Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 76


__ADS_3

BAB 76


Heningnya malam terpecah, ketika malam itu Emergency Room kedatangan pasien VVIP, bukan pasien sembarangan karena pasien ini adalah menantu direktur utama William Medical Center.


Riana turun terlebih dahulu, detik berikutnya beberapa petugas medis yang mendapatkan shift jaga malam bertindak cepat mendorong brankar pasien, di susul kemudian beberapa dokter mulai mengeluarkan peralatan untuk melakukan pertolongan pasien.


“Permisi nyonya, kami harus segera melakukan pertolongan pertama pada pasien.” Tegur salah satu dokter residen, dari penampilan dan penampakan kantung matanya, Riana tahu bahwa dokter laki laki tersebut pastilah masih tahun pertama menjalani masa residen. 


“Aku istri dari pasien.” jawab Riana singkat, karena ia tak ingin menjauh dari suaminya.


“Iya … saya faham, tapi bisakah anda menunggu di luar saja,” sekali lagi dokter muda tersebut menegur Riana.


Riana menatap tajam dokter tersebut, sebenarnya Riana bukanlah tipe tipe orang egois, tapi entah lah, saat ini ia seperti tak ingin jauh dari Brian.


Sementara para perawat mulai menangani luka luka di wajah, pelipis dan kepala Brian, Riana dan dokter muda tersebut masih saling bersitegang tak ada yang ingin mengalah.


“Kalau kamu faham, maka cepatlah lakukan pertolongan pasien, sepertinya kepalanya harus di foto rontgen, apakah ada penggumpalan darah atau tengkorak yang retak.”


“Saya akan melakukan semua itu, asal anda menyingkir, keluarga pasien tidak diperbolehkan berada di sini.” suara dokter muda itu naik beberapa oktaf, ini hari kedua ia terjaga, dan ketika mendapatkan keluarga pasien yang super ngeyel, akhirnya kemarahan pun meledak seketika.


“Siapa namamu?” tanya Riana dingin.


“Kenapa menanyakan nama saya? mau membuat laporan pengaduan?” tebaknya, “Lakukan saja, tak peduli anda dan suami anda adalah pasien VVIP, tapi saya merasa sudah melakukan semua prosedurnya dengan benar, jadi saya tidak takut sekalipun anda melaporkan saya.”


“ARJUNAAA.” Sebuah suara menggelegar mengejutkan dua orang yang sedang berdebat tersebut.


#DAEBAK … Arjuna ada di jakarta?, dan Emira ada di Singapura?, kapan mereka ketemu? 😤😋 Nanti di CLBK.


Seorang dokter senior menengahi perdebatan keduanya, “Selamat malam dokter Riana.” sapa pria itu.


“Selamat malam, apa dia anak buahmu?” tanya Riana tanpa basa basi, membuat Arjuna semakin heran.


“Bukan dok, dia dari bedah umum yang kebetulan malam ini bersiaga di Emergency Room.”


“Oooohhh anak buah Kevin rupanya.” Gumam Riana.


Arjuna semakin tercengang wanita yang menghalangi tugasnya, rupanya adalah seorang dokter, dan dia seperti sudah mengenal semua dokter di William Medical Center, termasuk diantaranya adalah dokter Kevin dan dokter Farel.


“Arjuna lanjutkan pekerjaanmu,” perintah dokter Farel.


“Dia masih anak anak Ri … jangan terlalu keras padanya.”


Riana cemberut mendengar penuturan rekan kerjanya, “justru karena masih junior, harus dididik dengan benar.”


“Percayakan pada kami saja, keluarga pasien silahkan menunggu di luar.” bujuk dokter Farel, yang akhirnya di angguki oleh Riana.


Riana kembali keluar, dan menunggu di ruang tunggu. 


Fabian dan Armand berada di sana, sama cemasnya dengan dirinya.


Riana mendekati Fabian, “Apa yang terjadi? kenapa papa memerintahkan anak buahnya untuk menghajar Brian?”


“Saya pun tak tahu nyonya, saya dan tuan bergegas kemari setelah menerima kabar dari paman Robin, kami langsung mendatangi kediaman anda, tapi rupanya anda tak berada di rumah, jadi kami menunggu sementara mama anda bertanya pada tuan Richard.”

__ADS_1


“Apa yang Brian dan papa berdebatkan hingga berakhir seperti ini?”


Fabian menggeleng, “tuan Richard sama sekali tak memberikan informasi apapun, beliau hanya …” Fabian menatap wajah Riana yang terlihat cemas. 


“Hanya …?” 


“Meminta tuan Brian menceraikan anda nyonya.”


Riana menarik nafas dalam dalam, mencoba untuk berpikir logis menghadapi semua peristiwa yang terjadi hari ini, walau tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, dan kini ia kembali dibuat bertanya tanya, kenapa papa Richard memintanya bercerai dengan Brian, padahal baru dua minggu yang lalu papa Richard memintanya untuk tidak egois, dan kini justru papa nya yang bertindak egois dengan tidak memberikan kesempatan pada dirinya dan juga Brian untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Riana mulai berpikir, apakah papa sudah tahu mengenai kontrak pernikahan yang ia dan Brian tanda tangani di depan pengacara, atau ada hal lainnya?


“Karena tuan menolak pergi, jadi tuan Richard meminta Hans untuk mengusir kami dengan cara kasar.”


“Armand … sekali lagi aku tanya padamu, benarkah kamu tak tahu apa yang sebenarnya terjadi?”


“Saya tidak bohong nyonya, berapa kali harus saya katakan bahwa saya juga sama tidak tahunya dengan anda.”


