Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Suara Wanita


__ADS_3

Tubuh Sania gemetaran, ia menunduk takut sambil memejamkan matanya, menghalau air mata yang siap tumpah. Sania menggigit bibirnya kuat-kuat, untuk pertama kalinya ia merasa sangat menyesal atas keputusan yang telah diambilnya.


"Andai saja aku tahu akan seperti ini akhirnya, aku tidak akan pernah menerima pinangan kamu Rey. Aku mempertimbangkan kamu, karena berharap mendapatkan lelaki yang tulus. Tapi ternyata, kamu jauh lebih buruk daripada dia. Kenapa tidak ada seorang pun yang benar-benar mencintaiku," ratap Sania dalam hatinya.


"Kenapa diam, tidak terima aku ceraikan, iya!" bentak Reymond dengan napas yang memburu.


"Apapun keputusan kamu, aku terima. Tapi satu hal yang harus kamu tahu Rey, aku mencintaimu, aku ini benar-benar cinta, bukan sekedar mencari pelarian," ucap Sania dengan pelan. Ia masih tetap menundukkan kepalanya, tak ada keberanian sedikitpun untuk mengangkat wajahnya.


"Cinta, kamu bilang cinta Sania!" bentak Reymond masih dengan nada tinggi.


Lantas ia mengangkat dagu Sania, dan memaksa wanita itu untuk menatapnya.


"Cinta macam apa yang kamu bicarakan, Sania! Kamu menerima lamaranku, sementara ada janin yang mulai tumbuh dalam rahim kamu. Kenapa kamu tidak jujur sejak awal, kenapa, hah kenapa!" teriak Reymond seraya mencengkeram bahu Sania dengan erat.


"Sakit Rey! Rey, lepaskan Rey! Sakit Rey!" kata Sania sambil berusaha melepaskan cengkeraman Reymond. Baru kali ini Sania melihat Reymond semarah itu, entah ada apa dengannya.


"Sakit yang kamu rasakan ini, tidak sebanding dengan sakit yang ada dalam hatiku. Paham!" bentak Reymond.


"Sekarang pergi! Tidur sana dan biarkan aku sendiri. Sekali lagi kamu berani menggangguku, aku tidak akan segan-segan untuk menyakiti kamu, ngerti!" sambung Reymond masih dengan nada tinggi, seraya melepaskan cengkeramannya dengan kasar.


Tubuh Sania sedikit terhuyung, namun tidak sampai terjatuh. Sania tak mengucapkan sepatah katapun, biar air mata saja yang menjelaskan bagaimana perasaannya.


Sania mencengkeram ujung bajunya dengan erat, ia menahan rasa sakit yang mengiris-iris di dalam hati. Sania berusaha keras menahan rasa sesak di dadanya, ia berusaha sabar menghadapi Reymond yang ternyata sangat temperamental.


Netra Sania menatap kepergian Reymond, entah akan pergi kemana lelaki itu, Sania tak punya nyali untuk bertanya.


Setelah tubuh Reymond menghilang di balik pintu. Sania menyandarkan tubuhnya di dinding. Meratapi nasibnya yang jauh dari kata baik.


"Maafkan Mama Nak, Mama belum bisa memberikan kebahagiaan untuk kamu. Dia yang menjadi ayah kandungmu, tidak bersedia menikahi Mama. Dan dia yang kuharap bisa menjadi ayahmu, ternyata malah sangat membenci Mama. Entah seperti apa masa depan kita kelak, yang jelas Mama akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu. Doakan Nak, doakan semoga Mama sabar dan kuat menjalani kehidupan ini," ucap Sania sambil mengusap-usap perutnya yang mulai membuncit.


Sementara itu, Reymond pergi ke kamar kosong yang terletak di sudut ruangan. Ia memukuli meja dan sofa dengan penuh emosi. Ia menjadikan perabotan itu sebagai sarana untuk melampiaskan amarahnya.


"Arrgghhh!!" geram Reymond sambil membanting vas bunga besar yang terletak di samping meja.

__ADS_1


Vas keramik itu hancur berkeping-keping, dan tangkai bunganya berserakan di lantai. Reymond menatapnya dengan nanar, lantas ia menginjak-injak bunga itu dengan sepatu hitam yang masih dikenakannya.


"Sial, sial, sial, sial, sial, hidupku snagat sial!" umpat Reymond dengan napas yang memburu, hingga dadanya terlihat naik turun.


"Kenapa aku sangat bodoh, kenapa? Ya Allah, kenapa Engkau tidak membuka mataku, kenapa Engkau membiarkan aku berbuat sebodoh ini. Kenapa Ya Allah, kenapa?" ratap Reymond sambil terduduk lesu di lantai.


