
BAB 85
Sehari sebelum kejadian.
#Misi menculik istri.
Riana yang tengah menahan nyeri hebat di kepala, serta perutnya yang mendadak kontraksi, segera dibawa ke ruang tindakan untuk menerima pertolongan, sementara mama Nisya menunggu di luar dengan panik, begitu pun Brian yang resah, gelisah, mendadak mual, bahkan perutnya ikut kencang dan sedikit nyeri, mungkinkah baby ingin ia ikut merasakan penderitaan sang istri.
Rupanya Stress yang tengah Riana alami berdampak pada kondisi fisiknya, dan karena tak ingin terjadi apa apa maka mama Nisya meminta agar Riana dirawat di rumah sakit saja, hingga kondisinya benar benar stabil.
Richard yang mendengar kondisi Riana yang agak menurun segera menginstruksikan pada Gadisya, agar Riana di rawat di ruangan Khusus bukan di ruangan VVIP yang nantinya pasti akan memudahkan jika Brian ingin menyelinap ke ruangan rawat inap Riana.
Brian bahkan harus rela menunggu kabar, karena ia tak bisa sembarangan menghubungi Gadisya, karena Gadisya juga harus merawat pasien pasiennya yang lain.
‘Bagaimana keadaan istriku Sya? semalam aku tak bisa tidur memikirkannya, bahkan perutku ikut mulas dan kram.’ -Brian-
Tak tahan juga Brian, ia sudah terlalu lama menunggu tanpa kepastian, tak bisa juga mendekati sang istri.
‘Kondisinya agak drop, tekanan darahnya bahkan turun drastis daripada sebelumnya, sekarang masih harus menunggu hasil lab, untuk memastikan.’ -Gadisya-
Jawab Gadisya dua jam kemudian.
‘Apakah memungkinkan, jika aku melihatnya? setidak nya melalui rekaman CCTV pun tak apa?’ -Brian-
‘Kenapa hanya melihat, jika kamu bisa membawanya bersamamu?’ -Gadisya-
Pernyataan yang terlalu berani bagi seorang Gadisya, tapi menurutnya kondisi Riana saat ini hanyalah pengaruh dari masalah yang tengah ia hadapi, jadi kenapa tidak dicoba, mendekatkan Riana dengan suaminya, mungkin saja itu akan jadi obat mujarab.
‘Maksudnya apa Sya?’ -Brian-
Sejujurnya Brian tak menyangka, Gadisya akan memberinya ide gila agar ia membawa kabur sang istri, tapi Brian mendadak berdebar membayangkannya.
‘Kak Riana itu sangat sehat fisik, sepertinya kondisinya drop hanya kkarena masalah yang sedang terjadi di antara kalian.’ -Gadisya-
‘Lalu apa yang harus aku lakukan?’ -Brian-
‘Besok pagi, aku akan coba mengatur pertemuan kalian, jika kak Riana bersedia, bawalah dia pergi, menjauh dari paman Richard sesaat.’ -Gadisya-
Begitulah rencana itu meluncur begitu saja dari bibir Gadisya, dan awalnya Kevin sempat menentang mentah mentah rencana tersebut, namun dengan sedikit rayuan akhirnya Kevin luluh, bahkan menyodorkan mobil barunya agar bisa dipakai kedua sejoli itu melarikan diri.
Jika dipikir pikir konyol juga, melarikan diri bersama istri untuk menghindari kejaran papa mertua, tapi begitulah kenyataannya, mungkin itu bisa dianggap bulan madu mereka.
Kevin dan Gadisya berjalan dengan langkah cepat menyusuri lorong ruangan tempat Riana di rawat, pagi ini mereka akan ganti shift jaga dengan Nisya yang harus pulang ke rumah dan mengurus segala sesuatu di rumah, sebelum kembali ke rumah sakit, akan ada perawat yang menggantikan Gadisya dan Kevin menjaga Riana, sepasang suami istri itu memanfaatkan waktu yang tak kurang dari satu jam untuk membantu Brian membawa Riana kabur dari rumah sakit.
__ADS_1
“Apa kamu yakin ini akan berhasil?” tanya Kevin mencoba meninjau kembali rencana istrinya.
“Yah … aku yakin sekali,”
“Kenapa kamu begitu yakin bahkan sangat mempercayai Brian?”
“Aku melihat cinta dan rindu di kedua sorot matanya, tapi ia memilih untuk diam dan tak melakukan apapun, demi kembali mendapatkan kepercayaan kak Riana dan paman Richard.”
“Baiklah … aku percaya padamu sayangku …”
“Memang harus begitu,”
Kevin tersenyum, kemudian ia berjalan dengan langkah mundur, agar bisa berhadapan dengan Gadisya, “Jika misi ini berhasil aku dapat hadiah apa?”
Gadisya memutar bola matanya, kemudian tersenyum simpul, ia menoleh ke sekeliling, dan setelah memastikan keadaan sekitar, Gadisya mendorong suaminya ke sudut dinding, “yah … yah … yah … Sabar sayang, kita masih di tempat umum.” tegur Kevin gelagapan mendapatkan perlakuan tak terduga dari Gadisya, tapi Gadisya tak peduli, kemudian ia mulai mencium bibir suaminya, bukan ciuman singkat, namun ciuman yang mampu membuat Kevin meleleh sesaat, sungguh rugi rasanya jika Kevin tak membalas, maka begitulah selanjutnya, mereka saling berbalas ciuman, walau singkat, keadaan ini memang bukan pertama kalinya, mencuri curi waktu bermesraan di tengah padatnya aktivitas di rumah sakit, ternyata sanggup membuat mereka candu satu sama lain.
