
BAB 42
Riana menatap rindu sepanjang perjalanan mereka, sudah cukup lama ia tak menginjakkan kaki nya di Jakarta, terakhir kali ketika ia mengambil jatah cuti karena ingin menghadiri reuni sekolahnya, delapan bulan yang lalu.
Dan kini ia kembali ke International School dengan tujuan dan status yang berbeda, yah hanya demi menuruti keinginan si ibu hamil yang ingin makan bakmi ayam di depan sekolahnya, dan kebetulan ayah dari si janin bersedia menemani.
Beberapa bulan yang lalu, pak Maman sang pemilik kedai, masih berjualan di warung tenda nya, kini tenda pak Maman sudah menjelma menjadi kedai bakmi Ayam, tempatnya jadi lebih bersih, dan tentu saja lebih ramai pengunjungnya.
“Euleuh neng Riana ini teh?” tanya pak Maman ketika Riana menyapa sang pemilik kedai yang sedang menyiapkan pesanan pelanggan.
“Iya pak,”
“Sendirian aja neng?”
Tanya pak Maman, yang tentu saja membuat Brian gondok setengah mati, karena pak Maman tak menyadari kehadirannya.
“Berdua pak, nih sama bapaknya anak saya.” Riana menunjuk Brian yang berdiri seperti patung lilin di belakangnya.
“Si eneng mah, bilang atuh kalau sama suami, pake bilang sama bapaknya anak saya, padahal anaknya juga gak di ajak.” Timpal pak maman dengan logat sunda yang kental bercampur dengan logat betawi.
“Eh dibawa dong, nih.” Riana mengusap perutnya, “lagi ngidam nih, buatin yang spesial yah?”
Pak maman tersenyum ramah, “Siap neng, duduk aja dulu, bapak siapkan pesanan yang lain dulu.”
Suasana kedai memang masih agak ramai, walau jam tutup sudah hampir tiba, dan tentu saja mereka langsung menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung lain, karena wajah tampan Brian memang tak seperti pria Indonesia kebanyakan, begitu pula Riana dengan rambut kecoklatan dan mata biru nya.
Riana mengangguk kemudian memilih kursi di tengah ruangan, karena tepat di bawah kipas angin.
__ADS_1
Brian hanya mengikuti kemana Riana melangkah membawanya, walau bukan pengalaman pertamanya berkunjung ke Jakarta, ini pertama kalinya makan di kedai kecil, di pernikahannya terdahulu Brian pernah beberapa kali diminta papa Roger menemani Riana ke Jakarta, tentu saja ia memilih restoran sebagai tempat memanjakan lidah, bukannya kedai kecil di pinggir jalan.
Riana tampak enjoy berkeliling kedai, ia merasa sedang berada di rumahnya sendiri, Pak Maman sangat senang ketika dulu ia dan teman temannya melepas penat dan lelah belajar sejak siang hingga sore di kedai.
Bahkan di salah satu sudut dinding, ada foto Riana dan teman temannya kala itu, Riana dan teman temannya di hari terakhir sekolah, Riana tersenyum menatap foto tersebut, indahnya masa remaja.
Riana tak menyadari Brian yang tiba tiba berdiri di belakangnya, wajahnya masih terlihat kaku dan menyebalkan, “Bisa jelaskan kenapa kamu duduk dikelilingi laki laki?”
Riana keheranan menatap Brian, yang entah kenapa seperti pindah ke dimensi lain, yakni kembali menjelma menjadi suami posesif, di foto tersebut, Riana sengaja menggerai rambutnya, kemudian menata kacamatanya di atas kepala, senyumnya terlihat lepas bahagia tanpa beban, entah bahagia setelah menyelesaikan sekolahnya, atau bahagia karena ini momen terakhir ia berfoto bersama teman teman sekelasnya.
“Pertanyaan tidak penting,” gerutu Riana singkat.
“Tapi aku ingin tahu jawabannya?”
“Harus dijawab?”
Riana menghembuskan nafas jengah, malas sekali menghadapi Brian yang sedang mode posesif seperti saat ini.
“Tidak ada yang spesial, hanya saja saat itu, mobil jemputan ku sudah datang, jadi ketika teman teman memanggilku, tempat yang tersisa adalah di kursi depan itu, sementara anak laki laki ingin duduk di bawah, jadi terlihat seakan akan aku seperti Ratu yang dikelilingi para pengawal.”
