
Tepat pukul 03.00 sore, Ghani dan yang lainnya tiba di Pulau Serbia. Pulau yang hanya seluas 8,82 hektar, dengan mayoritas suku Bugis.
Panorama di sana benar-benar menakjubkan, pasir putih menghampar luas di sepanjang lautan lepas yang kehijauan. Ratusan pohon pinus berjajar rapi, berpadu dengan bebatuan karang yang berada di bibir pantai. Belum lagi Mercussuar yang menjulang tinggi nan kokoh. Sangat memanjakan mata.
Semua tertawa sumringah kala menginjakkan kaki di pulau itu, kacuali Ghani. Dia mulai gelisah, karena layar ponselnya sama sekali tidak menunjukkan adanya jaringan. Dan Tommy, dia tersenyum miring saat meliriknya.
"Ghan, kamu kenapa?" tanya Satya yang berjalan di samping Ghani.
"Tidak ada signal," jawab Ghani dengan singkat.
"Benarkah?" gumam Satya. Kemudian ia mengeluarkan ponsel miliknya.
"Punyamu gimana?" tanya Ghani penasaran.
"Zonk," jawab Satya.
Mendengar pembicaraan mereka, Arsen, Rizki, dan Bryan ikut memeriksa ponsel masing-masing. Dan mereka berdecak kesal, kala tak menemukan signal.
"Kok bisa nggak ada ya, padahal waktu itu kata temanku lancar-lancar aja di sini. Ck, sial!" gerutu Tommy sambil menatap layar ponselnya dengan kesal.
Ghani dan yang lainnya saling pandang, dan masing-masing hanya bisa mengembuskan napas kasar, karena semuanya sudah terlanjur. Satu hal yang Ghani sayangkan adalah Bylla. Dia belum sempat mengabari wanita itu, jika dirinya akan pergi ke Pulau Sebira.
***
Minggu, 25 April 2021.
Dunia bisnis dihebohkan oleh penangkapan pasangan suami istri di keluarga Jackson, yakni Laras Kurniawan dan Frans Been Jackson. Atas kasus pembunuhan yang direncanakan terhadap keluarga adiknya. Revandio Putra, Alsena Haliza dan putri sulung mereka, Aletta haliza Putri.
Mereka menyamarkan pembunuhan ini menjadi tragedi kecelakaan. Namun serapat apapun menyembunyikan bangkai, aromanya akan tetap menguar. Sehan, pengacara yang sudah lama bekerja untuk Revandio Putra, kini muncul kembali.
Dia membawa bukti rekaman saat Frans menelepon seseorang untuk menyalahi mobil milik Revandio. Bukti diperkuat dengan kenyataan, bahwa sekarang seluruh aset milik Alsena dan Revandio, berada di bawah kekuasaannya.
Dalam keluarga Jackson, keberadaan Revandio tidak diakui, karena fisiknya yang kurang sempurna. Dia mengalami tunawicara sedari kecil, kendati demikian, dia sangat cerdas dan penyayang.
Selain kasus pembunuhan, mereka juga dijerat kasus lain. Yakni mencelakai anak dibawah umur. Frans membuang Alina Haliza Putri, putri bungsu dalam keluarga Revandio yang sampai saat ini masih dalam pencarian.
__ADS_1
Terkait kasus ini, pengacara juga memiliki barang bukti, yakni rekaman saat Frans mengeluarkan Alina secara paksa dari mobilnya. Dan lokasi itu bukan di Jakarta, melainkan di Surabaya.
Semalam tersangka dibekuk di rumahnya, di Jakarta. Namun hingga pagi ini, Frans maupun Laras belum membuka suara. Mereka masih merahasiakan identitas pelaku lain yang terlibat dalam kasus ini.
Hal yang sangat mengejutkan. Menjadi berita paling hangat, baik di koran, internet, maupun stasiun televisi.
Dua fakta yang membuat publik tercengang. Keberadaan Revandio, dan juga sifat asli dari Frans Been Jackson. Mereka yang biasa menyanjung sebagai pria dermawan, kini menghujatnya dengan bermacam makian.
Satu orang yang sangat terpukul dengan kejadian ini adalah Reymond. Dia yang baru kemarin resmi bercerai, kini dihadapkan pada ujian yang sangat berat. Dia tak pernah menyangka, jika selama ini orang tuanya selicik itu.
Mereka menyuruh Reymond tinggal di Surabaya, tanpa mengenalkannya pada Alsena maupun Revandio. Namun, mendengar nama Alina, Reymond merasa familiar. Hanya saja ia tak berhasil mengingat siapa gadis kecil itu.
Begitu mendapat telepon dari tangan kanan ayahnya, Reymond langsung terbang ke Jakarta. Dan pagi ini dia sudah bersua dengan orang tuanya yang berada di kantor polisi.
"Kenapa Papa dan Mama melakukan ini?" sesal Reymond dengan kepala yang tertunduk.
"Rey, maafkan Mama. Semua ini juga demi masa depan kita," jawab Laras dengan sudut mata yang basah.
