Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Sangat Rumit


__ADS_3

"Ada apa, Om?" tanya Satya dengan tiba-tiba. Ia heran saat melihat perubahan raut wajah Tommy.


"Mmmm, eh mmm tidak apa-apa. Ada salah satu kru yang ngotot mau pulang kampung. Dia marah-marah karena nomorku tidak bisa dihubungi," jawab Tommy berbohong.


"Oh." Satya mengangguk, mempercayai ucapan Tommy.


Jauh di belakang mereka, Ghani masih sibuk dengan ponselnya. Berkali-kali ia menggeram kesal karena tak berhasil menghubungi Bylla.


"Ghan, aku rasa pacarmu salah paham," ucap Arsen dengan pelan. Matanya tertuju pada layar ponsel yang digenggamnya.


"Salah paham?"


"Lihat ini!" Arsen memberikan ponselnya pada Ghani.


Dengan cepat Ghani meraih ponsel Arsen, dan melihat tulisan yang terpampang jelas di sana.


'SANG VOCALIS TELAH MELEPAS MASA LAJANG' sebaris judul yang membuat matanya membelalak lebar.


Video yang seharusnya untuk mengisi sebuah lagu, kini disebar luaskan dengan keterangan pernikahan. Publik akan berasumsi itu adalah kisah nyata. Semua orang pasti menganggap dia dan Evelyn benar-benar menikah.


Tanpa banyak kata, Ghani langsung berlari mendekati Tommy.


"Om apa maksudnya ini Om! Bukankah Om Tommy bilang ini untuk video klip, kenapa sekarang jadi seperti ini!" teriak Ghani tepat di depan Tommy.


"Apa maksudmu, aku tidak mengerti," ucap Tommy berusaha setenang mungkin.


Sebenarnya ia sendiri belum tahu seperti apa berita yang menyangkut Ghani. Karena ia langsung menyimpan ponselnya setelah membaca berita tentang Frans.


"Ini video yang kita garap minggu lalu 'kan Om? Kenapa sekarang beredar berita jika ini pernikahanku dan Evelyn, kenapa Om?" tanya Ghani masih dengan nada tinggi. Bahkan dadanya terlihat naik turun karena menahan emosi.


Sekilas Tommy menatap layar ponsel yang ditunjukkan Ghani. Lantas ia menghela napas panjang.


"Aku tidak tahu masalah itu Ghani, aku juga di pulau itu bersama kalian. Kamu tenang ya, nanti aku akan bicara dengan tim edit. Kenapa videonya bisa sampai bocor." Tommy menepuk bahu Ghani dengan pelan, berusaha menenangkannya.


Lantas keduanya saling pandang, menyiratkan tatapan aneh yang sulit diartikan.


"Aku yakin Om Tommy tahu sesuatu. Saat itu dia menolak pernikahan yang kurencanakan. Bisa jadi ini ulahnya, agar aku bisa tetap fokus dengan Batas," batin Ghani.


"Menurut berita, yang menjebloskan Om Frans adalah Sehan, tapi aku curiga kau juga terlibat Ghani. Kata polisi Alina masih dalam pencarian. Sial, di mana kamu menyembunyikan dia," batin Tommy.

__ADS_1


***


Senja telah lama padam. Malam beranjak semakin larut, sedikit kelam karena guyuran hujan yang tak kunjung reda. Ghani dan yang lainnya baru tiba di rumah. Masing-masing langsung masuk ke kamar, membersihkan diri dan bersiap istirahat.


Namun lain halnya dengan Ghani, dia masih duduk di tepi ranjang. Menenggelamkan diri dalam benda pipih yang sedari tadi digenggamnya. Berita tentang Frans sudah ia baca. Serta ucapan terima kasih untuk Livay, juga sudah ia kirimkan.


Ada sedikit rasa lega, karena Frans dan Laras sudah mendekam di penjara. Begitu halnya dengan aset milik Alina, kini sudah dalam penanganan Sehan. Namun juga ada sedikit rasa khawatir, yakni Tommy. Belum ada titik terang untuk menyingkap kejahatan yang telah ia lakukan. Dan sekarang, melihat berita yang beredar, Ghani takut jika Tommy menyadari keterlibatannya dalam kasus Frans.


"Ahh, sangat rumit." Ghani mengacak-acak rambutnya dengan kasar.


Masalah Tommy, masalah Bylla, semua memenuhi kepala. Memaksa otaknya untuk berpikir keras.


"Bagaimana caranya aku menghubungi kamu dan menjelaskan semua ini, Bylla. Kenapa kau buru-buru pergi," gumam Ghani dengan pelan.


Disaat Ghani masih larut dalam sesalnya, tiba-tiba ia teringat Evelyn. Tanpa banyak kata, Ghani langsung menghubunginya.


"Hallo." Sapa seseorang dari seberang sana.


"Hallo Evelyn," jawab Ghani.


"Ada apa Ghan, kamu sudah pulang?" tanya Evelyn. Suaranya terdengar ringan, seperti tanpa beban.


Ghani berusaha berbicara seramah mungkin. Ia mencoba meredam emosinya yang sebenarnya sudah membuncah.


"Aku baru tahu siang ini Ghan. Setelah syuting waktu itu, aku langsung pergi ke Singapura, ada pemotretan di sana. Dan menurut jadwal kamu akan pulang hari ini, jadi aku menunggumu," ujar Evelyn.