“Lagian kamu kenapa sih? aneh banget, tak ada kewajiban kali aku menjelaskan seperti apa aku di masa lalu, ingat pernikahan ini hanya sandiwara.” gerutu Riana yang kemudian berbalik menuju meja.
‘Yah, benar Brian, ingat hanya sandiwara’.
‘Tapi sandiwara yang mulai membuat hatimu resah, perasaan mu kian gelisah, sepertinya kamu juga menunjukkan tanda tanda cemburu buta, ha ha ha ha …’
Lagi lagi Brian mendengar suara hatinya berperang.
__ADS_1
Bakmi pesanan mereka tiba beberapa saat kemudian, Riana mulai menikmati kembali rasa yang terekam dalam memori masa mudanya, masa yang tak mungkin kembali datang, mengingat waktu tak mungkin berputar ke belakang, sama seperti kata kata yang sudah terlontar, atau batu yang sudah terlanjur dilemparkan ke air, begitu lah hakikat sebuah penyesalan.
Rasanya seperti menemukan oase di padang pasir, ketika seorang ibu hamil mendapatkan apa yang sedang ia idam idamkan, begitulah perasaan Riana saat ini, wajahnya berseri seri bahagia kala menikmati seporsi besar bakmi ayam favoritnya semasa sekolah dahulu, energi itu pula lah yang menyihir Brian, hingga Brian pun ikut makan dengan bahagia, karena melihat sang istri mendapatkan apa yang di idamkannya.
Rupanya, ngidamnya Riana tak cukup bakmi ayam, karena beberapa menit setelah menghabiskan seporsi besar bakmi ayam, Riana kembali mendatangi pasar malam, atas rekomendasi dari sopir taxi biru yang mengantar mereka.
Hari menjelang malam ketika mereka tiba di food culinary festival, sebenarnya Riana sudah tak menginginkan makanan apapun, dia hanya ingin menikmati keramaian, mungkin saja di tengah perjalanan nanti, ia bertemu sesuatu yang menggoda untuk di santap, dan lagi ia masih dongkol dengan daddy dari bayinya, jadi riana putuskan untuk mengerjai Brian, menguji seberapa sabar Brian bisa membersamai masa ngidam bayi kesayangannya.
Riana terus berjalan, dan hatinya cukup tersentuh, karena Brian hanya mengikutinya tanpa protes, melihat pernak pernik, termasuk mencoba beberapa wahana permainan, semua Riana lakukan walau sedikit terpaksa Brian melakukan apa yang di minta Riana.
“Belum juga lelah?” tanya Brian yang mulai resah dengan kondisi Riana, mengingat terakhir kali ketika kencan pertama mereka dahulu.
“Belum.” jawab Riana santai, seraya melahap potongan batagor terakhirnya.
“Ingat ketika kamu kelelahan?”
“Iya, aku ingat sekali, kamu khawatir kalau, tiba tiba aku lelah dan kamu terpaksa menggendongku?”
“Bukan itu masalahnya, ketika terakhir kali kamu kekenyangan dan berakibat memuntahkan semua yang kamu makan?” Brian kembali mengingatkan, ia tak keberatan menemani dan mengabulkan semua yang diinginkan bayinya, tapi ketika semuanya keluar dan terbuang sia sia, tentu akan berakhir, tak ada nutrisi yang masuk.
Tapi Riana mendadak salah paham dan jadi semakin muram mendengar perkataan Brian.
“Sejak sebelum naik pesawat, aku sudah mengatakan padamu, Armand akan menemaniku, tapi kamu memaksa ikut, dan sekarang menggerutu,” Riana mulai menaikkan intonasi nada bicaranya.
Brian sungguh terkejut mendengarnya, “Bukan begitu maksudku,” Brian masih mencoba menjelaskan, jika biasanya ia akan langsung tersulut amarah, tapi menghadapi Riana kali ini membuatnya tak berani membalas perkataan Riana.
Tiba tiba Riana menangis, “Aku bahkan tak meminta pertanggung jawabanmu, tapi kamu yang memaksakan pernikahan ini.”
__ADS_1