
BAB 84
“Aku tak akan tergoda Sya …”
“Hahaha … ketahuan yah kalau aku memancingmu?”
“Ya … jelas sekali.” jawab Riana agak sedikit ketus tapi Rileks.
Disudut ruangan lain di rumah sakit, Brian tersenyum dalam tangisnya, ketika mendengar suara tawa renyah Riana, tak apa lah, jika sang istri menginginkan sebuah kejutan di hari kelahiran baby.
“Sekarang sudah Trimester ketiga ya kak … baby akan tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan dua trimester sebelumnya, gerakannya akan luar biasa aktif, serta ia akan meminta lebih banyak makanan dan camilan, kurangi makanan manis jika bisa, untuk mengendalikan berat badan janin, agar memudahkan proses persalinan normal.” tutur gadisya.
“Kalau kontraksi ringan?”
“Gak papa, itu wajar, asal tidak berlebihan, sering seringlah berjalan santai terlebih jika kaki terasa bengkak, dan berjemur agar kakak juga dapat suplai Vitamin E dari paparan sinar matahari pagi.”
“Baiklah … akan ku lakukan.” jawab Riana lesu, alangkah bahagianya jika ada Brian yang menemaninya melakukan semua Gadisya sarankan.
Sejujurnya ia malas keluar dari zona nyamannya, sejak mengingat peristiwa penyekapannya Riana sedikit membatasi diri, ia merasa takut jika harus jauh dari kamar nya, maksimal Riana hanya mendatangi dapur dan ruang makan jika menginginkan sesuatu, selebih nya dia hanya melamun dan memikirkan nasib kegagalan pernikahannya untuk kedua kali, tragisnya masih dengan pria yang sama.
Papa Richard pun tak pernah bercerita jika Brian masih berada di rumah sakit, karena ia mulai tak peduli dengan apa yang dilakukan menantunya tersebut.
Dan Riana pun sudah merasa yakin dengan prasangka nya tentang Brian, serta berusaha tak peduli dimanakah Brian kini.
Sejumput rindu masih membayang, itulah sebabnya ia memilih ikut ke rumah sakit memeriksakan kandungannya, demi mengalihkan pikirannya dari Brian, ketimbang ia harus menunggu Gadisya menyambangi nya di rumah.
Gadisya tak keberatan melakukannya, namun Riana yang merasa tak enak, karena Gadisya juga memiliki tiga anak kembar sekaligus, pasti ia harus mengorbankan waktunya bersama anak anak, demi memastikan kondisi kesehatannya dan juga baby.
.
.
.
Brian menatap dari kejauhan ketika Riana berjalan meninggalkan ruangan pemeriksaannya, oh … betapa ingin ia mengusap baby dalam perut sang istri, “baby do you miss daddy? … daddy miss you so much.” bisik Brian pelan ketika menatap perut Riana, yang entah kenapa terlihat semakin besar, tapi Riana terlihat semakin tirus, padahal baru beberapa hari ia tak berjumpa sang istri.
Seakan merasakan panggilan Brian, tiba tiba baby dalam perut Riana bereaksi, Riana merasakan perutnya sedikit nyeri dan kencang, pandangannya berkunang kunang, dan kepalanya terasa berdenyut.
“Riana …!” pekik mama Nisya khawatir, ketika Riana meringis menahan sakit yang ia rasakan di perut nya, mama Nisya dengan di bantu seorang pengawal merapat Riana agar bisa duduk di kursi terdekat.
__ADS_1
Gadisya yang mendengar pekikan suara mama Nisya, segera berlari keluar ruangan menghampiri Riana yang kini tengah berada di pelukan mama Nisya, sekali lagi Brian hanya bisa menyaksikan dalam diam, tanpa berani mendekat, penolakan Riana adalah hal yang paling ia takutkan, jadi ia hanya bisa mondar mandir di kejauhan, merapalkan doa dan harapan agar istri dan anaknya baik baik saja.
.
.
.
Riana tengah duduk di salah satu sudut kursi taman, menikmati hangatnya sinar matahari, sesekali ia tersenyum melihat kupu kupu yang hinggap dari satu kelopak bunga ke kelopak bunga yang lain, kicau burung benar benar menjadi nyanyian pagi yang terdengar merdu, Riana tengah duduk menunggu Gadisya yang sedang ke cafe membelikan secangkir coklat hangat untuk nya.
Seorang pria dengan pakaian serba hitam mendekati Riana, dialah Brian yang hari ini memberanikan diri mendekati Riana, rasanya sudah tak tahan hanya melihat sang istri dari kejauhan, karena itulah ia merencanakan hal ini sehari sebelumnya, bahkan kali ini Kevin ikut membantu dengan meminjamkan mobilnya, agar rencananya membawa kabur sang istri berjalan lancar.
