Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Asa Ataukah Rasa?


__ADS_3

Di dalam sebuah kafe yang tidak terlalu mewah, Ghani duduk berhadapan dengan pria dewasa yang mengajaknya berbicara. Mereka duduk di kursi yang paling sudut, menikmati hangatnya white coffe dan roti bakar rasa cokelat.


Sesekali Ghani melirik sekilas ke arah pria yang duduk di hadapannya, dalam hati ia sangat penasaran, siapa dia, dan ada perlu apa? Dua pertanyaan yang terus berputar-putar dalam benaknya.


"Di mana tempat tinggalmu?" tanya pria itu.


"Di ujung gang kecil, tidak terlalu jauh dari sini," jawab Ghani sambil tersenyum.


"Kenalkan, namaku Tommy Dinata, panggil saja Om Tom. Aku adalah seorang produser, ada beberapa band yang berada dalam naunganku, salah satunya adalah Batas, kau pernah mendengar namanya?" tanya Tommy.


"Ba...batas?" ucap Ghani mengulangi ucapan Tommy. Matanya membelalak lebar kala mendengar nama itu.


Batas adalah salah satu band yang terkenal di Indonesia. Lagu-lagunya cukup mendominasi di kalangan anak muda. Ghani tidak menyangka bisa berhadapan dengan produsernya, selama ini dia hanya mengagumi mereka, dan sering menyanyikan lagunya. Salah satu lagu yang sangat Ghani gemari adalah Gadis Dalam Rindu. Sebuah lagu yang seakan melukiskan perasaannya pada Bylla.


"Kau tahu tentang Batas?" tanya Tommy.


"Tentu, tentu saja saya tahu. Batas adalah band yang sangat terkenal, saya sering mendengar lagu-lagunya." Jawab Ghani dengan gugup.


"Kau benar, Batas cukup naik daun saat ini. Tapi sayang sekali, perjalanan mereka tidak mulus," kata Tommy sambil menyesap white coffe miliknya.


"A...ada apa Pak? Mmm maksud saya Om," tanya Ghani dengan terbata, ia luar biasa gugupnya saat berhadapan dengan orang besar.


Dilihat dari raut wajahnya, lelaki di hadapannya itu seperti memendam kesedihan atau mungkin juga kekecewaan.


Tommy menghela napas panjang, sebelum melontarkan kalimat yang sudah dirangkainya.


"Rencananya bulan depan, kami akan meluncurkan album ketiga, namun masih terkendala oleh personil. Album kedua kemarin cukup sukses, dan mampu mengantarkan nama Batas hingga ke puncak. Namun hal itu juga yang membuat mereka kehilangan sang vocalis." Kata Tommy dengan panjang lebar.


"Hilang?" tanya Ghani dengan pelan.


"Iya, itu sebabnya aku kelabakan mencari pengganti. Sebenarnya minggu lalu aku sudah membuka audisi di sini, namun aku belum menemukan yang pas. Tadi tidak sengaja aku mendengar suaramu, dan jujur aku sangat tertarik. Suaramu sangat mirip dengan vocalis yang lama, jika kau mau, aku ingin mengajakmu bekerjasama," kata Tommy tanpa ragu-ragu.


Bersamaan dengan kata 'kerjasama' yang keluar dari mulut Tommy, seteguk white coffe juga keluar dari mulut Ghani. Karena terlalu kaget, ia tersedak dan menyemburkan white coffe yang baru saja disesapnya. Ghani terbatuk-batuk, dan menutup mulutnya. Jantungnya berdetak cepat, mencerna setiap kata yang masuk lewat pendengarannya.


"Kerjasama, apakah maksudnya Om Tom itu mengajakku menggantikan sang vocalis. Apakah aku sedang bermimpi?" batin Ghani sambil mengusap sudut bibirnya menggunakan tisu.


"Mak...maksudnya bagaimana ya, Om?" tanya Ghani dengan sangat gugup, tubuhnya telah dibasahi keringat dingin yang sejak tadi mengucur begitu saja.

__ADS_1


"Aku ingin mengajakmu bekerjasama, Batas butuh vocalis baru, dan kau sangat cocok menempati posisi itu. Jadi, apakah kau bersedia?" tanya Tommy sambil menatap Ghani.


"Tapi, tapi saya hanya pengamen biasa. Apa, apakah saya bisa?" jawab Ghani dengan ragu-ragu.


Orang seperti dirinya, yang biasanya hanya bernyanyi di pinggir jalan, lalu tiba-tiba tampil di atas panggung, apa kira-kira tidak pingsan? Pikir Ghani kala itu.


"Bakatmu luar biasa. Hanya mengandalkan gitar seperti ini saja, suaramu sudah memukau. Nanti, jika kau sudah masuk dapur rekaman, aku jamin suaramu setara dengan penyanyi internasional," ucap Tommy sambil tersenyum lebar.


"Ah Om bisa saja. Saya, saya tidak sebagus itu. Mmm, apa Om yakin, kalau saya bisa?" tanya Ghani sambil mengusap wajahnya.


"Sangat yakin, asalkan dalam hati kamu ada kemauan, saya yakin kamu pasti bisa," jawab Tommy seraya menunjuk ke arah Ghani.


"Begitu ya?"


"Jadi bagaimana, kau bersedia?" tanya Tommy sambil menaikkan kedua alisnya.


