Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Dilema Prasangka


__ADS_3

Senin, 26 April 2021


Bylla melenggang masuk ke kamar Mika. Sejak tiba di Paris beberapa hari lalu, ini pertama kalinya dia berkunjung ke rumah utama. Karena selama ini, dia tinggal di apartemen, di dekat Menara Eiffel. Hampa, satu hal yang ia rasakan saat pertama kali menginjakkan kaki di kamar adiknya.


Bylla terus melangkah menuju jendela, menyingkap tirainya dengan lebar, dan membiarkan sinar surya menerangi ruangan. Lantas Bylla duduk di kursi, menatap lukisan wajah Mika yang terpampang jelas di atas meja.


"Secepat itu kamu pergi, Dek! Bahkan saat aku belum bisa menjadi kakak yang baik. Ah jangankan menjadi kakak, mengucap kata maaf saja aku belum sempat," sesal Bylla.


Ia meraih bingkai poto itu, dan mengusapnya dengan pelan. Sebuah senyuman, yang kini hanya bisa ia nikmati lewat gambar.


Puas menatap poto Mika, padangan Bylla teralih pada laci meja. Tanpa berpikir panjang, dia ulurkan tangannya dan membuka laci itu.


Satu hal yang menarik perhatiannya adalah buku diary. Buku imut dengan sampul bergambar hati, ia raih begitu saja. Bylla membolak-balikkan lembar demi lembar. Ternyata buku itu penuh dengan goresan aksara. Tulisan yang kecil dan rapi. Sangat manis, semanis wajah penulisnya.


Bylla kembali membuka pada halaman pertama, membaca pelan apa yang Mika tuliskan. Ungkapan rasa sedih atas penyakit yang dideritanya. Lantas di lembar kedua, ketiga, dan keempat, di sana Mika mulai menuliskan nama Rubben. Lelaki bak malaikat yang menjelma dalam wujud dokter, seperti itulah Mika menyebutnya.


Lembar demi lembar terus ia buka. Di pertengahan Mika menulis tentang perasaan. Rasa cinta mulai tumbuh, seiring rasa iri dan cemburu. Memang kala itu hubungan Rubben dan Bylla cukup dekat.


Bylla terus membaca, hingga menemukan satu fakta pahit tentang Mika. Dia sengaja merahasiakan penyakitnya, agar Bylla tidak kembali ke Paris. Dia ingin kasih sayang orang tua, serta perhatian Rubben, utuh untuknya. Dia sama sekali tidak mengharapkan kehadiran Bylla. Dia benci dengan kesempurnaan dan keberuntungan yang ada pada Bylla.


Bylla menggigit bibirnya, kenyataan yang terlalu menyakitkan. Seorang adik menyimpan rasa benci yang begitu besar padanya.


"Aku tidak mengerti kenapa Tuhan menggariskan takdir yang berbeda untuk kita, Dek. Dan aku lebih tidak mengerti, kenapa kamu membenciku atas takdir ini," gumam Bylla.


Setetes air mata jatuh membasahi pipi, luruh bersama luka yang mulai menganga. Lantas Bylla meraih ponselnya, hendak menghubungi sang kekasih yang sedari kemarin tak ada kabar.


Satu kali, dua kali, tiga kali, hingga lima kali Bylla menelepon, jawaban operator masih sama. Nomor Ghani sedang tidak aktif, atau berada diluar jangkauan.


"Kamu ke mana sih Ghan, dari kemarin lho nomormu nggak aktif-aktif. Kamu baik-baik saja, kan?"


Bylla menatap layar ponselnya tanpa kedip, berharap ada kabar dari Ghani. Namun hingga beberapa menit lamanya, ponsel itu tetap diam. Tidak ada pesan ataupun panggilan.


Bylla meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas. Bibir ranumnya sedikit manyun, terlihat jelas jika ia sedang kesal. Baru saja Bylla hendak menopang dagu, tiba-tiba ponselnya berdering. Senyuman nan menawan terukir tanpa dipinta.


Senyuman yang ternyata hanya sekilas, karena Bylla kembali kecewa saat menatap nomor yang memanggilnya. Ternyata telepon itu dari Leon, bukan Ghani.

__ADS_1


"Hallo," sapa Bylla dengan malas.


"Hallo Bylla," jawab Leon dengan cepat.


"Ada apa, Kak?" tanya Bylla.


"Kau sudah melihat berita kemarin ... dan hari ini?" Leon balik bertanya.


"Belum, kenapa?"


"Ada dua berita yang lagi viral di sini, banyak stasiun tv yang menayangkan. Cobalah cari di internet, pasti ada!" jawab Leon.


"Emang berita apa sih, Kak? Aku tidak tertarik dengan gosip," ujar Bylla.


"Yakin? Dua berita ini ada hubungannya dengan kamu lho, Byl!"


"Hah, serius!" teriak Bylla.


"Bukan kamu sih, tapi seseorang yang dekat dengan kamu. Berita kemarin menyangkut Reymond, dan berita hari ini menyangkut ... Ghani," kata Leon dengan cepat. "Bylla, apapun yang terjadi, kamu harus tegar!" sambungnya dengan suara yang pelan.


