
BAB 52
Bahagia, adalah sebuah rasa, sederhana, tak perlu mewah, apa adanya, tak perlu bersandiwara atau berpura pura, bisa menikmati tawa bersama senja adalah hal luar biasa mewah, Seperti perasaan Brian kali ini, melihat Riana menikmati sepiring rujak membuat ia merasa sangat bahagia.
Kedai kecil bernuansa pantai, adalah tempat yang Fabian pilih untuk sang nyonya muda yang tengah ngidam ingin menikmati rujak, mereka memilih kursi di luar kedai agar bisa menikmati rujak sambil melihat hilir mudik pejalan kaki, Riana sengaja meminta Fabian bergabung, walau Brian menolak keras, tapi Riana tak peduli, alasannya tentu sederhana, Riana tak ingin membicarakan hal hal pribadi menyangkut pernikahannya dengan Brian, dia lelah berdebat, belum lagi jika Brian marah seperti semalam, dan siang tadi tentu akan lebih mengerikan.
Pandangan Brian bahkan tak lepas dari Riana yang tengah memesan sendiri rujak yang sedang ia inginkan, dan sekali lagi bahagia tidak perlu mewah, orang yang berbahagia nampak jelas dari raut wajahnya, seperti itulah wajah Brian kala menatap Riana saat ini, Fabian bahkan mengabadikan momen tersebut dengan kamera ponselnya secara sembunyi sembunyi, kapan lagi ia bisa menyaksikan wajah tuan muda nya yang sedang tersenyum bahagia bersama sang istri.
“Bukan berarti kamu bisa bersikap seenaknya,” Bahkan Riana masih berada di dalam toko sedang memesan rujak, Brian sudah buru buru memasang garis pembatas, agar Fabian tak melewati batasannya.
“Baik tuan saya mengerti.” jawab Fabian. “Tuan, anda bahagia?”
Brian hanya tersenyum, entah apa yang harus dia katakan, rasanya untuk sesaat ia bisa melupakan semua beban di hatinya, termasuk kesedihannya karena pernah kehilangan istri dan anak, walau perlu waktu dua bulan untuk menyadarinya, kini Brian merasa Riana dan bayi mereka adalah obat yang tuhan kirim untuknya, walau Brian masih mempertanyakan, kenapa Tuhan masih berkehendak dirinya kembali rujuk dengan Riana.
Begitu cepat waktu berlalu, karena kini usia kandungan Riana sudah menginjak bulan ke lima, dan Brian pun tak lagi merasakan mual, pusing dan muntah seperti ketika masa awal kehamilan Riana, ‘semoga nanti anak kedua tak ada lagi syndrome seperti anak mereka yang pertama’, harap Brian dalam hatinya, sementara lagi lagi wajahnya tersenyum sendiri, setidaknya itulah yang Fabian tangkap.
‘Tapi eh tunggu … tunggu dulu … jangan buru buru menyimpulkan’.
Lagi lagi hati nurani Brian saling berdebat.
‘What? anak kedua?’
Brian terkejut dengan pemikirannya sendiri, anak pertama saja karena kecelakaan, apa mungkin dirinya bersama Riana bisa sampai memiliki anak kedua?
‘Bisa … yakin … pasti bisa … singkirkan egomu dulu, maka bahagia menanti kedatanganmu’
‘Yakin bisa bahagia, padahal kamu gak cinta?’
'Heh siapa bilang gak cinta? belum aja … aku yakin sebenar lagi’.
Kedua suara hati itu terus berdebat, seperti dua orang pengawas di hati dan pikiran Brian.
#bayangin aja Brian pake baju biru dan satu lagi Brian memakai baju merah 🤪
Riana kembali ke kursinya.
__ADS_1
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Riana ketika melihat tatapan yang Brian tujukan padanya.
Namun Brian hanya menggeleng seraya mengulum senyuman.
“Sejak tadi tuan seperti itu nyonya, dia tak mengalihkan tatapannya dari anda.”
“Mungkin dia perlu mengunjungi dokter mata, barangkali syaraf matanya bermasalah.”
Fabian terkekeh mendengar gurauan Riana.
Tak lama dua porsi rujak pesanan Riana tiba. “Fabian, kamu mau juga?” tawar Riana.
“Tak apa nyonya, saya belum lapar, dan lagi …” kalimat Fabian menggantung ketika melihat Brian menggeser Rujak milik nya kedadapan Fabian.
“Buatmu saja, aku ingin makan sepiring berdua dengan istriku.” ujar Brian tanpa mengalihkan tatapannya.
