Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 61


__ADS_3

BAB 61


BYUUUURRR 


Tiga orang yang sedang berseteru itu tercebur bersamaan ke kolam renang, sesaat sebelum tenggelam di kolam berkedalaman dua meter tersebut, Riana sempat melihat Brian berlari ke arah kolam, entah apa yang dia teriakkan, Riana sudah tak mendengar apa apa lagi, hanya sesaat ia memandang kemudian pandangan matanya tertutup dan merasakan dua tangan besar memeluknya dengan erat.


.


.


.


Tiga puluh menit setelah Grace keluar dari ruang baca atau ruang kerja Brian kini, Brian masih terlibat perbincangan serius mengenai kontrak kerja baru yang akan Be.Tech tanda tangani bersama salah satu investor besar, Brian senang sekali karena perusahaan yang ia rintis dari nol kini akan semakin siap melebarkan sayapnya di tengah persaingan global.


Tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama, ketika dari balik jendela besar ruang tengah ia melihat Istrinya tengah dalam bahaya, Pedro si tukang kebun tengah memegang kedua tangan istri nya di belakang, sementara Grace tengah mencengkram kerah gaun Riana, dan mereka sedang berdebat.


Blush … mencelos rasanya hati Brian, ia merasakan istrinya tengah ketakutan, seorang diri menghadapi dua orang yang mungkin sedang membahayakan nyawanya.


“Tuan … itu Nyonya kan.”


“Sh it …” umpat Brian, yang segera berlari meninggalkan semua berkas berkas yang ada di tangannya, semua berkas penting itu tak lagi berharga baginya, sementara istri dan anaknya sedang dalam bahaya, Brian sungguh takut jika terjadi sesuatu pada Riana dan bayi mereka, tidak lagi, tidak akan pernah ada lagi wanita baik dan berharga seperti Riana yang akan datang dalam kehidupannya, jadi apapun yang terjadi, Riana harus tetap berada disisinya, dia terlalu berharga untuk disia siakan, rasanya Brian tak lagi menginginkan seisi dunia asalkan Riana bersedia berjalan berdampingan dengannya, ia akan melakukan apa saja agar istrinya bahagia, karena apapun yang ia lakukan tak akan sepadan untuk menebus semua sikap buruknya pada Riana di pernikahan mereka sebelumnya. 


Brian berlari memutar karena tak ada pintu yang menghubungkan ruangan samping dengan kolam renang, setelah ini mungkin ia akan menjebol dinding ruang tengah agar ia tak perlu jalan memutar jika ke kolam renang.


“RIANAAAAAAAA ….” teriak Brian histeris sesaat sebelum Riana, Grace dan Pedro tercebur ke kolam renang.


Satu hal yang membuat Brian takut adalah, Riana sama sekali tak bisa berenang, pandangan mata mereka bertemu, sesaat sebelum Brian berhasil menangkap tubuh Riana kemudian membawanya ke tepi kolam, ketika Riana sudah aman di permukaan, Brian bergegas naik, Fabian buru buru menyodorkan handuk kering ketika Riana sudah terbaring di gazebo, Brian menepuk nepuk pelan pipi Riana, berharap wanitanya akan segera membuka mata.


“Fabian … kamu berani melihat tubuh istriku?” Brian tak rela Fabian menatap tubuh Riana yang kini tampak transparan di balik gaun rumahannya yang tipis.


“Maaf tuan,” menyadari kesalahannya Fabian segera berbalik memunggungi Brian yang masih sibuk mengeringkan tubuh Riana.


“Kenapa masih diam? Amankan dua penjahat itu!!!” perintah Brian, ketika melihat Fabian masih diam mematung. 


Fabian bergegas menunggu di tepi kolam, beberapa security pun sudah datang, dengan sigap mereka menahan Grace dan Pedro yang baru saja naik ke permukaan kolam, tak ada yang membantu keduanya, pandangan mereka dingin dan mengancam, mereka semua marah karena sudah ada dua orang jahat yang bermaksud menyakiti nyonya muda mereka, menyesal karena tak tahu jika baru saja nyonya mereka menghadapi bahaya seorang diri.


