
Tommy menghubungi satu nama dalam kontak teleponnya.
"Hallo.
Lakukan sesuai dengan instruksiku jika tidak ingin kejadian lalu terungkap!" kata Tommy pada seseorang di seberang sana.
Kemudian, Tommy menghubungi nomor yang lain.
"Cari tahu di mana Ghani menyembunyikan bocah sialan itu. Menurut Ghani dan juga pihak sekolah, dia kembali ke Surabaya. Tapi aku tidak yakin! Aku curiga dia masih di sekitar sini!" ujar Tommy pada seseorang yang dihubunginya.
Tommy menghela napas lega, setidaknya dia sudah mengantisipasi segala kemungkinan buruk. Lantas Tommy meletakkan ponselnya sambil mengumpat kesal.
***
Ghani terheran, kala menatap skenario yang diberikan padanya. Menurut rencana mereka akan membahas video lagu Penantian, yang akan dimulai esok hari. Tapi ternyata, Tommy malah memberikan skenario untuk video lagu Tabir Cinta.
Namun bukan hanya Ghani, personel lainnya pun juga heran dengan sikapnya. Entah apa yang Tommy pikirkan, hanya dirinya saja yang tahu.
Hari ini adalah hari kelima sejak Bylla terbang ke Eropa. Meskipun berat, Ghani harus tetap melepasnya. Ia terus bekerja sambil berusaha mencari jalan untuk melangsungkan pernikahan. Entah membayar denda, atau membujuk produsernya.
Berita yang sempat viral hari lalu, kini sudah reda. Tommy angkat bicara jika dia bukan Ghani. Tommy memberikan bukti bahwa malam itu Ghani sedang berada di studio.
"Ada masalah, Ghani?" tanya Tommy kala melihat Ghani terpaku.
"Mmmm kenapa memberikan skenario ini, Om? Bukannya kita akan membahas video yang digarap esok hari, ya?" Ghani balik bertanya.
"Begini, lagu Penantian 'kan temanya outdoor, dan tempatnya juga lumayan jauh. Setelah menggarap video itu kalian pasti capek, dan tidak bisa langsung menggarap yang lain. Jadi untuk lagu Penantian, kita bahas di sana saja. Sekarang kita rampungkan video Tabir Cinta, sederhana kok adegannya. Tidak ada yang rumit," terang Tommy sembari menatap Ghani dan yang lainnya.
"Bener juga sih, perjalanannya aja membutuhkan waktu yang lama. Belum lagi adegannya yang cukup rumit, pasti lelah banget," gumam Bryan.
"Nah maka dari itu. Kalau lagu ini sudah dibuat mentahannya, nanti tinggal diedit, kalian bisa santai," ujar Tommy.
Bryan dan yang lainnya mengangguk-angguk, membenarkan perkataan Tommy.
Namun Ghani, ia masih tak mengalihkan pandangan. Ia menatap skenario dalam genggaman dengan mimik yang sulit diartikan.
"Apa menurutmu adegannya terlalu vulgar, Ghani?" tanya Tommy.
"Tidak, hanya saja ... menurutku adegan ini terlalu detail," ujar Ghani.
__ADS_1
"Ini lagu bahagia Ghan, konsepnya memang seperti itu," jawab Tommy.
Tabir Cinta adalah lagu yang mengisahkan tentang pernikahan dua insan yang saling mencintai.
Ghani menghela napas panjang, "baiklah!"
Lantas mereka semua mempersiapkan diri masing-masing. Dengan dalih memuaskan penggemar, dan mengejar target penjualan, lagi-lagi Tommy memasangkan Ghani dan Evelyn.
***
Jarum jam menunjukkan tepat pukul 10.00 malam. Setelah shalat dan menengadahkan tangan, Ghani membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Menarik selimut hingga menutupi dada. Ghani memejamkan mata, mencoba menepis segala masalah yang mendera.
Disaat pikirannya menerawang entah kemana, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Ghani sedikit beringsut dan meraih ponselnya. Senyuman simpul terulas di bibir, kala netra menatap satu nama yang terpampang di layar.
"Hallo," sapa Ghani.
Pembicaraan berlangsung cukup lama, seseorang di seberang sana menjelaskan dengan detail apa rencananya.
Setelah pembicaraan berakhir, Ghani meletakkan ponselnya sembari mengusap wajah dengan kasar.
"Ya Allah, beri jalan untuk hamba. Agar hamba bisa menyelesaikan masalah yang belum tuntas," ucap Ghani dengan pelan.
***
Keesokan harinya, tiga mobil mewah terparkir di halaman rumah tempat tinggal Batas. Pagi-pagi sekali personel Batas, Tommy, dan beberapa kru yang lain bersiap pergi ke Kepulauan Seribu.
