
BAB 54
Pagi hari sebelum paket tiba di mansion keluarga Gustav Agusto.
Brian menatap Riana hingga mobil yang dikendarai Fabian meninggalkan gerbang utama, walau wajah Riana datar dan terpaksa sekali menerima permintaannya tapi Brian sudah sangat senang karena Riana mau mengantarkannya sampai ke mobil.
“Tuan … saya minta maaf karena plan B yang anda minta belum seratus persen saya selesaikan.” pancing Fabian ingin mendengar reaksi Brian.
“Santai saja,” jawab Brian singkat.
‘Bila perlu, lupakan … aku menginginkan keduanya, istri dan anakku'. Lanjut Brian dalam hati, mulai rakus, ingin memiliki semuanya, terlupa dengan perjanjian yang nyata adanya.
Fabian terdiam, ia sibuk berpikir keras, apa sebenarnya yang membutakan hati dan pikiran tuan mudanya, hingga ia belum juga melihat ada wanita berharga di sisi nya, dan ada cinta yang Brian rasakan pada wanita istimewa tersebut, tapi Brian masih tetap berpikiran tolol seperti pada awal niatnya menikahi mantan istrinya.
Ketika melewati lobi, pandangan Brian tertuju pada seorang wanita yang tampak menunggu seseorang di ruang tunggu, penampilannya rapi dan sopan, wajah wanita itu pun nampak ramah.
“Maaf, sepertinya saya belum pernah melihat anda?” tanya Brian pada wanita tersebut.
Wanita yang tengah duduk tersebut langsung berdiri melihat kehadiran Brian, “Maaf tuan, saya ada janji dengan seseorang yang bekerja di gedung ini, hendak mengantarkan buku pesanannya,”
Pandangan Brian kini tertuju pada Box bergambar yang ada diatas meja, dari gambar dan judulnya, Brian tahu itu adalah buku dongeng anak anak.
“Apa anda juga berminat membeli buku buku ini untuk anak anda tuan?” tanya wanita itu, ketika melihat Brian yang sibu mengawasi box bergambar yang ada diatas meja.
“Tapi … anakku belum lahir, bahkan kehamilan istriku baru menginjak bulan ke lima.” jawab Brian, mendadak kikuk, gugup, tapi juga berdebar membayangkan sesaat lagi menimang anaknya sendiri.
“Justru ini saat yang tepat tuan, karena indera pendengaran janin sudah terbentuk, akan sangat bagus bagi janin jika papa nya sering membacakan buku untuknya, pasti suara anda akan direkam dengan baik olehnya.” merasa mendapat celah yang bagus, wanita muda itu terus berucap, sungguh manis, memikat bahkan mulai menggoyahkan, hingga membuat Brian merasa bahwa penting sekali membeli buku tersebut.
‘Yah … anakku harus mengenal suaraku dengan baik,’ ujar Brian dalam hati.
__ADS_1
Dan begitulah, Brian pun langsung meminta buku buku berharga tersebut dikirim ke mansionnya hari ini juga, karena mulai malam ini ia akan membacakan buku untuk bayinya.
Setelah memastikan buku pesanannya tiba, menjelang jam makan siang Brian memutuskan pulang, ia ingin melihat buku baru untuk bayi nya, bahkan mungkin sesaat membacakan buku untuk nya, dalam perjalanan Brian melihat kedai ice cream, tanpa pikir panjang Brian memesan ice cream vanilla favorit mereka, satu satunya kesamaan yang mereka miliki, agar nanti mereka bisa menikmatinya usai makan siang.
Dengan wajah berbinar, Brian turun dari mobil nya, tangan kanannya membawa sebuket mawar merah. Dan tangan kiri nya menenteng paper bag berisi ice cream vanilla.
"Paman … dimana istriku?" Tanya Brian begitu melewati pintu utama.
"Nyonya sedang di gazebo bersama tuan Richard." Jawab paman Robin, sementara tangannya menerima paper bag dari Brian.
"Sejak kapan papa Richard datang?" Tanya Brian penasaran.
"Pagi tadi jam sepuluh."
Brian mengangguk paham, "tolong simpan ice cream itu di freezer,"
"Baik tuan,"
Brian menatap sesaat kearah ranjang berlapis sprei dan selimut berwarna putih, sungguh serasi dengan mawar merah yang kini teronggok manis di sana
“Dia sehat pa, kemarin aku hanya kelelahan setelah operasi lalu dilanjut CPR yang tak membuahkan hasil,” jawab Riana muram, teringat nyonya Romana yang sudah sejak lama menjadi pasiennya.
