
BAB 56.
Mereka bergantian menggunakan kamar mandi sebelum mengakhiri hari yang melelahkan versi Brian.
Brian yang sedang menyandarkan tubuhnya di head board mencuri curi pandang ke arah Riana, ia berpura pura sibuk dengan tablet nya, tapi sesungguhnya ia sedang berusaha keras menahan hawa panas dari tubuhnya, ekor matanya sejak tadi mengikuti pergerakan istrinya semenjak Riana keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk yang menutupi dada hingga pertengahan pah@ nya, Brian hanya mampu menelan ludahnya menatap pemandangan indah tersebut, setelah melewati satu malam panas bersama Riana, Brian sama sekali tak merasakan hasrat bercinta selain dengan Riana, tubuhnya hanya berteriak bila berada di dekat Riana, kejadian malam itu, benar benar membuat Brian terhipnotis, merubah sudut pandang Brian tentang Riana, istrinya yang dulu introvert, bahkan tak berani menatap mata, melawan perkataan, dan sikap kasarnya, kini berubah sebaliknya, ia bahkan tak lagi takut menghadapi temperamen Brian yang kadang tak terkendali, justru Riana bisa lebih mengerikan jika sedang dikuasai amarah, anehnya Brian menyukainya.
#walah Brian suka tipe tipe singa betina toh, justru kalau jinak kaya kucing kecil, Brian gak selera 🤪
Masih dengan memakai handuk sebatas dada, Riana menghampiri meja rias, rambut yang dicepol asal, beberapa sulur sulur nya menjuntai ke dahi dan pipi nya, Riana mulai memulas skincare malam ke wajah, serta body lotion ke sekujur tubuhnya, aroma nya sungguh membius, harum dan lembut, namun sungguh menggelitik indera penciuman Brian, serta menggoda insting lelakinya, sekali lagi ekor mata nya mengikuti pergerakan tangan Riana yang sedang menyisir rambut panjangnya, godaan dunia yang sangat berat untuk di lawan, Brian ingat aroma rambut Riana malam itu, dan warnanya kecoklatan berkilau berserakan menutupi bantal.
Selesai dengan ritual tubuh, wajah, dan rambut, Riana kembali ke walk in closet, membuat Brian keheranan, apa gerangan yang hendak dilakukan Riana, kenapa banyak sekali prosedur yang harus dilakukan wanita menjelang tidur, tapi penantiannya tak sia sia, Riana kembali, rupanya ia mengambil piyama terusan, agar tidurnya lebih nyaman.
Riana membaringkan tubuhnya di sisi kiri Brian, berpura pura acuh, dengan gawai ditangannya, padahal ia sendiri berdebar tak karuan, karena sejak tadi ia melihat Brian mencuri curi pandang ke arahnya, karena itulah ia sengaja berlama lama, dengan tujuan agar Brian tertidur lebih dulu, tapi percuma, Riana baru teringat jika tadi Brian pun tertidur ketika menungguinya, jadi wajar jika sekarang Brian terlihat segar bugar seperti ikan di dalam kolam.
🤣
Setelah memastikan kondisi pasien pasiennya aman, Riana meletakkan ponselnya di nakas kemudian menarik selimut sebatas dada nya, matanya mulai terpejam ketika ia merasakan pergerakan di sisi kanannya, siapa lagi jika bukan Brian, yang beberapa hari ini selalu menempel padanya ketika tidur, kata hatinya ingin menolak, bahkan masih takut, tapi tubuhnya merespon sebaliknya, sang bayi benar benar merasa nyaman ketika tangan Brian mulai mengusap perut nya, tangan besar itu mengusap perlahan, hangat dan lembut, dan jika sudah merasa nyaman, sesaat kemudian ia pun tertidur pulas.
“Rambutmu selalu wangi,” Bisik Brian ketika ia mulai membawa Riana ke pelukannya.
Brian menurunkan tali gaun tidur Riana, hingga tali spaghetti itu tak lagi menghalangi aksinya, ia menciumi pundak hingga leher putih tersebut, sementara tangannya mulai menjelajah dengan bebas.
“Brian berhenti !!! ingat kita punya perjanjian yang harus kita sepakati.” Riana kembali mengingatkan, sebelum Brian melakukan selebihnya.
Brian mencium dan menggigit lembut daun telinga Riana, kemudian berbisik, “Aku sudah mulai lupa dengan perjanjian itu, bolehkah kalau kita akhiri saja perjanjian si AL itu?”
“Brian Stop!!!” sekali lagi Riana mengingatkan ketika tangan Brian mulai menyusup ke balik gaun tidurnya, kemudian bermain main di area depan.
“Sssssssttttt … Tolong jangan menghentikan ku, aku tak akan melakukan yang lebih dari ini jika kamu tak mengizinkan ku, walaupun aku ingin sekali mengunjungi baby,” bisik Brian dengan suara parau nya.
Riana bisa bernafas lega, mendengar pengakuan Brian, walau ia sendiri sudah mulai panas dingin, karena ulah tangan Brian.