Paman Robin dan beberapa pelayan baru saja datang, mereka terkejut, mendengar suara kerasa Brian yang menggema di setiap sudut mansion.


Setelah memastikan Riana bernafas dengan normal, Brian meminta beberapa pelayan wanita mengeringkan tubuh istrinya, dan meminta paman Robin segera menghubungi dokter.


“Dimana Armand?” tanya Brian marah pada semua pelayan dan petugas keamanan.

__ADS_1


“Tadi Armand keluar tuan, dia bilang melakukan tugas dari nyonya,” lapor salah seorang security.


“Haiiisshh … di saat seperti ini dia malah menghilang,” Brian berteriak keras, “Kalian semua aku bayar dengan mahal, tapi lihatlah, dua tikus ini berusaha mencelakakan istriku, dan kalian malah tidak tahu, apa saja kerja kalian?” 


Brian begitu marah, ia melihat satu persatu petugas keamanan yang selama ini bersiaga di mansion, tatapan marah itu berubah semakin gelap manakala menatap Pedro dan Grace, Brian mendekati dua orang yang kini sudah diamankan dengan tangan terikat.


PLAAAAK 


Brian memberi tamparan keras ke pipi Grace.


“Wanita Ja lang tidak tahu malu, aku sudah berkali kali menolakmu, tapi kamu masih gatal mendekatiku, dan kini kamu berani bekerja sama dengan pekerja di rumahku untuk menyakiti istri dan anakku,” 


Pandangan mata Brian semakin gelap dan menakutkan, tapi Grace tersenyum menang, bukan senyum permohonan.


“Setidaknya aku menunjukkan usaha terbaikku menyingkirkan lalat yang mengganggu perjalananku,”


Bukan hanya wajah Brian yang memerah tegang, kedua bola matanya pun sudah berwarna kemerahan, dengan satu telapak tangannya, Brian menarik rambut Grace kebelakang, hingga wajahnya mendongak, “Berani kamu menyebut istriku sebagai lalat.”


“Iya dia adalah lalat pengganggu, seperti juga Alicia,” Grace tertawa, “dan kamu tahu, aku sudah berhasil menyingkirkan Alicia si ja lang murahan yang sudah berpura pura menjadi wanita baik hingga ia berhasil menikah denganmu, sementara aku, hanya bisa jadi penonton.” 


Brian semakin marah ketika Grace menyebut Alicia sebagai ‘ja lang’ yang berpura pura baik.


“Berani kamu memaki mendiang istriku.” Wajah Brian semakin tegang, merah padam, otot otot Rahang Brian menyembul ke permukaan kulit wajahnya.


Brian semakin mencengkram erat Rambut Grace.


“Kamu pria bodoh, sangat bodoh sampai sampai kamu tertipu dengan wajah polos Alicia, tahukah kamu dia sudah menipumu, mengatakan bahwa bayinya bersama kekasih gelapnya sebagai anakmu, dan kamu dengan kebodohanmu, malah menangisinya, merasa bersalah padanya, selama bertahun tahun tak menghiraukan keberadaanku di sisimu, dan kini kamu bahkan kembali menikah dengan mantan istrimu, hanya karena dia sedang hamil, lemah sekali dirimu, mudah sekali tersentuh dengan seorang anak, apa kamu tidak pernah curiga anak itu adalah anak dari pria lain juga??”


Brian marah mendengar hinaan Grace pada Riana, tapi kemarahan itu tak sebanding dengan hantaman fakta yang baru saja ia ketahui, “Apa maksudmu? bagaimana kamu bisa menyebut, anak dalam kandungan Alicia bukan anakku?”


