Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 64


__ADS_3

BAB 64


Malam semakin larut ketika paman Robin mengakhiri kisahnya, tanpa bisa di tahan Brian menangisi masa lalu nya.


“Kenapa paman? kenapa justru pamanku sendiri yang tega menyakiti ku? apakah sebegitu besar kedengkiannya? hingga ia tega melakukan kesadisan di hadapan seorang anak kecil, apa salahku?, aku tak meminta dilahirkan sebagai keturunan Gustav Agusto?” kedua mata dan wajah Brian sudah bersimbah air mata, sesekali nafasnya tersengal, dan kedua tangannya terkepal kuat.


Paman Robin sendiri tak mampu menahan tangisnya, “begitu besarnya kasih sayang tuan Roger pada anda, hingga ia tak rela anda kembali menderita mengingat semua kepahitan di masa lalu,”


“Cukup paman, hentikan, aku anggap paman sedang bercanda, atau aku akan membenci paman dan juga papa, karena sudah menyimpan rahasia sebesar ini,  aku mau istirahat, selamat malam.” Brian berlalu pergi, tiba tiba dadanya sesak, begitu banyak fakta yang datang menghantamnya hari ini, mulai dari usaha Grace menyakiti Riana, kemudian kecelakan dan penghianatan Alicia, dan kini ia dihadapkan dengan fakta baru yang cukup membuat dadanya sesak, jika bukan karena keinginan besarnya ingin bertemu dengan anaknya, mungkin Brian akan menghancurkan dirinya begitu saja. 


Paman Robin hanya menatap kepergian Brian dengan sendu, bagian terpentingnya belum ia ceritakan, masa dimana Brian bertemu dengan Riana, serta kejadian yang mereka alami bersama.


Dengan langkah cepat, Brian melangkah menuju kamarnya, yah di saat seperti ini hanya Riana yang bisa meredam emosinya, hanya Riana yang sanggup menenangkan amarahnya.


Brian membuka pintu kamar utama, tepat sesudahnya ia melihat Riana berganti posisi, hingga pemandangan sebagian besar tungkai hingga pahanya terekspos sempurna, Brian tetaplah seratus persen normal, yang membutuhkan pelepasan, amarah menumpuk, gelisah dan kesedihan bercampur membuat hasratnya semakin tak terbendung, Brian berbaring menghadap wajah Riana dari dekat, membelai pipi putih yang tertutup helai helai rambut yang berserakan, hingga jemarinya mengusap bibir mungil Riana, nafasnya semakin memburu, kala wajahnya semakin mendekat berharap segera menikmati bibir mungil sang istri, tapi …


Sesuatu yang tak terduga terjadi, tiba tiba Riana mencengkram erat lengannya, keringat mulai keluar dari pelipis dan leher, nafas Riana  memburu, naik turun tak beraturan, tubuhnya meringkuk dan, “ampun … jangan … jangan pukul aku, kakak tolong … tolong … hiks … hiks.” rengek Riana, Brian melihat air mata menetes dari  kelopak mata Riana, raut wajahnya seperti ketakutan, membuat hasrat yang sejak tadi ingin Brian lepaskan tiba tiba menguap begitu saja, berganti dengan rasa iba.


Brian mendekat, kemudian mendekap Riana yang belum juga membuka matanya, “kenapa tangisnya begitu memilukan? apa yang ia lihat dalam mimpinya?” gumam Brian, tangan kirinya mendekap erat, sementara tangan kanannya mengusap kepala dan punggung Riana, “sshhh … tenang, ada aku di sini, tidurlah lagi …” Brisik Brian di tengah isakan kecil Riana, diusapnya perlahan tubuh mungil yang kini kembali lelap tenang dalam dekapannya.


.


.


.


Riana termenung menatap taman melalui pintu balkon yang kini terbuka lebar, mencoba mengingat kembali apa yang ia impikan semalam, kenapa terpotong? sedikit sekali yang ia ingat dari mimpinya semalam, hanya seorang gadis kecil yang tengah menangis lirih, di sebuah ruangan gelap, sementara satu satunya suara orang dewasa yang ia dengar, hanyalah gelak tawa, yang terdengar menakutkan, meminta tolong tapi tak ada yang datang menolong, lagi lagi teriakan anak kecil lainnya yang ia dengar, tangis permohonan, memohon dengan sangat karena hanya itu yang bisa dilakukannya.


