
BAB 97
Di salah satu unit, GG penthouse.
Apartemen mewah dan megah yang hanya dihuni oleh beberapa konglomerat saja, Tempat tinggal pribadi yang Brian beli jika ingin menikmati quality time bersama keluarga kecilnya, bukan tak ingin tinggal bersama keluarga William, tapi penthouse ini, adalah wujud tanggung jawab Brian sebagai kepala keluarga yang juga harus menyediakan sandang, pangan dan juga papan.
Jadi ketika Brian berada di Jakarta, keluarga kecil ini tinggal di penthouse,
Selain itu, GG penthouse berada tak jauh dari rumah sakit, karena itulah malam ini Brian dan Riana memutuskan pulang ke penthouse, agar esok pagi mereka bisa kembali ke rumah sakit secepatnya.
Riana yang usai mandi kini tengah berada di dapur menyiapkan bahan untuk makan malam, hari sebelumnya Riana sudah meminta ART nya untuk berbelanja dan menyimpan bahan bahan di lemari pendingin, hal itu selalu ia lakukan menjelang kedatangan Brian.
Kali ini pilihan tercepat adalah menyiapkan Sandwich, karena Riana sudah sangat lapar, dan ia yakin Brian pun demikian.
Riana tengah mengunyah sandwich, sambil menyaksikan video operasi transplantasi jantung, yang dilakukan oleh salah seorang profesor di Amerika, tiba tiba ia merasakan sepasang tangan kekar memeluk pinggangnya, Riana hanya mengulum senyum ketika sang suami mulai berulah seperti saat ini.
Benar saja, kini Brian mulai menc***ui leher dan pundak sang istri yang terekspos sempurna, karena Riana sengaja memakai gaun tidur bertali spaghetti, "kangen…" Bisik Brian, ketika puas melakukan aktivitas favoritnya tersebut.
Riana memutar kursi yang ia duduki, hingga bisa berhadapan dengan suaminya.
Brian masih memakai bathrobe usai membersihkan diri dan dan bercukur, kini wajah dan penampilannya terlihat lebih bersih,
segar, dan tampan.
Riana mengusap pipi dan rahang suaminya, "suamiku tampan sekali," Puji nya pada Brian, ketika melihat Brian sudah bersih dan rapi, dengan rambut basahnya yang berantakan, dan wajah yang bersih tanpa kumis dan jambang.
__ADS_1
Kini tanpa malu apalagi canggung, mereka sudah biasa mengungkapkan perasaan, pujian, kata kata cinta, bahkan kalimat nakal ketika berdua saja, agar rumah tangga mereka tetap terasa penuh warna warni cinta.
"Jadi apakah tadi aku tak tampan?"
Brian memindahkan Riana kemeja dapur, kemudian menutup macbook Riana serta menyingkirkan dua buah piring berisi sandwich mereka, agar tak menjadi pengganggu aktivitas mereka.
#dooohh mau ngapain wooiii … para mantan duda dan janda ???
Kini Brian sudah berdiri diantara kedua kaki sang istri, kedua tangannya bertumpu di meja, hingga wajahnya nyaris tak berjarak dari wajah Riana.
Riana menelan ludahnya, dia menahan debaran jantungnya, kala menghiruo aroma maskulin nan segar tercium dari tubuh sang suami, rambut nya yang masih basah berantakan dengan tetesan air kecil menambah daya tarik tersendiri bagi Brian di mata Riana, terlebib sudah dua minggu mereka terpisah jarak, jadi kini ia pun merasakan teramat rindu pada suaminya.
"Eit… siapa bilang, justru tadi aku merasa suamiku seperti sherif tampan dari film film Hollywood." Jawab Riana yangbmulaibgugup dengan tingkah suaminya.
"Hahaha…" Brian tertawa senang mendengar pujian Riana. "Terima kasih pujiannya sayang, asal kamu tahu, sedikit kalimat manis yang kamu ucapkan, terasa seperti air yang sanggul menyejukkan jiwaku yang gersang."
"Kamu sedang mencari masalah denganku rupanya,"
"Tidak."
"Apa karena sudah tiga minggu kita tidak bertemu, kamu jadi lupa?"
"Apa?"
"Baru Saja kamu membangunkan yang di bawah sana sayang," Bisik Brian nakal, "atau memang kamu sengaja memancingku?"
__ADS_1
Riana terkesiap menelan saliva nya tanpa sadar, tiba tiba dadanya berdesir membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, sungguh … tadi ia hanya bermaksud memberikan kecupan singkat sebelum mereka memulai makan malam.
"Tidak" Jawab Riana gugup.
"Aku tahu kamu berbohong sayang," Bisik Brian ketika bibirnya serta kedua telapak tangannya beraksi menyusup ke balik gaun tidur satin yang Riana kenakan, mengusap, membelai, bahkan memberikan sentuhan kenikmatan di setiap titik sensitif tubuh Riana.
"Kak… aaaahhh… kita … ssshhhh … makan … dulu…" Riana tak bisa menolak sentuhan penuh rasa rindu dari suaminya, karena tubuhnya sendiri merindu.
"Abaikan makan malam, aku ingin memakanmu dulu sayang…" Brian memeberikan gigitan gigitan kecil di d*d* Riana, membuat Riana semakin mendesis tak karuan.
Kecupan nakal itu terus naik menjalar ke leher hingga bibir mereka bertemu, Brian menjelajah, mencecapi bibir istrinya, masih terasa selalu manis dan menggetarkan, hingga membuatnya candu, menginginkan lagi dan lagi tak pernah ada bosan sama sekali.
Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Brian memindahkan tubuh istrinya ke kamar, kemudian membaringkannya ke ranjang, melepaskan satu persatu helai kain yang menutupi tubuh keduanya, Brian menatap nakal tubuh Riana yang kini polos tanpa penutup, mungkin salah satu bukti cinta mati adalah, tak pernah bosan menatap wajah sang kekasih tanpa ada rasa bosan sama sekali. "Kamu selalu terlihat mempesona dimataku, gadisku yang cantik, lucu dan menggemaskan… aku mencintaimu sayang, selalu, dan mungkin aku yang akan mati jika kamu pergi meninggalkanku."
Riana tersenyum bahagia, jika dulu aktivitas bersama mereka selalu terasa menyiksa baginya, kini mereka ber cinta seperti tak kenal waktu, asal sedang berdua tanpa Bee, mereka tak akan menyia nyiakan waktu tersebut.
Yah mungkin Brian benar, abaikan sejenak rasa lapar, karena ada rindu yang harus mereka tuntaskan, hasrat yang sekian minggu terpenjara, kini seperti dibiarkan lepas bebas menari bahagia, dengan lantunan cinta yang kian menggelora.
Brian selalu melakukannya dengan performa terbaik, tak pernah lagi ia membiarkan sang istri merana, ia akan memastikan mereka mendapatkan pelepasan bersama, hingga aktivitas bersama ini tak hanya berbuah rasa nikmat luar biasa, tetapi juga menjadi obat dari semua penat akibat beban pekerjaan yang menggunung, serta pemenuhan dahaga yang seolah tak akan pernah ada akhirnya.
.
.
.
__ADS_1
To be continue… othor panas dingin 🤓🥵🥶😶🌫
❤🔥❤🔥❤🔥