Itu kalimat pertama yang Brian dengar ketika diam diam berjalan mendekati gazebo, pada awalnya Brian ingin menyapa papa mertuanya tersebut, tapi kemudian berhenti karena tertarik dengan perbincangan istri dan papa mertuanya.
Brian melihat bagaimana Richard membelai kepala Riana yang kini berada dipelukannya, pria yang begitu keras watak dan sifatnya, pria yang dua bulan lalu menghajarnya, kini terlihat begitu lembut memperlakukan putri kesayangannya.
“Papa ingin kamu cuti dulu untuk sementara, setelah bayi kalian lahir, kamu bisa kembali ke rumah sakit.”
Brian sungguh tak percaya mendengar penuturan papa Richard, ini untuk pertama kalinya, Brian sepakat dengan papa Richard, kenapa baru sekarang Brian terpikirkan hal itu? ‘Terima kasih pa, kali ini aku sepakat denganmu’. monolog Brian.
__ADS_1
“Tidak pah, aku menyukai pekerjaanku, bagaimana jika pasien pasienku terbengkalai?”
Brian melihat tatapan memohon dari kedua mata Riana, sudah ia duga tidak akan mudah, karena Riana begitu mencintai pekerjaannya, tapi sepertinya papa Richard pun tak mudah menyerah begitu saja.
“Tadi pagi papa sudah bicara dengan kepala bagian mu, dan ada banyak dokter yang bisa menggantikanmu sementara, bila perlu, papa akan mencari dokter baru agar ada yang menggantikan posisimu selama kamu cuti hamil dan melahirkan.”
Riana ingin protes tapi terhenti karena mendengar perkataan Richard selanjutnya.
“Bayi kalian sangat berharga, bukan bayi sembarangan, bayi ini anak pertama kalian, walaupun bukan anak pertama Brian, tapi ini tetap cucu pertama papa,”
Brian mendengar ketulusan dari kalimat ayah mertuanya tersebut.
“Selain itu dia juga calon penerus baru keluarga Gustav Agusto, kamu tahu sendiri kan kalau papa mertuamu juga sangat mengharapkan kehadiran seorang cucu, terlepas dari fakta bahwa papa juga ingin egois memiliki cucu papa untuk diri papa sendiri, tapi itu tidak dibenarkan, karena bayi ini tetaplah wujud dari dua manusia berbeda, kamu dan Brian memiliki hak dan kewajiban yang sama pada bayi ini, jadi suka atau tidak dia tetap cucu nya Roger dan juga anaknya Brian, benar begitu kan?”
“Papa juga berbicara mewakili Roger, tolong jaga dia baik baik, tetap beristirahat di rumah saja sampai dia lahir,” pinta Richard tulus sekali lagi papa Richard mengusap perut Riana.
Brian mundur teratur, mengurungkan niatnya menghampiri istri dan papa mertuanya, malu rasanya menatap wajah istri dan papa mertuanya, mereka orang orang baik yang kembali tuhan hadirkan dalam kehidupan Brian yang semakin kacau balau sejak Kepergian papa Roger dan juga Alicia, bahkan dengan bodohnya Brian menginginkan bayi dalam kandungan Riana untuk dirinya sendiri, sementara papa Richard, dengan tulus mengatakan bahwa bayi tersebut adalah wujud penyatuan dari dua manusia berbeda, dia bayi berharga, akan menjadi anak pertama nya dalam catatan negara, dan juga calon penerus keluarga Gustav Agusto dan keluarga William, jika Richard saja berpikir demikian, kenapa Brian dengan bodohnya, tidak pernah berpikir demikian, selalu keangkuhan dan keegoisan nya saja yang mendominasi.
Alicia memang bagian dari hidupnya di masa lalu, bahkan Riana pernah ia korbankan demi mewujudkan egonya tersebut, tapi kini Alicia sudah tak ada, bahkan tak mungkin kembali ke dunia, atas dasar apa Brian tetap mempertahankan keinginannya untuk tidak akan pernah mencintai Riana, sementara sekarang saja hati dan pikirannya tak bisa lepas dari bayang bayang wajah cantik istrinya, senyum bahagia ketika keinginannya terkabul, bahkan cemberut nya saja mampu membuat Brian gemas sekaligus berdebar.
‘Sudah cukup Brian, berhentilah, istri dan anakmu membutuhkanmu, lupakan masa lalu mu, kamu juga berhak bahagia, lupakan bayang bayang kesedihanmu’. suara itu menggema seorang diri, tak ada sahutan lan seperti biasa.
.
.
.
tanda cinta nya jangan lupa gaes ... 🤓
__ADS_1
sarangeeeee 💜💜💜