Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Aku Selalu Merindukanmu


__ADS_3

Ghani menunduk, menatap sarung yang membalut separuh tubuhya. Ia masih bersimpuh, baru saja selesai berkeluh kesah pada Sang Pencipta. Ghani masih dalam kebimbangan, belum tahu keputusan mana yang harus diambilnya.


Tak lama kemudian, Arron masuk ke dalam kamar. Ia menghela napas panjang, lalu melangkah mendekati Ghani.


"Bang!" panggil Arron sambil menepuk bahu Ghani, kemudian ia duduk di sebelahnya.


Ghani menoleh dan menatap Arron sekilas, namun belum ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


"Kamu ada masalah apa, Bang? Sejak pulang tadi, kamu terus murung. Cobalah cerita, siapa tahu aku bisa membantumu," ucap Arron sambil menatap Ghani lekat-lekat.


Lelaki yang sudah ia anggap seperti kakak kandungnya sendiri, lelaki yang sudah berjasa besar dalam hidupnya. Kini lelaki itu sedang dirundung masalah, tak mungkin Arron diam saja dan mengabaikannya.


"Bang!" panggil Arron, karena Ghani masih diam tanpa kata.


"Aku tadi bertemu seseorang." Ucap Ghani mengawali ceritanya.


"Siapa?" tanya Arron.


"Produsernya Batas, kau tahu kan Batas?"


"Batas, maksudmu Batas Band itu, Bang?" tanya Arron dengan cepat.


"Iya," jawab Ghani sambil mengangguk.


"Wah keren Bang! Kamu bertemu dia di mana, saling bertegur sapa gitu Bang?" tanya Arron dengan antusias.


Ghani menghela napas panjang, dan menghembuskannya dengan kasar. Tidak heran jika Arron seantusias itu, karena sebenarnya dia sendiri juga masih tidak percaya dengan semua ini, seperti mimpi.


"Dia sedang mencari vocalis, karena posisi itu sedang kosong." Jawab Ghani.


"Kosong? Memangnya vocalis yang lama kemana?" tanya Arron.


"Mana kutahu, yang penting sekarang tidak ada vocalisnya." Jawab Ghani.


"Terus hubungannya dengan kamu apa, Bang?" tanya Arron.


"Katanya dia tertarik dengan suaraku, dan mengajakku bekerjasama. Dia menawariku untuk mengisi posisi itu." Kata Ghani dengan pelan.


"Apa! Kamu serius Bang?" teriak Arron dengan mata yang membelalak lebar. Kalimat yang baru saja Ghani lontarkan, ibarat petir yang menyambar di tengah terik mentari, sangat mengejutkan.


"Serius, makanya aku bingung Ron," ucap Ghani masih dengan suara yang pelan.

__ADS_1


Ghani menggeser duduknya, kini ia menyandarkan punggungnya di pintu almari kayu yang sudah keropos. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


"Kenapa bingung, Bang? Bukannya itu kesempatan yang bagus, kenapa tidak langsung diterima saja, Bang?" tanya Arron, ia ikut menggeser duduknya, dan merapat ke arah Ghani.


"Masalahnya aku harus ikut ke Jakarta Ron, itu yang membuat aku ragu," ucap Ghani sambil menatap Arron.


"Apa! Kenapa harus ke sana, Bang?" tanya Arron dengan cepat.


"Studionya ada di sana. Kalau aku pergi, bagaimana dengan anak-anak, bagaimana denganmu, dan bagaimana dengan Bylla," kata Ghani seraya menundukkan kepalanya. Ia mengucapkan kalimat 'bagaimana dengan Bylla' dengan sangat pelan.


Arron menilik raut wajah Ghani, ia menata hatinya, dan mencoba memahami kesulitan Ghani.


"Bang!" panggil Arron.


"Kalau masalah anak-anak, kamu tidak perlu khawatir, masih ada aku. Aku berjanji akan menjaga dan merawat mereka, aku tidak akan mengecewakan kamu, Bang. Aku cukup mampu untuk menghidupi mereka, percaya saja padaku." Kata Arron dengan serius.


"Kalau masalah Bylla, maaf ini hanya pendapatku. Kamu pernah merasa minder kan Bang sama dia, kamu pernah berpikir kalau perbedaan kalian itu cukup jauh. Mungkin ini adalah jalan yang Allah gariskan untuk kamu Bang. Dengan menjadi penyanyi, kamu akan punya nama, punya penghasilan, punya pekerjaan yang bisa dibanggakan. Pelan-pelan, kedudukan kamu dan Bylla akan setara. Kamu tidak perlu minder lagi sama dia," sambung Arron dengan panjang lebar, sambil memegang bahu Ghani.


Mendengar nasihat Arron, Ghani tersentak kaget. Ingatannya langsung melintas pada doa yang dipanjatkan kemarin malam. Ia memohon petunjuk kepada Tuhan, ia meminta jalan untuk memantaskan diri sebelum menyatakan cintanya pada Bylla. Mungkinkah ini memang jalan yang digariskan untuknya?


"Bang!" panggil Arron sambil menggoyangkan bahu Ghani.


"Sepertinya kamu benar Ron, mungkin dengan ini aku bisa memantaskan diri untuk bersama dengan Bylla," ucap Ghani sambil menatap Arron.


