Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Menerima Lamaran


__ADS_3

Bylla menutup mulutnya, masih tak percaya jika Reymond benar-benar melamarnya.


"Bylla, sayang!" panggil Reymond.


"Rey, kau, kau serius? Kau benar-benar melamarku?" tanya Bylla sambil menatap Reymond.


"Tentu saja, aku sangat serius. Bulan depan orang tuaku akan pulang, lalu aku akan mengajak mereka ke rumahmu. Aku ingin segera menikahimu, Bylla. Jadi, maukah kau menikah denganku?" tanya Reymond dengan serius.


"Masihkah kamu menanyakan hal itu? Kau adalah satu-satunya lelaki yang aku cintai Rey, tentu saja aku mau," jawab Bylla sambil tersenyum haru.


"Terima kasih sayang, aku sangat senang mendengarnya," kata Reymond.


Lalu ia mengambil cincin permata yang ia bawa, kemudian menyematkannya di jari manis Bylla.


"Jangan pernah dilepaskan! Ini adalah bukti cinta tulusku padamu," kata Reymond, lalu ia mencium jemari Bylla dengan mesra.


Selang beberapa detik, suara tepuk tangan terdengar begitu riuh. Bylla menoleh, ternyata teman-temannya sudah berkumpul di sana. Mata mereka tertuju pada dirinya dan Reymond.


"Rey, mereka ada di sini? Ku kira hanya ada kau."


"Aku ingin semua orang tahu, kau adalah calon istriku, Salsabylla Dela Vinci," ucap Reymond sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Tapi Rey."


"Ssstt sudahlah, kau masih saja pemalu," ucap Reymond sambil memeluk tubuh Bylla, dan mendekapnya dengan erat.


"Rey, mereka melihat kita."


"Tidak apa-apa, sebagian dari mereka juga sudah menikah. Aku sangat bahagia, kau telah menerima lamaranku. Dalam waktu dekat aku akan menikahimu, aku sudah tidak sabar menantikan hari itu," bisik Reymond di telinga Bylla.


"Aku juga bahagia Rey, menikah denganmu, itu adalah hal yang sangat indah." Jawab Bylla.


"Sekarang aku bisa sedikit membenarkan kata-kata Ghani. Takdir selalu indah, mungkin memang takdirku ada di negara ini. Rey, terima kasih kau sudah hadir dalam hidupku, kau membantuku mengobati rasa sakit karena cinta yang tak kesampaian. Terima kasih untuk semua cinta kamu, Rey." Batin Bylla sambil memejamkan matanya, ia menikmati hangatnya pelukan dari seseorang yang sangat dicintainya.


"Setelah ini kita masuk ke dalam, kue ulang tahun, dan jamuan lainnya sudah tersedia di sana. Kita akan merayakan ulang tahun kamu, semoga kamu menyukainya, sayang." Ucap Reymond.


"Aku pasti menyukainya." Jawab Bylla.


"Woi, sudah dong pelukannya. Masih banyak yang jomblo lho ini, jangan buat kita tambah ngenes lah!" teriak Sania sambil tertawa.


"San, mereka lagi romantis. Ganggu saja kamu!" Sahut Rifky.


"Ngenes tahu, aku kan masih sendiri."

__ADS_1


"Aku juga masih sendiri, bagaimana kalau saling mengisi?" tanya Rifky sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Tidak mau."


"Kenapa?"


"Aku tahu kamu sudah pacar, kemarin kalian kencan, kan?"


"Siapa tahu kamu mau jadi yang kedua, tapi sekarang aku tidak bohong. Aku benar-benar sendiri, karena dia sedang tidak ikut." Jawab Rifky tanpa rasa bersalah.


"Dasar playboy!" teriak Sania.


Reymond dan Bylla tertawa lebar, saat mendengarkan perbincangan Sania dan Rifky. Mereka menggeleng-gelengkan kepala, dua temannya ini selalu saja ribut, setiap kali bertemu.


"Lamaranku sudah kelar, wanita yang kucintai sudah memberikan jawabannya, ia bersedia menikah denganku. Terima kasih atas bantuan teman-teman semua, tanpa kalian, acara ini tidak akan berjalan dengan lancar. Sekarang, mari kita masuk ke dalam sana, kita makan bersama, sekaligus merayakan ulang tahun Bylla yang ke-25," kata Reymond sambil tersenyum lebar.


"Selamat ya Rey, sebentar lagi kamua akan naik ke pelaminan," ucap Rifky sambil menepuk bahu Reymond.


"Thank you brother." Reymond menjawab sambil tersenyum lebar.


"Selamat ya Byl, jangan lupakan aku, walaupun nanti kamu sudah jadi istri," kata Sania sambil memeluk Bylla.


"Kamu sahabat terbaikku San, mana mungkin aku bisa lupa." Jawab Bylla.


Tak lama kemudian, mereka bersama-sama menuju ke restoran. Ruangan yang tadi gelap gulita, kini sudah terang benderang. Beberapa lampu kristal tampak menggantung indah menghiasi ruangan itu. Rangkain bunga yang cukup besar, tertata apik di setiap sudut ruangan. Sedangkan meja dan kursinya, dihiasi kain renda warna putih.


