Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 53


__ADS_3

BAB 53


Mentari pagi menelusupkan sinarnya diantara riak riak helai daun di pohon, rasanya begitu hangat membelai kulit, Riana menarik nafas panjang menikmati segarnya udara pagi di taman luas yang kini membentang di hadapannya, beberapa saat yang lalu ia mengantar Brian ke mobil, permintaan aneh, dan Riana lagi lagi seperti robot  yang tak mampu menolak permintaan suaminya, karena sejak kemarin sikap Brian begitu manis, walau sebenarnya Riana sungguh benci mengakui, kadang hatinya mulai berdesir aneh ketika Brian berbicara manis, menyuapi, bahkan memastikan Riana minum vitamin dan obatnya, sebelum Brian meninggalkannya  untuk pergi bekerja.


“Kenapa kamu tidur di sini?” pertanyaan Riana pada Brian semalam sebelum mereka memejamkan mata.


“Kenapa? apa kamu lupa ini juga kamarku?”


“Tentu aku ingat, kalau begitu …”


“Jangan coba coba beranjak, kamu suka atau tidak mulai malam ini aku ingin tidur di dekatmu.” si pemaksa mulai menjatuhkan titahnya.


“Kenapa? bukankah kamu dulu lebih suka tidur di kamarmu sendiri, kecuali …” Riana gugup.


“Kecuali …” 


‘Dasar bodoh, Riana kamu sedang memancing Brian? bagaimana kalau pria dihadapanmu tahu, pembicaraanmu membuat Brian membaca isi kepalamu, atau jangan jangan kamu memang merindukan belaiannya?’. Suara hati Riana memaki.


Brian menantikan kelanjutan kalimat Riana, ia tersenyum geli melihat Riana yang tengah malu malu, membuat Brian benar benar gemas ingin menerkam. “Kecuali??” pancing Brian.


“Lupakan!!!” Riana berbalik memunggungi Brian, kemudian menarik selimut hingga menutupi seluruh kepalanya.


Brian tergelak, ia ikut menelusupkan wajah nya, kemudian berbisik.


“Kenapa? kamu malu mengakui kalau kamu rindu? padahal setiap hari aku ada di rumah, jika menginginkannya kamu tinggal bilang, aku akan mendatangimu dan kita …” 


Riana mendesis kesal, kemudian kembali berbalik, karena bisikan itu membuat telinganya terasa panas, namun gerakan cepat itu membuat bibir mereka bersentuhan tanpa sengaja, Riana terkejut, ia hendak mundur tapi Brian justru melanjutkannya, menyesap perlahan, hangat dan lembut, bahkan kedua mata Riana terpejam, sesekali membalas, hingga Brian mengakhirinya, nafasnya memburu, “kita harus berhenti, sebelum aku tak bisa menghentikannya.” ujar Brian frustasi, “kalau bukan karena larangan dokter, aku mungkin akan menerkammu seperti singa lapar.”


‘Kenapa jadi melenceng jauh sekali, padahal niatmu hanyalah ingin mengusir Brian dari kamar kalian, bodoh sekali kamu Riana !!! kenapa lagi lagi tubuhmu tergoda pada Brian, kamu lupa kalau dulu Brian hanya menganggapmu istri boneka, dan budak Na Fsu nya’. lagi lagi suara hati Riana memaki, Riana sendiri bingung menghadapi tubuhnya yang seolah merindukan kehangatan dari Brian, mungkinkah Bayi mereka memang menginginkan kedua orang tuanya akur dan rukun??.


Riana terdiam menelan ludahnya, kedua tatapan matanya seolah di kunci oleh Brian.


Brian mengusap Bibir dan pipi tembem Riana, merona merah dan hangat, “Mulai malam ini dan seterusnya aku akan tidur di dekatmu, aku ingin kamu terbiasa dengan kehadiranku, lagipula tidur di sofa membuat tubuhku pegal pegal.” Keluh Brian. “Ayo … ibu hamil harus cukup istirahat.” Brian membawa Riana ke pelukannya.


‘Riana … kamu pasti sudah benar benar bodoh’. Riana pasrah ketika kata hatinya memaki tanpa  henti, mau bagaimana lagi, hatinya menolak keras, dan gengsi menguasai, tapi tubuhnya berkata sebaliknya.


Riana terus berjalan menyusuri taman luas di mansion tersebut, taman itu begitu terawat, bunga bunga, tanaman hias, serta rumput hijau di halaman yang luas, karena mendiang papa mertuanya, ingin memiliki banyak cucu untuk meramaikan mansion besar milik keluarga Gustav Agusto turun temurun selama lebih dari 5 generasi, Keluarga Gustav Agusto secara turun temurun adalah keluarga konglomerat, dengan banyak aset mencengangkan, tapi banyak mitos mengatakan keluarga Gustav Agusto seperti menerima kutukan, karena minimnya jumlah pewaris mereka.


Tanpa Riana sadari, ada seseorang yang tengah mengawasinya dengan intens, berusa mencari celah, mencari kesempatan untuk melaksanakan niat jahatnya, demi seonggok keserakahan dunia. 


.

__ADS_1


.


.


Riana memandang sebuah bungkusan besar, masih terbungkus plastik pengaman, agar isinya tetap terlindung, Riana mendaratkan tubuhnya di sofa mengamati bungkusan besar tersebut.


“Itu milik tuan Brian,”


Riana manggut manggut mendengar suara paman Robin yang meletakkan waffle saus Vanilla favorit Riana.


Tak biasanya Riana penasaran, karena ini pertama kalinya menerima paket atas nama Brian, tapi sebentar kemudian Riana menerima pesan dari Brian.


