
Frans Been Jackson, pembisnis besar asal Surabaya yang tinggal di Jakarta. Sepak terjangnya dalam dunia bisnis sudah tak diragukan lagi. Jackson tercatat sebagai salah satu keluarga ternama di Negara Indonesia.
Namun, bukan kedudukannya yang membuat Ghani tercengang, melainkan putra tunggalnya. Reymond Been Jackson, seorang lelaki yang sangat dikenalnya. Ternyata dia adalah pewaris tunggal dalam keluarga Jackson. Dia memiliki hubungan darah dengan Alina.
"Ternyata Alina adalah sepupunya, tapi kenapa waktu itu Reymond tidak mengenalinya." Gumam Ghani dengan pelan.
Lantas Ghani menimang-nimang ponselnya. Ingin sekali ia menceritakan hal ini pada Bylla, namun ada keraguan dalam hatinya. Bagaimana nanti perasaan Bylla, jika tahu bahwa keluarga Reymond lah yang merampas masa depan Alina.
Memang benar hubungan mereka sudah berakhir, namun yang namanya mantan, pasti masih ada sedikit perasaan. Entah perasaan sayang, atau sekadar perasaan simpati. Sebesar apapun rasa benci dan rasa ingin melupakan, namun sepenggal kenangan pastilah masih terselip dalam ingatan.
"Tapi aku harus mencari keadilan untuk Alina. Aku tidak tahu kenapa rumah ini menjadi hak milik Om Tommy, entah dengan membeli, atau memang mereka memiliki hubungan. Aku harus memecahkan misteri ini, namun aku tak bisa melakukannya sendiri." Kata Ghani seorang diri.
"Bylla, hanya dia yang bisa membantuku. Ya, aku akan menceritakan hal ini padanya," sambung Ghani sambil menghela napas panjang.
Lantas ia kembali mengotak-atik ponselnya, dan menghubungi Bylla.
Satu kali panggilan tidak ada jawaban, panggilan kedua juga masih sama.
"Mungkinkah Bylla sudah tidur?" batin Ghani sembari mengusap tombol hijau di layar ponselnya. Ia menghubungi Bylla untuk yang ketiga kalinya.
Setelah sekian detik lamanya, sambungan telepon mulai terhubung. Suara pelan dan serak menyambutnya dari seberang sana.
"Assalamu'alaikum." Sapa Bylla.
"Waalaikumsalam. Bylla, kamu sudah tidur?" tanya Ghani.
"Iya, setelah kita menyudahi chat tadi, aku langsung tidur. Kupikir kamu juga tidur Ghani, ternyata masih kerja ya?" Bylla balik bertanya. Suaranya masih terdengar pelan dan sedikit serak.
"Aku tidak kerja Bylla. Sebenarnya aku juga mau tidur, tapi___" Ghani menggantungkan kalimatnya.
"Tapi apa?" tanya Bylla.
"Ada sedikit masalah, Bylla." Jawab Ghani.
"Masalah apa? Ghani, katakan padaku, ada apa!" teriak Bylla dengan cepat. Tak ada lagi suara pelan dan serak, ia begitu antusias saat menanyakan masalah yang dialami Ghani.
"Ini, ini tentang Alina. Bylla, sebelumnya aku minta maaf ya. Aku, aku___" ucap Ghani dengan gugup, bahkan ia gagal melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Ghani kenapa harus minta maaf, ada apa ini? Ayo katakan, jangan membuatku penasaran!" sahut Bylla.
"Kamu ingat kan tentang masa lalu Alina? Dia adalah anak orang kaya yang dibuang oleh pamannya. Sangat kebetulan Bylla, rumah yang aku tempati sekarang, dulunya adalah rumah Alina. Tadi dia sangat ketakutan, dia takut dibunuh oleh paman dan bibinya." Ghani memulai ceritanya.
"Apa! Ini kebetulan yang sangat langka Ghani, mungkin ini adalah jalan yang ditunjukkan Allah untuk mengambil kembali, apa yang menjadi hak Alina." Kata Bylla.
"Aku juga berharap begitu Bylla. Aku sangat ingin mencari keadilan untuk Alina," ucap Ghani sambil mengembuskan napasnya dengan kasar.
"Apakah Alina ingat siapa paman dan bibinya, apakah dia adalah produsermu? Kau bilang rumah itu milik dia, kan?" tanya Bylla dengan cepat.
"Iya, rumah ini memang milik Om Tommy. Aku juga tidak tahu kenapa bisa demikian. Bylla, pamannya Alina bernama Frans Been Jackson. Maaf, mungkin kabar ini mengecewakan kamu, tapi memang inilah kenyataannya," jawab Ghani menjelaskan dengan panjang lebar.
"Apa! Been, Been Jackson," gumam Bylla dengan pelan.
Ia seakan tak percaya dengan kabar yang baru saja didengarnya. Ia tak menyangka orang tua Reymond adalah orang yang seperti itu.
"Jadi ini yang membuat Ghani meminta maaf. Reymond, sejak kecil dia tinggal di Surabaya. Kira-kira dia tahu tidak ya, tentang hal ini. Waktu itu dia tidak mengenali Alina, entah hanya pura-pura, atau memang benar dia tidak mengerti." Batin Bylla dalam hatinya.
"Bylla!" panggil Ghani.
"Ehh ehmm iya, maaf aku sedikit kaget Ghani," jawab Bylla.