Riana sungguh bingung, kenapa tiba tiba memimpikan gadis kecil itu, siapa gadis itu? dan siapa pula yang memiliki tawa mengerikan itu, berbagai macam dugaan mulai bermunculan, jika itu dirinya sendiri, kapan hal itu terjadi, seingat Riana ia tak pernah mengalami hal itu, lalu jika bukan dirinya sendiri, siapa gadis kecil itu? 


Riana menggigit bibir bawahnya, memejamkan kedua matanya, mencoba kembali mengingat mimpinya semalam, tapi semua nya buyar, ketika sepasang tangan kekar memeluk erat pinggang kemudian mengusap lembut perutnya, siapa lagi pelakunya jika bukan Brian, pria yang sesaat lalu masih terlelap, ketika Riana membuka mata.


“Selamat pagi istriku …” sapa Brian.


“Tumben sekali menyapaku dengan sebutan ‘istriku’?” tanya Riana iseng.

__ADS_1


Brian tersenyum gemas, melabuhkan banyak kecupan di tempat tempat yang ia suka, lebih bahagia lagi karena Riana tak menolak atau menghalanginya, rupanya Riana benar benar menepati janjinya untuk memberinya kesempatan.


“Mulai sekarang aku akan memanggilmu demikian,” 


Riana menatap wajah Brian yang tak terlihat sedang bergurau, “Kenapa menatapku begitu? tak suka dengan panggilan barumu?”


“Bukan begitu,” jawab Riana tak nyaman, ia ingin bergerak leluasa, tapi Brian justru semakin mengeratkan pelukannya.


“Lalu?” tanya Brian dengan nada menggoda.


“Kurang nyaman dan belum terbiasa.”


Brian menatap penuh rasa bersalah pada wajah istrinya yang terlihat kikuk, “Maafkan aku, sikapku, egoku, serta kegagalanku menjadi suami dan kepala keluarga dalam pernikahan kita dahulu, sekarang aku hanya berharap bisa mendapatkan kesempatan memperbaiki semuanya, aku benar benar ingin menunjukkan kesungguhan hatiku, terlalu serakah jika aku mengharap segera dicintai, aku hanya ingin kesempatan, maukah kamu mencoba nya … Ber … samaku?”


Ada nada takut dalam tatap matanya, takut di tinggalkan, takut kehilangan, Riana mengerti, pastinya Brian sedang dalam tahap kehilangan yang teramat sangat, bukan hal mudah menerima kenyataan di sakiti dan di khianati orang yang sangat dicintai, seseorang yang pernah dianggap lebih penting diatas segala galanya, pasti Brian merasa sangat kesakitan setelah terbang ke awang awang, lalu tiba tiba di hempaskan dengan kasar dan tak berperasaan. 


Brian meletakkan dagunya ke pundak Riana, menikmati aroma alami yang menguar dari tubuh sang istri, “Tuhan pasti sedang menghukum ku, Kesakitan yang dulu kamu terima kini seakan akan berbalik padaku, aku merasakan hal yang sama, disakiti dan dikhianati, tapi masih tak tahu diri meminta diberi kesempatan berada di dekatmu,"


Riana tersentuh mendengar pengakuan Brian, seharusnya kini ia senang, bahagia, merasa mendapatkan piala dan jackpot luar biasa, karena sudah melihat Brian yang terluka hati dan perasaannya, tapi perasaan apa ini? kenapa rasanya menjengkelkan sekali, karena hatinya mendadak memelas, ikut berduka atas apa yang kini menimpa suaminya.


Detik berikutnya, Riana lebih terkejut lagi, karena ia berbalik, hingga kini mereka berhadapan, masih terkunci di pelukan Brian, Riana mengusap pipi Brian perlahan lalu memberikan kecupan lembut di sana.


