
BAB 62
Semanis apapun sebuah penghianatan di kemas, ia tetaplah menyakitkan, meninggalkan luka tapi tak berdarah, sakit, pedih tak terkira, kesal, sungguh sesak di dada, meninggalkan luka menganga yang tak dapat disembuhkan.
Bertahun tahun ia mencintai Alicia, gadis yang dulu terlihat sangat pengertian dan penuh perhatian pada Brian yang temperamen dan mudah sekali terpantik amarahnya.
Alicia ceria, mudah bergaul, dan suka tertawa, sementara Riana si kutu buku berkacamata minus yang membosankan, cenderung tertutup dan pendiam, tentu saja dalam penglihatan Brian Riana bukanlah apa apa, akan selalu kalah dan selalu salah jika dibandingkan dengan Alicia.
Selama dua tahun menikah, Brian berusaha keras membuat Riana membencinya, sikap yang kasar, caci maki selalu mewarnai dua tahun pernikahan mereka, bahkan Brian tak pernah berbicara dengan suara manis, anehnya tubuhnya selalu menginginkan Riana, karena itulah ia selalu meminta Riana melayaninya, walau dengan cara yang kasar, karena ia terlalu gengsi untuk mengakui bahwa tubuh Riana saja yang membuatnya ingin lagi dan lagi.
Selama masa pernikahannya dengan Riana, selama itu pula Brian tak pernah mengatakan pada Alicia bahwa ia pun tidur dengan Riana, karena Alicia bisa marah besar, tapi entah dapat informasi dari mana Alicia mengetahui hal itu, hingga ia pun mencari pria lain agar bisa bersenang senang di belakang Brian, dan begitulah, ia justru semakin terhanyut hingga membuatnya hamil anak pria lain.
Sebelum Brian semakin gelap mata dan kehilangan kendali diri, Armand dan Fabian membawa Grace dan Pedro ke pihak berwajib, bersama bukti rekaman CCTV dan berkas berkas yang Armand dapatkan dari Hans.
.
.
.
Brian membaringkan tubuh Riana di tempat tidur, wajah Riana pucat, Syukurlah tidak sampai mengalami hipotermia, dokter bilang, ia hanya Shock tiba tiba berhadapan dengan dua orang yang bermaksud mencelakainya.
“Aku mau ganti baju,” Riana bangkit dari tempat tidur, tapi Brian menahannya.
“Aku akan mengganti baju basahmu.”
Riana terbelalak seketika, “aku hanya pingsan karena tenggelam, bukan lumpuh, aku masih bisa berjalan, awas minggir,” elak Riana, terlalu memalukan jika Brian yang menggantikan pakaiannya.
“Galak sekali, aku kan hanya ingin membantumu.”
“Menyelmatkanku dari kolam renang sudah cukup, aku bisa berjalan di atas tanah, seperti halnya ikan bisa berenang di dalam air.”
Brian hanya diam saja, ketika tubuh Riana menghilang di balik pintu kamar mandi.
Brian menghembuskan nafasnya, tak ada maksud apa apa, ia hanya
tengah dirundung sesal, untuk masa lalu yang tak pernah bisa di ulang kembali, untuk masa masa yang seharusnya indah, tapi semuanya berakhir dengan sakit hati dan penyesalan, pantaslah kiranya jika Grace menjulukinya pria bodoh, karena tak bisa membedakan mana ketulusan, dan mana kepalsuan, mana wanita yang benar benar baik, dan mana wanita ular yang berpura pura menunjukkan wajah manis.
Brian menunggu beberapa saat sebelum akhirnya Riana keluar dari kamar mandi, usai membersihkan diri.
“Pergilah mandi, kamu pasti juga tak nyaman.” Riana mengusap pipi Brian.
“Boleh aku memelukmu?” pintanya.
“Tidak, mandilah dulu,” tolak Riana, ia berlalu hendak mengambil baju ganti agar lebih nyaman.
Brian tersenyum gemas, kemudian berubah muram, ‘masih pantaskah pria sepertiku menjadi suami wanita baik seperti dirimu?’ Brian bermonolog.
Riana menunggu Brian di sofa, menikmati secangkir coklat hangat di tangannya, masih ia ingat dengan jelas bagaimana amukan Brian pada Grace dan pedro, Riana sangat tahu pria itu benar benar mengerikan jika sedang dikuasai amarah, seperti kejadian di rumah sakit tempo hari, Riana tak tahu apa yang dikatakan Rodrigo, hingga Brian seakan berubah jadi orang baru, begitu mengerikan dan menakutkan.
__ADS_1
Tak lama Brian selesai mandi, rambutnya masih kusut, basah dan acak acakan, tapi tetap tampan maksimal, kini mengenakan kaos dan celana pendek terlihat lebih segar dan nyaman, Riana menepuk tempat kosong di sebelahnya, kemudian mengangsurkan secangkir coklat hangat milik Brian.
Kedua nya duduk berdampingan, menatap layar televisi yang menyala, tapi justru keduanya sibuk dengan pikiran masing masing, sama sama tak bisa mengungkapkannya.
"Aku minta maaf," Ujar Riana lirih.
"Untuk apa?"
"Karena aku sudah lancang mencari tahu tentang masa lalu Alicia." Riana menunduk menatap cangkirnya. " Tapi percayalah, aku tak bermaksud ikut campur dalam masa lalumu bersamanya
“Aku yang seharusnya berterima kasih,”
“Untuk?”
