Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Cinta Tidak Harus Memiliki (Jangan Emosi)


__ADS_3

Setelah sekian menit bergelut dengan perasaan, Bylla memutuskan untuk menghubungi Ghani. Namun, belum sempat ia melakukan itu, Rubben terlebih dahulu menelepon.


"Assalamu'alaikum, Kak Rubben," sapa Bylla dengan sedikit enggan.


"Waalaikumsalam, Sayang. Kamu sedang apa?"


"Ini diam di kamar," jawab Bylla singkat. Ia ingin telepon ini segera berakhir.


"Sayang, ada sesuatu yang ingin kukatakan sama kamu," ucap Rubben dari seberang sana.


"Apa?"


"Kamu sudah melihat video yang Ghani buat?" tanya Rubben.


Bylla menelan ludahnya, ternyata Rubben juga tahu.


"Sudah," jawab Bylla dengan pelan.


"Aku tahu kamu telah salah paham sama dia. Tapi, Sayang, bolehkah aku sedikit egois? Aku tidak ingin kehilangan kamu, rasa cinta ini tulus untukmu. Pernikahan sudah di ambang mata, aku harap kamu tidak goyah."


"Aku, aku___"


"Sayang, kamu pernah ditinggalkan Reymond ketika hubungan hampir halal. Kamu bilang itu sangat menyakitkan dan menyisakan luka yang teramat dalam. Jadi ... kamu tidak akan melakukan itu padaku, kan?"


"Kak Rubben, aku___"


"Berita pernikahan kita sudah menyebar, semua orang tahu bila keluargaku dan keluargamu akan menjalin ikatan. Jika tiba-tiba gagal, kita semua akan menanggung malu. Kamu tidak akan mencorengkan aib untuk keluarga 'kan, Sayang?"


Bylla memejamkan, air mata merembas membasahi bulu hitam nan lentik. Apa yang harus ia lakukan sekarang?


"Bylla, Sayang!" panggil Rubben.


"Iya, Kak, aku akan tetap menikah denganmu." Kendati hatinya bersikeras menolak, tetapi logika memaksanya untuk mengatakan 'iya'.


"Terima kasih, Sayang, aku janji akan selalu membahagiakan kamu."


"Iya. Mmmm ... Kak, bolehkah aku bertemu dengan dia? Sekali saja, sebelum aku benar-benar menjadi milikmu," ucap Bylla dengan gemetaran


"Baiklah," jawab Rubben setelah hening beberapa detik lamanya.

__ADS_1


"Terima kasih, Kak."


"Kapan kau akan menemuinya?" tanya Rubben.


"Besok pagi, sebentar saja, hanya ingin meluruskan sedikit hal yang masih mengganjal," jawab Bylla.


"Iya, temuilah dia."


Tak lama berselang, sambungan telepon berakhir. Bylla mengambil napas dalam-dalam, kemudian mengirimkan pesan untuk Ghani.


[Jam 07.00 pagi besok, temui aku di bawah Menara Eiffel]


"Apa pun akhir dari hubungan kita, aku harap inilah yang terbaik," gumam Bylla.


***


"Bylla! Kamu mau ke mana?!" Teriakan Ella menggema memenuhi ruangan. Ia heran melihat Bylla yang terburu-buru menyambar kunci mobil.


"Aku ada urusan Ma, penting! Assalamu'alaikum." Bylla melenggang dengan langkah cepat. Ia mengabaikan teriakan Ella yang terus memanggilnya.


"Aku tidak boleh telat, jangan sampai dia pergi karena menungguku terlalu lama," ucap Bylla pada dirinya sendiri.


Lantas, ia bergegas masuk mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Jarum jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul 06.50, sedangkan jarak antara rumahnya dengan Menara Eiffel cukup jauh. Semalam, ia terlalu memikirkan Ghani sampai sulit memejamkan mata, sehingga tadi pagi, ia terjaga ketika fajar sudah jauh berlalu.


Tepat pukul 07.30, Bylla tiba di taman, di bawah menara. Ia bergegas turun dan berlari mencari Ghani. Matanya menatap ke sana kemari, berharap segera bersua dengan sang pemilik hati.


"Bylla!"


Bylla menghentikan langkahnya, ia hafal benar itu suara siapa, Ghani Alghibrani—seseorang yang menempati seluruh ruang dalam hati.


"Ghani." Bylla menoleh dan benar saja sosok Ghani sudah berdiri di belakangnya.


"Terima kasih sudah mau menemuiku, ada beberapa hal yang ingin aku luruskan, Bylla!" ucap Ghani. Ia melangkah maju dan mengikis jarak di antara keduanya.


