
BAB 58
“Lalu apa yang kamu rasakan jika Grace ada di mansion ini.”
Riana menghembuskan nafas jengah, “karena aku membebaskan kalian melakukan apa saja diluar sana, jadi mansion ini adalah wilayah teritorialku, karena mansion ini wilayah teritorialku, aku pun tak ingin dan tak suka jika dia ada disini.”
“Hanya itu?”
“Iya, hanya itu saja, tidak lebih.”
“Bagaimana jika di luar pun aku tak pernah melakukan apa apa dengannya?” tanya Brian penasaran, ia tak suka ketika Riana bahkan tidak merasakan cemburu, ketika Ia berdekatan dengan wanita lain, seperti halnya ia merasa marah, kesal, dan rasanya ingin mencongkel mata seorang pria yang berani menatap penuh damba pada wajah istrinya.
pandangan mereka kembali bertemu, “seperti katamu, aku memang brengsek, tapi sejak kita melewati satu malam kencan buta itu, aku tak berselera pada wanita lain, tubuhku hanya bereaksi jika ada dekatmu.”
“Lalu?”
“Bisakah kita memperbaiki pernikahan ini?”
Deg
Riana ingin percaya, tapi rasa takut masih mendominasi.
“Bohong.”
“Aku berkata jujur.”
“Dan kamu berharap aku percaya?”
“Tentu saja.”
“Aku tak yakin apa aku akan bisa percaya padamu, setelah apa yang terjadi pada pernikahan kita di masa lalu.” jawab Riana.
“Aku akan menunggu.” Brian begitu yakin dengan kata kata nya saat ini.
“Jangan, aku tak bisa memberimu kepastian.”
“Aku pasti terlihat jahat sekali di matamu, hingga kamu benar benar tak ingin kembali menikah denganku.”
“Iya, kamu benar sekali.”
“Tak masalah, aku akan menunggu, berapapun lama nya waktu yang kamu inginkan, aku akan tetap menunggu, tapi selama menunggu, izinkan aku membuktikan kata kataku, aku janji akan memperbaiki pernikahan kita di masa lalu.”
Riana tak melihat kebohongan dalam tatapan mata Brian, jadi ia pun mengangguk begitu saja.
__ADS_1
Brian tersenyum senang, ia mencium bibir Riana dan menyesapnya sesaat, kemudian mengakhirinya, Brian mengusap bibir mungil tersebut dengan ibu jarinya. “kamu tak pernah membalas ciumanku, berjanjilah lain kali jika aku menciummu, kamu akan membalas ciumanku.”
Brian tak menunggu jawaban Riana, ia mengecup kening Riana, dan … “Selamat malam.” ucapnya, seraya kembali membawa Riana ke pelukannya.
Sang malam, membuat kedua insan itu terlelap damai, saling memeluk dengan irama jantung yang berdetak semakin kencang, beriringan dengan tarikan nafas yang terus berhembus teratur.
.
.
.
Pagi yang membahagiakan bagi sepasang pengantin baru, sesuai kesepakatan semalam, Riana akan memberi kesempatan pada Brian untuk memperbaiki pernikahan mereka, dimulai dengan saling menerima dan belajar mencintai jika bisa.
Pagi itu mereka terbangun masih dengan posisi masih saling memeluk, paman Robin mengetuk pintu kamar guna mengantarkan sarapan, karena mereka baru bangun setelah sang waktu menunjukkan pukul 9 pagi.
Brian membuka pintu kamar, dan melihat Troli makanan sudah berada di hadapannya.
“Selamat pagi tuan muda, saya pikir anda dan nyonya sedang ingin sarapan di kamar pagi ini, jadi saya membawakan sarapan untuk anda berdua.”
“Terima kasih paman.”
Brian pun membawa troli makanan ke meja, ia membuka pintu balkon, udara segar dan panasnya sinar matahari menyambutnya, Riana menggeliat sesaat, ia terkejut karena kini sudah jam 9 pagi.
Syukurlah ini hari sabtu, jadi hari ini Brian tak akan terganggu dengan jadwal pekerjaan dan bisa fokus bersama sang istri seharian.
“Kita bangun kesiangan yah?"
Brian mengangguk, “Senyaman itulah kalau kita tidur berpelukan.”
Blush …
Wajah Riana seketika merona, ia menoyor pipi Brian, hingga membuat pria itu tergelak, “Kenapa malu?” teriaknya, ketika Riana beranjak dan berjalan menuju toilet.
