Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 45


__ADS_3

BAB 45


Riana memejamkan mata nya, sungguh lelah fisiknya, diperberat dengan lelah pikirannya, karena baru saja keluar dari ruang operasi, serta ada kondisi darurat yang mengharuskannya melakukan pertolongan pertama di emergency room.


Kondisinya yang sedang hamil, membuat pergerakannya tak selincah dulu, itu pun sudah dibantu dengan keberadaan Rodrigo, serta beberapa rekan sejawatnya, tapi Riana harus pasrah manakala ada tindakan khusus yang memang mengharuskan Riana sendiri yang turun tangan secara langsung, jika sudah begini, tak peduli bahwa ia adalah cucu dari pemilik rumah sakit, atau istri dari konglomerat terpandang di Singapura, kamu tetaplah seorang dokter dengan tanggung jawab penuh di rumah sakit.


Mobil yang dikendarai Armand memasuki halaman mansion mewah keluarga Gustav Agusto, dan seperti Biasa paman Robin sudah menanti kedatangan sang nyonya muda dengan senyum ramah.


“Selamat sore paman…” 


“Selamat datang nyonya.”


Riana pun tersenyum manakala paman Robin membukakan pintu utama untuknya. 


Sejenak Riana duduk di sofa ruang tamu meluruskan kaki kakinya yang pegal, “Paman aku ingin segelas jus segar.”


“Baik nyonya,” 


Paman Robin menuju dapur dan kembali dengan membawa pesanan Riana, tak lupa sepiring buah buahan segar, seperti pesan Brian, agar sering sering membawakan camilan buah agar Riana dan juga bayinya selalu sehat.


“Terimakasih paman,” 


Paman Robin hanya mengangguk, sebagai balasan ucapan Riana.


“Oh iya nyonya, tadi ada kiriman paket untuk anda.”


“Paket? dari siapa?” tanya Riana, karena ia sama sekali tak merasa melakukan pembelian secara online.


“Tidak ada nama pengirimnya nyonya, tadi hanya dititipkan di security, oleh seorang kurir yang enggan menyebutkan namanya.”


Riana memicingkan kedua matanya, tapi tak ada kecurigaan sedikitpun, Riana memegang paket tersebut dengan kedua tangannya, agak berat, kemudian Riana meraba sisi sisi kotak berbentuk kubus tersebut, paket yang aneh karena boxnya menggunakan bahan alumunium yang tertutup rapat.


Dengan bantuan paman Robin, Riana membuka bungkusan misterius tersebut.


Paman Robin berjingkat terkejut, ketika melihat isi dari bungkusan tersebut, seumur hidup ini pertama kalinya ia melihat pemandangan menjijikkan sekaligus sadis.


Tapi tidak demikian dengan Riana yang sudah terbiasa melihat darah, bahkan sering membedah tubuh manusia, jika hanya melihat bangkai kucing yang sudah terpotong menjadi beberapa bagian, Riana tidaklah gentar.


“Paman, tolong panggilkan Armand,” 

__ADS_1


Paman Robin bergegas keluar Karena Armand masih bersiaga di depan pintu utama.


Tak lama paman Robin dan Armand datang bersamaan, “Ada apa nyonya?” tanya Armand khawatir.


Armand kini terbiasa memanggil Riana dengan sebutan nyonya, karena Brian kerap memarahinya jika Armand salah sebut.


Riana menyodorkan bungkusan yang baru saja ia terima pada Armand, sama seperti paman Robin, Arman pun berjingkat karena terkejut, ia bahkan menjatuhkan kotak yang semula berada di tangannya ke lantai, kemudian reflek menutup hidung dan mulutnya menggunakan telapak tangannya, karena mencium aroma daging yang mulai membusuk.


“Ulah siapa ini nyonya?”


“Kalau aku tahu, aku tak akan meminta bantuanmu,” jawab Riana datar, rasa lelah nya musnah seketika, kini berganti dengan curiga dengan setiap kemungkinan, dan setiap orang yang mungkin berpotensi menjadi tersangka pengirim teror recehan seperti ini.


“Selidiki itu, bila perlu hubungi Hans, waktumu 24 jam.” perintah Riana, tidak dengan suara keras, apalagi paksaan, tapi pelan dan tegas.


#siapa Hans, ia adalah anak buah Andy.


#ada yang ingat siapa Andy? jika kalian menjawab Andy sang sniper kepercayaan Alex, jawaban kalian benar sekali.


#kalau lupa, baca lagi Sepasang Mantan (Alex dan Stella)😁✌️


“Baik nyonya,” Armand bergegas meninggalkan mansion, guna menemui Hans yang kini menempati markas yang andre siapkan di basement Twenty Five Hotel.


“Bisa nyonya, tapi … “


“Tapi apa paman?”


“Saya takut, pelaku mengincar keselamatan anda.”


Riana tersenyum, “setelah mendengar kabar ini, aku yakin sepupuku tak akan tinggal diam, dia pasti meningkatkan jumlah pasukan khusus untuk  mengawalku, paman tidak usah khawatir, siapapun dia, yang pasti dia adalah seseorang yang belum cukup mengenalku.”