"Maaf sudah membuatmu salah paham cukup lama, mungkin kamu terluka dengan hal itu. Tapi, Bylla, aku sama sekali tidak punya sempat untuk meluruskan. Sekarang, aku sudah berhasil menjebloskan Om Tommy dan Evelyn ke penjara, aku juga berhasil membersihkan namaku dan meluruskan berita bohong tentangku. Aku tidak pernah mengkhianatimu, Bylla, aku selalu setia dengan cinta ini. Jadi, masih ada 'kan kesempatan untuk kita kembali bersama?" Mata hitam menatap lekat penuh perasaan. Berharap masih ada secercah harapan untuk kembali membina hubungan.


"Maafkan aku, Ghani, lima hari lagi aku menikah. Aku tidak bisa kembali bersama kamu, maaf." Bylla menunduk dan menyembunyikan air mata yang lolos begitu saja.


Ghani terkesiap, kalimat yang Bylla lontarkan ibarat pedang tajam yang menghujam tepat di ulu hati, sangat menyakitkan.

__ADS_1


"Menikah, apa maksudmu, Bylla?"


"Maafkan aku, Ghani. Waktu itu, aku berhari-hari menunggu penjelasan darimu, tapi tidak ada. Aku sangat kecewa dan aku memutuskan untuk menghapus perasaanku padamu. Aku membuka hati untuk lelaki lain dan sekarang kami akan menikah," terang Bylla.


"Aku seminggu terdampar di Pulau Sebira dan tidak tahu dengan berita yang beredar. Om Tommy menjebakku, Bylla, video itu seharusnya untuk klip lagu. Setelah aku kembali, aku berusaha menghubungimu, tapi semua akses sudah kamu tutup. Kenapa, Bylla, kenapa kamu tidak percaya padaku?" teriak Ghani. Ia memegang kedua bahu Bylla dengan erat.


"Aku sudah putus asa, Ghan. Hatiku terlalu sakit," jawab Bylla dengan pelan tanpa mengangkat kepala.


"Kamu pikir aku juga tidak sakit? Aku kalang kabut karena tidak bisa menghubungi kamu! Aku ke Jakarta untuk memantaskan diri karena kamu terlalu tinggi, Bylla! Aku tidak mau hubungan kita berakhir!" tegas Ghani.


"Ghani, aku akan menikah," ujar Bylla, kali ini sambil menatap mata Ghani.


"Sekian lama aku berjuang dan sekarang sudah berhasil keluar dari Batas. Apakah semua ini akan sia-sia, Bylla?" teriak Ghani.


"Maaf, Ghani," jawab Bylla singkat.


"Kamu masih tetap akan menikah?" tanya Ghani dengan suara yang tertahan.


"Iya."


"Kenapa, Bylla, kenapa?" Ghani terus berteriak. "Kenapa kamu bersikeras menikah dengannya, padahal kita saling cinta! Sebelum hubungan itu terlanjur halal, pikirkan kebahagiaan kamu, juga kebahagiaan kita!" sambung Ghani tanpa menurunkan intonasi.


Bylla masih tidak menjawab, jantungnya berdegub kencang. Belum pernah ia melihat Ghani semarah ini.


"Jangan mengorbankan kebahagiaan kamu, Bylla. Menikahlah denganku!" ucap Ghani dengan tegas.


"Maaf, Ghani, aku sudah mencintainya. Kebahagiaanku bersama dia," jawab Bylla.


"Bohong! Kamu pasti bohong, Bylla!" teriak Ghani, ia tetap memegangi kedua bahu Bylla.


"Aku tidak bohong, Ghani. Kisah kita sudah berakhir, tolong mengertilah! Cinta tidak harus memiliki, membiarkan orang yang kita cintai bahagia dengan pilihannya sendiri, itulah makna cinta yang sejati," kata Bylla. Ia mengulangi ucapan Andra waktu itu.


"Aku bisa merelakan kamu kalau memang dia orang yang kamu cintai. Tapi, tidak Bylla, matamu mengatakan bahwa perasaan itu masih untukku. Aku tidak akan merelakan wanita yang kucintai mengorbankankan kebahagiaannya sendiri, apa pun alasannya." Ghani makin mendekat. Jarak di antara mereka kini hampir tak ada.


"Aku mencintainya, Ghani. Aku sudah tidak mencintaimu." Bylla menunduk dan menatap rerumputan hijau tempatnya berpijak.


"Tatap mataku dan katakan kalimat itu! Jika kamu bisa melakukannya, baru aku percaya!" kata Ghani dengan tegas.


Bersambung...

__ADS_1


Tahan ya tahan, jangan emosi!!! Sudah mau nikah, pasti nggak semudah itu untuk membatalkan. Namanya manusia biasa, pasti punya kekhilafan. Tapi tenang aja, aku up lagi kok episode selanjutnya. Biar keselnya nggak lama-lama.


Btw maaf ya belum bisa bales komentar,, lagi sibuk ngecat rumput, biar lebaran tahun ini beda, nggak ijo


__ADS_2