Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 92


__ADS_3

BAB 92


Tidak bisakah kamu melaju lebih kencang?" Tanya Brian panik. 


Andre menggeleng, "tidak bisa, ini kecepatan maksimal karena sekarang kita berada di jam sibuk," Jawab Andre sekenanya, ia jadi teringat ketika memarahi Jack sopir pribadinya, ketika Bella mengalami kontraksi dalam perjalanan menuju rumah sakit, kini ia pun bisa merasakan bahwa Brian sedang teramat panik, sama seperti dirinya saat itu. 


Sementara Riana terus terusan meringis menahan nyeri di perutnya. "Hubungi Gadisya." Pinta Riana pada Brian, bahkan hal itu tak terpikirkan oleh Brian dan juga Andre. 


Brian bergegas menghubungi Gadisya, "dimana kamu sekarang?" Tanya Brian tanpa basa basi. 


"Aku di perjalanan menuju rumah sakit." Jawab Gadisya, "apa terjadi sesuatu?"


"Iya, sepertinya istriku harus melahirkan hari ini, air ketubannya pecah, dan kami sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit."


"Baiklah … kita bertemu di rumah sakit, aku akan siapkan ruangan persalinan." 


Gadisya mengakhiri panggilan tersebut. 


"Hahaha … kalian melakukan berapa ronde semalam? hingga pagi ini bayi kalian memaksa keluar?" Tanya Andre mencoba mencairkan suasana, namun niat baik Andre tak berubah manis karena… 


"Aw aaaw aaawww… sakit kak!!" Jerit Andre ketika Riana mendadak menjambak rambutnya yang sudah rapi. 


"Rasakan…  dasar adik kurang ajar, bisa bisa nya kamu mengejek pengantin baru hah!!" Maki Riana di tengah nyeri yang tengah mendera perutnya, dirinya beserta si kembar memang kerap bercanda, tapi ia tak Terima jika aktivitasnya di kamar dijadikan bahan guyonan. 


"I… iya…  iya…  kak, ampun, maaf…" Jawab Andre tanpa berani lagi membantah, karena membantah ibu hamil yang sedang kontraksi, sama seperti menggali lubang kuburnya sendiri. 


"Bagus, cepat jalan… awas kalau sampai bayiku lahir di mobilmu,"


"Sayang sudah jangan marah marah, baby tidak akan suka kalau mommy nya marah marah." Tegur Brian mencoba menenangkan sang istri. 


"Biarkan saja, sesekali ia perlu diberi pelajaran agar mau menjaga ucapannya." 


"Memang aku salah bicara…?" Gerutu Andre yang agak setengah dongkol, mengingat dulu ketika ia menemani persalinan sang istri, Bella bahkan tidak sehisteris Riana, padahal Bella melahirkan dua jagoan untuknya sekaligus. 


"Masih berani membantah?" 

__ADS_1


Lagi lagi Riana berteriak, sungguh lega rasanya daripada hanya diam meringis menahan rasa nyeri di perut dan kini mulai menjalar ke punggung. 


"Iya… iya…  eh tidak kak, ampun, tuuh tuuhh…  gerbang rumah sakit sudah terlihat, baby, sabar yah, kita sedang menuju rumah sakit kakek buyut Kenzo, di sana ada bibi Gadisya dan paman Kevin yang akan menyambut kelahiranmu…" Jawab Andre yang sedikit menenangkan perasaan Riana. 


Brankar dan para petugas sudah bersiap menyambut kedatangan Riana, dengan sigap mereka melakukan pertolongan pertama serta bergegas membawa Riana ke ruang persalinan, sepertinya Richard sudah mendengar berita tentang pecahnya air ketuban Riana, karena kini pria paruh baya itu pun sedang menanti di depan ruang persalinan. 


Brian berjalan cepat mengikuti laju brankar yang membawa Riana, tangan mereka saling menggenggam, walau wajah Brian kusut masai, tapi ia berusaha tidak panik agar Riana pun bisa Rileks menghadapi persalinannya. 


Gadisya datang beberapa saat kemudian, dengan seragam dinas rumah sakit, penutup kepala serta masker, dua orang perawat membantunya memakai jubah pelindung, dengan lincah wanita ayu tersebut menggerakkan transducer, untuk memeriksa kondisi janin dalam kandungan Riana. 


"Gimana Sya, apa benar baby harus lahir sekarang?" Tanya Brian di tengah kepanikannya. 


"Kelihatannya begitu, karena air ketubannya sudah berkurang tiga puluh persen." Jawab Gadisya. 


"Apa dia akan baik baik saja? Sementara sekarang belum saatnya dia lahir."


"Yang ku khawatirkan juga demikian, tapi air ketuban sudah pecah, dan satu satunya cara menyelamatkan baby adalah melahirkannya secepat mungkin, Sementara pembukaan jalan lahir baru sampai di angka tiga, jika dalam satu jam kedepan belum ada kemajuan, maka kemungkinan besar kami harus melakukan operasi agar bayi bisa segera diselamatkan." 


