Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 72


__ADS_3

BAB 72


Richard memandangi kedua amplop coklat di hadapanya, kedua amplop tersebut mendarat bersamaan, Satu amplop dari Agent AG dan satu amplop dari pengacara Martin pengacara yang dipercaya tuan Roger.


Richard memilih amplop dari ‘Agen AG’, karena sudah yakin bahwa isi dari amplop yang satunya hanyalah laporan perkembangan perusahaan.


Amplop putih itu berisi Flashdisk, dan selembar bukti pembelian properti, Richard menatap kertas tersebut, ‘properti mewah diantara dinginnya pegunungan Alpen’, gumam Richard. ‘buat apa Brian membeli properti di Swiss?? rasa penasaran RIchard, membuatnya semakin penasaran dengan isi Flashdisk di tangannya.


File tersebut berupa MP4, yang artinya hanya berisi rekaman suara.


...“Tuan, Properti permintaan anda sudah disetujui, besok pagi anda diminta segera melakukan pembayaran.”...


...“Aturlah semuanya dengan rapi, jangan sampai papa mertuaku mengendus semuanya.”...


...“Sebaiknya anda pikirkan lagi niat anda tuan, mengasuh bayi seorang diri bukan hal mudah, terlebih tanpa kehadiran ibu kandung bayi tersebut.”...


...“Aku bisa menyewa jasa pengasuh bayi.”...


...“Tetap saja, ada satu hal yang tak akan bisa tergantikan dari seorang ibu.”...


...“Apa itu?”...


...“ASI nya, bayi anda membutuhkan ASI agar tumbuh lebih sehat, jika anda bersikeras membawa kabur bayi itu, mungkin saja dia tak akan sanggup bertahan, Karena ada beberapa bayi yang tidak bisa minum, selain ASI dari ibu kandungnya.”...


...“Lancang kamu, berani menasehatiku, kerjakan saja tugasmu !!!”...


Rekaman berakhir, dan


BRAK !!!! 


Richard menggebrak meja kerja nya, “Brian … kamu sudah berani bermain api denganku, berani beraninya kamu berencana membawa kabur cucu ku, tunggu saja, kamu akan merasakan pembalasanku.” desis Richard marah.


Wajah Richard tegang memerah, tiba tiba saja amarah nya bergolak, dada nya kian bergemuruh, berani beraninya Brian membangunkan singa yang sudah lama tertidur.


Tatapan matanya kini mengarah pada amplop dari pengacara Martin, ia membuka amplop tersebut, yang lagi lagi berisi Flashdisk, hanya saja kali ini berisi File Video.


Video tersebut, adalah rekaman sebelum Roger meninggal, ‘mungkinkah Roger ingin menyampaikan wasiat nya padaku?’ pikir Richard, sejenak ia melupakan amarahnya.


...“Kawanku Richard … ketika kamu melihat tayangan ini, aku yakin anak anak kita sudah kembali menikah, aku bahagia sekali untuk itu.”...

__ADS_1


...“Sungguh, tak ada kata yang bisa aku ucapkan kepadamu, selain permohonan maaf tulus dari pria tua ini, pria malang yang bahkan hingga akhir hayatnya, tak berani berterus terang padamu tentang apa yang telah tejadi di masa lalu.”...


Roger menjeda kalimatnya, ia tersenyum namun kedua matanya berurai air mata.


...“Tentu nya kamu masih ingat dengan tragedi menghilangnya Riana puluhan tahun yang lalu, sungguh pedih hatiku ketika kini aku harus mengakui bahwa pelaku penculikan dan penganiayaan pada anakmu saat itu adalah adik kandungku sendiri, tapi seperti pengecut dan penjahat bertopeng malaikat, aku bahkan membantu kejahatan adikku, dengan cara menghilangkan bukti dan saksi, bahkan menutupi jejak kejahatan adik kandungku sendiri, padahal putraku juga adalah salah satu korbannya.”...


Roger kembali menjeda kalimatnya, pria yang kala itu tengah duduk di kursi kebesarannya tampak sedang menangis tersedu sedu menyesali masa lalu yang tak akan bisa ia tebus dengan apapun.


Plak !!!


Richard menggebrak kasar tombol pause, agar Video tersebut terhenti sejenak.


Serupa dengan Roger, sang pria yang biasanya segarang singa itu tiba tiba menangis pilu, ia ingat bagaimana dulu Riana kecilnya ditemukan dalam kondisi sekujur badan nya memar dan membiru, bahkan mengalami trauma psikologis, kehilangan kenangan masa kecilnya, hingga berhenti bicara selama beberapa bulan, dan tak mau berinteraksi dengan orang asing, gadis kecilnya yang ceria tiba tiba berubah menjadi sosok yang introvert.


Rasanya saat itu Richard ingin membakar hidup hidup si pelaku kejahatan pada putri kecilnya tersebut, hingga lima tahun bergulir begitu saja, bahkan sang istri sampai tak ingin lagi memiliki anak karena ingin fokus pada penyembuhan Riana, hingga akhirnya pihak yang berwenang pun angkat tangan, karena sebesar apapun usahanya untuk mencari pelaku kejahatan tersebut, Richard tak pernah berhasil menemukan si pelaku, dan kini ia tahu jawabannya, ternyata si pelaku berasal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di Singapura kala itu, jadi semua jejak kejahatannya bisa ditutup dengan rapi.


Jemari Richard kini bergetar menahan amarah, tapi sebesar apapun amarah nya, tak mampu menutupi rasa penasaran yang sudah puluhan tahun ia pendam.


