Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 98


__ADS_3

BAB 98


Brian masih dalam posisi tengkurap, menindih sebagian tubuh Riana, dan nafas mereka masih tak beraturan usai kegiatan panas yang entah sudah berlangsung sejak beberapa jam yang lalu, karena seperti biasa, bagi Brian tak akan cukup jika hanya sekali, dan Riana tak bisa menghindar karena tubuhnya pun menyukai sentuhan nakal suaminya. 


"Terima kasih sayang, aku semakin mencintaimu." Ucapan itu selalu Brian ungkapkan usai mereka berhubungan, sebagai wujud betapa perasaannya pada Riana teramat dalam, bahkan setiap hari tumbuh dan terus berkembang, hingga membuat dadanya penuh sesak hanya karena mengingat keberadaan Riana di sisi nya.


Brian mendekap erat tubuh wanitanya, mengusap lembut punggung Riana yang masih lembab, usai percintaan panas mereka. 


"Aku pun mencintaimu kak." Balas Riana seraya mengecup rahang Brian yang kini sudah bersih dari jambang. 


Brian menelusuri alis dan dan hidung Riana menggunakan jari tangannya, "bahagianya aku karena memilikimu disisiku sayang, tak bisa ku bayangkan entah seperti apa hidupku saat ini jika kencan buta hari itu tak membuahkan Briana, mungkin aku masih akan terus berpetualang tanpa tujuan,"


Riana tersenyum malu, "aku pun demikian, aku benar benar tak pernah berpikir akan menikah kembali dengan pria lain, apalagi berpikir  menikah kembali denganmu,"


"Hahaha … aku pun sama sayang, membayangkan kembali denganmu, tidak pernah masuk dalam daftar rencana hidupku."


"Tapi sekarang aku bahagia bersama mu."


"Dan aku merasa hidupku semakin lengkap dan penuh warna." Brian mel***at bibir Riana sesaat, "aku tak sabar menanti hadirnya si dia lagi dalam hidup kita." Ucapnya sambil mengusap lembut perut Riana. 


Iya… aku pun menantikannya, entah, mungkin karena kita berdua terlalu sibuk." 


"Kenapa lama sekali sayang, bukankah ketika kita tak memerlukan waktu lama untuk mendapatkan Bee, bahkan aku masih tertawa tak percaya ketika dokter mengatakan aku mengidap sindrom ibu hamil."


"Siapa yang percaya, Brian yang garang dan arogan, mengidap sindrom ibu hamil." Riana terkekeh. 


"Apakah itu membuatku terlihat konyol?"

__ADS_1


"Tidak sayang, disekitar kita banyak yang mengalami hal itu, hanya saja jarang terjadi."


"Jadi apakah sebaiknya kita quality time berdua agar Bee segera memiliki adik?"


Brian mengerutkan keningnya, tak biasanya sang istri berpikiran meninggalkan putri mereka. "Tumben kamu tak ingin membawa Bee?"


"Entah, tiba tiba saja berencana demikian, tapi sejujurnya hatiku masih sama, tak ingin meninggalkan Bee seorang diri bersama papa, mama dan nanny."


"Atau mungkin kita bisa menitipkan Bee di Geraldy Kingdom, bukankah Bee suka jika ia menginap bersama si kembar?"


"Ide bagus, layak untuk dicoba," Jawab Riana dengan kerlingan jahil, "tapi kini kita fokus dulu pada penyembuhan kaki Bee,"


"DEAL…" Brian langsung menyetujui usulan Riana, "Aku sudah tak sabar melihatmu memakai lingerie lingerie baru yang ada di lemari pakaian kita." Brian kembali berbisik dengan suara nakal nya. 


Riana terdiam, ingin senyum senyum sendiri rasanya, kala mengingat dari mana semua lingerie baru tersebut berasal. 


"Sebenarnya, diantara kami bertiga yang kini memiliki hobby baru mengoleksi lingerie adalah Bella,"


Riana tersenyum geli, "Dia masih berusaha keras untuk merayu suaminya, agar mau memiliki anak lagi."


"Lalu hasilnya?" 


"Andre tetap tidak mau memiliki anak lagi."


"Kenapa?"


"Bella bilang, Andre memiliki trauma dan ketakutan pada sesuatu."

__ADS_1


"Apa itu?"


"Hanya mak othor moon, dan reader Andre untuk Bella yang tahu, karena hingga detik ini Andre tak pernah mau bercerita." 


"Kelakuan othor moon gak pernah berubah, hobi bener ngerjain reader," Gerutu Brian, yang juga empet karena pernah dijadiin duda dan suami yang gegana -gelisah galau merana-. "Tapi tak masalah, aku senang, toh lingerie lingerie itu untuk menyenangkan aku, kamu boleh membeli sebanyak banyaknya."


Riana membeliak tak percaya, "laki laki memang tak pernah berubah, urusan ranjang tetap nomor satu,"


"Hahaha… kamu benar sayang, tapi aku tak berperilaku seperti dulu, aku hanya datang padamu, maaf untuk masa laluku yang berantakan, dan terima kasih karena sudah berbesar hati menerimaku yang serba banyak kekurangan."


Riana menangkup kedua pipi Brian, "tak masalah, aku tak menyesal menerimamu, karena kita punya kisah di masa lalu, kita punya persahabatan tulus saat itu, bagiku kaka tetap kak Bian Ku yang tampan dan pemberani." Riana memberikan kecupan singkat di bibir suaminya, "aku mencintaimu dulu, saat ini, dan aku yakin hingga akhirnya kita akan terpisah oleh takdir sebuah kematian."


Brian tersenyum bahagia sekaligus jahil, "sayang kamu memulai lagi."


"Apa?"


"Kamu membangunkannya,"


Riana pura pura terkejut, "benarkah, sini aku bantu menenangkannya."


"Tidak, dia tidak mau disentuh, dia mau yang ori, dan kamu harus bertanggung jawab."


Dan mereka pun benar benar melupakan makan malam. 


.


.

__ADS_1


.


❣️❣️❣️


__ADS_2