Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Tentang Mikayla


__ADS_3

Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda. Di salah satu sudut Benua Eropa, tepatnya di Kota Paris, Negara Prancis. Seorang wanita sedang duduk di kursi, di sebelah anak gadisnya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.


Dia adalah Ella, ibu dari Mikayla dan juga Bylla. Ia sedang menemani anak bungsunya yang dirawat di rumah sakit. Sejak kecil Mika sering mengeluh nyeri di dada, dan sakit di kepalanya. Dan setelah menginjak remaja ia divonis mengidap penyakit lupus, penyakit radang yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringannya sendiri.


Ella sangat terpukul kala itu, ia tidak pernah menyangka jika anaknya menderita penyakit mematikan. Lupus tidak bisa disembuhkan, penyakit itu bisa bertahan bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup. Penyakit lupus dapat mempengaruhi sendi, kulit, ginjal, sel darah, otak, jantung, dan paru-paru.


Mengurangi beban pikiran, mengkonsumsi obat antiinflamasi dan steroid, serta pola hidup dan pola makan yang teratur, hanya mencegah pengembangan gejala, namun tidak bisa menyembuhkan penyakit ini secara total.


Itulah sebabnya, selama ini Ella dan Kairi selalu menomor satukan Mika, mereka tidak pernah menolak apapun yang ia minta, walau terkadang itu membuat Bylla terabaikan. Menurut keterangan dokter, Mika tidak boleh berpikir terlalu keras, apalagi sampai stress. Tidak boleh terlalu lelah, dan juga tidak diperbolehkan terpapar sinar matahari dalam waktu yang cukup lama, karena semua itu akan memicu munculnya gejala yang akan terus berkembang.


Kendati demikian, kondisi Mika saat ini cukup buruk. Rambut coklatnya yang lebat kini mulai rontok, ruam merah di kulitnya semakin terlihat jelas, juga wajah dan tangannya yang kini mulai membengkak. Dan dua hari ini, kondisinya benar-benar drop. Keadaannya sangat lemas, ia mengalami anemia parah.


"Mama," sapa Mika dengan suara yang sangat pelan. Kedua tangannya memeluk boneka beruang warna coklat, boneka yang diberikan oleh Rubben beberapa hari yang lalu.


"Apa yang kamu rasakan, Nak?" tanya Ella sambil menggenggam jemari Mika yang pucat.


"Panas Ma, aku selalu merasa haus. Dan lagi dadaku sakit, seluruh tubuhku rasanya nyeri," jawab Mika sambil menatap ibunya.


"Mama ambilkan minum, ya. Tunggu sebentar!" kata Ella sambil beranjak dari duduknya. Ia melangkah menuju meja, dan mengambil segelas air putih yang ia siapkan di sana.


"Ayo minum, pelan-pelan!" ucap Ella sambil menyuapkan sesendok air putih untuk anaknya. Ia terus mengulangi suapannya, hingga habis setengah.


"Mika!" panggil Ella.


Mata Ella berkaca-kaca, ia sangat tidak tega melihat keadaan anak gadisnya saat ini. Wajah yang dulu cantik, dan ceria, kini lemas dan pucat. Kulitnya yang dulu putih dan mulus, kini kering, penuh dengan ruam merah, dan juga membengkak. Rambut yang dulu indah dan lebat, kini mulai rontok, semakin hari rambutnya semakin berkurang. Ella tahu, Mika pasti sangat terpukul dengan kondisi tubuhnya saat ini.


Dan disisi lain, Ella juga memikirkan Bylla. Anak sulung yang nyaris tak mendapatkan kasih sayangnya, hatinya pasti sangat terluka.


"Ada apa, Ma?" tanya Mika.


"Sampai kapan kamu merahasiakan keadaanmu ini dari kakakmu, apa kau tidak ingin Bylla hadir di sini, menemani kamu, ikut merasakan sakitmu, hmmm?"


Mika terdiam cukup lama, pikirannya kembali mengingat tentang kakaknya.


"Jika Kak Bylla ada di sini, aku takut Kak Rubben akan berpaling dariku, aku tahu mereka saling mencintai. Dan selain itu, kasih sayang Mama dan Papa akan terbagi. Dibandingkan dengan aku, Kak Bylla lebih segalanya, dia cantik, dia cerdas, dan dia sehat, tidak seperti aku. Mungkin aku egois, aku sudah memisahkan dua orang yang sebenarnya saling mencintai, aku juga menginginkan kasih sayang Mama dan Papa utuh untukku. Aku melakukan ini, karena aku merasa takdirku tidak adil. Kak Bylla terlahir dengan segala kesempuranaannya, sedangkan aku, aku terlahir dengan segala kekuranganku." Batin Mika dalam hatinya.


"Mika!" panggil Ella.


"Jangan Ma, aku tidak mau Kak Bylla khawatir." Jawab Mika.

__ADS_1


"Tapi jika dia terlambat memhetahui hal ini, dia akan menyesal, Nak. Dia sangat menyayangimu, dia pasti ingin menemanimu, dan ikut merasakan sakitmu," kata Ella sambil mengusap rambut Mika dengan lembut.


"Aku tidak mau Ma, aku tidak mau Kak Bylla khawatir, kasihan dia," ucap Mika.


"Kehadiran Kak Bylla di sini, membuatku semakin sedih. Hatiku semakin tidak tenang, rasa cemburu dan rasa iri terus bersarangd alam benakku, aku tidak mau Ma, aku ingin kehidupan yang tenang," batin Mika sambil menggigit bibirnya.


"Tapi Mika..."


"Baiklah, silakan beritahu Kak Bylla, tapi nanti bukan sekarang. Nanti saat Kak Bylla sudah menikah," jawab Mika.