...“Bahkan setelah semua itu, dengan tak tahu malunya, aku mendekatimu hingga kita menjadi kawan baik selama puluhan tahun”...


Richard meremas kertas yang ada di samping laptopnya, sebagai pelampiasan amarahnya, dirinya telah ditipu mentah mentah oleh seseorang yang selama lebih dari sepuluh tahun belakangan menjadi kawan baiknya. 


...“Sungguh serakah diriku, karena masih berkeinginan menikah kan anak anak kita, aku merasa buruk sekaligus beruntung, buruk karena mengetahui, bahwa Riana bahkan tidak diperlakukan baik oleh putraku selama pernikahan mereka, beruntung karena ternyata Riana seperti malaikat bagiku dan bagi Brian, ia bersinar dengan tawanya, bagai dewi karena ia ringan tangan membantu orang orang di sekitarnya, percayalah hingga akhir hayatku kelak, aku sangat menyayangi putrimu melebihi anakku sendiri.”...


...“Inilah alasan utamaku memberikan Gustav.Inc pada Riana, bahkan itu saja tak mampu menebus kesalahan keluarga kami padanya, karena itulah aku pun mewasiatkan pada Brian agar menjaga Riana seumur hidupnya, untuk kamu ketahui, dimasa kecil mereka, anak anak kita memiliki kisah sendiri, kisah yang tidak pernah kamu tahu, karena hanya aku dan Delia istriku yang mengetahui kisah ini, mereka pernah bahagia sebagai teman, mereka pernah dekat seperti dua kutub yang saling tarik menarik, melengkapi dalam masing masing kekurangan mereka, saling menjadi obat satu sama lain, dan kuharap kelak mereka bisa menyembuhkan luka trauma bahkan mengembalikan ingatan mereka yang sama sama terhapus karena tragedi puluhan tahun silam.”...


...“Untuk terakhir kalinya, kelak setelah kamu mengetahui kisah menyakitkan ini, aku harap bahkan memohon dengan sangat, agar kamu tak pernah berniat memisahkan mereka, biarkan mereka bersama saling mencintai, saling mengisi, saling melengkapi, dan saling menjaga seperti ketika mereka kecil, jangan lagi menghukum mereka, biar aku saja yang menerima hukuman dari tuhan untuk semua kejahatan yang sudah kulakukan pada putrimu.”...


“Aaaaaarrgghhh ….” Richard berteriak keras di ruang kerja nya, ketika Video berdurasi dua puluh menit tersebut berakhir.


Leo sang asisten tergopoh gopoh memasuki Ruangan Richard, “Ada apa dok?” tanya Leo.


“Kumpulkan seluruh anak buahku, sementara ini lakukan penjagaan ketat di airport, karena mulai hari ini kalian akan kembali mengawal putriku,”


“Kapan nona akan datang?” tanya Leo.


“Beberapa jam kedepan, sekarang kumpulkan semua anak buahku.”


“Baik dok,” jawab Leo cepat.

__ADS_1


Sepeninggal leo, Richard mengangkat ponselnya untuk menghubungi semua orang orang nya yang selama ini ia percaya menjaga Riana di kediaman Gustav Agusto.


“Bawa Riana ke Jakarta sekarang juga !!!” Perintah Richard pada seseorang di seberang sana.


Perintah Richard sama saktinya dengan perintah Alexander sang pemimpin ‘Agent AG’, karena itulah Hans segera bergerak cepat mengumpulkan anak buahnya.


Richard marah, sungguh sangat murka, hingga Perintah nya pun singkat padat dan jelas, tanpa basa basi.


.


.


.


Riana tengah bersiap menyambut kedatangan suaminya, berkali kali ia memutar tubuhnya di depan cermin, senyum cerah menghiasi wajahnya, bahkan ia sengaja melihat seberapa besar perutnya, “kamu tumbuh sehat baby, apa kamu juga tak sabar menanti daddy pulang?” 


Sebuah tendangan kecil Riana rasakan, “hahaha … iya mommy juga,” lanjut Riana setelah mendapatkan jawaban dari baby.


“Apa? kamu lapar lagi? sayang baru beberapa saat lalu kita menghabiskan kudapan manis, kenapa sekarang kamu sudah meminta makanan lagi … bisakah kamu bayangkan sebesar apa tubuh mommy kelak?”


“Sabar yah, nanti kita makan bersama daddy, sebentar lagi daddy pulang,” Riana terus mengajak bayi nya berbicara.


Sekali lagi ia memulas lip balm andalannya, kemudian menyemprot parfum di beberapa titik sensitif tubuhnya, aroma cinta benar benar terasa, membuat wajah nya semakin berseri seri, berdebar tak karuan, sungguh tak sabar menanti kedatangan suaminya.


Riana berjalan keluar dari kamar, rambutnya bergoyang ke kiri dan ke kanan seiring langkah kakinya, baju rumahan berwarna cerah, tampak manis membalut tubuhnya.


betapa terkejutnya Riana, karena  ketika pintu terbuka, seluruh orang orang kepercayaan papa Richard sudah menantinya di depan pintu. “Ada apa ini?” tanya Riana penasaran.


“Silahkan ikut kami nyonya, anda harus ikut kami kembali ke Jakarta sekarang juga.” 


Bahkan Armand yang biasanya sedikit humoris kala berbicara dengan Riana, kini ia berbicara dengan mimik wajah yang serius. 


.


.


.


💙💙

__ADS_1


__ADS_2