
BAB 59
Sabtu yang indah versi Brian, Brian merasa hari Sabtunya kali ini sangat istimewa, bahagia dengan semua yang ia lakukan bersama Riana yang terus tersenyum malu malu, bahkan sesekali ia tertawa lebar, sungguh pemandangan indah yang menyejukkan pandangannya.
Pagi tadi usai sarapan, Riana bersandar manja di pelukannya sementara Brian membacakan buku untuk bayi mereka, sesekali mereka berdebat mengenai cara baca, kadang mereka berdialog memerankan dua tokoh di buku yang sedang mereka baca, hingga tanpa terasa mereka membaca buku sampai siang datang menjelang.
Brian menghentikan aktivitas baca, karena ia ingin menyegarkan diri dengan berenang.
Perdebatan kembali terjadi karena Brian baru tahu jika Riana tak bisa berenang, namun Brian memaksa bahkan menceburkan Riana ke kolam, bingo … sepanjang di dalam kolam Brian serasa mendapat jackpot karena Riana terus menempel dan memeluk lehernya, Brian bahkan sengaja berada di tengah kolam, sama sekali tak menepi agar Riana terus berada di pelukannya, semakin Riana berteriak ketakutan, bahkan kadang memakai dan mengancam, Brian semakin senang, bahkan paman Robin ikut tersenyum bahagia melihat anak dan menantu majikannya tampak rukun.
Setelah tiga puluh menit berlalu, Brian pun membawa Riana ke tepi kolam, "ish … dasar menyebalkan." Gerutu Riana, ketika Brian menyeringai.
Brian seperti tak mau tahu jika Riana sedang marah terhadapnya, ia mengekor di belakang Riana yang sedang berjalan mengambil handuk untuk mengeringkan tubuh dan bajunya yang basah, Brian mengambil alih handuk di tengah Riana, kemudian mulai mengeringkan rambut dan wajah cemberut sang istri, seakan tak peduli dengan Riana yang sedang marah, Brian justru menghujani wajah menggemaskan Riana dengan ciuman, kemudian berlutut dan menciumi perut Riana yang kini tampak transparan dari balik gaun rumahannya, "baby … nanti belajar berenang sama daddy yah?" Bisik Brian yang kemudian dibalas dengan tendangan lembut oleh si baby, "good … kita sudah sepakat yah, sehat sehat di dalam, Daddy sudah tak sabar berjumpa denganmu baby." bukan hanya usapan Brian yang membuat Riana terenyuh, tapi juga hangatnya sikap Brian pada bayi mereka.
Riana yang semula ingin marah, tiba tiba terdiam bahkan amarahnya menguap begitu saja, tentu saja karena melihat interaksi Brian dengan bayi mereka, begitu tulus dan manis, membuat Riana ingin waktu saat ini berhenti sesaat, ia takut jika waktu terus berjalan, takut jika Brian akan kembali seperti dulu, entah bagaimana ia menjelaskan pada anak mereka nanti, jika Brian tiba tiba berubah, tak lagi bersikap manis seperti Brian saat ini.
#nah loh oleng gak tuh Riana? pasti oleng … emang kok, si mantan duda emang gak main main rayuannya 🤓🤪
.
.
.
Malam menjelang, setelah memastikan Riana terlelap, Brian diam diam meninggalkan kamar, rasa penasaran masih mengusik nya, apa sebenarnya yang Riana lihat, hingga ia merasa tak nyaman kemudian berakhir pingsan.
Hal pertama yang Brian lihat ketika lampu menyala adalah foto kedua orang tuanya, papa Roger dan mama Delia, foto lama itu masih menggantung di atas perapian.
Brian menatap lama wajah mendiang mama Delia, sudah sangat lama, bahkan Brian merasa sudah melupakan wajah mendiang mama Delia, entah kenapa ia tak ingat memorinya bersama mama Delia ketika masih kecil, seakan akan semuanya hanyut bersama dengan kepergian mama Delia kala itu, mama Delia meninggal dalam kecelakaan ketika Brian masih berusia sepuluh tahun, hari itu Brian tersadar dari pingsannya, dan harus menerima kenyataan bahwa mama Delia sudah meninggal, ia hanya bisa menangis pilu, ketika satu satunya wanita kesayangan nya pergi tanpa sempat berpamitan, setelah itu Brian seakan lupa dengan memori indahnya bersama mama Delia.
Yang Brian ingat hanyalah, papa Roger sering membawanya berkonsultasi dengan seorang psikiater karena kondisi emosinya yang tidak stabil, papa Roger menghadapi semuanya seorang diri tanpa kehadiran mama Delia, semaksimal mungkin ia menjadi papa sekaligus mama bagi Brian, karena papa Roger tak pernah menikah semenjak kepergian mama Delia.