#Judulnya misi menculik istri sendiri 😁
Brian berlutut di hadapan Riana, telapak tangannya menggenggam kedua tangan sang istri, menyadari kedua tangannya di genggam, Riana menunduk menatap wajah seseorang yang kini tengah menggenggam kedua tangannya, pandangan mereka bertemu, walau sebagian wajah Brian tertutup masker, tapi Riana mengenali tatapan tersebut, sama seperti dirinya, tatapan Brian pun sarat akan rasa rindu yang membumbung.
Seketika itu juga Riana merasakan jantungnya berdebar kencang, Brian benar benar sukses membuat ia gagal menjadi penguasa jantungnya sendiri, karena jantungnya selalu berdebar kencang hanya bila berdekatan dengan Brian.
"Sayangku…" Bisik Brian lirih.
“Lama sekali, Kenapa baru datang?” tanya Riana yang tanpa sadar meneteskan air matanya.
“Iya maaf, aku tersesat sesaat, takut kamu menolak kehadiranku, mau pergi denganku?” tanya Brian tanpa ragu.
“Kemana saja, ke tempat yang tak ada orang jahatnya.”
Riana mengangguk lemah, “Tapi dengan apa kita akan ke sana kak?”
“Naik kereta, atau pesawat, atau balon udara.” Jawab Brian dengan mata berkaca kaca.
Walau air mata nya meleleh, lagi lagi Riana terkekeh mendengar kalimat ‘Balon Udara’.
“Apa kakak punya uang?”
“Punya, sangat banyak, bukan uang papaku, tapi uang hasil kerja kerasku,”
“Tidak, kakak pasti bohong, kakak hanya menginginkan baby tanpa kehadiranku kan?” Elak Riana yang mulai panik dan melihat ke sekeliling untuk meminta bantuan, disusul kemudian menarik kedua tangannya dari genggaman Brian.
Brian buru buru menggenggam kembali kedua tangan Riana dan mengusap pipi Riana dengan lembut, sebelum istrinya histeris memanggil pengawal yang menjaganya. “Tidak !! … Aku tidak bohong, sungguh, maaf jika aku pernah membohongimu, kali ini aku akan membawa kalian, bukan hanya baby, tapi kalian, kamu dan anak kita, sepaket kebahagian dalam hidupku, gadis kecilku yang menggemaskan, sekaligus cinta pertama dalam hidupku.”
“Sungguhkah kakak akan membawaku juga? bukan hanya baby?” tanya Riana memastikan.
__ADS_1
Brian mengangguk cepat, tak ingin membuang waktu, apalagi jika misinya kali ini gagal, Kevin bisa membunuhnya jika ia menyia nyiakan usahanya memberikan bantuan, apalagi jika sampai papa Richard datang sebelum misi selesai.
Dan jangan lupakan ancaman Kevin ketika ia memutuskan memberi bantuan, jika kali ini berani berbohong, atau hanya membawa baby, maka Brian akan menjadi buronan keluarga Geraldy seumur hidupnya.
Begitu Melihat anggukan Brian, Riana serta merta memeluk erat suaminya, menumpahkan segala tangis dan sesak yang belakangan ia rasakan seorang diri, tak ada teman berbagi kesedihan, "Aku merindukanmu…"
"Aku pun rindu sayang … sakit sekali ketika jauh ."
Untuk sesaat mereka berpelukan, berbagi tangis rindu bercampur bahagia, karena kembali berjumpa.
Dari kejauhan Gadisya ikut mengusap air mata haru, tak sia sia rasanya ia membantu kakak sepupu suaminya tersebut.
Brian mengusap perut Riana, kemudian menciumnya beberapa kali dengan penuh rindu, “Ayo kita bergegas, sebelum papa dan anak buahnya datang.”
Riana mengangguk, kemudian mencabut selang infus yang masih melekat di punggung tangannya.
Sepasang sejoli itu berjalan cepat, menuju ujung lorong, tempat Kevin dan Gadisya menunggu.
“Pergilah,” ucap kevin seraya melemparkan kunci mobilnya.
“Thanks Kev … Sya …” ucap Brian tulus.
“Vitamin dan obat sudah ada di dalam mobil, jangan sampai lupa di minum yah?” pesan Gadisya pada Riana.
Riana mengangguk faham.
“Cepatlah … mobil paman sudah masuk area rumah sakit.” Kevin mengingatkan setelah menerima pesan dari security yang berjaga di gerbang rumah sakit.
.
.
.
pada kaget? kok tiba tiba sin berganti?
othor takut kalian kembali demo
next eps ada penjelasaannya.
jangan lupakan tanda cintanya
__ADS_1
💜💜💜