Ada paket yang akan datang ke rumah -Brian-


Sudah, boleh ku buka? -Riana-


Boleh -Brian-


Riana tersenyum senang, seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru.


Riana terdiam, membekap mulutnya, tak percaya dengan apa yang kini ia lihat, tangannya sampai gemetar mengusap isi dari dari paket di hadapannya.


Entah dapat ide dari mana, Brian membeli satu set buku dongeng untuk anak anak, tentulah tak perlu dijelaskan, Riana sudah paham bahwa buku buku ini untuk bayi mereka, Bahkan ada diary kehamilan, termasuk bingkai mini untuk menempelkan foto foto hasil USG sang baby, Riana menghela nafas, setitik air mata meluncur begitu saja melewati pipi nya tanpa bisa dicegah, Brian benar benar berubah, dari Brian yang dingin dan pemarah, bertransformasi menjadi Brian suami siaga dan calon daddy yang penuh perhatian.


Tersentuh?


Tentu saja, wanita mana yang tak suka diperlakukan dengan lemah lembut? tentu tidak ada kan? walau ingin menolak, tapi bagian dari hormon kehamilan Riana menyukai semua perhatian Brian terhadapnya.


“Selamat siang tuan …” suara paman Robin membuyarkan fokus Riana.


Riana menoleh ke asal suara, tampak papa Richard sedang berjalan mendekatinya, wajah Riana berseri bahagia, karena ketika beberapa waktu yang lalu ia ke Jakarta, papa Richard seperti menghindari nya, karena mungkin malas berinteraksi dengan Brian.


“Papa …” Riana berjalan cepat ke arah papa Richard.


“Pelan pelan saja, jangan lari,” papa Richard mengingatkan.


Tapi Riana tak peduli, ia berjalan cepat dan memeluk papa Richard dengan erat, menikmati aroma citrus berasal dari parfume favorit Richard. 


“Papa tumben ke Singapura tak mengabariku?”


Richard tersenyum menatap wajah cantik dan menggemaskan milik putri kecilnya, “papa mengkhawatirkanmu nak, jadi papa kemari secepat yang papa bisa, papa bahkan tidak memberitahu mama mu tentang kondisimu, takut mamamu semakin khawatir.” 

__ADS_1


Riana mencebikkan bibirnya, senangnya mendapat perhatian dari cinta pertamanya, “Papa tidak diam diam memiliki istri yang lain kan?” Gurau Riana.


Richard mengacak rambut Riana, “Dasar nakal …” Gerutu Richard, yang membuat Riana terkikik, “mamamu saja sudah cukup, hati papa tak sanggup menampung cinta yang lain, karena sudah terlalu penuh dengan keberadaan mamamu di sana.” 


“Dasar papa bucin.” bisik Riana di telinga Richard.


Richard tersenyum, sejak dahulu ia selalu jadi rebutan di antara dua wanita kesayangannya.


“Bagaimana calon cucu papa?” Richard mengusap perut Riana yang mulai terlihat dari balik bajunya.


Mereka sedang berbincang di gazebo yang berhadapan langsung dengan kolam renang, Riana tak bisa berenang, jadi ia tak terlalu suka berada di kolam renang, walaupun sangat disarankan jika ibu hamil berenang.


“Dia sehat pa, kemarin aku hanya kelelahan setelah operasi lalu dilanjut CPR yang tak membuahkan hasil,” jawab Riana muram, teringat nyonya Romana yang sudah sejak lama menjadi pasiennya.


Richard membelai kepala Riana yang kini berada dipelukannya, “Papa ingin kamu cuti dulu untuk sementara, setelah bayi kalian lahir, kamu bisa kembali ke rumah sakit.” 


Riana mendongak dan menggeleng, “Tidak pah, aku menyukai pekerjaanku, bagaimana jika pasien pasienku terbengkalai?” 


“Tadi pagi papa sudah bicara dengan kepala bagian mu, dan ada banyak dokter yang bisa menggantikanmu sementara, bila perlu, papa akan mencari dokter baru agar ada yang menggantikan posisimu selama kamu cuti hamil dan melahirkan.


Riana ingin protes tapi terhenti karena mendengar perkataan Richard selanjutnya.


“Selain itu dia juga calon penerus baru keluarga Gustav Agusto, kamu tahu sendiri kan kalau papa mertuamu juga sangat mengharapkan kehadiran seorang cucu, terlepas dari fakta bahwa papa juga ingin egois memiliki cucu papa untuk diri papa sendiri, tapi itu tidak dibenarkan, karena bayi ini tetaplah wujud dari dua manusia berbeda, kamu dan Brian memiliki hak dan kewajiban yang sama pada bayi ini, jadi suka atau tidak dia juga cucu nya Roger dan juga anaknya Brian, benar begitu kan?”


Riana mengangguk, seperti apapun kerasnya keinginan hatinya, Riana tak akan pernah mampu melawan kehendak papanya, setidaknya Riana cukup senang karena Richard tidak lagi berbicara keras seperti dulu.


“Papa juga berbicara mewakili Roger, tolong jaga dia baik baik, tetap beristirahat di rumah saja sampai dia lahir,” pinta Richard tulus sekali lagi papa Richard mengusap perut Riana. 


Tanpa mereka sadari, ada yang sejak lama mendengar percakapan mereka, dari jarak aman.


.


.


.


#siapa hayo??


#tanda cintanya jangan lupa gaes


#sarangeeeeeee 🧡🧡🧡

__ADS_1


__ADS_2