Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 89


__ADS_3

BAB 89


"Iya… kesalahan fatal yang sangat mendasar." 


"Oh iya, Apa itu?"


Riana terlihat ragu menyampaikan nya. "Kenapa diam?" Tanya Brian karena Riana masih berpikir sebelum menjawab pertanyaan nya. 


"Koper tersebut, sebagian besar berisi lingerie." Jawab Riana singkat, menanti reaksi Brian. 


Yang di tunggu tunggu jawabannya justru tengah menatap ke arahnya dengan pandangan yang tidak terbaca, yang jelas keseluruhan wajahnya kini terlihat berbeda, mendengar kata kata lingerie membuat Brian kembali memikirkan hal yang lain. 


"Rupanya isi koper itu, bukan spesial untukmu, tapi spesial untukku, dan kalau aku tidak salah tebak di balik kemeja ini…" 


Mendengar kalimat Brian, Riana buru buru mencengkram kancing kemeja yang ia kenakan. 


Brian sangat menikmati kegugupan di wajah istrinya, "kenapa?"


Riana terdiam tak menjawab. 


"Malu…?" 


Riana mengangguk pelan. 


"Biarkan aku melihatnya sayang." Ucap Brian, tangan kanannya mulai rusuh, sibuk menyingkirkan kedua telapak tangan Riana yang kini mencengkram erat kancing kemeja bagian atas. 


"Jangan, aku malu…  sungguh." Tolak Riana dengan suara manja, ia masih enggan melepaskan genggaman tangan nya. 


"Tapi aku ingin lihat, kenapa kamu harus malu, aku suamimu." Ucap Brian semakin gemas. 

__ADS_1


"Tubuhku tak menarik, pasti menggelikan jika wanita hamil mengenakan lingerie."


"Eit… siapa bilang, tubuhmu berlipat lipat kali lebih sexy ketika hamil." Puji Brian yangi mengerti maksud kalimat sang istri, kemudian telapak tangannya membuka kancing bagian bawah, ketika kemeja bagian bawah terbuka, nampaklah kulit putih mulus di balik kain transparan berwarna merah menyala, Brian mengusap lembut sepenuh cinta perut yang kini terlihat semakin besar, membuat dadanya semakin berdebar menantikan kelahiran baby yang kelak akan menjadi penghubung antara dirinya dan Riana. 


"Dengarkan aku," Brian menatap kedua mata biru istrinya, sementara tangannya terus mengusap lembut si baby yang kini mungkin sedang tertidur, "yang ada di sini adalah anakku, walau ia hadir tanpa sengaja, tapi kini dia adalah buah cinta kita, aku bahagia, aku sangat bersyukur dia hadir diantara rumitnya hubungan kita saat itu, pelan tapi pasti dia yang membuatku mencintaimu, bahkan ketika ingatanku kembali, cinta itu tidak hilang, justru semakin kuat, aku tak sabar menantikan kelahirannya, bahkan aku sudah berencana memiliki anak lagi setelah dia lahir,"


Blush… seketika wajah Riana merona, bahkan tanpa sadar genggaman tangannya terlepas, kemudian menepuk perlahan pipi Brian, "bisa bisanya berpikir memiliki anak lagi, sementara baby bahkan belum genap delapan bulan di dalam kandungan."


Brian tersenyum geli, "maaf… tapi aku hanya takut papa akan benar benar meminta kita berpisah, aku tak mau sayang, setidaknya kalau kamu hamil lagi, papa mungkin akan berubah pikiran." Jawab Brian asal, tapi cukup masuk akal. 


"Papa memang meminta kita berpisah, tapi kalau kita tidak mendaftar kan gugatan perceraian serta tidak menandatangani dokumen perceraian, aku rasa pernikahan kita akan baik baik saja kan?"


"Iya kamu benar sayang, tapi beberapa hari kemarin aku takut sekali, kamu tak mau bertemu denganku, memblokir nomor ponselku, bahkan kamu menyampaikan pesanmu melalui Fabian, aku takut kalau kalau kamu menyetujui permintaan papa agar kita berpisah." 


"Pada awalnya begitu, aku marah, aku begitu membencimu, tapi membayangkan berpisah denganmu membuatku sakit, aku bahkan membenci diriku, kenapa harus mencintai pria se brengsek dirimu, sejujurnya di sudut hatiku yang paling dalam, aku berharap kamu datang dan meminta ku kembali padamu, aku rela bahkan jika seandainya kamu kembali hanya karena anak kita, tak apa jika seandainya aku saja yang mencintaimu, asal kamu tak memisahkan aku dari anak kita, aku yakin akan baik baik saja hidup di sisimu walau tanpa cinta darimu."


Brian mengusap air mata Riana, hatinya terasa sakit, bagaimana bisa selama bertahun-tahun tahun ia menjadi suami brengsek tak berguna untuk wanita sebaik Riana, "jangan berpikir demikian, aku yang seharusnya berkata begitu, bukan kamu, kamu wanita baik hati, aku yang bodoh, buta dan tuli, hingga tak menyadari bahwa aku memiliki berlian yang sangat indah di tanganku." 


