
BAB 74
Beberapa jam sebelum tragedi pulang paksa Riana.
Brian yang saat itu hanya di temani oleh Fabian mendatangi gedung Orland Ice, sang calon investor yang akan menanamkan modalnya pada Be.Tech, pertemuan berjalan lancar, Brian bahkan bertemu langsung dengan presiden Direktur Orland Ice, suasana hati yang bahagia, serta pembawaan lawan diskusinya yang juga easy going, membuat waktu berjalan cepat tanpa terasa.
Pertemuan berakhir tepat jam lima sore, Brian senang sekali karena akhirnya kerja kerasnya terbayarkan, setelah ini bisa di pastikan Be.Tech akan merajai pasaran.
“Fabian kita ke toko bunga dulu, aku ingin membeli bunga untuk istriku.”
Perintah Brian pada Fabian, sambil menyalakan ponselnya, membayangkan sesaat lagi ia akan mendapatkan hadiah yang sudah lama ia nantikan, senyum lebar terus tersungging di bibirnya hingga ia menatap heran pada layar ponselnya.
Brian mengerutkan keningnya heran, sesaat setelah ponselnya menyala, deretan notifikasi berjajar di layar ponselnya, ada lebih dari lima puluh panggilan tak terjawab dari Paman Robin dan juga Riana.
Deg
Tiba tiba Brian dihinggapi perasaan tak enak, ‘selalu seperti ini setiap kali ia meninggalkan Riana seorang diri dirumah, walaupun ada banyak pelayan yang menemaninya, tragedi tak terelakkan seakan tak henti meneror ketenangan rumah tangga nya.
Brian bergegas menghubungi Riana, namun gagal, “Fabian, apa Riana juga menghubungimu?”
Fabian yang tengah fokus mengemudi pun menjawab, “Benar tuan, sama seperti anda, ada banyak sekali panggilan, termasuk dari paman Robin.”
Tanpa banyak berkata, Brian segera menghubungi paman Robin, namun seketika berbagai pikiran buruk berkecamuk, amarah bergejolak di dadanya, kala mendengar bahwa istrinya dibawa pergi oleh orang orang kepercayaan mertuanya.
Dari pantulan kaca, Fabian memperhatikan raut tak biasa dari tuannya, “Ada apa tuan?”
“Siapkan penerbanganku sekarang juga !!!” perintah Brian, tanpa menjawab pertanyaan Fabian.
Fabian mengangguk paham, ia menepikan mobil kemudian menghubungi seseorang yang bertugas di landasan pacu, agar bergegas menyiapkan pesawat untuk perjalanan.
“Lalu bunga nya bagaimana tuan?”
“Dasar bodoh, tentu saja tidak jadi, ada hal yang lebih penting, kita harus segera ke Jakarta, dan menyusul istriku,” teriak Brian, ada kepanikan di balik makian yang ia lemparkan pada Fabian.
“Tuan Richard membawa nyonya Riana ke Jakarta?”
“IYAAA … ayo cepatlah jalan, jangan banyak bertanya.” perintah Brian.
Fabian menginjak pedal gas kuat kuat, ia tahu Brian pasti sedang gelisah dan bertanya tanya, kenapa Richard tiba tiba membawa Riana.
‘Sayang tunggu aku, aku akan segera menjemputmu’, Gumam Brian seraya mencengkram erat Safety Belt yang melilit tubuhnya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit kini mereka tiba di Changi Airport, dengan langkah cepat, Brian dan Fabian menuju landasan pacu tempat jet pribadi menunggu.
Sebelum menaiki jet, Fabian menyempatkan diri bertanya pada petugas yang berada di landasan pacu.
“Benar tuan, sekitar jam tiga sore, jet pribadi Alexander Geraldy mengudara, dan sepertinya mereka buru buru, karena bersama mereka seorang wanita yang tampak enggan bahkan terpaksa menaiki jet tersebut.”
“Apa kamu memiliki rekaman CCTV nya?”
“Ada tuan, sebentar.”
Fabian menaiki kabin pesawat, setelah mendapatkan apa yang ia inginkan.