Brian semakin takut, ia memandang wajah Riana yang sudah semakin pucat menahan nyeri yang entah kapan akan berakhir. 


Gadisya mengangguk, ia segera keluar menanti keputusan calon orang tua baru tersebut. 


Brian menarik kursi agar ia bisa mensejajarkan wajahnya dengan wajah sang istri, ia tak bisa lagi membendung tangis nya, setelah beberapa waktu menahan agar dirinya tidak panik, bahkan takut, kini ia merasa berdiri di tepi jurang, takut terjadi hal hal yang tak diinginkan pada bayi mereka. 


"Kenapa menangis?" Tanya Riana "masih takut papa akan meminta kita berpisah?" Tanya Riana, tangan nya mengusap air mata yang kini membasahi wajah suaminya. 


"Ketakutanku lebih dari itu sayang, aku takut jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada baby." 


"Tidak apa apa, ada beberapa bayi yang bisa selamat, walau mereka lahir jauh dari hari perkiraan lahirnya, dan aku percaya bayi kita salah satunya, jika dia meminta dilahirkan saat ini, pasti dia hendak memberitahu kita, bahwa ia sudah siap bertemu dengan kita."


Mendengar penuturan Riana, tangis Brian semakin kencang, walau ia merasa hatinya sedikit damai seperti tersiram embun, setelah Riana menghiburnya. 


"Baiklah… kalau begitu, kita pun harus bersiap menyambut baby." Bisik Brian lirih. 


Brian mengusap perut Riana, "hai baby, kamu bisa mendengar daddy kan? Jika kamu sudah siap bertemu kami, maka kami pun tak akan menyerah apapun kondisimu kelak, kami yakin kamu kuat dan bisa bertahan, tolong jawab kalimat daddy." Brian berbisik lembut di perut Riana, mencoba berkomunikasi dengan bayinya, tak lama sebuah tendangan kecil dirasakan oleh kedua calon orang tua tersebut, "kamu merasakannya sayang, dia menjawab perkataanku." Ujar Brian dengan air mata bersimbah, begitu pun Riana. 

__ADS_1


"Aku akan menemui Gadisya agar segera menyiapkan ruang operasi, kita tak perlu menunggu dia lahir normal, aku sudah tak sabar bertemu dengannya." Ujar Brian bersemangat. 


Drama hari itu berakhir di ruang operasi, Brian tak mau mengambil resiko lebih besar lagi, hanya sekedar menunggu pembukaan jalan lahir. 


"Sister… tolong bantu suami pasien bersiap masuk ke ruang operasi," Gadisya memberikan instruksi pada asistennya agar membantu Brian bersiap mendampingi Riana bersiap di ruang operasi. 


Ketiga pria yang menunggu di depan ruang operasi mendongak, tapi hanya Brian yang tersenyum bahagia, karena ia diizinkan menemani sang istri melahirkan, brankar yang membawa Riana melewati papa Richard yang masih diam dengan perasaan bersalah karena memaksa Riana berpisah dari suaminya. 


"Papa…" Panggil Riana Lirih, hanya ada Andre dan papa Richard di sana. 


"Iya nak?" Jawab papa Richard, gegas pria baya itu menggenggam erat tangan putri kesayangannya tersebut. 


"Tolong dengar suara hatiku, selama aku hidup, aku belum pernah membantah ucapan papa, kini aku ingin papa mengerti, dan membiarkan aku bersama pria yang ku cintai, tolong restui kami, seperti pertama kali papa mengatur perjodohan kami." Pinta Riana dengan suara lirihnya. 


Air mata itu, suara itu, wajah memelas itu sungguh terus terngiang dalam ingatan Richard, ingatan akan putri kesayangannya, akan ia jaga di sisa usianya, seumur hidup ia sudah menjadi seseorang yang berpendirian teguh, dan menjadi pemimpin yang sangat disegani, bahkan nyaris di takuti semua orang, kini biarlah ia menyerah kalah pada putri tunggalnya, apalagi yang ia harapkan selain kebahagiaan Riana dan Brian serta anak mereka, ia pun ingin hidup tenang seperti Alexander dan Stella yang kini sudah memutuskan pensiun dari urusan pekerjaan, padahal usia mereka lebih muda dari dirinya, mungkin ini saatnya ia duduk diam bermain bersama cucu dan menikmati hari dengan bersantai di rumah, ini saat nya ia menyerahkan urusan rumah sakit pada anak dan menantu, adik dan para keponakannya, mereka lebih muda, lebih cemerlang dengan visi dan misi mereka, pastilah akan membawa kemajuan serta warna baru dalam manajemen rumah sakit yang selama ini ia kelola. 





Hayoo Baby bisa diselamatkan atau tidak? 




Semakin dekat menuju tamat ya gaes, plis tanda cinta, like komen vote kembang kopi ramaikan yah, penyemangat othor untuk terus membuat cerita baru. 🥰🤓




Sarangeeee 💙💙

__ADS_1


__ADS_2