Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 95


__ADS_3

BAB 95


Hampir seratus panggilan tak terjawab. 


Itulah yang terbaca di layar ponsel Brian, ketika ia pertama kali menyalakan ponselnya. 


Panggilan dari sang istri. 


Panggilan dari papa Richard dan mama Nisya. 


Panggilan dari Armand


Dan sisanya panggilan dari Kevin. 


Tiba tiba jantungnya berdegup kencang, pasalnya jika hanya telepon dari sang istri saja, sudah biasa, Riana kerap berkali kali menghubunginya jika sedang iseng dan rindu berat, tapi ini ada beberapa kali panggilan dari papa dan mama mertua nya, bahkan Armand dan juga… 


Kevin


Deg…  seketika ia merasa ada sesuatu yang sedang terjadi pada putri kecilnya. 


Brian segera membalas panggilan sang istri. 


"..." Tak perlu waktu yang lama, panggilan terhubung, tapi sunyi tak ada sahutan, hanya isakan yang terdengar. 


"Sayang… ada apa?"


Masih sunyi

__ADS_1


Lagi lagi suara isakan yang terdengar. 


"Kamu dimana? Kenapa sejak kemarin tak bisa dihubungi?" Tanya Riana dengan nada sedikit tinggi. 


"Aku di airport." Jawab Brian singkat. 


"Berapa jam lagi sampai Indonesia?"


"Jawab dulu pertanyaanku, Ada apa sebenarnya?" Brian mencoba kembali bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi. 


Mengalirlah cerita dari lisan Riana, dan hal itu cukup membuat Brian hampir merasa seperti mati berdiri, ia bergegas memberi instruksi pada Fabian, agar mengurus semua barang barangnya, sementara Brian bergegas meninggalkan Airport menuju William Medical Center, tak ada yang lebih berharga jika dibandingkan dengan sang putri mahkota, Briana kini adalah keturunan terakhir keluarga Gustav Agusto, tak akan Brian biarkan sesuatu yang berbahaya menimpa si lebah kecilnya. 


Brian pikir ia akan memberi kejutan pada istri dan putrinya, rupanya yang terjadi adalah sebaliknya, Brian dibuat terkejut dengan berita yang ia terima sejenak setelan landing. 


Perlu waktu 60 menit bagi Brian untuk tiba di William Medical Center, itu pun Brian sudah membayar lebih pada sopir taxi yang bersedia melaju dengan kecepatan rata rata, memburu sang waktu, karena saat ini Bee sedang membutuhkan transfusi darah, untuk berjaga jaga sebelum masuk ruang operasi. 





Brian sudah tahu ruangan mana yang akan ia tuju, jadi ia tak lagi menghubungi Riana ataupun mama dan papa mertuanya. 


Benar saja tiga orang yang kini menjadi keluarga terdekatnya sedang menunggu di depan ruang operasi. 


Brian berjalan dengan langkah cepat menghampiri Riana. 

__ADS_1


Ruana mendongak menatap seseorang yang kini ada di hadapan nya, wajahnya masih sembab, dan pakaiannya masih berlumuran darah, gegas ia berdiri dan memeluk erat suaminya, "terimakasih sudah datang lebih cepat, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada Bee jika kamu datang sesuai jadwal." Bisik Riana. 


Tak kalah erat, Brian pun membalas pelukan sang istri, mengusap kepala dan punggungnya, bahkan menghujani puncak kepalanya dengan ciuman rindu, tapi ia sadar tak bisa berlama lama menikmati pelukan tersebut, karena Bee sedang menanti di ruang operasi. 


Dari arah belakang, Richard menepuk punggung Brian, "bergegaslah, sebentar lagi Kevin memulai operasinya."


"Baik pa." Jawab Brian patuh. 


"Ayo aku antar." Riana membawa suaminya menuju ruang pengambilan sampel darah, tapi sebelumnya, Brian diizinkan menemui Bee yang masih dalam kondisi sadar menantikan kedatangan dokter anastesi yang akan bertugas mendampingi Kevin selama operasi. 


"Daddy…" Panggil Bee dengan suara manja yang teramat Brian rindukan. 


Brian mendekap lebah kecil kesayangannya tersebut, "iya daddy tahu, tapi anak daddy kan kuat, paman Kevin akan membantu  menyembuhkan kakimu sayang." 


Tangis Bee semakin kencang, "tapi aku takut, pasti sakit, dan kaki tak akan cantik lagi, pelcuma dong aku makan sayul, buah dan minum susu, kalau kakiku tak cantik."


Brian terkekeh mendengar kegelisahan putrinya, ia menghujani wajah lucu itu dengan ciuman gemas, Riana ikut menunduk dan mengusap punggung Bee, "tapi setelah ini, kaki kecil ini akan menjadi semakin kuat, dan nanti setelah usia mu cukup, mommy dan daddy akan mencari dokter terbaik yang bisa menyulap kembali kaki kecil ini menjadi kaki yang indah dan cantik." Hibur Riana. 


Karena di jaman sekarang, dengan semakin canggihnya ilmu pengobatan, bukan hal sulit jika hanya untuk menghilangkan bekas luka. 


"Benal begitu daddy?" Tanya nya pada sang daddy, wajah bulat dan cabby nya tampak semakin lucu ketika ia berbicara dengan nada serius, serba ingin tahu. 


"Benar sayang, mommy nya Bee kan juga dokter hebat, apapun yang mommy katakan pasti benar," Brian tahu ia dan Bee memiliki kedekatan khusus, karena itulah ia tak ingin Riana merasa tersisih, Brian tak pernah berbeda pendapat dengan Riana jika hal itu tentang mendidik anak nya, agar Bee juga paham bahwa apapun yang mommy dan daddy nya katakan, semuanya dalam koridor yang benar, dan se iya se kata. 


"Bee sayang mommy dan daddy," Tangan kecil Bee memeluk leher kedua orang tuanya, Kevin yang sejak tadi berada di ruangan tersebut, ikut berkaca kaca. 


Setelah semua siap, serta proses pengambilan darah usai, operasi penutupan luka pun dimulai, seperti biasa Kevin selaku dokter bedah Anak, yang memimpin operasi. 

__ADS_1


💜💜💜


__ADS_2