"Apakah ini jalan yang Engkau gariskan, untuk memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anak, Ya Allah. Hamba tidak menyangka, jika akan ada hari ini dalam hidup hamba. Menjadi penyanyi, ahh selama ini hamba belum berani untuk bermimpi. Alhamdulillah Ya Allah." Batin Ghani dalam hatinya.


"Kau bersedia?" Tommy mengulangi pertanyaannya.


"Iya, iya saya bersedia. Tapi kalau boleh tahu, apa saja syaratnya?" jawab Ghani balik bertanya.


Berhari-hari ia mencari pengganti vocalis, dan kini ia sudah mendapatkannya.


"Jakarta?" tanya Ghani dengan cepat.


"Iya, gedung kami memang di Jakarta. Apakah kamu keberatan dengan itu?" Tommy balik bertanya.


Ghani menunduk, ia tampak berpikir keras. Jika ia ke Jakarta, bagaimana dengan anak-anak, bagaimana dengan Arron, dan bagaimana hubungannya dengan Bylla. Membayangkannya saja, Ghani merasa berat. Sekian tahun lamanya, ia berpijak di Surabaya dan menggantungkan hidupnya di kota itu. Sanggupkah kiranya, ia meninggalkan tanah ini?


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Tommy sambil menilik wajah Ghani.


"Sebenarnya saya tinggal bersama anak-anak yatim, saya merasa berat untuk meninggalkan mereka." Jawab Ghani.


"Dan aku juga mencintai seorang wanita, aku tidak tahu akan sanggup atau tidak untuk meninggalkannya." Sambung Ghani salam hatinya.


"Kau tinggal di panti?" tanya Tommy.

__ADS_1


"Panti yang sudah terbengkalai, mungkin lebih tepatnya bekas panti." Jawab Ghani.


"Berapa anak yang tinggal bersamamu?" tanya Tommy.


"Tujuh anak." Jawab Ghani.


"Hanya tujuh. Jika kau merasa berat untuk meninggalkan mereka, ajaklah mereka ke Jakarta. Aku bisa mencarikan tempat kos untuk mereka, untuk sementara waktu, aku yang akan membiayai hidupnya," ucap Tommy dengan serius.


Ghani masih ragu, pasalnya memang bukan anak-anak saja yang menjadi bebannya, melainkan juga Bylla. Kini hubungannya sudah semakin dekat, Ghani sangat berat untuk jauh darinya. Tapi ini juga merupakan kesempatan emas, Ghani tidak ingin melewatkannya.


"Ini adalah alamatku di Surabaya, aku tinggal di apartemen itu. Aku tunggu besok sore di sana, pikirkan dulu dengan matang-matang, setelah itu katakan keputusan apa yang kau ambil," kata Tommy sambil menyerahkan secarik kertas kepada Ghani.


"Baik, saya akan memikirkannya terlebih dahulu," jawab Ghani sambil tersenyum.


"Iya, aku harap kamu memberikan keputusan yang terbaik. Ini adalah kesempatan yang langka, jangan sia-siakan bakat kamu," kata Tommy sambil menepuk bahu Ghani dengan pelan.


***


Senja telah padam, berganti malam yang datang menyapa. Semilir angin dingin yang berhembus disela-sela gerimis, melukiskan suasana malam yang kelam.


Tak ada bulan, dan tak ada bintang, hanya mega-mega hitam yang membentang menyelimuti hamparan langit luas.


Ghani duduk sendiri di teras rumahnya, sesekali melirik ke arah anak-anak yang sedang belajar bersama Arron di ruang tamu. Ia terlalu larut dalam pikirannya sendiri, sampai-sampai ia tak menghiraukan gerimis yang turun semakin deras.


Ghani merasa dilema setiap kali mengingat tawaran tadi siang. Menjadi penyanyi Ibukota adalah suatu hal yang sangat luar biasa. Jika ia berhasil, masa depan anak-anak sudah pasti terjamin.


Namun bagaimana dengan Bylla? Hubungan mereka kini semakin dekat, rasanya Ghani tak kuasa untuk meninggalkannya. Dia tak memiliki ponsel, bagaimana caranya mereka berhubungan. Dan lagi, saat ini Bylla masih sedikit rapuh, dia butuh banyak motivasi. Apakah tidak apa-apa, jika dia meninggalkannya?


Asa terbesar dalam hidup Ghani adalah memberikan kehidupan yang layak untuk anak-anak asuhnya. Namun kini, ia merasa bimbang untuk meraih asa itu, karena sebuah rasa yang perlahan bertahta dalam hatinya.


Ghani memegangi pelipisnya, memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil. Ke Jakarta demi mengejar asa, atau tetap di Surabaya demi mengejar rasa?


Jika menuruti kata logika, ia pasti akan pergi ke Jakarta. Selama ini ia tahu betapa sulitnya hidup dalam kekurangan. Namun jika menuruti kata hati, ia akan tetap tinggal di Surabaya. Ibarat langkah, jaraknya dengan Bylla hanya tinggal sejengkal saja. Akankah tetap demikian, jika mereka tinggal berjauhan.


Lalu Ghani beranjak dari duduknya, ia berjalan menuju ke kamarnya.


Kala dua pilihan terbentang di depan mata, Ghani hanya bisa meminta petunjuk pada Sang Kuasa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2