"Aku tahu apa yang sedang kamu rasakan Bang, tapi aku kurang tahu jawaban dari pertanyaanmu. Mungkin lebih baik, kamu temui saja Bylla, dan ajak dia bicara dari ke hati. Aku rasa hanya Bylla yang bisa menjawab pertanyaanmu itu, Bang," kata Arron sambil tersenyum.


"Begitukah?"


"Iya."


"Baiklah, besok aku akan menemuinya," ucap Ghani sambil menghela napas panjang.


***


Sang surya sudah beranjak dari kaki langit timur. Kirananya yang keemasan, seakan mendekap tubuh dengan penuh kehangatan. Semilir angin yang berdesir, seolah membelai raga dengan sejuta rasa. Mega-mega putih yang menghiasi angkasa raya, bak primadani yang digelar untuk mengayomi seluruh buana.


Di atas hamparan pasir putih yang berkilauan, di hadapan samudera yang biru membentang, seorang wanita sedang duduk di atas kursi roda. Rambut cokelatnya yang memanjang, meriap tertiup angin pantai.


Jarum jam menunjukkan tepat pukul 10.00 pagi, Bylla dan Ghani sudah berada di pesisir pantai. Mereka datang ke sana, diantar oleh supir pribadinya Bylla. Pak supir menunggu di mobil, sedangkan Bylla dan Ghani, mereka menikmati suasana pantai bersama.


"Aku sangat senang hari ini Ghan, terima kasih ya mau menemaniku ke sini," ucap Bylla sambil tersenyum.

__ADS_1


Tadi pagi, Ghani memang mengunjungi Bylla dan ingin berbicara dengannya. Namun diluar dugaan, ternyata wanita itu malah mengajaknya ke pantai.


"Tidak perlu berterima kasih, aku senang menemanimu Bylla. Tapi ngomong-ngomong, apa yang membuatmu bahagia?" tanya Ghani sambil menatap wajah Bylla yang tampak ceria.


"Entahlah, setiap kali bersama kamu, aku selalau bahagia. Nasihat kamu, motivasi kamu, dan semua tentang kamu, itu membuatku merasa nyaman." Jawab Bylla tanpa ragu-ragu.


"Begitukah?" tanya Ghani dengan gugup. Bahagia, nyaman, apa maksudnya dia?


"Ghani!" panggil Bylla sambil menggenggam lengan lelaki yang sedang duduk di hadapannya. Mata birunya menatap ke arah Ghani, dengan pandangan yang syarat akan makna.


"Menurutmu, cinta itu seperti apa?" tanya Bylla tanpa melepaskan genggamannya.


Ghani mengusap wajahnya, menyeka keringat yang mulai membasahi kening dan pelipisnya. Membahas tentang cinta bersama Bylla, ah jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu juga.


"Ghani!" panggil Bylla.


"Cinta adalah perasaan tulus, yang datangnya dengan perlahan dan tanpa alasan. Cinta tidak memandang kekurangan ataupun kelebihan. Kenapa kamu menanyakan itu?" tanya Ghani.


"Aku ingin tahu, karena sebelumnya aku belum pernah merasakan hal seperti ini." Jawab Bylla.


"Jantungku selalu berdetak cepat setiap kali dekat denganmu, dan aku selalu merindukanmu setiap kali kau tak ada di dekatku. Aku selalu mengikuti setiap hal yang kau nasihatkan, sebelumnya aku tidak pernah seperti ini. Jika menurutmu cinta adalah perasaan tulus yang datangnya dengan perlahan dan tanpa alasan, mungkin inilah pertama kalinya aku jatuh cinta," batin Bylla sambil menunduk, menyembunyikan senyuman manis yang terulas di bibirnya.


"Dulu aku mencintai Kak Rubben, karena dia cerdas dan tampan, dia seorang dokter yang sangat cekatan, aku sangat kagum. Dan Reymond, aku mencintainya karena dia romantis, rupawan, dan pintar. Dia pembisnis besar, aku sangat salut dengan sepak terjangnya.


Tapi kamu, aku sama sekali tidak punya alasan kenapa merasa nyaman denganmu. Tampan tidak, mapan tidak, romantis tidak, dan selain prinsip yang bijak, tidak ada hal menonjol dalam diri kamu. Tapi aku selalu merindukanmu, Ghani." Sambung Bylla dalam hatinya. Ia mengangkat wajahnya, dan menatap ombak yang terus bergulung berkejaran.


"Belum pernah merasakan, apa maksudmu Bylla? Bukankah waktu itu kau hampir menikah?" tanya Ghani sambil mengernyit heran.


"Tapi aku mencintainya karena suatu alasan, jika menurutmu cinta adalah perasaan tulus yang datang perlahan dan tanpa alasan, berarti yang kurasakan itu bukan cinta, kan?"


Ghani tak bisa menjawab, ia bingung harus mengucapkan kalimat apa.


"Ghani!" panggil Bylla.


"Hmmm."


"Apakah cinta itu selalu menjelma dalam rindu?" tanya Bylla.


"Iya," jawab Ghani sambil tersenyum.


"Seperti aku yang selalu merindukanmu, Bylla." Sambung Ghani dalam hatinya.

__ADS_1


"Aku selalu merindukanmu," ucap Bylla sambil menatap Ghani. Jemarinya masih menggenggam tangan lelaki itu dengan lembut.


Bersambung...


__ADS_2