"Jika Kak Bylla sudah menikah, Mama dan Papa tidak perlu memperhatikannya, karena sudah ada suaminya. Dan, Kak Rubben tidak akan mencintainya lagi," batin Mika dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kenapa harus nanti?"


"Ma, ini keinginanku, tolonglah! Aku tidak mau membebani Kak Bylla. Aku akan semakin sedih, jika melihatnya bersedih," ucap Mika sambil menitikkan air matanya.


"Baiklah, Mama mengerti. Sudah jangan menangis!" kata Ella seraya menyeka air mata anaknya.


"Maafkan Mama Bylla, Mama belum bisa menjelaskan apa-apa sama kamu. Maaf jika sikap Mama dan Papa melukai kamu, tapi Mama benar-benar tidak punya pilihan lain. Tapi tenanglah, saat pernikahanmu nanti, semuanya akan jelas. Kau akan mengerti kenapa Mama dan Papa bersikap seperti ini," batin Ella sambil menutup wajahnya. Ujian ini rasanya sangat berat baginya.


Tak lama kemudian, Kairi datang menghampirinya, kala itu Mika sudah mulai larut dalam lenanya.


Ella tak menjawab, dia hanya menatap Mika lekat-lekat.


"Sabar, ini ujian. Yang penting kita berusaha dan berdoa, untuk selanjutnya, kita serahkan saja kepada Allah. Aku tahu ini berat, tapi kita hanya manusia, kita tidak bisa melawan takdir. Tegarkanlah hatimu, dan percayalah, pelangi tidak akan muncul tanpa adanya hujan, ya!" kata Kairi menenangkan istrinya.


Saat ini, Kairi hanya bisa pasrah. Kondisi anaknya semakin parah, kambuh yang sebelumnya tidak pernah seburuk ini.


"Aku mengerti, tapi ini sangat berat Kai. Aku, aku juga memikirkan Bylla."


"Ada apa dengan Bylla?" tanya Kairi.


"Reymond sudah melamarnya, dan minggu depan orang tuanya akan datang membahas tentang pernikahan. Bylla menginginkan kita pulang, tapi, tapi kita tidak mungkin meninggalkan Mika. Namun aku juga berat untuk menolak keinginannya, kita sudah cukup sering mengecewakan Bylla, Kai. Apa yang harus kita lakukan?"


"Aku akan memikirkannya." Jawab Kairi.


***


Sang surya baru saja mengintip di ufuk timur, menyemburatkan cahaya jingga, dan mewarnai mega-mega yang berarak di sekitarnya. Semilir angin pagi berhembus perlahan, dingin dan menguarkan aroma basah.

__ADS_1


Dengan berbalut celana panjang, dan kemeja pendek yang sudah kusam, Ghani melangkah gontai menyusuri gang kecil yang berada di depan rumahnya.


Ghani menghentikan langkahnya saat tiba di depan warung nasi yang menjadi langganannya. Seulas senyuman menyambutnya dengan manis, senyuman dari seorang gadis imut pemilik poni depan yang tebal dan rapi.


"Silakan duduk, Bang!" ucap Melani sambil tetap tersenyum.


"Iya."


"Kenapa mukanya ditekuk begitu, Bang?" tanya Melani sambil duduk di depan Ghani. Akhir-akhir ini wajah Ghani tidak ceria seperti biasanya. Selalu saja masam dan murung. Entah apa yang terjadi padanya, Melani sama sekali tidak bisa menebak.


"Tidak apa-apa, hanya lelah," jawab Ghani sambil berusaha tersenyum, walau sebenarnya itu sangat sukar untuk ia lakukan.


"Akhir-akhir ini kamu terlihat murung, Bang. Kenapa? Cerita saja kalau ada masalah, siapa tahu aku bisa membantu."


"Aku tidak apa-apa, akhir-akhir ini memang sering lelah." Jawab Ghani.


"Entahlah, kenapa aku merasa sebagian dari jiwaku ada yang menghilang. Aku sudah berusaha keras menghapus perasaanku untuk Bylla, namun hingga saat ini perasaan itu masih nyata ada. Bahkan hatiku semakin sesak, saat mengingat dirinya yang akan menikah." Batin Ghani dalam hatinya.


"Bang! Bang Ghani! Yahh malah ngelamun," ucap Melani sambil melambaikan tangannya di depan mata Ghani.


Ghani tak menjawab, entah ia benar-benar tak mendengar atau sekadar pura-pura. Melani ikut terpaku, apa gerangan yang sedang dipikirkan oleh lelaki di hadapannya ini. Serumit itukah bebannya?


"Bang!" panggil Melani sambil mengguncang lengan Ghani.


"Ehh ehm iya, kenapa?" tanya Ghani dengan kaget.


"Kau ngelamun, Bang, kenapa?" tanya Melani.


"Aku tidak ngelamun, aku hanya, hanya..."


"Aku memanggilmu berkali-kali Bang, tapi kau diam saja," sahut Melani sambil tersenyum kecut.


"Maaf, tadi aku hanya sedikit berpikir. Aku bingung harus membeli apa, mmm sesuatu yang mungkin berbeda, yang akan disukai anak-anak. Ya itu, itu yang sedang aku pikirkan." Ucap Ghani dengan gugup.


"Begitu ya, mmm iya aku mengerti," kata Melani.


"Kau tidak ingin membagi masalahmu denganku Bang. Rupanya hanya aku yang menganggap hubungan kita dekat, tapi sebalikanya, kau tidak menganggapku penting Bang. Buktinya, untuk berbagi masalah saja, kau keberatan," batin Melani sambil menghela nafas panjang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2