Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 77


__ADS_3

BAB 77


“Mama tak perlu tahu semua ini, biarlah papa yang …"


"PAPA !!! Berhenti menyimpan rahasia seorang diri, mama berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi, terutama jika itu menyangkut anak kita."


Richard menghela nafas, ia menatap sendu wajah sang istri, akhirnya ia pun pasrah mengangguk.


Richard mengeluarkan dua buah flashdisk yang sejak tadi berada di genggamannya.


Mama Nisya begitu meradang mendengar isi rekaman tersebut, ia sama sekali tak menyangka Brian memiliki maksud sejahat itu terhadap Riana dan anak mereka.


Mama Nisya menjadi semakin meradang marah, sebelum kemudian mulai menangis pilu, kala Mendengar sendiri pernyataan papa Roger tentang misteri hilangnya Riana ketika ia masih berusia enam tahun, Tangis mama Nisya semakin pilu kala mengingat kemalangan yang dialami Riana.


Sementara seseorang yang tak seharusnya tahu, kini terdiam dengan air mata yang juga mengalir deras … sekali lagi ia merasa dikhianati, disaat cintanya mulai tumbuh.


“Dan bukan hanya ini saja,” papa Richard mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas kerjanya, “Mereka bahkan menandatangani ini sebelum menikah.” tutur papa Richard lirih.


Dengan tangan gemetar mama Nisya menggenggam surat kontrak pernikahan tersebut, lagi lagi ia dibuat menangis sesenggukan, mengetahui Riana sekali lagi menjalani pernikahan semu dengan pria yang sama, mama Nisya sungguh tak menyangka, pasalnya terakhir kali Brian datang ke Jakarta bersama Riana, tatapan mata pria itu jelas sekali berbeda, dan tadi nampak sekali Brian tengah dalam kondisi panik, karena tak mendapati istrinya berada di rumah usai pulang kerja, bahkan tanpa berpikir panjang mendatangi rumah orang tua sang istri, namun semakin resah karena ternyata Riana tak ada, jadi mama Nisya percaya bahwa Brian memang sungguh sungguh  mengkhawatirkan keadaan istrinya.


PRAK !!! 


Ponsel dalam genggaman Riana meluncur begitu saja ke lantai.


Riana diam membatu di depan pintu, serupa orang bodoh yang mendengar informasi mengenai dirinya sendiri, yah Riana mendengar semuanya, tanpa terkecuali, dan kini ia tak bisa mendefinisikan bagaimana bentuk perasaan kecewanya.


Untuk kedua kalinya, Brian mengecewakannya, akankah kata kata cintanya juga semu? jika semuanya semu, dan palsu, lalu kemana semua kata kata manis penuh gula yang selama ini ia dengar, bagaimana dengan janji janji yang Brian ikrarkan untuk berjalan berdampingan dengannya hingga akhir? bahkan untuk menunggu? Riana mengusap perutnya yang membuncit, haruskah pernikahannya berakhir lagi, sementara ia masih belum rela kehilangan hal hal manis yang selama ini mengalir menghasi kebersamaannya dengan Brian dan baby, Riana mengusap kasar air matanya, Brian benar benar berhasil memperdayai nya, bahkan sandiwaranya sangat sempurna hingga berhasil membuat Riana benar benar terjatuh dalam perangkap cinta palsunya.


Lalu apa tadi yang papa Roger katakan? permohonan maaf? penebusan atas perasaan bersalah, hingga beliau menyerahkan Gustav.Inc untuknya? oh ya tuhan apa lagi ini, Riana semakin bingung mencerna nya, tidakkah cukup hanya rasa kecewanya saja pada Brian, kenapa harus ditambah dengan pernyataan papa Roger yang membuat kecewa kedua orang tuanya, bahkan semakin menambah  kebingungan nya.


Mama Nisya dan papa Richard menghampiri Riana yang sejak tadi diam mematung mencuri dengar apa yang mereka berdua perbincangkan.


“Apa ini pa? dari mana papa mendapatkan rekaman itu, itu pasti Hoax kan? suara itu rekayasa kan? Brian tidak akan sejahat itu padaku kan? haruska dia bersikap manis hanya demi berhasil mewujudkan niat jahatnya memisahkanku dari baby?” 


Papa Richard dan mama Nisya hanya memandang iba pada putri mereka, tak bisa mengelak karena semuanya benar tanpa rekayasa. “Tidak nak, semuanya benar, Hans yang memasang alat penyadap di dalam mobil Brian, papa pun tak tahu motif yang mendasari niatnya melakukan itu.”


“Lalu papa Roger? apa yang papa Roger bicarakan, kejadian apa itu, kenapa aku tak ingat? apakah ada yang masih mama sembunyikan? bukankah aku sudah pernah meminta pada mama untuk menceritakan semuanya, tanpa ada yang di rahasiakan? sepahit apapun masa lalu ku, aku berhak tahu, kenapa kalian menyembunyikannya seakan akan itu tak pernah terjadi? Aku sudah dewasa ma … pa …”

__ADS_1


Yah sama seperti Brian, Riana pun kehilangan ingatan masa kecilnya, profesor dan beberapa dokter yang menanganinya, melakukan terapi hipnotis agar pelan pelan melupakan kejadian buruk yang menimpanya, mengurangi bahkan menghilangkan trauma dan ketakutan yang ia alami, tentu saja saat itu papa Richard tak henti mencari cari keberadaan pelaku yang tega menyiksa dan menyakiti putrinya.


Tiga orang itu saling berpelukan, menumpahkan tangis mereka, menangisi kejadian yang sudah lama sekali berlalu, “maafkan kami nak, semua karena kami lalai sebagai orang tua, hingga ada orang jahat yang menculikmu.” bisik Richard lirih.