Pikirannya kembali mengingat Bylla. Wanita yang dulu divonis lumpuh dalam waktu yang cukup lama, kini sudah bisa berjalan meskipun masih menggunakan alat bantu.


Reymond merasa sangat menyesal, meninggalkan Bylla hanya demi Sania, ahh itu ibarat membuang mutiara danya demi serpihan kaca.


"Seharusnya aku tidak pernah meninggalkanmu Bylla. Tahu begini aku akan menunggumu, dan kita akan menjadi pasangan pengantin yang paling bahagia. Merajut masa depan bersamamu, ahh itu adalah mimpi yang sangat indah Bylla," ucap Reymond dengan tatapan kosong.


"Apakah aku masih punya kesempatan untuk meminta maaf padamu, Bylla? Kamu tahu, aku sangat menyesal, aku sangat menyesal Bylla." Kata Reymond pada setangkai bunga yang ada di sebelah kakinya. Seolah dalam kelopak bunga itu, ada bayangan Bylla yang sedang tersenyum manja.


***


Hangat sinar surya, menyeruak masuk ke dalam kamar tidur Bylla. Wanita anggun itu menyibak tirai jendelanya lebar-lebar, memberikan ruang yang lebih untuk sang kirana. Bylla memejamkan matanya sembari mengambil napas dalam-dalam, menikmati segarnya angin pagi yang memberikan rasa hangat dan nyaman.


Setelah puas menikmati indahnya pagi, Bylla bergegas menjauhi jendela. Ia berjalan tertatih dengan bantuan alat penyangga. Bylla bermaksud pergi ke ke mamar mandi, namun sebelum itu, ia lebih dulu memeriksa ponselnya.


Senyuman Bylla terulas dengan sempurna, kala netranya menatap pesan yang Ghani kirimkan semalam.


"Oh jadi di studio, aku pikir di kamar," Gumama Bylla dengan pelan.


Dalam kesendirian, Bylla menertawakan dirinya sendiri. Kenapa begitu mudahnya ia menyimpulkan hal yang belum pasti. Dan hal itu, mampu membuatnya terjaga sepanjang malam.


"Sambutlah angin pagi yang membawa pesan dariku. Ghani, Ghani, ternyata kamu bisa nggombal juga. Dan anehnya, aku sangat menyukai hal itu," ucap Bylla sambil tertawa renyah.


Lalu Bylla mulai menghubungi Ghani, ia ingin mendengarkan suara lelaki itu secara langsung.


Satu kali panggilan, masih tidak ada jawaban. Dua kali, tiga kali, hingga empat kali, hasilnya masih sama. Bylla menghela napas panjang, lantas meletakkan ponselnya, dan bergegas menuju ke kamar mandi.


Sekitar setengah jam kemudian, Bylla keluar dari kamar mandi. Tubuhnya sudah dibalut dengan dress rumahan bermotif bunga-bunga kecil. Rambutnya disanggul asal-asalan, sedikit basah dan berantakan, namun malah menambah kadar kecantikannya.

__ADS_1


Dengan tertatih, Bylla mendekati meja, dan mengambil ponselnya. Ia membawanya duduk di sofa, dan kembali menghubungi Ghani.


"Angkat dong Ghan, aku sudah tidak marah lagi nih," ucap Bylla sambil menunggu nada tunggu yang terdengar membosankan, menurutnya.


Selang beberpa detik, sambungan telepon mulai terhubung. Bylla tersenyum manis, merasa lega karena Ghani mengangkat teleponnya.


"Hallo, Assalamu'alaikum Ghani!" sapa Bylla dengan suara yang lembut.


"Waalaikumsalam." Jawab seseorang di seberang sana.


Bylla mengernyitkan heran, lalu ia kembali memeriksa ponselnya.


"Benar kok, ini benar nomornya Ghani," batin Bylla dalam hatinya.


Dengan ragu-ragu Bylla kembali menempelkan ponselnya.Dan hatinya bergejolak, kala mendengar suara itu untuk yang kedua kalinya.


"Hallo, kenapa tidak ada suara," ucap seseorang itu tanpa rasa bersalah.


Bylla masih bergeming, terlalu berat untuk berbicara. Ah jangankan berbicara dan menjawab ucapannya, untuk mengeluarkan sepatah kata saja, ia tidak mampu. Lidahnya serasa kelu, dan tak mampu digerakkan. Otaknya kembali dipenuhi ilusi negatif tentang Ghani.


Kenapa suara wanita?


Siapa dia?


Mungkinkah semalaman mereka bersama?


Apa yang mereka lakukan?


Apa hubungannya dengan Ghani?


Beberapa pertanyaan, muncul begitu saja didalam benak Bylla. Pertanyaan yang menuntut sebuah jawaban, dan memicu beraneka macam praduga serta prasangka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2