Paman Robin tersenyum kaku, ada kekhawatiran di dalam senyumannya.


“Kita tunggu dua hari kedepan, jika setelah dua hari Armand belum juga menemukan pelakunya, kita akan beritahu Brian.”


Paman Robin mengangguk patuh.


Riana menyambar gelas jus nya, kemudian berjalan menuju kamar utama, tapi Riana jadi teringat sesuatu.


“Oh iya paman, apa Alicia dulu juga menerima teror semacam ini?” 

__ADS_1


“Seingat saya … tidak pernah nyonya.”


Riana hanya mengangguk anggukan kepalanya, kemudian menutup pintu kamarnya.


Sejenak ia berpikiran gila, bahwa kecelakaan Alicia bukanlah kecelakaan sungguhan, melainkan rekayasa, alias pembunuhan berencana.


Tapi jika itu benar adanya, pasti akan segera ketahuan, karena di mansion ini ada banyak kamera CCTV tersembunyi.  


Riana berbaring di tempat tidurnya, seraya mengusap bayinya yang setiap hari tumbuh besar dan aktif, “Tidak papa nak, mommy tidak takut, setiap hari mommy bahkan melihat yang lebih parah dari itu, bahkan mommy masih bisa menyempatkan makan di tengah tengah operasi, kamu juga harus jadi pemberani yah?” 


Riana terus mengajak bayinya berbincang, hingga matanya terpejam dalam pelukan lelah.


.


.


.


Pagi hari sebelum paket misterius tiba di kediaman Gustav Agusto.


Orang itu tersenyum setelah melakukan aksinya di ruangan remang remang tersebut, namun jika ada yang melihat nya saat itu, senyumnya terlihat bengis dan penuh kebencian.


Orang itu menatap kucing anggora yang sudah ia mutilasi dengan sadis, kemudian memindahkannya ke dalam kotak berbahan alumunium agar bisa ditutup rapat dan tak berbau, demi meminimalisir kecurigaan.


Dulu ia bisa menyingkirkan Alicia dengan mudah, karena terbukti anak dalam kandungan Alicia bukanlah anak Brian, melainkan anak dari kekasih gelapnya Alicia, dan ia bisa memanfaatkan hal itu untuk meneror Alicia.


Hampir setiap hari ia mengirimi Alicia sebuah pesan singkat misterius, semuanya terasa begitu mudah, karena Brian sering bepergian untuk urusan bisnis, membuat Alicia sangat mudah ditakut takuti dengan ancaman bahwa ia akan membeberkan fakta sebenarnya, bahwa ia tahu siapa ayah biologis dari bayi yang berada dalam kandungannya.


Hanya dengan alasan itu saja orang itu mampu menyingkirkan Alicia dengan mudah tanpa mengotori tangannya.


Semua rencananya berjalan mudah ketika kekasih Alicia kembali ke Singapura, setelah menghilang selama beberapa bulan, Anggap saja orang itu beruntung, karena suatu ketika ia tak sengaja mendengar Alicia berbincang dengan salah seorang rekannya yang sama sama berprofesi sebagai waiters di sebuah bar, Alicia mengatakan bahwa ia tidak ingin kekasih gelapnya mendengar kabar kehamilannya, karena ia sudah menutup rapat masa lalunya, dan sebentar lagi akan resmi menjadi istri Brian Gustav Agusto, pria yang sejak lama ia cintai, namun terpaksa menikah dengan wanita lain yang dipilihkan oleh ayahnya.


Sebagai wanita normal, wajar rasanya jika ia cemburu dan kecewa pada Brian yang tak mampu memperjuangkan cinta mereka, hingga membuat Alicia nekat bermain api di belakang Brian, tanpa tahu bahwa Brian benar benar tulus mencintainya, hingga rela menyakiti wanita yang berstatus sebagai istri sahnya.


Kejadian naas itu bermula ketika usia kandungan Alicia menginjak bulan ke delapan, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya, pesan singkat dengan bahasa ambigu, bahasa yang hanya bisa dipahami oleh Alicia dan si pengirim pesan misterius.


Usai membaca pesan singkat tersebut, wajah Alicia pucat pasi, dadanya bergemuruh hebat, tak ingin perjuangannya berakhir sia sia, Alicia berjalan cepat menuruni tangga, saat itu Brian dan Alicia menempati kamar Brian di lantai dua, karena Alicia tak nyaman jika menggunakan kamar utama yang sebelumnya di huni oleh Roger, ayah Brian, tapi malang bagi Alicia, karena panik, ia tak memperhatikan langkah kakinya, kakinya tak berpijak dengan benar hingga membuat tubuhnya tergelincir lalu berguling di tangga.


Kini orang itu harus bermain lebih cantik agar Riana juga bisa ia singkirkan tanpa perlu mengotori tangannya, karena kali ini ia harus menelan kecewa, ternyata bayi dalam kandungan Riana benar benar berasal dari benih milik Brian, “hadiah ini, akan menjadi teror pertama untuk Riana.” ujarnya dengan tawa jahat.

__ADS_1


__ADS_2