
Pak Louis, Bu Mirna, Bylla, dan Reymond, mereka duduk bersama di ruang tamu.
Bylla duduk di sebelah Bu Mirna dengan senyuman yang terus mengembang di bibirnya. Matanya terus menatap sang kekasih yang sedang duduk di hadapannya.
"Sebelumnya saya minta maaf Opa, saya merayakan ulang tahun Bylla hingga selarut ini," ucap Reymond mengawali pembicaraannya.
"Iya, tidak apa-apa, yang penting sekarang Bylla sudah sampai di rumah." Jawab Pak Louis.
"Sebenarnya saya kesini juga ingin membicarakan hal penting dengan Opa dan Oma. Saya tadi melamar Bylla, saya kesini ingin meminta restu dari Opa dan Oma. Bulan depan orang tua saya sudah pulang, saya akan mengajak mereka kesini. Saya ingin segera menikahi Bylla, Opa." Kata Reymond dengan tegas. Terlihat jelas, jika ia benar-benar serius dengan ucapannya.
"Kami merestui hubungan kalian, dan soal pernikahan, itu adalah sesuatu yang sangat bagus. Kalian sudah sama-sama dewasa, dan sudah cukup lama menjalin hubungan, memang lebih baik jika hubungan ini segera dibawa ke pelaminan." Ucap Pak Louis.
"Saya senang mendengar niat baik kamu, Nak. Kami, keluarganya Bylla sangat menunggu kedatangan orang tuamu. Semoga apa yang kalian rencanakan, diberikan kelancaran dan kemudahan oleh Tuhan," sahut Bu Mirna sambil tersenyum.
"Semoga hal ini bisa membuat Bylla bahagia. Aku kasihan melihat Bylla yang merasa dibedakan oleh orang tuanya, tapi aku juga tidak bisa menyalahkan Ella maupun Kairi. Mereka juga berada dalam posisi yang sulit." Batin Bu Mirna dalam hatinya.
"Saya sangat berterima kasih atas restu yang telah Oma dan Opa berikan. Saya sangat bahagia mendengarnya," ucap Reymond sambil tersenyum.
"Mmmm kalau begitu, saya permisi ya Oma, Opa. Sudah cukup larut, saya pamit pulang. Maaf sudah mengganggu istirahat Anda," sambung Reymond sambil beranjak dari duduknya.
"Tidak perlu meminta maaf, kamu tidak mengganggu. Mmm terima kasih ya, sudah memilih Bylla sebagai calon istri kamu," ucap Bu Mirna sambil ikut beranjak.
"Tolong jangan kecewakan kami ya, Nak!" sahut Pak Louis.
"Tidak akan Opa. Saya sangat mencintai Bylla, bisa memilikinya adalah suatu keberuntungan bagi saya. Ya sudah, saya pamit ya Opa, Oma," jawab Reymond sambil menyalami tangan Pak Louis, dan Bu Mirna.
"Iya, hati-hati!"
"Bylla, aku pulang dulu ya," pamit Reymond sambil menatap Bylla.
"Iya, terima kasih ya Rey."
"Iya."
Reymond mulai melangkahkan kakinya, meninggalkan ruang tamu. Sedangkan Bylla, ia mengantarkannya hingga ke ambang pintu.
"Hati-hati ya Rey, kabari aku jika sudah tiba di rumah!" kata Bylla.
"Iya sayang, tapi kamu tidak usah menunggu pesan dariku. Cepat tidur saja, ini sudah larut malam, ya!" ucap Reymond seraya mengusap puncak kepala Bylla.
"Iya," jawab Bylla sambil mengangguk.
"I love you Bylla."
"I love you too Rey."
Reymond melangkah menuju mobilnya, dan bergegas pergi meninggalkan rumah sang kekasih. Bylla terus menatapnya hingga mobil Reymond menghilang di tikungan.
Lalu Bylla melangkah masuk ke dalam rumahnya, ternyata kakek dan neneknya masih berbincang di sofa ruang tamu.
"Oma!" panggil Bylla sambil duduk di sebelah Bu Mirna.
"Kenapa? Kok mukanya ditekuk begitu?" tanya Bu Mirna dengan heran. Beberapa menit yang lalu ia tampak bahagia, namun kini raut mukanya terlihat masam, ada apa dengannya?
"Kalau nanti aku menikah, Mama dan Papa pulang tidak ya?" gumam Bylla dengan pelan.