Riana mengusap kasar wajahnya, di saat ia mulai menyimpan perasaan mendalam untuk Brian, tuhan seolah berkehendak menguji cinta keduanya, jika dulu mereka diuji dengan pernikahan tanpa cinta yang harus berakhir dengan percerain, kini kembali bersama karena kesalahan semalam,  mungkin ini ujian yang harus ia dan Brian hadapi bersama, entah apakah mereka bisa bersama sama memperjuangkan cinta mereka hingga akhir, atau menyerah begitu saja.


Tiga puluh menit berlalu, proses pertolongan pertama selesai, dan kini Riana, Fabian dan Armand mengikuti Arjuna dan beberapa perawat yang sedang mendorong brankar menuju ruang rawat inap.


 


Sesaat sebelum mereka tiba di ruangan VVIP, Armand menahan tubuh Riana dengan tangannya. “Nyonya … ada panggilan dari tuan Richard.”


Riana lagi lagi harus dibuat menarik nafas akibat ulah sang papa, tapi demi mengetahui kejelasan rentetan kejadian ini, Riana menerima ponsel dari tangan Armand, “Iya pah?”


“Sekarang sudah ada di ruang perawatan,”


“Sudah bisa di tinggal kan?, pulanglah segera.”


“Paaaa …” rengek Riana, tak mengerti kah papa Richard, jika ia sangat mengkhawatirkan kondisi Brian. “Kenapa pa? tidak bisakah papa berkata baik baik sampai harus membuat Brian babak belur, hanya untuk mengusir Brian dari rumah?”


“Papa bilang pulang sekarang !!” suara Richard menggelegar dari balik speaker ponsel. 


“Maaf pa aku gak mau, aku gak akan beranjak dari sisi Brian,”


“Demi apa kamu rela bertahan di sisi pria seperti Brian.”


Meleleh rasa hati Riana, ini pertama kali ia jatuh cinta, haruskah papa Richard bersikap seperti saat ini? “Karena aku cinta pah, aku mulai mencintai daddy dari anakku.” jawab Riana dengan linangan air mata.


“Lupakan !!! … karena kalian akan segera bercerai.”


“PAPA …” seumur hidup Riana, ini pertama kalinya ia berteriak pada papa Richard.


tut 


tut 


tut


Richard mengakhiri panggilannya begitu saja, tak lama kemudian Hans dan beberapa pengawal menghampiri Riana, “Maaf nona, kami diminta menjemput anda.”

__ADS_1


“NYONYA, aku sudah bersuami, dan aku tak akan beranjak sedikitpun dari sisi suamiku.”


“Bawa nona sekarang juga.” perintah Hans pada anak buahnya.


Para pria bertubuh tinggi tegap itu menggenggam erat lengan Riana dengan paksa, karena Riana melakukan perlawanan.


“Lepaskan tangan kalian, berani kalian menyentuhku?” sentak Riana dengan kata katanya.


Namun sekeras apapun ia melawan, ia tetap kalah tenaga karena melawan beberapa pria dengan ilmu bela diri yang tak main main, sementara Fabian tak bisa berbuat apa apa, karena ia tak mungkin melawan anak buah Hans dan Armand seorang diri.


“Nyonya … maafkan saya, saya pasti terlihat sangat buruk, karena tak bisa membantu anda.” Gumam Fabian penuh penyesalan.


.


.


.


Sementara itu di kediaman keluarga William.


“Paa … ada apa sebenarnya? kenapa membuat kami semua bingung?” tak ingin penasaran berlarut larut, mama Nisya memutuskan bertanya, bagaimanpun ia tak bisa diam dan menunggu.


Richard terdiam, tak mungkin ia menceritakan kenyataan pahit, dan fakta tak mengenakkan yang keluarganya alami puluhan tahun silam, ini seperti menyayat kembali luka lama yang belum sepenuhnya sembuh, tak ingin juga Richard melihat istrinya menangis dan menyalahkan dirinya sendiri, karena merasa lalai menjaga anak mereka, hari itu mama Nisya terlambat menjemput Riana di sekolahnya, karena sibuk mempersiapkan pesta kejutan ulang tahun untuk Riana, tanpa disangka justru mereka lah yang dibuat terkejut dengan menghilangnya Riana.


Tapi apa mungkin rahasia ini akan terus tersimpan? Berapa lama? karena Serapi rapinya bangkai yang disimpan, baunya akan tetap tercium.


“Mama tak perlu tahu semua ini, biarlah papa yang …"


"PAPA !!! Berhenti menyimpan rahasia seorang diri, mama berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi,"


Richard menghela nafas, ia menatap sendu wajah sang istri, akhirnya ia pun pasrah mengangguk.


Richard mengeluarkan dua buah flashdisk yang sejak tadi berada di genggamannya.


Tepat seperti dugaan papa Richard, kini mama nisya mulai menangis pilu, menangisi kemalangan yang dialami putri mereka, tak hanya itu, mama Nisya juga di buat emosi kala mendengar rekaman suara Brian, di susul kemudian rekaman video papa Roger.


Sementara seseorang yang tak seharusnya tahu, kini terdiam dengan air mata yang juga mengalir deras … sekali lagi ia merasa dikhianati, disaat cintanya mulai tumbuh.


PRAK !!! 


Ponsel dalam genggamannya meluncur begitu saja ke lantai.


.


.


.


Ambyar gaeesss …. buyar sudah … 


ehm ehm ehm … tanda cinta nya jangan lupa di tinggalkan yess


sarangeeeeeeee

__ADS_1


__ADS_2