Sikap Brian yang Terlalu kentara, membuat Riana merasa risih, namun tidak demikian dengan Fabian, ia justru bahagia, diam diam ia berharap agar Brian melupakan rencana jahatnya pada Riana dan bayi mereka, siapapun bisa melihat dengan jelas tanda kepemilikan di leher Riana, dan itu sudah cukup membuktikan bahwa Brian mulai memiliki perasaan khusus untuk Riana, Brian mulai menandai Riana sebagai wanitanya.
Fabian tak melihat garpu di piring yang Brian sodorkan padanya, kemudian memindai tatapannya ke arah Brian yang kini memegang garpu yang seharusnya menghuni piring rujaknya, “Minta garpu lagi sana, jangan manja.” perintah Brian dengan mode ketus.
“Bukankan lebih baik segera buka mulut dan makan, daripada menghabiskan energi untuk sebuah penolakan?” Jawab Brian, yang memang sudah terbiasa ngeyel memaksakan kehendaknya.
‘Sabar Riana, ini salah satu resiko kembali menikah dengan Brian si brengsek yang pemaksa, menyebalkan, menjengkelkan, dan me …’
“Aw …” Tiba tiba Riana meringis memegangi perutnya, sedikit nyeri seperti sebuah tendangan halus.
“Kenapa? ada yang sakit, ayo ke rumah sakit lagi? Fabiaaaaan …” mendengar desisan Riana,untuk sesaat Brian merasa panik, hingga berteriak memanggil Fabian agar segera menyiapkan mobil.
Riana memegang lengan Brian, “Tenanglah, aku tidak apa apa, sepertinya dia menendang sekuat tenaga, hingga aku merasa sedikit nyeri.” Riana menjelaskan.
‘Apa karena sesaat lalu aku memaki Brian? dan bayi ini tak terima hingga memberiku peringatan keras.’ monolog Riana dalam hati
Brian terkesiap, telapak tangan nya memberikan usapan lembut pada perut Riana, hingga nyeri beberapa saat lalu menghilang dengan sendirinya.
Fabian datang kembali dengan garpu di tangannya, “Apa tadi tuan memanggilku?”
__ADS_1
“Iya tapi tidak jadi, cepat selesaikan makanmu dan kita pulang,”
Fabian hanya mengangguk patuh, ia berpindah meja, karena tak ingin jadi pengganggu di antara pasangan pengantin baru tersebut.
Beberapa saat kemudian, Brian kembali menyuapi Riana, kali ini Riana tak protes atau menolak, merasa dongkol, karena ia berdiri sendiri, ternyata bayinya mendukung sang daddy, sungguh menjengkelkan memang, dirinya yang hamil, membawa beban berat kemana mana, tapi Brian yang mendapatkan dukungan.
“Kenapa wajahmu cemberut begitu?” tanya Brian di tengah aktivitasnya, menyuapi, dan membersihkan saus yang kadang menempel di sudut bibir Riana.
“Tidak papa,” jawab Riana kali ini berubah mode menjadi ketus.
Riana pun melakukan hal yang sama seperti apa yang Brian lakukan, “No … letakkan garpu itu, dan biarkan aku menyuapi anakku.” Brian si pemaksa kembali memerintah.
“Buka mulut, biar tidak ngomel terus, aku pusing mendengar kalimatmu yang tidak penting itu.” tanpa Brian duga, Riana menyuapkan sepotong nanas padanya. “Kenapa diam? bukan hanya kamu yang bisa memerintah, aku juga bisa, ayo buka mulut.” Riana kembali memaksa Brian membuka mulutnya.
“Jangan ke ge er an, aku ingin kita segera menyelesaikan ini, dan pulang.”
“Aku tidak mau nanas,” ujar Rian ketika Brian hendak menyuapkan sepotong nanas.
Brian tersenyum senang, bukan karena Riana menyuapinya, tapi karena Brian mendengar omelan Riana, lagi lagi suara ketus wanitanya tersebut, terdengar seperti melodi lucu yang menggemaskan, di telinga Brian.
Dan selanjutnya, Brian sama sekali tak membalas apa yang dikatakan Riana, pria itu hanya tersenyum, semakin kencang omelan Riana, Brian semakin tertawa lebar.
Fabian yang ada di meja sebelah mereka pun hanya bisa geleng geleng kepala melihat kelakuan Brian yang terus menyunggingkan senyuman, sepanjang karirnya sebagai asisten Brian, ini pertama kalinya, Fabian melihat Brian tertawa karena dimaki oleh seseorang, terlebih orang itu adalah wanita.
.
.
.
#tanda cintanya jangan lupa gaeeess
#jadi selama puasa othor up habis taraweh yah, di jam 8 malam.
#terima kasih atas atensinya yang luar biasa
__ADS_1
#sarangeeeee 💙💙💙