
BAB 82
Mama Nisya kembali ke kamar Riana, sedangkan Riana kini sudah bersandar di headboard, setelah menghabiskan juice nya.
Mama Nisya duduk di bibir ranjang, kemudian menyodorkan kardus yang ia bawa dari kamar nya, "hari itu, mama dan papa sudah dalam kondisi sangat putus asa, sama sekali tak ada kabar tentang keberadaan mu, bahkan usaha pencarian yang kami lakukan seolah olah menemui jalan buntu, tapi tiba tiba kami dikejutkan dengan berita, bahwa ada ambulance yang mengantarmu ke William Medical Center, entah mama tak bisa menggambarkan perasaan apa yang berkecamuk, bahagia bahkan rasanya ingin memeluk sebuah gunung, jika mama sanggup, tapi bahagia itu tak berlangsung lama, ketika kami melihat betapa mengenaskan keadaanmu ketika itu," mama Nisya tak sanggup menahan laju air matanya, hatinya sungguh dan hancur pedih seperti tersayat, putri kecilnya yang tak pernah ia bentak, bahkan tak pernah ia izinkan seekor nyamuk menggigit nya, kini terbaring dengan memar membiru di sekujur badannya, bahkan ada beberapa tulang yang retak, akibat dari kekerasan fisik yang ia terima.
"Maaa …" Riana menghambur ke pelukan mama Nisya, ia tak tahu bahwa keinginannya untuk kembali mengingat masa lalunya, akan menyakiti mama nya sedalam ini. "Maaf kan aku ma…"
Nisya menggeleng. "kamu gak salah nak, bukan kamu yang salah, tapi psikopat itu yang salah, mama hanya menyesal tidak menjagamu dengan baik saat itu." Bisik mama Nisya seraya mengusap rambut Riana.
.
.
.
Mama Nisya meninggalkan Riana beberapa saat yang lalu, kini tinggallah Riana duduk bersila menatap kardus yang berisi misteri masa lalunya.
Dengan tangan yang berkeringat dingin, Riana memberanikan diri membuka kardus tersebut, hal pertama yang ia lihat adalah boneka beruang berwarna putih, boneka yang sama dengan boneka yang ada di kamarnya, hanya saja boneka ini memiliki pita merah muda di lehernya, sementara boneka yang ada di kamarnya tak memiliki pita tersebut.
“Kak … cantik sekali bonekanya …”
“Kamu menyukainya?”
“Kalau warnanya?”
“Aku suka, semua yang kakak berikan padaku, aku menyukainya.”
“Kamu hanya suka ice cream vanilla, jadi aku memilih boneka beruang berwarna putih,”
“Bagaimana kalau kita juga menamainya Vanilla?”
Suara kedua anak kecil itu menggema di telinga Riana, berputar begitu saja seperti melody yang sedang melantunkan sebait nada bahagia.
Tanpa sengaja air mata Riana menetes.
Kembali diliputi rasa ingin tahu, Riana mengeluarkan benda berikutnya, berupa foto foto hasil visum dari dokter yang menanganinya, Riana kini seorang dokter, jadi ia bisa membaca yang memahami dengan baik seluruh bahasa kedokteran yang ada didalam keterangan gambar gambar tersebut.
__ADS_1
Tiba tiba dada nya terasa sesak, Riana kesulitan bernafas, suara tawa mengerikan itu terdengar, di iringi dengan suara tangis permohonan seorang anak, "paman … tolong jangan sakiti dia, kumohon jangaaaaan …"
Suara pilu itu, entah kenapa membuat Riana menangis, bukan ia yang menangis memohon tapi entah kenapa rasanya ia ikut merasakan derita anak itu.
Semakin lama rasa sesak di dada Riana semakin menghimpit, ia bahkan mencengkram erat bajunya, mencoba melonggarkan apa saja agar nafasnya tak lagi sesak, tapi percuma saja, hingga detik berikutnya ia mulai kehilangan kesadaran dirinya.
Pintu kamar Riana terbuka, nampak di depan pintu ada Gadisya dan mama Nisya, namun alangkah terkejutnya mereka ketika mendapati Riana sudah tak sadarkan diri diantara kertas dan foto foto yang berserakan.
“Kakak …!!!”
“Riana …!!!”
Pekik keduanya bersamaan.
Mama Nisya segera membereskan kertas kertas dan foto yang berserakan di tempat tidur, sementara Gadisya segera melakukan pertolongan pertama, pertama ia mula melonggarkan semua yang melekat di tubuh Riana, kemudian dengan stetoskop yang selalu ada di tas kerjanya ia mulai memeriksa nafas, disisusul kemudian denyut jantung Riana.