__ADS_1
Seakan ada benda tajam yang menikam tepat di ulu hati Bu Mirna. Beliau sangat sakit mendengar pertanyaan cucunya. Kairi memang harus hadir di pernikahan Bylla, karena dia adalah walinya. Tapi, dalam waktu dekat ini, bisakah dia meninggalkan Mika?
"Ya sudah aku tidur dulu ya Oma, aku mulai mengantuk. Selamat malam Opa, selamat malam Oma," kata Bylla sambil beranjak dari duduknya. Ia tak menunggu jawaban dari kakek ataupun neneknya.
Bu Mirna menatap Bylla dengan nanar, tak terasa kelopak matanya mulai memanas. Kenapa anak cucunya harus mengalami hal sepahit ini.
"Kasihan Bylla, Mas." Ucap Bu Mirna dengan pelan.
"Apa kita beritahu saja kebenarannya, mungkin dia tidak sekecewa itu, jika tahu kenyataannya. Bylla pasti bisa mengerti," kata Pak Louis.
"Tapi kita juga harus menghargai pendapat Mika, Mas." Jawab Bu Mirna.
Pak Louis memijit pelipisnya, beliau tampak berpikir keras. Berusaha mencari solusi terbaik, agar kedua cucunya bisa hidup bahagia.
***
Akhir pekan yang sangat cerah, sang surya bersinar menampakkan keanggunannya. Langit biru tampak membentang luas, dengan hiasan mega-mega putih yang bergerak pelan. Semilir angin berhembus sepoi-sepoi, terasa sejuk dan nyaman.
Dua insan sedang sibuk menata buku ke dalam kardus yang cukup besar, buku pendidikan, buku sejarah, serta buku dongeng dan cerita anak. Di samping kardus, terdapat beberapa kantong plastik besar yang dipenuhi dengan camilan, ada keripik, biskuit, dan juga kue kering.
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya menghampiri mereka, sambil membawa kardus besar.
"Ini makanannya sudah siap Non, nasi dan lauknya semua sama, sudah saya tata rapi ke dalam kotak. Sisanya masih di belakang, sebentar saya ambilkan dulu," ucap Bik Sari, asisten rumah tangga di rumah Bylla.
"Terima kasih ya Bik." Jawab Bylla.
"Biar saya bantu, Bik!" sahut Reymond sambil mengikuti langkah Bik Sari.
"Terima kasih, Tuan."
Bylla bukanlah pribadi yang suka berfoya-foya, dia lebih suka menyisihkan uangnya untuk mereka yang lebih membutuhkan. Dan Reymond, sebagai seorang kekasih, ia selalu mendukung apa yang dilakukan Bylla. Apalagi ini merupakan hal yang positif, jadi kenapa tidak.
Tepat pukul 09.00 pagi, Reymond dan Bylla berangkat menuju salah satu panti yang sering mereka kunjungi. Mereka menikmati perjalanan, sambil berbincang dan bercanda bersama.
"Rey, nanti mampir juga ya ke rumah Alina," ucap Bylla.
"Bocah yang kamu tabrak, waktu itu?" tanya Reymond.
"Iya, kasihan Rey. Dia hidup dalam kesederhanaan, teman-temannya banyak, dan yang mencukupi kebutuhkan mereka itu, hanya dua orang." Jawab Bylla.
"Iya, nanti kita kesana, sekalian aku juga ingin bertemu dengan mereka. Tapi jatahnya ada kan, sayang?" tanya Reymond.
"Ada, dari awal aku memang berniat mampir ke tempat Alina, jadi sekalian aku hitung." Jawab Bylla.
"Baguslah kalau begitu."
Reymond dan Bylla mendatangi satu demi satu panti, dan membagikan makanan serta buku yang mereka bawa, yang tentu saja semuanya menyambut mereka dengan bahagia.
Kini jarum jam sudah menunjukkan pukul 03.00 sore, sang surya mulai condong ke arah barat. Seluruh panti sudah mereka datangi, dan sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Alina.
Diwaktu yang sama, di tempat yang berbeda.
Dua lelaki sedang duduk di teras rumah, melepas rasa lelah sambil menyelonjorkan kedua kakinya. Keduanya dibalut pakaian kusam, tampak sangat kotor dengan percikan noda semen yang menyebar di mana-mana.
"Capek, Bang!" keluh Arron sambil memijit pergelangan kakinya yang terasa sangat pegal.
__ADS_1
"Bersyukur Ron! Seharusnya kamu senang, karena ada pekerjaan, daripada mengamen," ucap Ghani sambil menatap temannya.