__ADS_1
“Sh it !”umpat Brian marah, setelah ia melihat sendiri rekaman CCTV yang dibawa oleh Fabian, nampak wajah Riana yang gelisah, berkali kali menoleh kebelakang, mungkinkah Riana berharap dirinya menyusul? ah … andai tadi ia dan Fabian tak mematikan ponsel, pasti dengan segera ia akan menyusul Riana ke Airport.
“Tuan, tidakkah anda bertanya tanya, kenapa tiba tiba tuan Richard menjemput paksa nyonya Riana, mungkinkah beliau mengetahui mengetahui rencana kita sebelum nya, hingga beliau murka, bahkan membawa nyonya ke Jakarta.”
“Haaaiiisssshhhh,” Brian menjambak kasar rambutnya, merasa kini sedang dilanda panik, gelisah, rindu melanda, tapi yang di cinta, jauh di mata, dan jauh dari jangkauan, entah bagaimana kini kondisi Riana, setidaknya Brian layak bersyukur, karena yang membawa pergi istrinya adalah papa mertuanya sendiri, jadi sangat yakin bahwa Riana pasti baik baik saja. “Entahlah, aku tak ingin memikirkan hal itu, anggap saja kegelisahanmu tadi salah, dan bukankah kamu sudah membersihkan semuanya?”
“Sudah tuan, saya yakin sekali tak ada lagi berkas berkas yang berkaitan dengan rencana anda sebelumnya, saya yakin semuanya sudah saya bakar tanpa sisa.”
Mungkinkah tuhan hendak menguji cintanya? disaat cinta baru saja bersemi diantara mereka, dan ia sedang sangat bahagia setelah mengetahui Riana membalas cintanya, tapi lihatlah, tuhan seakan hendak bercanda dengan takdir cintanya.
.
.
.
“Lho … mama gak tahu kalau Riana ada di jakarta.” jawab mama Nisya ketika menantunya bertanya tentang keberadaan Riana.
Brian semakin muram, kini ia mulai takut akan fakta bahwa mungkin saja papa mertuanya mengetahui apa yang selama ini ia sembunyikan.
“Tapi para pelayan di mansion mengatakan, papa Richard meminta Riana kembali ke Jakarta.”
“Istirahatlah dulu, mama akan coba tanya papa.”
Maka kini disinilah Brian berada, menunggu kedatangan papa Richard, dengan perasaan tak menentu, Brian bahkan melupakan rasa lapar yang kini tengah mendera nya, ia benar benar tidak berselera makan sebelum memastikan kabar Riana.
Beberapa menit menunggu akhirnya papa Richard yang masih bersama Hans tiba di rumah, serupa dengan Hans yang wajahnya selalu datar, begitulah kira kira wajah Richard saat ini, wajahnya dingin tak terbaca, dan jangan lupakan guratan amarah yang kini menghiasi wajah nya.
“Selamat malam pa, kedatanganku kesini untuk memastikan keberadaan istriku, dan …”
“Tapi pa …”
“Aku harap setelah kalian bercerai, kalian tidak pernah lagi bertemu, karena aku akan meminta Riana bekerja di Jakarta.”
“What ?? tunggu dulu pa, apa maksud papa, aku tak mengerti apa yang papa bicarakan?.”
“Jangan lagi memanggilku papa, karena mulai detik ini, kamu bukan lagi menantuku.”
Dhuar !!!!
Seperti mendengar suara petir menggelegar, Brian merasakan tubuhnya dihantam sesuatu yang menyakitkan, tiba tiba saja papa Richard memintanya menceraikan Riana, sementara ia tak tahu apa sebab nya.
Richard sungguh muak melihat wajah menantunya yang seakan akan terkejut dan kecewa mendengar keputusannya.
“Kenapa pa? tolong jelaskan ada apa? sampai papa tiba tiba meminta kami berpisah?” Tanya Brian, mencoba mencari tahu duduk permasalahan.
“Hans …” Richard memberi kode pada Hans.
“Baik tuan,”
Hans mengeluarkan ponsel nya, kemudian menyalakan rekaman suara yang berhasil ia sadap dari Brian satu minggu setelah pernikahan pria itu dengan Riana.
...“Tuan, Properti permintaan anda sudah disetujui, besok pagi anda diminta segera melakukan pembayaran.”...
