
BAB 100
"Mom… sudah, aku kenyang." Tolak Briana tegas, ketika lagi lagi Riana memaksanya menghabiskan potongan brokoli rebus dari piring kecilnya.
Satu bulan berlalu sejak tragedi kecelakaan Bee, akhirnya liburan ke Jepang pun dibatalkan, dan masa cuti Brian dan Riana dihabiskan di Penthouse mereka, menemani Bee, memberikan semangat padanya agar tak minder dengan kondisi kaki nya, yang mungkin akan memiliki bekas luka permanen.
Kedua orang tua Bee sengaja tak memberitahukan, bahwa kini dengan kecanggihan teknologi kesehatan, menghilangkan bekas luka, bukanlah hal yang sulit, seperti sulap, nyaris tak akan ada yang tahu bahwa seseorang pernah cacat di masa lalu.
Brian dan Riana mengajarkan pada putri kecil mereka agar Bee menjadi pribadi yang percaya diri, dan tak malu hanya karena bekas luka di betis dan paha nya.
"Satu lagi sayang…" Riana coba merayunya.
Tapi Bee memasang jari telunjuk di depan wajahnya sebagai tanda final sebuah penolakan, sama persis seperti Roger sang kakek jika menolak sesuatu dengan tegas.
Riana tersenyum, rasanya rindu sekali membicarakan hal hal random dengan papa mertuanya, Riana pernah merasakan menjadi menantu yang sangat disayangi oleh papa mertuanya tersebut, dan kini tiba tiba ia rindu.
"Mom… kenapa melamun?" Tanya Bee yang tiba tiba melihat sang mommy melamun, dengan raut wajah sedih nya, "baiklah baiklah, demi mommy aku akan habiskan blokoli ini," Briana kecil yang manis, sungguh mirip dengan daddy juga, dia akan melakukan apa saja agar Riana kembali tersenyum.
Riana tersenyum, kemudian membawa Bee ke pangkuannya, memeluknya dengan erat seakan akan Bee adalah harta terakhirnya, "terima kasih sayang, mommy sangat menyayangimu."
"Mom… kapan daddy pulang?" Rengek Bee tiba tiba.
Hal yang wajar, mengingat sudah tiga minggu sejak cuti nya berakhir, Brian kembali ke Singapura, dan hingga kini masih terkurung di antara padatnya aktivitas.
"Entah sayang, daddy belum bilang kapan akan pulang,"
Bee.Tech perusahaan yang Brian rintis dari nol tersebut semakin besar, terhitung sejak Bee.Tech menandatangani kontrak kerja sama dengan Twenty Five Hotel dan Orland Ice, dua raksasa di bidang properti, Hotel, dan pariwisata, dan beginilah… intensitas pertemuan mereka pun semakin berkurang.
__ADS_1
"Aku kangen daddy mom."
"Iya mommy juga, mau vidio call daddy?"
"Mau…" Jawab gadis itu penuh semangat.
"Sebentar yah… mana nomor telepon daddy yah?" Gumam Riana, jari jari nya terus bergulir menelusuri layar ponselnya.
Tapi, beberapa saat kemudian, Riana menggeleng lemah, "Daddy sibuk ya mom?" Tanya Bee dengan mata berkaca kaca.
"Iya sayang, coba mommy telp paman Fabian."
Riana mengusulkan sebuah alternatif.
Tapi lagi lagi ia menggeleng.
.
.
.
Sementata itu, didalam sebuah pesawat pribadi, seorang pria nampak tak bisa berhenti tersenyum, lagi lagi ia berinisiatif memberi kejutan pada keluarga kecilnya, terlebih kini ia membawa berita bahagia yang telah lama mereka tunggu.
Semua bermula ketika tiba tiba tiga hari yang lalu, mendadak ia mual dan pusing hanya gara gara mencium aroma parfume asistennya, padahal parfume itu adalah hadiah ulang tahun darinya, karena mual dan pusingnya, Fabian harus rela pergi bekerja tanpa menggunakan parfume, keadaan itu terus berlangsung hingga hari ketiga, kali ini ia harus rela menunggu di depan sebuah restoran rumah makan padang sejak jam enam pagi, padahal restoran tersebut baru buka jam sembilan, entahlah, Brian sendiri merasa bahwa tingkahnya bukan hanya konyol, tapi juga sangat bodoh, ia bahkan tak peduli dengan keadaannya yang masih mengenakan piyama.
Fabian yang menunggu sang atasan di kantor, sampai harus dibuat mengelus dada, karena Brian benar benar baru tiba di kantor dan siap bekerja di jam dua siang, karena usai kekenyangan makan masakan padang, Brian kembali tertidur di mansionnya.
__ADS_1
"Tuan… Entah mengapa saya seperti merasa, pernah mengalami kejadian ini."
Fabian memberanikan diri mengungkapkan apa yang ia rasakan.
"Hanya saja, dulu anda mual mencium aroma parfume Grace, dan anda hanya bisa makan ketika berada di dekat nyonya."
Brian menghentikan kegiatannya menandatangani dokumen, tiba tiba ia berdebar tak jelas, "ayo kita temui dokter, jika perkataanmu benar aku akan memberimu bonus dua bulan gaji."
"Benarkah tuan?"
"Iya… tapi jika firasatmu salah maka kamu harus…"
"Jangan tuan, jangan potong gaji saya, baiklah, anggap saja saya tak pernah berkata, anggap saja saya mendadak bisu." Sebelum sempat Brian menyelesaikan ucapannya, Fabian sudah menyela ketakutan, dia hanya bawahan, jika Brian memberinya bonus lebih itu merupakan anugerah, tapi jika gajinya yang tak seberapa harus dipangkas, maka itu seperti musibah baginya.
"Hahaha…" Brian tertawa keras mendengar kalimat asistennya, sejak kembali mendapatkan ingatannya, Brian kini tak segarang dulu, ia menjadi lebih lembut dan mudah tertawa, tapi tetap saja Fabian belum terbiasa dengan perubahan sang atasan.
"Aku akan tetap memberimu bonus dua bulan gaji, karena kamu sudah mengurus Gustav.Inc dengan baik."
"Benarkan tuan? …" Tanya Fabian antusias.
Brian mengangguk, ia membetulkan kembali kancing tuxedonya, kemudian berjalan meninggalkan ruangan, "Bawa semua berkas berkas itu, dan kita temui dokter sebelum aku ke Jakarta, aku sudah tak sabar menemui istri dan anakku."
.
.
.
__ADS_1
yang menanti CLBK, nantikan esok di jam kunti.