Lagu 'Panantian' mengisahkan tentang sekumpulan lelaki yang tumbuh dalam kekurangan. Menyambung hidup dengan bergantung pada alam. Mereka menanti masa indah yang entah kapan datangnya. 'Penantian' adalah satu-satunya lagu yang tidak bertema asmara. Lagu ini berisi motivasi dan terinspirasi dari kisah hidup para personel.
Usai menyiapkan segala sesuatunya, mereka semua masuk ke mobil, dan mulai meluncur meninggalkan pusat kota.
Sepanjang perjalanan, Ghani fokus dengan ponselnya. Bercanda dengan sang kekasih lewat obrolan chat. Aksara demi aksara yang mereka ketik, membuat rasa rindu kian membuncah.
Di tempat yang berbeda, mereka memanjatkan doa yang sama. Semoga Tuhan segera menyatukan dalam ikatan halal. Jarak yang jauh membentang, tak mengikis rasa yang telah tertuang.
Hampir tengah hari mereka tiba di Kepulauan Seribu. Ghani dan yang lainnya bernapas lega, karena perjalanan panjang sudah berakhir. Namun kelegaan mereka hanya sekilas, karena tiba-tiba Tommy memberitahukan hal yang cukup mengejutkan.
"Aku sudah menyewa kapal untuk perjalanan kita selanjutnya. Kalian belum lelah, kan?" tanya Tommy.
"Perjalanan, bukankah kita sudah sampai? Tujuan kita Kepulauan Seribu, 'kan?" Bryan balik bertanya. Personel lainnya pun juga ikut menanyakan hal yang sama.
__ADS_1
"Apa semalam aku tidak memberitahu kalian? Aduh usia makin tua, makin sering lupa," ujar Tommy sembari memijit pelipisnya.
"Memangnya kita mau ke mana, Om?" tanya Ghani.
"Pulau Sebira, baru semalam aku berubah pikiran. Pulau itu sangat indah dan unik, juga masih sepi. Sangat cocok dengan tema kita kali ini," terang Tommy.
Ghani dan yang lainnya saling melempar pandang. Pulau Sebira atau sering disebut Sang Penjaga Cahaya Di Batas Utara, adalah pulau paling utara di Kepulauan Seribu, termasuk bagian dari Pulau Harapan. Dengan ciri khas sebuah Mercussuar yang berdiri kokoh sejak zaman Belanda, pulau ini memang sangat indah dan unik.
Namun Pulau Sebira paling sulit dijangkau, dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya. Dan satu hal yang menjadi kekurangan adalah jaringan. Pulau Sebira termasuk kawasan susah signal. Hanya jaringan tertentu yang bisa digunakan di sana, itupun tidak maksimal.
"Berarti kita harus membeli SIM card baru Om, SIM card lama tidak akan bisa digunakan di sana," kata Arsen sambip menatap Tommy.
"Tidak perlu, di sana lancar kok. Aku punya teman yang pernah berkunjung ke sana, dan katanya tidak ada masalah dengan jaringan," jawab Tommy.
"Tapi Om___"
"Arsen, kita tidak punya banyak waktu. Paling cepat dua jam berlayar ke sana, belum lagi jika ada kendala. Jangan sampai kita kesorean, agar bisa menikmati sunset yang sangat memukau. Aku pastikan kalian tidak akan kecewa," pungkas Tommy sambil tersenyum lebar.
***
Di salah satu sudut Benua Eropa, tepatnya di Kota Paris, Negara Prancis. Seorang wanita sedang duduk di dekat batu nisan. Wanita yang tak lain adalah Bylla. Sejak tiba lima hari yang lalu, kondisi tubuhnya kurang fit, sehingga baru hari ini dia mengunjungi adiknya yang sudah damai di alam sana.
Bylla meletakkan rangkaian bunga di atas pusara. Manik birunya memburam kala menatap nama Mikayla Dela Vinci di atas nisan.
"Maafkan Kakak, Mika," satu ucapan terlontar begitu saja, diiringi tetesan air mata yang jatuh membasahi pangkuan.
"Aku terlambat memahami keadaanmu, aku harap kamu mau memaafkan aku, Mika," bisik Bylla. Tetes air mata kini berubah menjadi deraian. Bahunya bergerak naik turun seirama dengan isakan.
Setelah puas menumpahkan tangisnya, kedua tangan itu menengadah. Jemari lentiknya gemetaran kala bibir ranum memanjatkan doa-doa. Manik biru kembali berkaca-kaca, namun tak sampai meneteskan buliran bening.
Usai memajatkan doa, Bylla mengusap wajahnya, lantas mengusap batu nisan di hadapannya. Bylla berdiri, dan belum sempat membalikkan badan, seseorang memanggil dari belakang.
"Bylla!"
Bylla menoleh, mata biru miliknya bertemu pandang dengan mata cokelat milik orang itu.
Cukup lama keduanya saling diam, membiarkan netra yang berbicara. Semilir angin yang berembus pelan, menjadi saksi bersuanya dua insan.
Bersambung...
__ADS_1