
BAB 50
BRAK !!!
Suara keras itu menggema di ruangan VVIP tersebut, membuat semua yang ada di ruangan tersebut menatap Brian yang tengah menggenggam garpu yang kini menjadi perantara amarah Brian, karena garpu itu sudah menembus meja makan pasien, Riana tercengang bahkan tiba tiba diam membeku.
“Anda tidak di terima di ruangan ini lagi dok, karena pasien harus istirahat.”
Brian melempar pandangan tak suka kearah Rodrigo, ia bahkan terang terangan mengusir kawan baik istrinya.
Rodrigo mengulum senyumnya, ia suka sekali melihat Brian tersulut emosi karena cemburu tengah menguasainya, tak bermaksud apa apa, ia hendak menyadarkan Brian bahwa istrinya adalah wanita berharga dan tak layak di sia siakan.
Rodrigo berdiri sambil menghela nafas berat, “Baiklah sepertinya aku memang harus mengalah,” ucapnya.
Rodrigo mendekat, kedua pria jangkung itu kini berdiri berhadapan, Rodrigo berbisik ke telinga Brian, wajah Brian menjadi semakin merah padam, dan genggaamnnya terkepal kuat, tatapannya kini berkilat penuh amarah, ia bergerak mencengkram kerah kemeja Rodrigo, “jangan coba coba melanjutkan niatmu, atau kamu tak akan pernah bisa menatap mentari esok hari.”
Riana bergerak cepat sebelum sesuatu yang mengerikan terjadi, ia sangat tahu, Bian terlihat berlipat lipat kali lebih mengerikan ketika sedang tersulut emosinya.
“Brian … Brian …” Riana menyebut nama suaminya, seraya memegang lengan Brian, berharap agar amarah Brian segera reda.
Tapi kedua pria itu tampak masih melemparkan tatapan penuh ancaman.
“Fabian …” seru Riana pada Fabian yang sejak tadi hanya diam menjadi penonton.
Fabian pun bangkit, mencoba melerai.
“Tuan … ingat kita sedang di rumah sakit, jangan membuat keributan.”
Namun peringatan Fabian tak Brian hiraukan, Brian bahkan mendorong Fabian, hingga pria itu mundur beberapa langkah.
“Brian … ku mohon hentikan, jangan seperti ini.” Riana hampir menangis manakala Brian tak juga melepaskan Rodrigo dari cengkramannya, Rodrigo pun seakan tak merasakan takut menghadapi kemarahan Brian, ia bahkan tertawa puas melihat kemarahan Brian, rasanya sungguh lega karena ia berhasil mengeluarkan kalimat yang sejak lama ia pendam.
“Menyingkirlah, aku harus melenyapkan pecundang ini.”
__ADS_1
“Bukan aku yang pecundang, melainkan dirimu, pria yang tega menyakiti wanitanya, dia adalah pecundang sejati.” balas Rodrigo yang semakin membuat amarah Brian meningkat.
Karena Brian Tak juga menghentikan aksinya dan Riana sudah tak bisa lagi membujuknya, akhirnya Riana menggunakan cara terakhir, ia ingat ketika terakhir kali Brian menangis meminta maaf sambil memeluknya, kali ini Riana memberanikan diri memeluk punggung Brian.
“Ku mohon berhentilah,” Bisik Riana lirih.
Dan …
BLAM !!!
Sungguh ajaib, pandangan Brian tiba tiba berubah, seperti robot berganti mode, mata yang sejak tadi berkilat penuh amarah, kini mendadak redup, berganti dengan tatapan teduh, seperti seorang anak yang bahagia karena mendapatkan pembelaan dan pembenaran akan sikap nya.
Cengkraman itu pun lepas begitu saja.
Menyadari otot otot tubuh Brian mulai rileks, Riana berpindah memeluk Brian dari sisi depan, “baby tidak suka ketika melihat daddy marah …” bisik Riana lirih.
Bahkan Fabian belum pernah melihat Brian dalam kondisi demikian, ini sungguh aneh, Fabian mulai berpikir mungkinkah Brian memiliki kepribadian ganda? tapi kenapa hanya di dekat Riana? hanya di depan Riana emosi Brian datang silih berganti, seperti air laut yang mengalami pasang dan surut, mungkinkah itu karena kehadiran anak yang tengah berada di kandungan Riana? tapi kenapa bersama Alicia, Brian tak pernah merasakan emosi sedemikian rupa?.