"Tanpa melakukan ini pun, masa depan kita tidak akan suram, Ma. Papa juga, kenapa setega itu sama adik sendiri? Sampai aku sedewasa ini, sampai mereka sudah tiada. Aku bahkan tidak tahu seperti apa Paman Revandio, Bibi Alsena, Aletta, dan juga Alina. Kenapa Pa, kenapa?" Reymond meninggikan nada suaranya, sembari memegangi kepala yang terasa pening.
"Dari dulu dia tidak diakui, apa Papa masih kurang puas! kenapa Papa merebut harta mereka? Sampai-sampai Papa menghilangkan nyawa mereka, kenapa?" teriak Reymond. Ia mulai emosi.
"Dia bisu, dia cacat! Dia tidak pantas menjadi orang kaya!" geram Frans.
"Hanya tunawicara, dan Papa menganggapnya tidak pantas. Lalu bagaimana dengan Papa sendiri, Papa malah tunahati. Tunawicara itu sudah takdir dari Tuhan, sedangkan Papa. Papa tidak punya hati karena ambisi!" ujar Reymond dengan napas yang memburu.
Frans tak menjawab, namun langsung beranjak dari duduknya dan menampar Reymond dengan keras.
"Mas, jangan!" teriak Laras sambil berusaha menahan tangan Frans. Namun terlambat, tangan itu sudah mendarat di pipi Reymond.
Reymond ikut berdiri, rasa panas di pipi tak sebanding dengan rasa sakit di hati.
"Sekarang aku tahu, kenapa Papa dan Mama melarangku menikah dengan Bylla kala itu. Karena dalam pandangan Papa dan Mama, kekurangan adalah sesuatu yang hina. Aku heran, dari mana Papa dan Mama mendapatkan pemikirian yang seperti itu. Dan bodohnya aku, malah menuruti perintah kalian," ujar Reymond dengan panjang lebar.
"Jangan durhaka Rey, jangan menyalahkan orang tuamu, yang sudah berusaha keras demi masa depanmu. Kami mengambil harta ini untuk kamu, kami menyuruhmu menikah dengan Sania juga untuk kebaikanmu! Kamu___"
__ADS_1
"Jangan menjadikan aku sebagai alasan atas ambisi Papa. Apa pernah aku menuntut, apa pernah aku bermalas-malasan, tidak Pa! Aku selalu giat bekerja, bahkan sejak kuliah pun aku sudah belajar kerja!
Dan untuk Sania, sepertinya pilihan Papa salah. Sania membawa bayi dalam kandungannya, dia sudah hamil sebelum menikah denganku. Dan ... sekarang kami sudah cerai," ungkap Reymond.
Selama ini dia selalu menutupi aib Sania, tapi sekarang tidak. Dia menjelaskan kebenarannya.
"Apa, Sania, Sania___" ucap Laras terbata-bata.
"Iya Ma, dia hamil dengan orang lain. Yang lahir itu bukan cucu Mama, karena aku tidak pernah menyentuhnya!" pungkas Reymond.
"Andai saja waktu itu aku diperbolehkan menunggu Bylla, mungkin saat ini cucu kandung Mama sudah terbentuk. Tapi sekarang, aku tidak janji kapan bisa memberikan cucu untuk Mama. Saat ini, tak ada wanita yang kucintai selain Bylla. Dan kembali padanya, itu sangat sulit," terang Reymond setelah hening beberapa detik.
"Dan kamu menyalahkan Papa, iya!" Dasar anak tidak tahu diri!" bentak Frans.
"Mas!" teriak Laras.
"Aku tidak menyalahkan Papa, karena orang tua selalu benar, itu 'kan yang Papa ajarkan padaku. Aku hanya ... kecewa, sangat kecewa," ucap Reymond dengan pelan.
Lantas ia berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan orang tuanya.
Laras semakin menangis, kala menatap punggung anaknya yang semakin menjauh.
"Mas, bagaimana ini, Reymond sangat kecewa," ucap Laras pada suaminya.
"Dia anak pembangkang, jangan pikirkan dia!" jawab Frans.
"Kenapa kamu tidak menyeret mereka semua, Mas? Harusnya katakan saja, agar mereka ikut merasakan apa yang kita rasakan!" ujar Laras.
"Jangan bodoh Ma, jika aku menyeret mereka, dan mereka mengatakan kalau aku yang menyuruhnya. Hukuman kita akan semakin berat. Aku percaya, Tommy pasti bisa membebaskan kita. Dia yang membuat celah, dia juga yang harus menutupnya," jawab Frans sambil menatap istrinya.
"Apakah ini ulah Ghani, Mas?" tanya Laras dengan hati-hati.
"Menurutku iya, dia pasti minta bantuan pada Da Vinci, sehingga jejaknya tidak terdeteksi. Tapi, sebentar lagi dia akan tumbang. Aku sudah menyuruh Tommy untuk memisahkan mereka. Tanpa Da Vinci, apa yang bisa Ghani lakukan," ujar Frans sambil mengulas senyuman licik.
"Ghani, boleh saja kau bermimpi menjebloskan Tommy. Tapi semua itu tidak akan pernah terjadi. Tanpa Da Vinci, kau ibarat debu tak berguna. Selamanya, kau tidak akan bisa menunjukkan keberadaan Alina," batin Frans.
__ADS_1
Bersambung....