__ADS_1
...“Aturlah semuanya dengan rapi, jangan sampai papa mertuaku mengendus semuanya.”...
...“Sebaiknya anda pikirkan lagi niat anda tuan, mengasuh bayi seorang diri bukan hal mudah, terlebih tanpa kehadiran ibu kandung bayi tersebut.”...
...“Aku bisa menyewa jasa pengasuh bayi.”...
...“Tetap saja, ada satu hal yang tak akan bisa tergantikan dari seorang ibu.”...
...“Apa itu?”...
...“ASI nya, bayi anda membutuhkan ASI agar tumbuh lebih sehat, jika anda bersikeras membawa kabur bayi itu, mungkin saja dia tak akan sanggup bertahan, Karena ada beberapa bayi yang tidak bisa minum, selain ASI dari ibu kandungnya.”...
...“Lancang kamu, berani menasehatiku, kerjakan saja tugasmu !!!”...
Wajah Brian memucat, begitu pun Fabian, mereka sungguh tak menyangka bahwa kini papa Richard mengetahui semuanya.
“Tidak begitu pa, aku bisa jelaskan semua.” Brian mendekati papa Richard, namun RIchard sudah mengantisipasi pergerakannya.
“Tak ada yang perlu dijelaskan, aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa sampai kapanpun kamu tak akan pernah lagi bisa menemui putriku, sudah cukup kamu menyakiti hati dan perasaannya, sampai kiamat sekalipun, keluarga kalian tak akan mampu menebus kesalahan yang sudah kalian perbuat pada putriku,”
“Aku gak ngerti pa, apa yang papa bicarakan?” Brian bertanya tanya, apa gerangan kesalahan yang sedang Richard bicarakan, hingga keluarga nya di bawa bawa.
Richard tak tahu bahwa Brian kehilangan ingatan masa kecilnya.
Richard tersenyum sinis mendengar pertanyaan Brian, “Sejak dulu begitulah keluarga kalian, pintar bersandiwara, bahkan menyembunyikan sebuah fakta.”
“Pa !!!” Teriak Brian, ia masih tak mengerti arah pembicaraan Richard. “Aku ingin penjelasan, jangan membuatku terlihat bodoh, karena tiba tiba papa menghina keluarga ku.”
“Hans … seret dua orang ini keluar, mereka tak di terima lagi di rumahku.” perintah Richard pada Hans.
Hans dan beberapa pengawal yang bersiaga di rumah, kini maju dan mengepung Brian dan Fabian.
“Tidak … aku tak akan meninggalkan rumah ini sebelum bertemu dengan istriku !!” teriak Brian, ia meronta dari cekalan para pengawal yang memaksanya keluar dari rumah mertuanya.
“Riana tidak ada di sini, aku menyembunyikannya di tempat aman.”
“Aman dari apa dan dari siapa?” Brian kembali bertanya penasaran.
Tapi seolah tak menghiraukan suara Brian, para pengawal tersebut kembali memaksa Brian keluar dari rumah, tapi sekuat tenaga Brian tetap bertahan, agar tubuhnya tak sampai melewati pintu utama, kedua tangannya mencengkram erat handle pintu, hingga Hans menghadiahi nya sebuah pukulan, agar Brian menghentikan aksinya.
“Hajar saja jika dia semakin merepotkan!!!” perintah Richard pada anak buahnya.
Perintah Richard mutlak adanya, hingga Hans pun menghajar Brian tanpa ampun, tapi Brian diam tak melawan, ia ingin menunjukkan ketulusan cintanya pada Riana, dengan menerima semua kesakitan yang kini mendera sekujur tubuhnya, darah segar mengalir dari pelipis, bibir dan hidungnya, kepalanya berdenyut hebat, tiba tiba kilasan memori itu melintas, seakan akan sebuah video yang tengah diputar ulang, tawa, bahagia, sungguh terasa, namun di akhir kisah ia dibuat menangis seperti ikut merasakan kesakitan yang tengah dirasakan gadis kecil itu, gadis yang kebetulan hadir di hidupnya, gadis yang tidak seharusnya terlibat dalam permasalahan keluarga nya.
.
.
.
1500 kata buat kalian gaeeeesss
jangan lupa tinggalkan tanda cinta nya yah
__ADS_1
sarangeeeeeee