"Kak, apa maksudmu?" tanya Bylla. Hatinya mulai bergejolak. Mendengar nama Ghani, perasaan resah dan gelisah, mulai menyeruak begitu saja.


Tanpa banyak kata, Bylla langsung mengakhiri sambungan telepon. Dengan cepat dia meluncur menjelajahi dunia maya. Mencari berita yang sedang trending di Indonesia.


Satu berita yang pertama kali tertangkap netranya adalah berita tentang Frans Been Jackson.


"Sebenarnya kasihan Om Frans, tapi mau bagaimana lagi. Segala perbuatan harus dipertanggung jawabkan," gumam Bylla. Setelah ia selesai membaca berita itu.


Lantas Bylla menggeser layar ponsel ke bawah. Dan matanya membelalak lebar kala menatap berita seputar selebriti.


Sang Vocalis Telah Melepas Masa Lajang


Sebaris judul yang mampu menggetarkan hati Bylla. Terlebih lagi, di sana terpampang wajah Ghani dan Evelyn yang sedang berpelukan mesra di pelaminan.


Apa maksudnya ini?

__ADS_1


Bylla membuka artikel itu, dan membacanya dengan seksama. Di sana tertulis jelas, jika tadi malam Ghani Alghibrani dan Evelyna Patricia saling melepaskan masa lajang. Mereka melangsungkan pernikahan di kediaman mempelai pria.


Selain artikel, di sana juga terdapat video. Mulai dari akad, hingga ucapan selamat dari kerabat dan rekan dekat. Menurut sang narasumber, pesta pernikahan memang tergolong sederhana. Mereka tidak mengundang banyak orang untuk hadir di acaranya. Ada sebagian yang berpendapat, jika mereka sengaja memberikan kejutan.


Berita mulai bertebaran di internet sejak dini hari. Dan tidak ada protes ataupun komentar dari kedua mempelai. Itu artinya, mereka sudah setuju dengan beredarnya berita itu.


Tak terasa air mata Bylla menetes begitu saja. Membasahi layar ponsel yang menampilkan wajah kekasih bersama wanita lain.


"Apakah ini jawaban dari keresahanku, Ghani. Kau tidak ada kabar sejak kemarin, apakah ini yang membuatmu melakukan itu?" gumam Bylla.


Seakan ada benda tajam yang menikam tepat di ulu hati. Sakit dan perih, bahkan rasa sakit itu sampai menyesakkan dada. Seperti inikah cinta? Indah di awal saja, dan selalu berakhir dengan luka.


Samar-samar perkataan Rubben, melintas begitu saja dalam ingatan. Serangkai kalimat yang ia lontarkan kala bertemu di pemakaman.


Aku tidak pernah mencintai Mika, aku hanya kasihan dengan kondisinya. Bylla, sejak dulu hingga saat ini, wanita yang kucintai adalah kamu. Sekian lama aku menunggu kamu kembali, untuk menyatakan perasaan ini. Kamu percaya 'kan, dengan keajaiban cinta pertama?


Maaf Kak, aku tidak bisa. Aku sudah mencintai lelaki lain, bahkan aku sudah merencanakan pernikahan dengannya.


Itulah jawaban yang Bylla ungkapkan. Lantas Rubben bertanya siapa kekasihnya.


Baiklah, jika kamu memang mencintai lelaki lain, aku mengerti. Tapi, kalau boleh jujur, aku kurang rela jika kamu menjalin hubungan dengan seorang penyanyi. Sebagai sang bintang, hidupnya pasti banyak sandiwara. Bylla, apa kamu tidak takut, perasaannya padamu juga pura-pura?


Sebaris kalimat yang Rubben ucapkan, kala tahu siapa kekasih Bylla.


"Tidak, Ghani tidak mungkin membohongiku. Dia mencintaiku, dia berjanji akan menikahiku." Bylla menggelengkan kepalanya dengan air mata yang kian berderai.


"Aku harus meminta penjelasan padanya," gumam Bylla.


Lantas ia mencoba menghubungi Ghani untuk yang kesekian kali. Namun lagi-lagi nomor itu masih tidak aktif, entah apa yang terjadi padanya. Berbagai prasangka buruk mulai berputar-putar dalam otaknya.


Bylla dirundung keresahan hingga malam tiba. Saat mentari telah berganti rembulan, Bylla masih menanti kabar dari Ghani. Sudah genap dua hari, lelaki itu menghilang. Sementara dunia maya, terus menayangkan pernikahan yang melibatkan dirinya.


Apakah pernikahan ini sandiwara, ataukah perasaannya padaku yang pura-pura?


Satu pertanyaan yang membawa Bylla dalam dilema. Terus mengusik, hingga batinnya bergejolak.

__ADS_1


"Aku akan menunggumu sampai esok hari, Ghani. Jika dalam waktu 24 jam ke depan, kau tak juga menjelaskan. Baiklah, kuanggap perasaanmu padaku hanya pura-pura," gumam Bylla dengan sendu.


Bersambung...


__ADS_2