"Tapi jadi kuli sangat capek Bang, jauh lebih capek, daripada mengamen. Ya walaupun pendapatannya memang lebih banyak nguli," kata Arron.
"Nguli itu lebih berkah Ron, karena kita mencari uang dengan tenaga, bukan hanya meminta-minta seperti mengamen," ucap Ghani.
"Mengamen tidak hanya meminta-minta Bang, kita usaha, menjual suara," sahut Arron tidak mau kalah.
"Memangnya suara kita bermanfaat untuk mereka, tidak kan? Nah kalau kita nguli, tenaga kita memang dibutuhkan. Pahami itu, ada perbedaannya."
"Tapi penyanyi juga mencari uang lewat suara, Bang."
"Tapi mereka bekerja, bukan meminta. Suaranya memang laku dijual, dibutuhkan dalam dunia musik," ucap Ghani.
"Kalau begitu kita jadi penyanyi saja Bang, menurutku suaramu bagus, tidak kalah sama penyanyi-penyanyi papan atas."
"Mimpimu terlalu tinggi!"
Belum sempat Arron menjawab ucapan Ghani, tiba-tiba ada mobil hitam yang berhenti tepat di depan rumahnya. Mobil siapa? Satu-satunya orang yang berkunjung ke rumahnya dengan menggunakan mobil adalah Bylla. Tapi mobil Bylla berwarna merah, bukan hitam.
"Siapa Bang?" bisik Arron.
"Aku juga tidak tahu." Jawab Ghani dengan pelan.
Tak lama kemudian, seorang lelaki turun dari mobil, diikuti seorang wanita berambut panjang dengan warna kecoklatan. Sekali tatap saja Ghani tahu, wanita itu adalah Bylla. Tapi siapa lelaki yang datang bersamanya, dia bukan kakak sepupunya yang waktu itu.
Bylla dan Reymond melangkah bersama menuju teras rumah Ghani. Bylla membawa kantong plastik yang berisi camilan, sedangkan Reymond, ia membawa buku dan makanan yang ditata dalam kardus.
"Assalamu'alaikum." Sapa Bylla.
"Waalaikumsalam." Jawab Ghani dan Arron bersamaan.
"Anak-anak ada?" tanya Bylla.
"Ada di dalam, mari masuk! Mas ayo silakan!" kata Arron sambil menatap Bylla dan Reymond.
Bylla dan Reymond mengikuti langkah Arron yang mengajaknya masuk ke dalam rumah. Sedangkan Ghani, ia masih terpaku di teras rumah. Siapa sebenarnya lelaki itu, kenapa hatinya mendadak tidak nyaman.
"Ini ada buku, dan sedikit makanan untuk anak-anak," ucap Bylla sambil meletakkan buku dan makanan di atas tikar yang digelar di lantai.
"Terima kasih Bylla, seharusnya kau tidak perlu repot-repot."
"Tidak apa-apa, aku ingin berbagi sedikit rezeki dengan anak-anak." Jawab Bylla.
"Oh ya, Mas ini siapa? Boleh tahu namanya, saya sangat berterima kasih dengan kebaikan Anda, dan juga Bylla," tanya Arron.
"Perkenalkan saya Reymond, saya calon suaminya Bylla." Jawab Reymond dengan tegas, sambil mengulas senyuman di bibirnya.
"Calon suami." Batin Ghani yang saat iti sedang berdiri di ambang pintu.
Hatinya teriris sakit mendengar satu kalimat yang keluar dari mulut Reymond.
Ghani menatap punggung Bylla lekat-lekat, ada perasaan perih yang perlahan mengampirinya, kala menatap Bylla yang sedang duduk bersebelahan dengan lelaki, yang katanya adalah calon suaminya.
"Seharusnya aku sadar siapa diriku, berani sekali menyimpan perasaan untuk wanita seperti Bylla. Dia adalah bintang yang bersinar di langit tinggi, sedangkan aku, aku hanyalah butiran debu yang diterbangkan angin ke sana, ke mari, jadi mana bisa aku meraih bintang. Seharusnya dari awal aku sudah menduganya, lelaki yang mengisi hatimu, pastilah lelaki yang sederajat denganmu, bukan lelaki seperti diriku," batin Ghani sambil menunduk, menatap keadaan dirinya yang jauh berbeda dengan lelaki yang duduk di hadapannya.
__ADS_1
Bersambung....