Gadisya bisa bernafas lega, karena dari hasil pemeriksaan awal, tak ada masalah apa apa dengan Riana.
“Bagaimana keadaan Riana, Sya?” tanya mama Nisya dengan wajah panik.
“Sementara ini baik baik saja bi, sepertinya kak Riana hanya shock saja, apakah ada sesuatu yang tak kuketahui?” jawab Gadisya sekaligus menanyakan hal hal yang menjadi penyebab kondisi Riana saat ini.
“Ceritanya panjang Sya,” jawab mama Nisya muram.
“Tidak papa kalau bibi tidak ingin cerita, aku faham kok, dan aku tidak akan memaksa.”
“Bukan, bibi tidak bermaksud tak ingin bercerita, hanya saja … ini akan sangat panjang dan menguras emosi.”
Gadisya terdiam, barulah ia tahu kenapa tempo hari Richard terlihat muram, sepertinya memang sedang ada masalah besar yang dihadapi Keluarga Richard William, hingga bahkan Brian sekalipun tak diizinkan bertemu Riana.
.
.
.
Brian terhenyak dan seketika berdiri dari istirahat nyamannya.
__ADS_1
Baru saja ia menerima pesan singkat dari Gadisya, bahwa Riana di temukan pingsan dikamarnya, bukan itu yang membuat Brian cemas, tapi Gadisya mengatakan, kemungkinan Riana mengalami shock, karena baru saja mengingat potongan masa lalu yang sekian lama hilang dari ingatannya.
Brian mengusap kasar wajahnya, ada di kota yang sama, tapi tetap terpisah jarak dan situasi yang tak memungkinkannya untuk berdekatan dan memeluk wanitanya, rasanya Brian sungguh frustasi, jika ia memaksa bertemu seperti tempo hari, bisa saja ia lakukan, tapi ia tak ingin membuat papa mertuanya semakin marah, ia ingin melakukannya pelan pelan, sambil mempelajari situasi, siapa tahu dengan menunggu kesempatan akan membuat Richard luluh dan membiarkannya berjumpa lagi dengan Riana.
Setidaknya Brian boleh bersyukur dan berbangga, karena ia tak salah memilih sekutu, semoga keberadaan Gadisya diantara mereka tidak sia sia.
“Tuan, apa yang terjadi? kenapa anda terlihat cemas.” tanya Fabian yang baru saja kembali ke ruang rawat Brian usai memeli makanan dan camilan untuk Brian.
“Riana pingsan lagi.”
Fabian terkejut, “tuan, ini sudah kesekian kalinya istri anda pingsan selama masa kehamilan, apakah bayi kalian baik baik saja?”
“Itulah yang sedang aku pikirkan, dan aku sedang menunggu jawaban Gadisya,” Brian kini mondar mandir di ruang rawat inap nya.
“Tuan, tadi asisten Leo menemui saya,”
“Lalu?”
“Tuan Richard bilang, anda harus segera meninggalkan rumah sakit, karena dokter yang memeriksa anda sudah memberi izin untuk pulang.”
Brian terdiam, rupanya papa mertuanya benar benar menghendaki perpisahan mereka, hingga ia repot repot meminta asisten pribadinya untuk mengusirnya dari rumah sakit. “aku tak mau pergi dari sini, walaupun ada banyak hotel mewah di luar sana.”
“Jika anda tidak meninggalkan rumah sakit, maka mulai hari ini anda harus membayar biaya kamar dan biaya perawatan, karena tuan Ridhard tak lagi mengakui anda sebagai menantu.” jawab Fabian.
“Asisten Leo yang berkata demikian?”
“Benar tuan.”
Brian tertawa miring, “Biar saja mereka menghitung biaya kamarku, mereka pikir aku miskin, uangku banyak, kalau hanya membayar kamar tak akan jadi masalah.”
Dengan segala pertimbangan, Rumah sakit adalah tempat bersembunyi paling aman saat ini, bodo amat dengan ancaman papa Richard, Brian tetap akan berjuang walau Riana menolak, termasuk diantaranya, ia tak akan pernah mendaftarkan gugatan perceraian, bahkan ia akan menyewa pengacara baru, jika seandainya papa Richard mendaftar gugatan perceraian di Jakarta, tapi itu tidak mungkin karena pernikahan mereka terdaftar di Singapura.
“Fabian kembalilah ke Singapura, untuk sementara kamu yang akan urus pekerjaanku, termasuk kelanjutan kerja sama Be.Tech dengan Orland Ice.”
.
.
__ADS_1
.
💛💛💛