Brian tertegun sesaat, dada nya kembali bergejolak, otaknya yang sempat konslet semalam, kini bertambah parah, karena hatinya pun ikut oleng, meleleh dengan sikap manis yang Riana tunjukkan. 


"Kalau begitu, berjuanglah meruntuhkan benteng pertahanan di hatiku."


Ucap Riana, pelan, lembut, tapi membuat semangat Brian kian terpacu, seakan mendapatkan tantangan baru, menegangkan sekaligus mendebarkan.


"Sebelum itu, bisakah kita mulai dengan sedikit pemanasan di sana?" Bisik Brian jahil, seringainya sungguh menyebalkan dan sangat mesum dalam pandangan Riana, tentu saja menyebalkan karena Brian terang terangan menunjuk kearah ranjang besar yang mereka tempati selama beberapa malam terakhir.


Riana mengeluarkan tanduknya, "BIG NO!!!" tolak Riana tegas, apa apaan ini, memberi Brian kesempatan saja butuh waktu, bagaimana mungkin Brian justru memanfaatkan momen 'menunggu' ini, dengan meminta hal yang lain.


"Kenapa kita tidak mencobanya?" bisik Brian jahil. 


"No … aku hanya mengatakan memberimu kesempatan,"

__ADS_1


"Tapi kan itu termasuk dalam 'kesempatan' yang seharusnya, bukankah kita juga harus belajar saling mencintai dan menerima, jadi tidak ada salahnya kalau kita mulai intens bercinta, untuk mengakrabkan diri." Brian semakin berani memanfaatkan momen, ia bahkan dengan tak tahu malunya mengajak Riana berhubungan seperti selayaknya pasangan suami istri.


Riana mendadak merona, malu, tapi juga sungguh kesal, "dasar tukang modus," Riana melepaskan diri dari pelukan Brian.


"Ayolah sayang … kenapa kamu jadi malu malu begini?" Brian tak pantang menyerah, walau di abaikan, ia tetap mengikuti pergerakan Riana. 


Ketika Riana berhenti di depan lemari Brian kembali berbisik, "aku bahkan masih ingat dengan jelas D*s**anmu malam itu, sungguh membuatku makin …"


"BRIAN CUKUP !!" pekik Riana kesal, gatal juga telinga mendengar ucapan Brian yang sangat mesum.


Brian tersenyum, senang karena Riana merespon ucapannya, walau dengan sedikit kesal. "Aku senang kalau melihatmu marah begini, hehehehe …" 


"Dasar suami menyebalkan," gerutu Riana kesal, ia urung mengambil baju ganti, dan hendak keluar kamar, karena bayinya mulai protes karena lapar.


"Eh tunggu," Brian bergerak dengan kecepatan kilat, menahan pintu yang hampir terbuka, "mau kemana?"


"Minggir gak?" 


"Ngga, jawab dulu mau ke mana?" 


“Mau makan, lapar !!!” jawab Riana ketus.


Brian memindai tatapannya, dari ujung rambut hingga ujung kaki sang istri, rambut tergerai kusut, wajah kucel khas bangun tidur, dan uu laa laa jangan lupakan gaun tipis bertali spaghetti yang Riana kenakan, sangat menggoda di mata lelaki, terlebih efek hormon kehamilan membuat beberapa bagian tubuh Riana tampak semakin padat berisi.


Riana menyilangkan kedua lengannya di dada ketika melihat pandangan Brian yang tengah mengarah lapar ke bagian depan tubuhnya tersebut, ia mendengus sebal, tanpa di beritahu pun Riana tahu, bahwa Brian tak rela ada yang memandangi tubuhnya, dan Riana pun kembali ke walk in closet kemudian menyegarkan dirinya sebelum sarapan pagi.


“Rianaku memang semakin menggemaskan jika sedang marah.” gumam Brian dengan senyum nakalnya.


.


.


.


1400 kata lagi gaes, awas kalo gak pada meninggalkan tanda cinta, othor pundung 👻

__ADS_1


vote sebanyak banyaknya yah😂✌️


sarangeeeeeee 😋


__ADS_2