang tidak punya hati.
"Tapi sebenarnya lumpuh ini tidak permanen, aku akan sembuh." Ucap Bylla dengan sangat pelan.
Meskipun ia sudah tahu sifat Reymond yang sebenarnya, namun hatinya masih bersikeras untuk mempertahankan lelaki itu.
__ADS_1
"Mungkin lumpuhmu memang tidak permanen Bylla. Tapi butuh waktu yang sangat lama untuk kembali seperti sedia kala. Bagaimana jika lima tahun kedepan, kau belum sembuh? Usiamu semakin dewasa, tidak dianjurkan memiliki keturunan di atas umur tiga puluh. Jadi aku tidak bisa menunggumu Bylla, lupakanlah aku, dan cari lelaki lain yang bisa menerima keadaanmu!" kata Reymond mengutarakan isi hatinya.
Bylla memejamkan mata, sambil menggigit bibirnya. Buliran bening merembas membasahi bulu matanya yang lentik, berderaian di kedua pipinya yang masih terdapat bekas luka.
Dadanya naik turun, menahan rasa sesak dan sakit yang menghujam relung hatinya. Seperti inikah cinta?
"Aku tidak menyangka, jika cintamu seperti ini, Rey. Kupikir kau tulus mencintaiku, tapi nyatanya, aku telah salah menilaimu. Dua tahun kita bersama, dan satu minggu lagi kita menikah. Tapi, tapi kau tiba-tiba membuat keputusan yang tak pernah kuduga sebelumnya. Aku menyesal mengenalmu Rey, ternyata sikapmu dan cintamu, selama ini palsu!" kata Bylla sambil menatap Reymond lekat-lekat.
Air matanya mengalir semakin deras, namun Reymond sama sekali tak goyah, ia tetap pada keputusannya.
"Sikapku tidak palsu Bylla, aku selama ini juga tulus mencintaimu. Tapi sebagai lelaki yang punya akal, aku mencintai dengan menggunakan logika. Aku tidak mau mendewakan cinta, diperbudak olehnya, dan menjadi bodoh karenanya. Dulu kau sangat layak untuk dicintai, kau cantik, cerdas, dan juga kaya. Tapi sekarang, kau cacat Bylla, meskipun kau tetap kaya dan cantik, tapi kekuranganmu itu menutupi kelebihanmu. Sebagai orang yang berada, aku tidak mungkin memilihmu, sementara di luar sana, masih ada yang lebih cocok untukku." Kata Reymond, lagi-lagi tanpa rasa bersalah.
Bylla mengepalkan tangannya erat-erat. Amarah semakin membara dalam dirinya. Lelaki yang dulu membawanya terbang ke langit tinggi, kini menjatuhkan, dan menghempaskannya ke dasar bumi.
"Bylla, maaf..."
"Cukup Rey!" bentak Bylla, sambil menatap Reymond dengan tajam.
"Diamlah! Tidak perlu kau jelaskan lagi, aku sudah cukup mengerti dengan jalan pikiran kamu!" bentak Bylla sambil memicingkan matanya.
"Bylla aku..."
"Aku bilang cukup!" teriak Bylla.
Bylla semakin mengeratkan kepalannya, tak peduli meskipun jarinya memerah karena terkena ujung kuku.
Semakin Reymond menjelaskan, semakin sakit yang ia rasakan.
__ADS_1
"Siapa wanita yang akan kau nikahi?" tanya Bylla sambil memalingkan wajahnya.
Bersambung...