#hahaha … siap bang kev, nanti othor kasih bonus baby lagi yah 👻
“Sisanya nanti …” Gadisya mengakhiri ciumannya.
“Hei sayang … kamu semakin nakal sekarang yah?” seru Kevin ketika tak bisa mensejajarkan langkah nya dengan langkah Gadisya.
“Kamu yang mengajariku …” Jawab Gadisya yang kini menyembunyikan rona di wajahnya.
“Itu karena aku mencintaimu.”
Kalimat kalimat gombal itu terus berlanjut hingga mereka tiba di kamar yang Riana tempati.
“Kalian sudah sampai?” sapa mama Nisya ketika melihat kedua keponakannya tiba pagi ini.
“Selamat pagi bi … bagaimana kondisi kak Riana semalam?”
“Syukurlah semalam Riana bisa tidur nyenyak, ia bangun hanya karena ingin ke toilet.” Jawab mama Nisya di tengah aktivitasnya bersiap pulang kerumah, bahkan ia masih berpesan ini dan itu, pada Riana yang hanya bisa tersenyum mendengar omelan sang mama.
#ya iya lah, kan yang ngerasain mulesnya si calon Daddy 😁
“Bibi akan terlambat sampai dirumah, dan pada saat itu paman mungkin sudah tiba di rumah sakit,” tegur Kevin ketika mama Nisya masih terus berceloteh memberikan pesan pada Riana.
“Baiklah baiklah, bibi akan pulang sekarang," Nisya pun pasrah mempercayakan Riana pada Kevin dan Gadisya.
Sepeningga mama Nisya, Gadisya segera menghampiri Riana yang sedang berdiri di depan jendela.
“Kita keluar yah, biar kakak bisa jalan dan berjemur menikmati sinar matahari pagi.” bujuk Gadisya
__ADS_1
“Nggak ah … diluar pasti banyak orang jahat.”
“Kan ada aku, ada bang Kevin juga,” bujuk Gadisya lagi seraya menyelipkan anak rambut Riana ke belakang telinga, teringat dulu ketika Gadisya awal awal tinggal di Singapura, Riana banyak membantunya beradaptasi dengan lingkungan dan orang orang di sana.
Riana menatap Kevin dan Gadisya bergantian, kemudian Kevin mendekat dan memeluk pundak Riana, “Ayolah kak … ada aku, kakak harus bahagia agar baby juga ikut bahagia,”
“Te … tetapi? …”
“Aaaahh kelamaan mikirnya … ayo kita jalan saja, percayakan semuanya padaku,” Kevin menarik paksa Riana, yang masih enggan meninggalkan zona nyamannya, sementara matanya memberikan kode pada sang istri agar segera menghubungi Brian.
Kevin membantu Riana memakai alas kaki, serta memasang cardigan, untuk melapisi gaun tidur Riana.
“Kev … apa kalian bahagia.” Tanya Riana ketika mereka berjalan beriringan menuju taman rumah sakit.
"Sangat…" Jawab Kevin tanpa keraguan.
"Lalu kenapa dulu kamu tinggalkan istrimu?"
“Keadaan kami saat itu sama sekali tidak mendukung, cemburu, sakit hati, dan luka lama, masih berbaur jadi satu, karena itulah, aku mengambil keputusan sepihak, dengan meninggalkan istri dan anak yang belum kuketahui keberadaannya, kakak tahu, hingga hari ini penyesalan itu masih ada, mungkin seumur hidup akan terus membayangiku,” mata Kevin berkaca kaca ketika mengisahkan pahitnya perpisahannya dahulu, Riana mengusap punggung adik sepupunya tersebut.
“Sya … yang sabar yah, menghadapi lelaki manja ini memang butuh kesabaran ekstra,”
“Hahaha … coba tanyakan padanya, kalau aku belum pulang kerja, dia bisa tidur atau tidak?”
Kevin tersenyum mendengar pernyataan istrinya, ia tak mengelak apalagi membantah, memang begitulah kenyataannya, sejak menikah, ia tak hanya tak bisa tidur di tempat asing, tapi juga tak bisa tidur sebelum mencium aroma istrinya.
“Kami juga sudah pernah merasakan pahitnya perpisahan, kami tahu bagaimana rasanya, itu sangat tidak mengenakkan, jadi ku harap, kakak juga berpikir dua kali sebelum memutuskan berpisah dari Brian.”
Riana tak menanggapi penuturan Kevin, tapi diam diam ia menyimak bahkan mulai berpikir, seandainya Brian datang dan meminta maaf, ia tak akan berbelit lagi, dirinya pasti dengan senang hati akan kembali lari ke pelukan Brian.
Dari kejauhan Brian sudah menanti kedatangan ketiga orang tersebut, memakai kostum serba hitam, membuat penampilan Brian semakin misterius, dan jangan lupa ia sudah siap kembali berhadapan dengan papa mertuanya.
.
.
.
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI BAGI YANG MERAYAKANNYA
SEMOGA ALLAH MENERIMA AMAL PUASA KITA, TARAWEH KITA, INFAQ SHODAQOH KITA, SERTA IBADAH IBADAH LAIN YANG KITA KERJAKAN DI BULAN RAMADHAN. AMIN
OTHOR MINTA MAAF JIKA ADA PERKATAAN DAN PESAN PESAN SINGKAT OTHOR YANG KURANG BERKENAN.
__ADS_1
SARANGEEEE 💖💖💖