"Rey, kamu yang menyiapkan semua ini?" tanya Bylla sambil menoleh, menatap Reymond yang sedang berdiri di belakangnya.


"Apa kau menyukainya?" Reymond balik bertanya, ia melangkah lebih mendekati Bylla.


"Ini adalah ulang tahun yang paling indah, yang pernah aku lewati. Terima kasih Rey," ucap Bylla dengan pipi yang semakin merona.


"Tidak perlu berterima kasih, ini tidak seberapa. Bylla, kau adalah wanita yang aku cintai, memilikimu dan mendapatkan cintamu adalah keberuntungan terbesar dalam hidupku," kata Reymond sambil menyelipkan rambut Bylla ke belakang telinganya.


"Aku juga sangat mencintaimu Rey, kau adalah lelaki terbaik yang pernah aku temui. Aku sudah memberikan hatiku untukmu, tolong jaga dengan baik, jangan sampai meretakkannya, apalagi mematahkannya," ucap Bylla dengan pelan.


"Jangan seperti Kak Rubben, yang menghancurkan hatiku, dan membelenggu diriku dalam kecewa." Batin Bylla dalam hatinya.


"Tidak akan Bylla, mendapatkanmu itu sangat sulit, aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Jawab Reymond.


***


Tepat pukul 11.00 malam, Reymond menghentikan mobilnya di depan rumah Bylla. Ia sengaja mengantarkan kekasihnya, karena ingin berbicara dengan keluarganya. Reymond bersungguh-sungguh ingin menikahi Bylla. Wanita cantik, cerdas, dan kaya raya, siapa yang masih ragu untuk mempersuntingnya.

__ADS_1


Kemarin malam, Reymond sudah membicarakan hal ini dengan orang tuanya via telfon, dan mereka sangat menyetujui niat Reymond. Keluarga Da Vinci, dan keluarga Jackson, jika dua keluarga itu bersatu, tidak akan ada yang berani mengusiknya. Mereka akan menjadi seseorang yang punya kendali penuh dalam dunia bisnis.


"Rey, terima kasih banyak ya buat hari ini," ucap Bylla sebelum mereka turun dari mobil.


"Bylla, sayang, tidak perlu berterima kasih, aku sudah lama menantikan hari ini. Semoga kedepannya, hubungan kita akan semakin membaik. Semoga Tuhan merestui apa yang kita rencanakan." Jawab Reymond, seraya menggenggam jemari Bylla dengan erat.


"Bylla!" panggil Reymond.


"Iya."


"Jaga ini untukku," ucap Reymond sambil mengusap cincin permata yang melingkar di jari manis Bylla.


"Aku pasti akan menjaganya, seperti aku menjaga hatiku untukmu," jawab Bylla.


Reymond tak menjawab ucapan Bylla, namun ia mendekatkan wajahnya, dan mencium kening Bylla cukup lama. Satu hal yang sangat Bylla sukai dari kekasihnya adalah sifatnya yang melindungi. Dua tahun menjalin hubungan, Reymond tak pernah meminta yang macam-macam. Pelukan, gandengan tangan, dan mencium di kening atau pipi, hanya itu saja. Sampai saat ini Reymond belum pernah menyentuh bibirnya, ia ingin melakukannya nanti setelah mereka menjalin ikatan halal. Pemikiran yang sangat bijak, sangat sulit menemukan lelaki seperti Reymond di zaman sekarang.


"Ayo turun!" ajak Reymond sambil membuka pintu mobilnya.


"Ayo," jawab Bylla.


Lalu mereka turun dari mobil, dan melangkah bersama menuju pintu utama.


"Oma, Opa!" panggil Bylla saat mereka sudah tiba di ruang tamu.


"Oma, Opa, belum tidur, kan?" teriak Bylla, ia kini berjalan ke ruang tengah.


"Sebentar Byl," sahut Bu Mirna dari ruangan dapur.


Tak lama kemudian, Bu Mirna dan Pak Louis melangkah mendekati Bylla.


"Oma kok di dapur?" tanya Bylla.


"Opa tiba-tiba ingin minum teh Byl." Sahut Pak Louis.


"Ada apa, kok kamu teriak-teriak?" tanya Bu Mirna.


"Ada Reymond di depan. Dia ingin bicara sama Oma dan Opa," jawab Bylla sambil tersenyum lebar.


"Bicara apa, kamu senyam-senyum begitu, ada apa?" tanya Pak Louis.


"Aku dilamar, bulan depan katanya orang tuanya sudah pulang. Setelah mereka pulang, Reymond akan menikahiku, restui kita ya Opa, Oma," ucap Bylla sambil menggenggam lengan kakek dan neneknya.


"Hmmm cucu kecil kita sudah dewasa," ucap Bu Mirna.

__ADS_1


"Bercandanya nanti saja, ayo sekarang kita temui Reymond, kasihan dia kalau menunggu lama!" ajak Pak Louis sambil melangkah menuju ruang tamu.


Bersambung...


__ADS_2