
Gelak tawa dan riuhnya perbincangan, masih terdengar walau malam sudah larut. Pesta pernikahan Ghani dan Bylla baru saja berakhir, namun beberapa sanak saudara masih belum meninggalkan lokasi. Mereka minum sambil berbincang bersama Andra dan Kairi.
Ghani tidak ikut bergabung dengan mereka, ia lebih memilih menggandeng tangan sang istri, dan mengajaknya ke kamar. Ada hal lain yang lebih menarik untuk dilakukan.
"Ciee pengantin baru, semangat bener mau ke kamar," goda Keyvand, kala Ghani dan Bylla mulai menginjak anak tangga.
"Sudah malam Vand, dia butuh istirahat." Ghani melirik Bylla yang berdiri di sebelahnya.
"Iya, aku paham kok." Keyvand tersenyum lebar.
"Jangan reseh Vand," kata Bylla dengan pelototan tajam.
"Ihh masih galak, padahal kamu bisa nikah sama Ghani berkat bantuanku juga lho. Kalau enggak, kamu udah nikah sama Rubben, pasti malam pertamanya banjir air mata," ujar Keyvand tanpa rasa bersalah.
"Vand! Diam!" teriak Bylla.
"Aku ngomong gini karena___"
"Diam atau ini akan mendarat di kepalamu!" Bylla melepas hihg hells, dan bersiap melemparkannya ke arah Keyvand.
"Hei jangan!" kata Ghani.
"Jangan galak-galak Byl, nanti suamimu kaget lho!" Keyvand berlalu pergi sembari tertawa keras.
"Dasar menyebalkan!" geram Bylla.
"Sudah jangan cemberut, jelek tahu." Ghani mencubit pipi Bylla sambil tersenyum lebar.
"Kamu malah tertawa," gerutu Bylla.
"Tingkahmu dan Keyvand itu lucu," ucap Ghani.
"Bukan lucu Mon cherie, tapi dia itu menyebalkan," ralat Bylla.
"Kamu kesal?"
"Banget."
"Kalau begitu ayo jalan lagi, aku akan mengganti kekesalan kamu dengan sesuatu yang manis," bisik Ghani tepat di telinga Bylla.
Bylla terkesiap, kerudung tipis yang ia kenakan tak mampu menghalangi hangat napas Ghani yang menyapu kulitnya. Samar-samar bibir basah itu menyentuh daun telinga, membuat Bylla teringat akan rasa manis yang ia reguk tadi siang.
"Ma cherie!" panggil Ghani. Tangannya terulur merengkuh pinggang, lantas ia mendekatkan wajahnya, dan menatap manik biru yang sedari tadi meniliknya.
__ADS_1
"Byl, di kamar Byl, jangan di tangga!"
Teriakan Keyvand yang menggema, membuat keduanya tersentak, dan langsung menjaga jarak satu sama lain. Masing-masing menatap Keyvand melangkah pergi sambil tertawa.
"Dasar Keyvand!" geram Bylla dengan tangan yang mengepal.
"Jangan kesal lagi, ayo!" ajak Ghani. Ia kembali merengkuh pinggang Bylla, dan mengajaknya menaiki tangga bersama-sama.
Tak membutuhkan waktu lama, kini mereka sudah tiba di dalam kamar. Jantung Bylla berdetak cepat, kala suami mengeratkan rengkuhannya. Dalam keremangan, Bylla menatap lekat manik hitam milik Ghani.
"Ma cherie!"
Bisikan Ghani mengalun merdu dalam pendengaran Bylla. Suara bak candu yang ingin ia dengar setiap detik.
Aliran darah Bylla kian memanas, seiring sentuhan Ghani yang menghangat di kulit wajah. Jarak keduanya semakin terpangkas, deru napas saling membaur tanpa batas.
Bylla mengalungkan kedua tangannya di leher Ghani, sambil mendongak, ia kembali mereguk nikmatnya rasa manis yang memikat.
Setelah cukup lama saling bertautan, keduanya saling melepaskan. Lantas menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, dan mengontrol kembali napas yang sempat tersendat.
"Sangat manis, aku bahkan kesulitan untuk menyudahi." Ghani berbisik sambil mengusap bibir Bylla yang merekah dan basah.
"Kau adalah orang pertama yang berhasil menyentuhnya. Dan aku bahagia, berhasil menjaganya hingga hari ini," ucap Bylla.
"Iya." Bylla mengangguk. "Selama ini aku tidak pernah melakukan hal lebih dalam menjalin hubungan, aku ingin semuanya terjaga rapi, hingga ikatan disaksikan Tuhan," sambungnya.
Dalam hati, Ghani tertawa riang. Meskipun ia percaya Bylla masih suci, namun ia tidak menyangka jika Bylla tak pernah berciuman. Mengingat dulu hubungannya dengan Reymond nyaris sampai ke pelaminan. Dan dengan Rubben, meskipun tak ada perasaan untuknya, namun mereka juga nyaris duduk di depan penghulu.
