Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 68


__ADS_3

BAB 68


“Ri … kenapa tak membangunkan aku? ayo kita kembali kekamar.” ujar Brian seraya membantu Riana berdiri, namun Riana seperti enggan beranjak, tatapannya terus mengarah ke sudut ruangan, meski tubuh nya sudah berputar berlawanan arah.


“Kenapa?” Brian kembali bertanya dengan sabar, namun tanpa ia sangka air mata Riana menetes begitu saja, bahkan hidung Riana nampak kemerahan seperti sudah sejak lama menahan tangis, “kamu baik baik saja?”


“Iya, aku baik baik saja,” jawab Riana serupa orang ling lung, namun hal itu tak berlangsung lama, “Apa kamu tidak melihat kedua anak itu?” pekik Riana, jari tangannya menunjuk ke salah satu sudut ruangan pantry, namun Brian tak melihat apapun ke arah yang ditunjuk Riana.


“Anak yang mana? aku tak lihat apa apa di sana.” jawab Brian,


“Dua anak itu, anak laki laki dan perempuan, mereka sedang berbicara, tapi aku tak dengar apa yang mereka bicarakan.” Riana kembali menjelaskan apa yang ia lihat, “Bahkan sekujur tubuh anak itu memar kebiruan, kasihan sekali dia,” Riana menangis terisak.


“Iya baiklah … aku akan menolong mereka, tapi kamu harus istirahat dulu, hmm…?” Brian kembali mencoba peruntungannya membujuk Riana.


Kemudian Brian bergegas menggendong Riana ala bridal style, kembali ke kamar mereka, tak peduli Riana yang terus menangis memintanya menolong kedua anak tersebut, Brian hanya bisa mengiyakan permintaan Riana, sampai Riana benar benar tenang, dan kembali terlelap.


Namun bahkan dalam tidurnya pun Riana masih tak tenang, tubuhnya berkeringat dan ia terus mengigau tak jelas, wajahnya bergerak kekiri dan ke kanan sementara hembusan nafasnya tak beraturan.


“Kak … aku takut … Jangan pergi jangan tinggalkan aku sendirian di sini …” ucap Riana dengan mata terpejam, dan air mata yang terus mengalir sementara tangannya menggapai seolah ingin di genggam.


Brian semakin tak mengerti apa yang kini tengah dirasakan Riana, jika boleh berkata ia sendiri tak mengerti apa yang tengah Riana alami, kemudian Brian menggenggam erat tangan Riana, “Aku tak akan pergi, percayalah, aku tak akan beranjak kemanapun, tak akan bisa lagi karena hatiku sudah terikat padamu, jangan khawatir.”


Brian mengusap kepala Riana perlahan, “apapun mimpi buruk yang kamu alami, itu akan segera berakhir, dan kamu akan menemukan aku tetap berada di dekatmu hingga kamu terjaga esok hari,”


Seperti sebuah mantra ajaib, kalimat Brian itu berhasil menenangkan Riana, hingga ia kembali terlelap dengan tetap menggenggam tangan Brian.


Dan memori itu mulai tertiup, tak peduli ia harus menabrak dinding penghalang, perlahan bergulir tanpa henti, tapi ia akan mengungkap sebuah fakta besar yang selama ini disembunyikan dengan rapat, kemalangan dan kesedihan yang menimpa, akibat dari rasa putus asa, keserakahan, cemburu serta rasa bersalah, meskipun diapit oleh kegelapan yang masih menyelimuti, harapan mungkin masih ada, meskipun di dalamnya akan bertemu dengan sebuah akhir, entah akhir bahagia atau kedukaan, gadis kecil dalam ingatan Brian terus memohon dan terus memohon.


.


.


.


Wajah Riana sumringah bahagia manakala Brian membimbing tangannya menuju mobil, sesuai janji Brian pagi ini usai sarapan, Brian akan membawa Riana kembali ke kota.


“Tunggu sebentar yah, ada yang ingin ku tanyakan pada paman Liam,” ucap Brian ketika memastikan Rian duduk dengan nyaman sebelum mobil bergerak.


Riana menganggguk, “Jangan lama lama.” pinta Riana yang kemudian di jawab Brian dengan anggukan.


Dari dalam mobil, Riana melihat Brian berbincang serius dengan paman Liam, entah apa yang mereka bicarakan, hampir 20 menit barulah Brian kembali ke kursi kemudinya, itu pun setelah Riana membunyikan klakson.

__ADS_1


Brian kembali kekursi kemudi kemudian memasang belt nya, senyum jailnya terpampag jelas, ketika melihat wajah Riana yang cemberut akibat terlalu lama menunggu, Brian melepas kembal belt nya, kemudian menangkup kedua pipi Riana, “Iiiihhh gemes … jangan cemberut terus, kenapa?”


“Lama.” jawab Riana dengan wajah cemberutnya.


“Kangen?”


“Nggak lah … kegeeran …” 


“Iya juga gak papa, aku senang jika ada yang merindukanku, apalagi posesive padaku.” Jawab Brian seraya menaik trunkan alisnya.


sebuah kecupan singkat Brian hadiah kan pada Riana, “ayo kita pulang, atau mau pergi kemana lagi?”