__ADS_1
Brian duduk di kursi kebesaran papa Roger, dan mulai membuka satu persatu lagi meja kerja tersebut, dan tepat seperti yang Riana katakan, dia menemukan album foto lama di laci paling bawah, halaman demi halaman ia buka, menurut Brian tak ada yang aneh, tapi Riana Bilang dia menemukan Foto papa Roger bersama seorang pria asing, Brian semakin penasaran karena ia tak menemukan foto yang Riana maksudkan.
Brian mengembalikan album foto di tempat semula, ia ingat di atas perapian ada brankas pribadi papa Roger, tapi Brian tak tahu apa isinya, karena ia tak pernah tertarik dengan isi didalamnya.
Tapi hari ini Brian penasaran, haruskah ia membuka brankas papa Roger, Brian pun melangkah mendekati perapian, ia menggeser lukisan kedua orang tuanya, alangkah terkejutnya Brian ketika menggeser lukisan kedua orang tuanya, rupanya di balik lukisan ada sebuah foto, Brian tidak ingat dengan jelas pria itu, karena melihat wajah pria itu membuat dada nya sesak, dan paru parunya seakan kehilangan energi untuk menghirup udara segar.
Brian kembali ke kamarnya, mencoba meredakan kegelisahan hatinya dengan kembali memeluk dan menghirup aroma tubuh istrinya, hingga sesaat kemudian dia merasa tenang, kemudian ikut terlelap.
#jadi siapakah pria jahat itu?
.
.
.
Senin kembali datang, dengan penuh semangat Grace memarkirkan mobilnya di halaman mansion, Walau Grace harus menelan kecewa karena Brian ingin menyelesaikan pekerjaannya di rumah, tapi ia cukup senang, karena hari ini akan kembali mengusik Riana di dalam wilayah teritorial wanita itu, Grace sudah berjanji, jika dirinya memang tak bisa memiliki Brian, maka Riana pun tidak akan pernah bisa, setidaknya Riana harus dibuat tidak tenang dengan kehadirannya di mansion, untuk membantu Brian menyelesaikan pekerjaan.
Pemandangan menyakitkan menyambut kedatangan Grace, baru saja Grace hendak menyapa Brian dengan senyum terbaiknya, pada awalnya Grace melihat Brian sedang duduk di kursi ruang tengah seorang diri, tapi siapa sangka Riana ternyata sedang bersandar nyaman di dadanya, menikmati sepiring buah potong, sementara Brian membacakan buku untuk bayi mereka, ingin menyapa tapi terlalu menyakitkan melihat pemandangan tersebut, ketika hendak berbalik, Grace justru berpapasan dengan paman Robin yang membawakan secangkir kopi untuk Brian.
Sapaan paman Robin membuat Riana dan Brian menyadari kehadiran Grace, sepasang pengantin baru yang sedang hangat hangatnya itu pun menoleh, dan alangkah puas Riana karena a sedang dalam posisi yang pastinya membuat Grace darah tinggi.
Kemudian Riana sengaja berbisik di telinga Brian, membuat Grace sakit mata seketika.
“Grace tunggulah kedatangan Fabian di ruang baca, aku harus menyelesaikan sesi membaca untuk bayi kami.” Brian menyampaikan apa yang baru saja Riana bisikkan.
Sekali lagi Riana berbisik, dan Brian pun mengangguk seperti kerbau dicocok hidungnya.
“Oh iya, jangan sekali kali keluar dari ruangan baca, jika tidak dalam kondisi darurat.” lanjut Brian ketika Grace hendak berbalik menuju ruang baca.
‘Ja lang si Alan, tunggu saja, karena sebentar lagi Brian akan kembali datang ke pelukanku’, maki Grace dalam hati.
__ADS_1
Riana tersenyum puas melihat wajah Grace yang ditekuk entah berapa kali, karena Brian sama sekali tak menganggap kehadirannya penting dan berarti.
“Kamu senang?” tanya Brian, setelah memastikan Grace memasuki ruang baca.
“Tentu saja, terima kasih sudah menyampaikan apa yang ingin ku katakan.”
“Kalau begitu Aku dapat hadiah apa?” tanya Brian penuh harap.
“Dasar tuan pamrih.” gerutu Riana, namun ia tetap melabuhkan kecupan di rahang Brian.
“Hanya ini?”
“Lalu kamu mau apa lagi?” sungut Riana.
Brian menyeringai menunjuk bibirnya sendiri, “Disini belum.”
Riana tersenyum malu, “tapi ini di ruang tengah bagaimana kalau ada yang melihat?” tanya Riana kikuk.
“Abaikan saja, mereka akan berpura pura tak melihat.”
Riana menoleh ke sekeliling memastikan keadaan aman, kemudian mendekat kan wajahnya, hembusan hangat nafas mereka saling beradu, dan …
“Selamat pagi nyonya dan tuan …”
Kedatangan Armand membuat suasana romantis pagi itu ambyar seketika.
.
.
.
__ADS_1
Tanda cintanya jangan lupa gaes, like, komen, vote seikhlasnya 🥰🤓
Sarangeeeeeeee 💜💜💜