Fabian tiba tiba pening sendiri memikirkan misteri yang mendadak muncul di kepalanya.
Brian memejamkan kedua matanya, tangannya menjuntai begitu saja manakala Riana memeluk dan membisikkan kata kata manis padanya.
Menyadari Brian mulai tenang, Riana memberikan kode pada Rodrigo agar segera meninggalkan ruangan, Rodrigo menurut dan ia pun pergi dari ruang rawat inap Riana, setidaknya ia bisa menyimpulkan satu hal, sekasar apapun sikap Brian terhadap Riana, Brian tak menyadari bahwa dirinya sudah menyimpan cinta untuk Riana, namun karena kebodohannya, ia bahkan tak menyadari hal itu, namun justru menolak fakta tersebut mentah mentah.
Namun di sisi lain, seseorang melihat kejadian itu dari kaca mata berbeda, yah … Grace menyadari kemungkinannya untuk berada di sisi Brian semakin kecil, ‘Jika aku tak bisa berada di sisi Brian, maka Riana pun tidak akan bisa’ ucapnya dalam hati.
Rapat kembali tertunda, karena kondisi Brian tak memungkinkan untuk kembali melanjutkan rapat, Grace meninggalkan ruangan lebih dulu, sementara Fabian menunggu di depan ruangan, karena Brian ingin menenangkan dirinya, pria itu tertidur dengan kepala di pangkuan Riana, beberapa kali mencium perut Riana, sebelum akhirnya terlelap.
Tangan Riana bergerak perlahan, mengusap rambut dan wajah Brian, Banyak hal yang Riana pikirkan, semua nya saling berlomba untuk meminta jawaban, namun Riana merasa buntu, berdiri di ujung dermaga dengan banyak cabang di sana, masing masing cabang memiliki jawaban, dan Riana tak tahu harus memulai dari mana, agar menemukan jawaban dari teka teki emosi Brian.
Mungkin karena sudah biasa berpikir keras, Riana bahkan tak menyadari jika sudah satu jam lebih ia memikirkan segala kemungkinan yang tengah Brian alami, dengan tangan yang tak henti mengusap rambut dan kepala Brian.
Riana baru menyadari cepatnya waktu berlalu, ketika fabian tiba tiba masuk dan memeriksa keadaan Brian.
__ADS_1
“Nyonya … anda baik baik saja?” Tanya Fabian cemas, mengingat begitu mengerikannya wajah Brian ketika sedang tersulut emosi beberapa saat yang lalu.
Riana hanya tersenyum mengangguk.
“Saya mencemaskan anda nyonya?”
“Tidak papa Fabian, aku sudah terbiasa menghadapi Brian yang sedang emosi.” jawab Riana pelan.
“Tidak ada yang boleh mencemaskan istriku selain aku.” tiba tiba Brian bersuara.
“Oh … i … i … iya tuan, maaf.” ucap Fabian kikuk.
Brian pun bangkit dari pangkuan Riana.
Riana meringis pelan, ketika hendak meluruskan kaki kakinya yang mulai kebas.
“Maaf … apa kaki mu sakit?” tanya Brian cemas.
“tidak, hanya sedikit kebas dan kesemutan.” jawab Riana
Tanpa Riana duga, Brian menaikkan kedua kaki Riana ke pangkuannya, kemudian memijatnya perlahan.
“Hei … apa yang kamu lakukan?”
“Aku hanya memijatnya.”
“Hentikan !!!”
Tapi Brian mengabaikan peringatan Riana, Riana hanya bisa membeku ketika menerima perlakuan Brian.
“Fabian, segera selesaikan urusan administrasi, aku akan membawa istriku pulang.” ujar Brian tanpa mengalihkan tatapannya dari kedua kaki Riana yang tengah ia berikan pijatan.
“Baik tuan,” jawab Fabian patuh, ia segera pergi meninggalkan ruangan, sebelum Brian berganti mode, melihat Brian marah, adalah hal biasa bagi Fabian, tapi Brian bersikap bengis baru kali ini ia lihat, dan Brian terlihat berlipat lipat kali lebih mengerikan.
__ADS_1