"Ehh bukan begitu, aku tidak apa-apa Ghani, aku hanya kaget aja. Mmmm, lalu apa rencanamu?" tanya Bylla mengalihkan perhatian Ghani.
"Sebenarnya, aku ingin meminta bantuan kamu. Aku yang seperti ini, tidak akan sanggup melakukannya sendiri. Tapi jika kamu, mmm___"
"Kamu tenang saja, aku pasti membantumu." Sahut Bylla dengan cepat.
"Saat ini Papa sedang di Paris, tapi aku akan meminta tolong sama Om Andra. Dia punya sahabat seorang pengacara, namanya Om Vino. Dia sering bolak-balik Jakarta-Surabaya. Dengan bantuan dia, kita pasti bisa menguak kejahatan keluarga Jackson. Dilihat dari sikapnya terhadap Alina, bisa jadi kasusnya tidak sesederhana ini, Ghani," sambung Bylla dengan serius.
"Maksud kamu?" tanya Ghani.
"Keluarga Alina kecelakaan, dan meninggal bersamaan. Takutnya ini bukan kebetulan Ghani, tapi sebuah kesengajaan. Dengan bantuan Om Vino, kita bisa menguak semuanya. Mencari motif dibalik perbuatannya, apa sekedar persaingan bisnis, atau mungkin ada rahasia keluarga yang tidak diketahui publik." Jawab Bylla mengutarakan pendapatnya.
Ghani tersentak kaget, ia sama sekali tak berpikir sejauh ini. Ghani menelan salivanya dengan susah payah, ia tak menyangka akan dihadapkan pada misteri yang cukup rumit. Dan lagi, misteri itu melibatkan orang besar seperti Frans Been Jackson. Sanggupkah Ghani melawannya?
***
__ADS_1
Lima hari kemudian.
Alina mulai terbiasa dengan tempat tinggalnya. Rasa takut berangsur-angsur sirna dari benaknya. Sejak dua hari yang lalu, Alina mulai masuk sekolah. Ia diantarkan oleh bibi pengasuh.
Limah hari pula, Ghani harus menelan rasa kecewa. Berkali-kali ia berusaha mendekati Tommy, dan mencari tahu asal-usul rumahnya. Namun hasilnya nihil, Tommy sama sekali tak terpancing olehnya.
Vino masih belum bisa membantu. Saat ini ia masih sibuk di Surabaya, baru minggu depan ia bisa ke Jakarta. Ghani hanya bisa sabar menunggu, karena berusaha sendiri juga tidak mampu. Tanpa uang yang banyak, semua urusan menjadi rumit.
Malam ini, Ghani melupakan sejenak masalah Alina. Ia harus menunjukkan totalitasnya sebagai seorang penyanyi. Ini adalah konser besar yang dihadiri banyak artis dan penyanyi papan atas. Ghani tak ingin mengecewakan Tommy, dan juga personel lainnya. Acara ini ditayangkan langsung diberbagai stasiun televisi, ia tak boleh melakukan kesalahan sedikitpun.
Tepat pukul 08.00 malam acara dimulai. Pembukaan diisi oleh penyanyi solo papan atas, Laura Anastasya. Lantas presenter mulai naik ke atas panggung. Kemudian acara selanjutnya adalah sambutan dari direktur. Semua duduk manis mengikuti jalannya acara, tak terkecuali juga Ghani.
Ghani duduk di antara personel Batas yang lainnya. Diantara banyaknya band yang ada dalam naungan Tommy, Batas adalah satu-satunya yang diundang dalam acara ini.
Disaat Ghani sedang fokus mendengarkan sambutan sang direktur, tiba-tiba ia dikejutkan oleh getar ponsel yang ada dalam genggamannya. Lantas Ghani menatap ponselnya, ada satu pesan dari nomor yang tak dikenal.
Temui aku di toilet, sekarang. Penting!
Ghani mengerutkan keningnya kala membaca sebaris kalimat dalam pesan itu. Siapa dia?
Cukup lama Ghani berada dalam dilema, antara datang atau tidak. Ia penasaran dan ingin datang, namun juga terselip rasa ragu. Takut jika itu hanya jebakan. Dalam persaingan bisnis dan juga karier, banyak hal yang bisa saja terjadi.
Namun rasa penasaran mengalahkan pertahanannya. Setelah berpikir selama sekian menit, akhirnya Ghani memutuskan untuk datang.
"Aku ke toilet dulu ya," ucap Ghani sambil beranjak dari duduknya.
"Iya, santai aja. Giliran kita masih lama," jawab Satya sambil tersenyum.
Ghani melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi. Semakin dekat jaraknya dengan ruangan itu, jantungnya pula berdetak semakin cepat. Ghani menolah ke sana ke mari, memastikan jika tidak ada bahaya yang mengintainya.
Kamar mandi sudah ada di depan mata, namun tak ada satu sosok pun yang menampakkan batang hidungnya. Ghani mulai resah, dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali.
Namun baru selangkah Ghani berjalan, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya.
"Ghani Alghibrani!" panggil lelaki itu dari belakangnya.
Dengan cepat Ghani menoleh, dan ia tersentak kaget saat menatap sosok yang berdiri di sana.
__ADS_1
"Dia___" batin Ghani dengan perasaan yang mulai tak menentu.
Bersambung...