“Karena kamu sudah membuka mata dan hatiku, aku menyesal sekali karena pernah mengkhianati dan menyakitimu di masa lalu,”
Riana tersenyum malas, “sebenarnya aku tak ingin, bukan urusanku juga untuk mengetahui apa yang dilakukan Alicia di belakangmu, semuanya murni karena rasa penasaran dan rasa kemanusiaan semata.”
“Kenapa kamu tiba tiba berpikir Grace ada kaitannya dengan tewas nya Alicia?”
Riana menyandarkan punggungnya di sandaran Sofa, menyesap coklat hangatnya.
Selepas kejadian di tepi kolam renang beberapa jam yang lalu, paman Robin dan Armand menceritakan perihal teror yang di terima Riana beberapa waktu yang lalu, tentu saja hal itu membuat murka Brian semakin menjadi, Brian bersumpah akan membuat Grace dan Pedro membusuk di penjara.
“Entahlah, tiba tiba saja aku memikirkan nya, lalu kemudian menganggap kegelisahan itu hanyalah angin lalu, tapi ketika aku mengetahui siapa orang yang menerorku, aku segera meminta Hans menyelidiki semua kemungkinannya, jangan berpikir aku melakukannya karena aku cemburu, tidak sama sekali, Aku hanya tak suka dengan apa yang Grace lakukan padaku, menerorku, seakan akan aku adalah musuhnya, tak ada keuntungan bagiku untuk mencari musuh, tanpa dia merasa cemburu pun, aku sudah melepaskanmu agar bisa kembali bersamanya, dan kita akan tetap berpisah setelah bayi ini lahir kan?”
“Masihkah kamu ingin berpisah dariku? kemarin aku sudah mengatakan bahwa aku ingin menunjukkan padamu kesungguhan hatiku.”
“Dan aku juga berjanji akan memberimu kesempatan …”
Keduanya diam saling menatap. “tapi ketika saat itu tiba, dan hatiku belum bisa menerima kehadiranmu, mungkin perpisahan kita akan benar benar menjadi kenyataan.”
Pahit dan getir itulah yang Brian rasakan, tapi ia bisa apa jika Riana tak bisa memaafkan dosa dosa nya di masa lalu, Riana sepenuhnya berhak untuk tidak memberinya maaf, hingga akhirnya Brian hanya bisa mengangguk pasrah, kedua mata Brian memerah menahan air mata.
“Tapi … jika kita benar benar berpisah, tolong izinkan aku menemui anak kita kapanpun.” pinta Brian sendu, padahal perpisahan itu belum terjadi tapi hatinya sudah hancur.
Riana mengangguk.
Dan mereka kembali terdiam
.
.
.
tok
__ADS_1
tok
tok
Bunyi ketukan pintu membuyarkan lamunan Brian yang kini tengah duduk seorang diri di ruang kerja papa Roger, entah kenapa setelah mengetahui semua yang terjadi di masa lalu, ia merasa tenang berada di ruang kerja papa nya, merasakan seolah olah tubuhnya sedang di peluk oleh papa Roger yang selama ini begitu menginginkan pernikahan antara dirinya dan Riana, sampai sampai Brian dilarang menyentuh warisannya sebelum resmi kembali menikahi Riana, dan memiliki anak bersama Riana.
“Masuk …”
Pintu terbuka, dan menampakkan wajah tuan Robin, pria tuan itu tersenyum menatap wajah kusut tuan muda nya.
“Kenapa anda belum beristirahat tuan?”
“Tiba tiba aku merindukan papa,” jawab Brian lesu, “Baru lah aku merasa penasaran dengan semua keinginan keinginan papa selama ini padaku.”
"Kenapa anda harus penasaran? Seharusnya sekarang anda bisa tidur lelap, karena anda menikahi wanita yang sejak dahulu anda inginkan."
"Apa maksud paman?"
"Tuan Roger berusaha mengabulkan keinginan anda,"
"Sejak kapan aku berkeinginan menikahi Riana?"
"Apa anda belum mendapatkan ingatan anda kembali?"
"Paman, tolong jangan berbelit-belit aku semakin bingung dengan semua perkataan paman, sejak kapan aku ingin menikahi Riana? Dan apa maksud paman dengan aku mendapatkan kembali ingatanku? Memangnya apa yang aku lupakan?"
"Jadi tuan belum ingat? Aku pikir anda kembali menikah dengan nyonya karena ingatan anda sudah pulih."
"Ha ha ha ha … paman pasti sedang bercanda denganku, tolong katakan paman hanya bercanda."
Paman Robin berjalan mendekati perapian, menggeser lukisan yang semula tak ingin Brian lihat.
"Pin nya adalah tanggal lahir anda." Ucap paman Robin yakin, seakan akan ia sudah sering membuka brankas diatas perapian tersebut.
Decitan terdengar ketika pintu brankas terbuka lebar, "semua surat surat berharga ada di sini, termasuk bukti bukti kepemilikan aset, ini semua tuan Roger hadiahkan untuk anda."
Paman Robin mengeluarkan sebuah map tebal berisi dokumen dokumen lama, kemudian meletakkannya di hadapan Brian.
"Saya terpaksa melanggar amanat dari tuan Roger, karena menurut saya, anda sudah sangat dewasa, sudah saat nya anda mencari jalan agar ingatan anda segera kembali, bukannya terus bersembunyi, terlebih setelah semua rentetan kejadian tak mengenakkan beberapa hari terakhir ini."
.
.
.
JRENG JRENG …
???
__ADS_1
tanda cintanya jangan lupa gaes.
Sarangeeeeeeee