"Baiklah, besok kita klarifikasi!" Ghani memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Evelyn.


Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda. Tommy sedang duduk di sofa ruang tamu. Tangannya terus memainkan ponsel yang ada dalam genggaman. Sesekali ia berdecak kesal, sembari menghentakkan telapak kaki. Segala celah untuk membebaskan Frans telah tertutup. Tommy menemui jalan buntu.


Tak lama kemudian, Tommy menghubungi seseorang. Entah siapa dia, hanya Tommy yang tahu.


"Hallo, kamu di mana?


Kenapa bisa seperti ini?


Tugasmu menyebarkan gosip tentang Ghani memang bagus, aku sangat puas. Tapi kenapa? Kenapa Om Frans bisa tertangkap? Cari tahu apakah Ghani terlibat dalam masalah ini!"


"Sial, sial, sial!" umpat Tommy dengan kesal.

__ADS_1


***


Keesokan harinya, sang surya menyembul malu-malu dari balik awan kelabu. Bulir demi bulir air menetes dari dahan dan daun. Sisa hujan semalam masih tampak nyata di pagi ini.


Kendati hari masih dingin, Ghani sudah tiba di studio. Begitu halnya dengan Tommy dan Evelyn. Mereka sepakat membahas klarifikasi untuk masalah kemarin.


Ketiganya menyesap teh milik masing-masing. Ghani harap-harap cemas menanti jawaban dari mulut Tommy. Seperti apa kira-kira pendapatnya.


"Ghani, apa tidak lebih baik biarkan saja. Cukup jelaskan pada pacar kamu. Sedangkan untuk publik, biarlah mereka percaya. Kamu tahu, gara-gara berita ini, namamu semakin melejit. Berita ini memang salah, tapi selama itu bisa mendongkrak karier kamu, kenapa tidak," jelas Tommy ketika Ghani mengungkapkan pendapatnya untuk meluruskan masalah yang sempat beredar.


Ghani tersentak, penjelasan yang Tommy ungkapkan mulai menyulut emosi.


"Om, ini menyangkut masalah pribadi. Gara-gara ini, Bylla marah dan memutuskan hubungan. Apa jangan-jangan ini memang rencana Om Tommy, agar Bylla salah paham dan kami tidak jadi menikah. Apa ini alasannya kenapa Om Tommy memilih Pulau Sebira," kata Ghani dengan nada yang sedikit tinggi. Lelah sudah menghadapi keegoisan Tommy.


"Apa maksudmu?" teriak Tommy. "Aku mengajak ke Pulau Sebira, untuk mendapatkan video yang maksimal. Ini lagu yang terinspirasi dari cerita kalian, aku ingin penjualan lagu ini lebih tinggi dari yang lain, agar nama kalian semakin dikenal. Dan satu lagi, Tuan Frans tertimpa musibah. Sekarang kita harus merangkak sendiri, tanpa sokongan dari orang besar. Itu sebabnya aku ingin mempertahankan nama kamu yang hampir bertanggar di puncak." Tommy beranjak dari duduknya dan menatap Ghani dengan tajam.


"Tapi ini juga menyangkut masa depanku, Om. Bylla tidak bisa dihubungi, dan sekarang dia ada di Paris. Hanya klarifikasi ini yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi." Ghani ikut beranjak, kini hanya tinggal Evelyn yang masih dengan tenang.


"Jika dia tidak percaya padamu, berarti cintanya hanya setengah-setengah. Tidak perlu kau sesali, cari saja yang lain!" sahut Tommy dengan santainya.


"Om!" bentak Ghani.


"Jika kamu mengklarifikasi, publik akan kecewa. Bahkan pasti ada yang berpendapat kalau ini sengaja kau lakukan untuk mencari muka, nama baik Batas akan tercoreng. Kau mau itu terjadi? Ghani, Evelyn tidak keberatan, dan menurutku berita ini juga cukup baik untuk karier kalian. Aku tidak mengijinkan kamu untuk klarifikasi. Jika kamu tidak terima, silakan keluar dari Batas, tapi jangan lupa untuk membayar denda yang telah kita sepakati!" Usai mengatakan kalimat itu, Tommy pergi meninggalkan Ghani dan Evelyn.


Selepas Tommy pergi, Ghani menoleh dan menatap Evelyn.


"Kenapa kamu tidak menolak Ev, ini juga tidak baik untuk masa depan kamu. Cobalah bicara sama Om Tommy, siapa tahu dia mau mempertimbangkan usulmu," ucap Ghani.


"Om Tommy benar Ghan, ini baik untuk karier kita. Jadi kenapa tidak," jawab Evelyn. Sebuah jawaban yang membuat Ghani terkesiap.


"Apa maksudmu?"


"Kejar saja karier kita Ghan, sampai menjadi bintang. Setelah itu terjadi, jodoh pasti akan datang dengan sendirinya. Jika Bylla memang ditakdirkan untuk kamu, dia pasti akan kembali. Tapi jika dia tidak kembali, pasti ada pengganti yang lebih baik dari dia." Evelyn berdiri tepat di depan Ghani. Menepuk bahunya sambil memamerkan senyum menawan.


"Simpan prinsip itu untuk dirimu sendiri!" ujar Ghani dengan datar.


Lantas ia berlalu pergi meninggalkan Evelyn.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2