“Berisik …” balas Riana sebelum menghilang di balik pintu.
Riana menyegarkan dirinya di bawah guyuran air, segar dan membangunkan semua inderanya yang masih ingin bermalas malasan.
Entah Riana harus sedih atau bahagia, karena ia biasa menghabiskan hari harinya di rumah sakit, dan kini harus membiasakan aktivitas di rumah, seperti para ibu hamil lainnya yang tak perlu pergi bekerja.
Haruskah ia mengambil kelas senam ibu hamil? agar hari harinya tak terlalu membosankan? yah mungkin harus demikian, bila perlu Riana akan menanyakan apakah senam hamil memang benar benar diperlukan, terlebih kini ia tak lagi pergi bekerja, pasti akan sangat merindukan suasana rumah sakit.
Riana keluar dari walk in closet dalam keadaan segar, dan sudah memakai dress rumahan yang nyaman untuk perutnya yang sudah semakin membuncit, masih dengan rambut yang dicepol asal, Riana menghampiri Brian yang duduk di sofa sedang berbincang dengan Fabian melalui ponsel, Brian mengulurkan tangannya ketika melihat Riana menghampirinya, Riana ragu ragu meraih genggaman tangan tersebut, jadi ia langsung mengambil tempat di sisi Brian.
__ADS_1
“Jadi sekarang kamu sudah mengerti apa saja yang harus kamu lakukan selama aku menyelesaikan pekerjaanku di rumah?”
Ujar Brian ketika mengakhiri pembicaraannya dengan fabian.
Brian meletakkan ponselnya diatas meja, ia memeluk pundak Riana dan mencium pelipis sang istri.
“Apa yang akan kita lakukan Hari ini?” tanya Brian ketika memulai sarapannya.
“Entahlah,”
Sejenak mereka lupa pada buku buku yang kemarin Brian beli untuk bayi mereka.
“Oh iya, buku buku yang kemarin aku beli ada di mana?”
Riana terkesiap, ia ingat baru selesai membongkar paket buku kemarin siang, setelah papa Richard datang Riana melupakan keberadaan buku tersebut, ditambah beberapa jam kemudian ia pingsan, jadi buku untuk baby benar benar terlupakan.
Riana membekap mulut nya, “Aku lupa, maaf.”
Tanpa diduga Brian tersenyum menatapnya, kemudian mengusap kepala Riana perlahan, “aku akan tanya paman Robin sebentar,”
Brian beranjak meninggalkan Riana seorang diri di sofa, terdiam, membisu, mencoba beradaptasi, karena masih belum terbiasa dengan sikap lembut dan perhatian yang Brian tujukan padanya, benar benar membuat Riana merasa aneh dengan perasaannya sendiri.
Riana meletakkan telapak tangannya di dada, ada debaran aneh, ‘tenang Riana, ini baru permulaan, mungkin saja kali ini suamimu memang sungguh sungguh berusaha memperbaiki pernikahan kalian,’ monolog Riana dalam hati.
Brian kembali ke kamar dengan satu dus buku anak, wajahnya sumringah, seakan akan ia baru saja menyelamatkan isi dunia.
“Kenapa tiba tiba berpikir membeli buku cerita?” tanya Riana.
“Entah, kemarin pagi aku melihat ada seorang wanita di lobi utama, tengah membawa buku buku ini, aku mendekatinya dan bertanya, karena aku tak pernah melihat wanita itu di Gustav.Inc, dia bilang aku harus rajin membacakan buku untuk bayi kita, agar bayi ini juga hafal dengan suaraku, terbiasa dengan kehadiranku, dan membacakan buku cerita sejak dalam kandungan juga bermanfaat untuk merangsang pertumbuhan otak janin, sekaligus menjaga kesehatan otak ibu hamil, jadi ini manfaat ganda untukmu dan anak kita.” Jelas Brian panjang lebar, ia tampak begitu antusias dengan buku buku di tangannya.
Riana termenung sesaat.
Satu lagi yang baru ia ketahui dari sosok Brian, rupanya suaminya juga bisa berbicara dengan lembut dengan kalimat yang cukup panjang. ‘Senangnya jika sejak dulu kamu bersikap seperti ini terhadapku, bahkan mungkin kita sudah memiliki 3 anak jika kita tidak berpisah’.
.
.
.
Masih masa tenang sebelum badai besar datang … kasihan si ibu hamil, jika terus diberi shock therapy. 😁
Badai apa Thor?
__ADS_1
Sabar.
Sarangeeeeeeee 💜💙🧡