“IYAAA!!! … anak itu bukan anakmu, Alicia berselingkuh dibelakangmu, dia berhubungan dengan pria lain hingga hamil, dan mengatakan anak itu adalah anakmu, dan aku adalah penonton yang beruntung, karena aku bisa memanfaatkan sumpah serapah Riana kala ia resmi menjadi mantan istrimu untuk merencanakan pembunuhan pada Alicia, dan binggo … semuanya terlihat sangat natural seperti sebuah kecelakaan, aku berhasil melenyapkannya dengan mudah,”


Brian semakin geram melihat tawa puas Grace, hampir saja ia mencekik leher Grace, jika Fabian tidak menahan kedua tangan dan tubuh Brian.


“Lepaskan aku Fabian !!! biarkan aku melenyapkan wanita lak nat ini beserta sekutunya,” dari Balik tubuh Fabian, Brian memberontak. 


“Tuan, jangan lakukan, anda hanya akan mengotori tangan anda,” bujuk Fabian, namun Brian belum bereaksi, “apa anda tak ingin berada di dekat nyonya ketika hari kelahiran bayi anda? pikirkan saja hal hal bahagia anda bersama nyonya Riana, biarkan pihak berwajib yang mengurus dua orang kriminal ini.” seketika Briana tak lagi melakukan perlawanan, Fabian sebisa mungkin membujuk Brian, ia berikan sugesti positif yang membuat Brian bahagia, agar ia tak mudah terpancing emosi menghadapi kegilaan Grace.


Bukannya lemas lunglai mengetahui fakta yang ada di hadapannya, tapi amarah Brian justru semakin bergolak menggelegar, rasanya ingin menghancurkan apa saja, agar ia tak hancur seorang diri.


Bagaimana bisa? bagaimana bisa? anak yang selama ini ia bangga banggakan, ia sayangi sepenuh hati, ternyata bukan darah dagingnya, Alicia yang ia cintai sampai Brian rela mengabaikan keinginan papa Roger, bahkan mengkhianati Riana, ternyata telah menusuknya tepat di ulu hati

__ADS_1


Amarah yang membumbung itu justru lepas begitu saja mengenai orang yang salah, yah sesaat kemudian Armand datang, wajahnya pias dan ia terkejut melihat semua kehebohan di tepi kolam renang.


“Dari mana saja kamu?” sembur Brian pada Armand yang tidak tahu apa apa tentang kejadian di kolam renang beberapa saat yang lalu.


“M … mmm … maaf tuan, tapi saya sedang mengerjakan tugas penting dari nyonya.” jawab Armand gugup.


“Tugas apa? apa yang begitu penting sampai kamu melepaskan penjagaanmu pada istriku?” Brian kembali berteriak keras, melemparkan tatapan tajam penuh ancaman.


“Nyonya ingin saya menyelidiki ini.” Armand mengulurkan kertas kertas berisi informasi yang baru saja ia dapatkan dari Hans.


Dengan kasar Brian menerima dan membuka kertas kertas tersebut.


Jedeeeeerrr


Setelah Brian membaca kertas kertas tersebut, Rasanya Brian seperti di hantam petir maha dahsyat, kertas yang ada di genggamannya seolah memperjelas fakta tentang siapa sebenarnya Alicia, sungguh ia tak menyangka ternyata seperti inilah hidup yang Alicia jalani tanpa sepengetahuannya, cinta tulusnya telah dihianati, bahkan anak yang ia sayangi selama ini ternyata bukan anak kandungnya, melainkan anak hasil perselingkuhan Alicia bersama pria lain.


Lebih parahnya lagi, di sana tidak tertera dengan jelas siapa kekasih gelap Alicia, yang sekaligus ayah dari janin yang di kandungnya.


Hancur sehancur hancurnya Brian


Ia malu


Tak berani menatap Riana


Marah 


Sedih 


Kecewa 


sungguh sebuah sesal yang tak berguna lagi.


.


.


.


dah yah? udah seneng kalian?


silahkan tertawa puas puas

__ADS_1


1400 kata gaes … tanda cinta dan vote nyajangan lupa.


sarangeeeeee


__ADS_2