Sepasang insan yang sedang di mabuk cinta itu masih saling berpagut mesra diatas ranjang mereka, masih belum rela menyudahi aktivitas menyenangkan tersebut, beberapa saat setelah pembicaraan di sofa, akhirnya Riana merelakan tubuhnya yang hanya ditutupi lingerie terekspos sempurna di hadapan suaminya, bahkan Brian melepas gelungan rambut Riana, hingga nampaklah, pahatan sempurna ciptaan Tuhan, rambut hitam kecoklatan, mata biru, pipi bulat menggemaskan, begitu cantik alami, walau tanpa make up, ditunjang dengan tubuh yang aduhai padat berisi, efek dari kehamilan Riana, membuat Brian menelan ludah nya dengan kasar, sungguh menggoda hasrat kelelakian nya, bahkan tanpa meminta izin terlebih dahulu, Brian segera membawa Riana ke ranjang mereka, memadu cinta, melepaskan semua dahaga, dan gelisah karena restu orang tua yang kini berubah menjadi murka, entah kapan akan mereda, tapi mereka bahagia karena yakin bahwa cinta mereka akan terasa makin membara. 


Tautan bibir itu akhirnya terlepas karena mereka sama sama kehabisan nafas, "maaf, aku terlalu bersemangat, apa aku menyakitimu?" Brian mengaku dengan wajah bersalah, namun bahagia


Riana tersenyum menggeleng, "wajahmu tak menunjukkan kalau kamu merasa bersalah, tapi sebaliknya, kamu menyeringai bahagia." Jawab Riana. 


Brian lagi lagi tersenyum geli, "mau bagaimana lagi sayang, suamimu masih seratus persen pria normal, baru saja menemukan sumber air yang menghilangkan dahaga ku selama berbulan bulan, pria normal mana yang tidak bahagia, tapi aku juga khawatir menyakitimu seperti dulu."


"Tidak, aku baik baik saja."


"Kalau baby?" Telapak tangan Brian beralih mengusap keberadaan bayi kecil mereka, bahkan mencium nya beberapa kali seperti biasa.

__ADS_1


"Tidak juga, baby baik baik saja, mungkin dia ikut senang, karena dua hari ini daddy sering berkunjung." Jawab Riana terus terang, karena yang mereka lakukan di kamar hanya bermesraan. 


Brian tersenyum senang mendengar jawaban Riana, tapi kemudian kembali muram, "seandainya dulu aku tak memaksamu minum pil kontrasepsi, dan mencoba membuka hati menerima pernikahan kita, mungkin saja saat ini kita sudah berhasil membuat beberapa bayi, bahkan mungkin…"


Sebelum Brian menyelesaikan kalimat nya Riana sudah membungkam bibir nya.


"Hentikan…!!!" 


"Maaf, tapi siapapun mengakui bahwa aktivitas membuat anak, memang menyenangkan," Seloroh Brian jahil, sementara Riana tercengang, dengan wajah Riana merona menahan malu, suaminya ini benar benar mem


"Hei kenapa malu," Brian mengangkat dagu Riana yang kini tertunduk malu tanpa suara. "Aku ingin mengaku sesuatu pada mu, sejak dulu tubuhmu benar benar membuatku candu sayang." Bisik Brian yang mulai menenggelamkan wajahnya di surai milik sang istri, sementara kedua tangannya tengah rusuh menjelajah menggoda area favorit nya. 


Riana terkejut, sementara tubuhnya masih meremang merinding sana sini, kini ia sudah di buat terkejut, sekaligus berbunga bahagia mendengar pengakuan sekaligus pujian Brian, "sejak dulu?" Tanya Riana dengan suara parau, kini ia sudah memejamkan kedua matanya, menikmati sentuhan tangan nakal suaminya, dan jangan lupakan bibir dan lidah Brian yang terus bekerja, menjelajah menggoda, seperti tengah mengisap madu, meninggalkan banyak jejak cinta di sana. 


"Iya… sejak dulu," Brian mengaku. "Mulutku memang mengatakan cinta untuk wanita lain, tapi tubuhku benar benar selalu menginginkan kehangatan yang berasal dari tubuhmu, karena itulah aku selalu mendatangimu, memintamu melayani ku, tapi aku terlalu gengsi mengakui nya, maafkan sikap kasarku dulu, aku pasti sangat menyakiti tubuhmu,"


Riana hanya bisa menatap haru, pengakuan Brian benar benar diluar dugaannya selama ini.


Brian membalas tatapan Riana, tatapan tulus itu benar benar membuatnya malu, "jangan menatapku seperti itu, aku malu," 


Riana tersenyum, ia mengusap lembut pipi Brian, "aku memang marah padamu, bahkan sangat membencimu saat itu,"


.


.


.


🧡🧡🧡

__ADS_1


__ADS_2