.


.


.


Flashback


Brian kecil menimang boneka beruang putih dengan pita berwarna merah muda di lehernya, hari sebelumnya ia diberitahu sebuah rahasia kecil oleh Riana bahwa hari ini kedua orang tuanya sedang menyiapkan pesta ulang tahun kejutan, tapi lucu karena tanpa sengaja Riana mengetahui rencana tersebut, jadi sepulang sekolah, Brian meminta pada mama Delia untuk membantu memilihkan boneka beruang untuk Riana.


Dan perjuangan Brian kecil tak sia sia ketika kedua mata Riana berbinar manakala menerima hadiah darinya


“Kak … cantik sekali bonekanya …” pekik gadis kecil itu ketika menerima sebuah boneka beruang yang masih terikat pita berwarna merah muda.


“Kamu menyukainya?”


Gadis itu mengangguk dengan tatapan matanya berbinar indah, dan senyum manis tersungging di bibirnya.


“Kalau warnanya?”


“Aku suka, semua yang kakak berikan padaku, aku menyukainya.”


“Kamu hanya suka ice cream vanilla, jadi aku memilih  boneka beruang berwarna putih,”


“Bagaimana kalau kita juga menamainya Vanilla?” usul Riana, dan Brian mengangguk setuju.


Keduanya tertawa bahagia, polos, sederhana, tanpa sandiwara, namun disisi lain ada yang tak rela melihat bahagia di wajah keduanya. 


Sebuah mobil hitam misterius mendadak berhenti di dekat taman, dua orang pria bertubuh besar, berpakaian serba hitam mendatangi dua anak yang sedang bermain tersebut, tanpa menunggu lama, kedua bocah itu di bekap, dan digendong menuju mobil, meronta? sudah pasti karena berteriak pun tak bisa, keduanya menangis ketakutan, sesaat setelah mobil kembali tertutup rapat, barulah mulut mereka di buka.


“Mamaaaa … mama … mama …” teriak Brian kedua tangannya menggebrak kaca mobil berkali kali, kakinya menendang tak tentu arah, ia meraung, menangis keras memanggil mama Delia, tapi terlambat, mobil sudah melaju kencang membelah jalanan.


Sementara Riana si gadis kecil hanya menangis ketakutan memeluk boneka beruangnya.

__ADS_1


“Diam !!!” bentak seorang pria yang duduk di depan, seringainya mengerikan, tawanya pun terdengar menakutkan, pria itu tak lain adalah Ronald, paman Brian.


Ronald melompati pembatas, dan kini sudah duduk di kursi tengah, tangannya mengusap rambut dan pipi Riana, “jika kamu tak berhenti berteriak, kamu tahu akan tahu apa yang akan ku lakukan pada gadis kecil ini?” ancam pria itu.


“Kakak … aku takut … hiks hiks hiks” Riana hendak menggapai tangan Brian, tapi tak mampu, karena kini tubuhnya dipeluk erat oleh pria mengerikan itu, jadi ia hanya bisa menangis ketakutan.


“Jangan … ku mohon jangan sakiti dia … hukum saja aku, untuk semua kesalahanku, tapi jangan sakiti temanku,” pinta nya memelas, seraya menangkupkan kedua telapak tangannya di dada. 


“Menghukummu? ooohh tidak, menurut para orangtua yang tak lain adalah kakek nenek dan kedua orang tuamu, kamu tidak bersalah, dan aku dilarang menyakiti mu secara Fisik, tapi menurutku sejak kamu lahir kedunia, itu saja sudah sebuah kesalahan, jadi apapun yang terjadi karena kehadiranmu, semuanya tetap saja salah, hahahaha …” 


“Lalu jika semua salahku, kenapa paman hanya menyakiti semua yang kusayangi, bukankah aku yang seharusnya menerima hukuman?” Brian mulai mengeluarkan perlawanan, setelah bertahun tahun ia hanya melihat dan menyaksikan semua benda kesayangannya di rebut paksa kemudian dirusak, bahkan binatang kesayangannya juga mati mengenaskan, jika kini ia harus melihat teman barunya tersakiti oleh kebencian sang paman, Brian sungguh tidak rela, ini pertama kalinya ia merasakan kehangatan dan bahagia memiliki teman bermain, karena selama dua tahun ini ia selalu diam melamun dan bermain sendiri akibat emosi labilnya.


“Oh oh oh … Sudah pintar melawan rupanya …” Ronald menyeringai, lalu 


Plak !!!


Sebuah pemukul mendarat keras di betis Riana, kulit putihnya seketika berubah merah efek dari pukulan tersebut, seketika tangis Riana semakin keras dan memilukan.


Hanya orang orang keji yang sanggup melakukan hal tersebut.


“Baiklah, baiklah, aku janji, aku akan berhenti berteriak, bahkan melawan, tapi tolong jangan sakiti Iana ...” Brian hanya bisa menangis dengan kedua telapak tangannya menyatu tanda sebuah permohonan, demi menuruti keinginan pamannya.


Karena mendengar tangis Brian yang penuh permohonan, maka Ronald pun melepaskan Riana dari pelukannya, Riana yang masih menangis menggeser tubuhnya mendekati Brian, apalah daya Brian pun masih kecil, ia hanya mampu menggenggam tangan Riana, seraya mengusap air mata gadis itu, padahal air matanya sendiri tak berhenti mengalir.


.


.


.


😭


othor nangis gaes, maap keun 


tanda cinta nya jangan lupa yah 


sarangeeeeeee 

__ADS_1


__ADS_2