Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 33


__ADS_3

BAB 33


"Karena itulah tuan, masih belum terlambat jika anda benar benar ingin memperbaiki niat anda, cobalah untuk mencintai nyonya, sepengetahuan saya, nyonya Riana wanita baik tuan, jauh lebih baik dari teman teman kencan anda selama ini." Fabian memberanikan diri menasehati tuan muda nya.


Pluk …


Sebendel notebook melayang mengenai kening Fabian.


Seketika pria muda itu terdiam, menyadari bahwa tuan mudanya marah dan tak suka mendengar masukannya.


"Apa kamu ingin aku berhenti mencintai Alicia?"


"Tidak tuan, saya tidak berkata demikian," jawab Fabian.


'ya setidaknya anda harus sadar, nyonya Alicia sudah meninggal, hal terbaik yang harus anda persembahkan untuk nyonya Alicia adalah menyimpan nya sebagai kenangan', lanjut Fabian dalam hati.

__ADS_1


"Lalu maksudmu apa?" 


Fabian terdiam. 


"Maaf tuan." 


'Aku harap anda tidak menyesal di kemudian hari tuan' anda sudah memiliki batu berlian, tapi masih memikirkan batu kali yang lepas dari genggaman,' Fabian terus menggerutu, lebih tepat nya di tambah makian dari hati nya, karena melihat tuan muda nya semakin dibodohi oleh cinta buta nya, malangnya seorang Fabian, ia hanyalah bawahan Brian, jadi dia tak bisa berbuat banyak melihat kebodohan Brian, termasuk memberinya nasihat.


 


Brian si jenius di bidang IT, jadi ketika memutuskan menikah dengan Alicia, ia sudah bersiap dengan resiko tidak mendapatkan apapun dari Roger, karena itulah ia merintis perusahaannya sendiri, perusahaan yang membuat sistem pengaman digital, yang kini menjadi anak perusahaan Gustav.Inc, dan kini pekerjaannya kian berat karena sebentar lagi ia resmi menjabat sebagai Presiden Direktur Gustav.Inc karena menikah dengan Riana.


Be.tech berdiri, sebagai wujud kasih sayang Brian pada darah dagingnya, dimana semua harapan dan cita citanya bertumpu pada Be.tech, ia ingin menunjukkan bahwa ia pun bisa tanpa bantuan Gustav.Inc, tapi semua impian, harapan, dan cita citanya musnah tersapu badai ketika Alicia meninggal, dan kini ia kembali berusaha bangkit, karena memiliki harapan baru, yakni bayi dalam kandungan Riana.


🌹

__ADS_1


🌹


🌹


Pagi itu Brian terbangun masih dalam posisi duduk di kursi, semalam Brian yang kelelahan langsung tertidur begitu saja, bahkan ia belum sempat membersihkan diri, karena kemarin sengaja ingin membersihkan diri sebelum tidur, tapi yang terjadi ia justru tertidur di ruang kerja nya.


Panggilan alam itu datang, seperti biasa mual serta pusing akan datang ketika ia ta menghirup aroma tubuh Riana.


Dengan cepat Brian berlari ke kamar mandi, kemudian menumpahkan semua isi perutnya yang hanya cairan, karena semalam ia bahkan lupa belum makan malam, Brian berdiri menatap wajah nya melalui pantulan cermin, “kenapa begini tersiksa hanya karena tak berada di dekatmu?” Monolog Brian, kalimat itu tentu ia tujukan untuk Riana, ia pun sebenarnya ingin menjalani pernikahan seperti apa yang mereka sepakati sebelumnya, namun kondisi morning sickness mengharuskannya untuk terus berada di dekat Riana.


Setelah membersihkan wastafel, Brian keluar dari ruang kerja nya, bermaksud mendatangi Riana yang mungkin saja kini masih terlelap di kamar mereka, namun Brian merasa seperti mencium aroma steak favoritnya, Brian biasa menyantap Steak lengkap dengan mashed potato, dan salad, untuk sarapan pagi nya, Brian melangkah mengikuti asal muasal aroma tersebut, ia terkejut karena di meja makan belum terhidang sarapan pagi, namun telinganya menangkap ada orang yang sedang berbincang dari arah dapur bersih.


Rasa penasaran menuntun Brian mendatangi dapur, rupanya ada Riana yang sedang duduk menanti koki menyiapkan makanan pesanannya, si bumil cantik itu menyangga dagunya menggunakan kedua telapak tangannya yang sudah bertumpu di meja bar dapur, pandangan matanya tak lepas dari makanan yang tengah di masak oleh sang koki, rambutnya yang sudah di kepang tinggi membuat wajah cantiknya terlihat semakin manis dan menggemaskan, Brian mendekat, kedua tangannya memeluk pinggang Riana dari belakang, menelusupkan wajahnya di area yang ia ingin kan, beberapa ciuman bahkan kecupan mendarat mesra di sana, aroma favoritnya memang sungguh menenangkan, sketika sakit kepala dan mual nya reda, kedua lengannya melingkar semakin erat, manakala Riana mulai berontak.


“Diamlah sebentar, Koki rumah ini tidak tahu tentang sandiwara pernikahan kita,” Bisik Brian di tengah aktivitasnya, padahal tak masalah jika koki tak tahu, toh mereka juga tidak punya kewajiban menunjukkan kemesraan di depan koki.

__ADS_1


“Aku tidak peduli jika koki tahu,” Riana menjawab tegas.


__ADS_2