“Pulang.” jawab Riana singkat ketika Brian melepas kedua pipi telapak tangannya.


Mobil bergerak perlahan, “Selamat jalan tuan dan nyonya, sering seringlah kemari, kami senang menyambut kedatangan kalian,” ucap paman Liam ketika mobil berhenti sesaat di hadapan paman Liam.


Dari pantulan kaca spion Riana melihat paman Liam melambai.


Brian kembali menggenggam tangan Riana sepanjang perjalanan, tak ada yang mereka bicarakan, termasuk kejadian semalam, Brian tak ingin mengusik mood Riana, bisa gawat urusannya jika sang istri kembali gelisah bahkan mencercau tak jelas seperti semalam.


Beberapa saat kemudian Riana sudah terlelap, sementara Brian mengemudi seorang diri, dikecupnya tangan mungil yang sejak tadi ia genggam, kini waah Brian kembali ke mode asli, cemas luar biasa melihat kejadian baru yang Riana alami semalam.


Teringat kembali pembicaraan singkatnya dengan paman Liam sesaat sebelum mereka meninggalkan rumah peristirahatan.


###


“Silahkan tuan muda, apapun akan saya jawab.” Jawab paman Liam.


“Apakah dulu ada sepasang anak laki laki dan perempuan yang tinggal di rumah ini?”


“Saya kurang tahu tuan, tapi pengurus Rumah tangga sebelumnya pernah mengatakan padaku, bahwa dulu pernah terjadi kebakaran di rumah ini, kebakaran hebat yang membuat sebagian besar rumah hangus, bahkan menewaskan tuan Ronald adik dari papa anda, setelah itu rumah ini di renovasi dengan menghilangkan beberapa ruangan di bagian belakang.”


“Lalu?” 


“Maaf tuan, hanya itu yang saya tahu, selebihnya saya tidak bisa menjawab, termasuk kemungkinan kehadiran anak laki laki dan perempuan di rumah ini, karena pengurus rumah sebelumnya tak pernah memberikan informasi yang anda tanyakan tersebut.”


###


Brian mengusap wajahnya kasar, membuang dan menarik nafas perlahan, mencoba kembali mencerna apa yang baru saja dia alami, informasi paman Robin beberapa hari lalu, serta bayangan sepasang anak kecil yang di lihat oleh Riana, mungkinkan anak kecil dan bayangan Riana sama seperti sepasang anak kecil yang sering lihat dalam mimpinya? 


Jika hal itu benar adanya, maka ada kemungkinan apa yang paman Robin ceritakan pasti memang demikian adanya, dan sepasang anak kecil itu adalah … dirinya sendiri dan RIANA.

__ADS_1


Dada Brian kembali bergemuruh, jika benar apa yang kini sedang membayangi pikirannya, maka itu berarti ia dan Riana adalah korban.


Tapi jika konflik ini bermula dari masalah kedengkian Ronald pada kakak kandungnya yang memiliki calon penerus, kenapa Riana harus terlibat di dalam konflik keluarga Gustav Agusto? harus kah Riana juga di libatkan di dalam masalah yang seharusya tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga Gustav Agusto.


Brian menghembuskan kasar nafasnya.


PLAK …


Telapak tangannya memukul kendali mobil, berbagai macam dugaan mulai membuat kepalanya berdenyut pelan, tak ingin mengalami kecelakaan, Brian menepikan sesaat mobilnya.


Brian menandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, pelan pelan matanya terpejam, rupanya Brian benar benar terlelap, karena semalam ia kehilangan sebagian jam tidurnya karena menjaga Riana yang terus mengigau dalam tidurnya.


###


“Kamu … memang anak yang tak seharusnya hadir, karena kehadiranmu akan menhalangi langkahku.”


Suara itu pelan, halus, tapi menakutkan dan mengancam, sementara anak kecil itu terdiam, gemetar ketakutan, karena ia tak bisa melawan atau melakukan apapun, bukan salahnya lahir ke dunia, bukan salahnya pula jika ia ditakdirkan menjadi keturunan terakhir keluarga Gustav Agusto. 


“Tanpa kehadiranmu, aku lah yang akan menjadi penerus keluarga ini.”


“Tanpa kehadiranmu, aku akan tetap menjadi anak emas dan anak kesayangan, kedua orang tuaku.”


“Kehadiranmu … membuat kasih sayang dan perhatian mereka beralih padamu,”


“Perhatian kedua orang tuaku, dan perhatian kakak ku.”


“Dalam dunia mereka kini hanya bertumpu, kebahagiaan dan kebanggaan padamu, yang pintar dan sempurna.”


“Di pundakmu semua harapan mereka bertumpu.


“Hadirmu, adalah kebahagian dan anugerah besar bagi mereka,”


“Tapi bagiku, hadirmu adalah musibah, dan kesialan terbesar.”


.


.


.


ada yang bisa menebak? komen sebanyak banyaknya yes 🤓🥰

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan tanda cintanya gaes, like, vote, kembang, atau kopi, yang mana saja ✌️💃


sarangeeeeeeee 😘


__ADS_2