#Brian : thor … atuh lah, tega amat, beneran ini aku gak dapet bonus?”😮💨😤
#Othor : eit … Brian … gak boleh nakal yah, ingat kata dokter, belum boleh ni na ni nu, cup cup cup 😁
“Aku penasaran satu hal.”
“Hmm … apa itu.”
“Kenapa kamu tiba tiba pingsan di depan ruang kerja papa?”
__ADS_1
“Entahlah, aku tak tahu kenapa tubuhku merespon demikian, hanya karena selembar foto.”
Brian terkejut, ia mengamati ekspresi wajah Riana sesaat, dan tahu jika Riana tak sedang berbohong.
“Foto?? foto apa yang kamu lihat?”
“Aku iseng membuka laci laci meja kerja papa, dan aku menemukan album foto lama, isinya foto foto pernikahan papa Roger dan mama Delia, bahkan foto ketika kamu lahir juga ada di sana,”
“Oh iya?”
Riana mendongak, hingga mata mereka saling menatap, “iya … papa menyimpan foto kelahiranmu juga banyak foto fotomu ketika masih kecil, sungguh menggemaskan dan tampan sekali,” tanpa sadar Riana memuji ketampanan suaminya, buru buru ia membekap mulutnya.
Brian tersenyum simpul, mendengar suara yang tak sengaja tercetus dari bibir sang istri, “Apa dulu aku begitu tampan? kalau sekarang aku pasti semakin tampan kan?” tanya Brian mulai menggoda Riana.
“Kita sedang bicara tentang album foto papa, kenapa kamu jadi menanyakan hal yang lain,” Elak Riana,yang kini tak lagi dapat menyembunyikan rona wajahnya.
“Kamu yang memulai, kenapa jadi aku yang disalahkan?”
“Itu karena kamu bertanya, dan aku hanya menjawab.”
“Tapi jawabanmu diberi imbuhan sungguh menggemaskan dan sangat tampan, kan aku jadi penasaran, setampan apa aku di matamu,”
“Kenapa kamu diam, tatapan matamu juga membuatku berdebar, apa kamu mulai jatuh cinta padaku?”
Mendengar kalimat keramat itu membuat Riana melengos, ia pun enggan melanjutkan ceritanya, kemudian berbalik, dan kembali memunggungi Brian.
“Hahaha kamu ngambek lagi? kenapa ibu hamil yang satu ini suka sekali ngambek.” Brian kembali memeluk erat pinggang Riana.
"Diamlah, aku mau tidur."
“Baiklah, kamu juga harus kembali istirahat, besok kita bicara lagi, kita punya banyak waktu, karena aku akan menemani mu sepanjang kehamilanmu.”
Riana terkejut, tapi ia enggan berbalik.
“Maksudmu?”
“Kamu akan melanjutkan cuti kan?”
“Dari mana kamu tahu?”
Brian menyeringai, “Tadi siang aku tak sengaja mencuri dengar pembicaraanmu dengan papa Richard, hehehe.”
__ADS_1
“Dasar tukang nguping.”
“Hahaha … tapi kamu senang kan, kita bisa menikmati hari hari di rumah, aku mungkin akan memindahkan Gustav.Inc ke mansion ini.”
“Itu artinya Grace juga akan ada di sini?”
“Kenapa? kamu cemburu dengan keberadaannya?”
“Idih amit amit aku cemburu padanya, aku sudah mengatakan padamu, terserah kalau kamu ingin bermain main dengan wanita manapun di luar sana, jadi mana mungkin aku cemburu.” elak Riana.
“Lalu apa yang kamu rasakan jika Grace ada di mansion ini.”
Riana menghembuskan nafas jengah, “karena aku membebaskan kalian melakukan apa saja diluar sana, jadi mansion ini adalah wilayah teritorialku, karena mansion ini wilayah teritorialku, aku pun tak ingin dan tak suka jika dia ada disini.”
“Hanya itu?”
“Iya, hanya itu saja, tidak lebih.”
“Bagaimana jika di luar pun aku tak pernah melakukan apa apa dengannya?” tanya Brian penasaran, ia tak suka ketika Riana bahkan tidak merasakan cemburu, ketika Ia berdekatan dengan wanita lain, seperti halnya ia merasa marah, kesal, dan rasanya ingin mencongkel mata seorang pria yang berani menatap penuh damba pada wajah istrinya.
tik
tok
tik
tok
tik
tok
nah loooh, gimana Brian? apakah hatimu sudah semakin mumet?
dimana mana, laki laki tak ingin dicemburui atau dikekang, lha ini malah sebaliknya.
selamat berjuang Brian, kami emak emak berdaster, menunggu saat saat bucinmu, tapi rupanya Riana masih juga menolakmu hahahahaha … 🤪💃
tanda cintanya jangan lupa gaes, vote, komen, like, buat penyemangat othor semedi cari inspirasi 🧘
sarangeeeeeeee 💚💚💚💚
__ADS_1