"Kau juga pertama bagiku. Satu-satunya wanita yang berhasil membuatku jatuh cinta ... adalah dirimu. Sejak pertama kali bertemu, aku sudah menempatkan bayangmu dalam ruang rindu. Aku tidak punya cara untuk menggapaimu yang ibarat bintang bagiku. Aku hanya memintamu pada Sang Pencipta. Di sepertiga malam aku selalu bersimpuh, dan memohon petunjuk. Petunjuk untuk bersamamu, atau petunjuk untuk menghapus perasaanku padamu. Dan ternyata, Allah menunjukkan jalan untuk memilikimu," ungkap Ghani dengan tatapan penuh perasaan.
"Kau mencintaiku sejak___"
"Iya, sejak aku menabrakmu di dekat pusat perbelanjaan," pungkas Ghani.
"Lalu saat kau tahu aku bersama Reymond, bagaimana perasaanmu?" tanya Bylla hati-hati.
"Sangat tidak nyaman, dan aku hanya bisa pasrah pada kehendak Tuhan," jawab Ghani.
Bylla terpaku sejenak, membayangkan kilasan balik tentang masa lalu. Mungkin garis takdir memang menjodohkan dirinya dengan Ghani. Mungkin ini hikmah dari musibah yang dulu menimpanya. Ia dan Reymond hampir menikah, dan kecelakaan itu menjadi alasan perpisahan. Tuhan mengambil Reymond darinya, dan mengganti dengan seseorang yang jauh lebih sempurna.
"Aku sangat mencintaimu, gadis dalam rindu," bisik Ghani.
"Aku juga sangat mencintaimu, sang pemilik hati." Bylla mengusap rahang Ghani dengan jemari.
__ADS_1
Sentuhan tangan Bylla, membuat Ghani tak bisa lagi menahan hasratnya. Tangannya terulur begitu saja, melepaskan kerudung yang menutupi kepala sang istri.
Kerudung putih ia lemparkan ke atas sofa, lantas ia membelai lembut leher putih nan jenjang yang terpampang jelas.
"Mon cherie," desah Bylla, kala Ghani menenggelamkan wajah di ceruk lehernya.
"Sebut namaku, Bylla," ujar Ghani disela-sela napas yang kian memburu.
"Ghani." Bylla mencengkeram kemeja yang masih membungkus tubuh Ghani. Detak jantung, aliran darah, deru napas, semua berada diluar kendali. Bylla tak mampu lagi mengontrol dirinya sendiri.
Dalam hitungan detik, Bylla merasakan tubuhnya mendarat pelan di atas ranjang. Semerbak wangi mawar semakin menyeruak tajam di hidungnya. Sebelum pesta berlangsung, pelayan telah meletakkan ratusan kelopak mawar di atas sprei putih.
Di tengah cahaya lampu yang temaram, Bylla menatap dada bidang Ghani berada tepat di atasnya. Entah sejak kapan ia melepaskan kemejanya, Bylla sama sekali tak menyadari.
Detik berikutnya, Bylla memejamkan mata. Menikmati hangatnya sentuhan Ghani di tempat yang tak pernah terjamah. Ketika rasa dalam dada semakin bergejolak, Bylla meraih tengkuk Ghani, dan kali ini dia yang berinisiatif melakukannya.
"Ghani, aku___" ucap Bylla setelah cukup lama saling mereguk rasa manis.
"Kenapa, hemm?" Ghani menangkup pipi Bylla, dan mengusapnya dengan lembut.
"Aku, aku___"
"Kau menginginkannya?" tanya Ghani.
Bylla mengangguk, hirap sudah rasa malu dalam dirinya. Perlakuan Ghani benar-benar meruntuhkan pertahanan.
"Kamu tidak takut, katanya yang pertama itu sakit?" bisik Ghani.
"Aku percaya kamu tidak akan menyakitiku," jawab Bylla juga dengan bisikan.
Ghani tersenyum, sambil memandangi wajah Bylla yang berada tepat di bawahnya. Manik biru tampak sayu, dan berkali-kali gigi putih nan rapi mengigit bibir.
"Ghani!"
"Aku di sini," goda Ghani kala bibir mungil itu bergerak pelan menyebutkan namanya.
"Rasa ini benar-benar menyiksa," bisik Bylla. Rasa malu dan canggung raib tak tersisa. Satu hal 'itu' berhasil menguasi pikiran dan perasaan.
"Kita akan saling memiliki, Bylla."
Lantas Ghani mulai memangkas jarak, dan menuruti keinginan Bylla, yang sesungguhnya juga kenginannya. Keduanya saling mengalunkan hasrat dalam melodi cinta yang tanpa batas.
Jarum jam yang menggantung di dinding terus berputar, menjadi saksi bisu atas kebahagiaan dua hati yang saling memadu kasih.
__ADS_1
Bersambung....