Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 49


__ADS_3

BAB 49


Sesuai instruksi Riana, Armand kembali meninggalkan ruang rawat Riana, kembali melanjutkan penyelidikan, termasuk apakah Grace terlibat dalam kematian Alicia.


Riana tak suka ikut campur dengan kehidupan orang asing, tapi Grace seperti sengaja mengibarkan bendera peperangan terhadap Riana, jika Riana diam, maka terpaksa mengaku kalah.


Maka mau atau tidak Riana harus bangkit dan melakukan perlawanan.


Armand memacu mobilnya, menuju markas rahasia “Agent AG” Agen Rahasia milik Alexander Geraldy, si mantan duda itu sudah pensiun sepenuhnya dari Twenty Five Hotel, dan kini ia memimpin langsung "Agent AG", tentu saja Andre yang memintanya, karena dia sendiri sibuk dengan Twenty Five Hotel, yang kini semakin besar dan semakin meluas perkembangannya.


Masalah Riana tak bisa dianggap sepele, karena ada seseorang yang terang terangan ingin menyingkirkan keponakan tersayang Alexander Geraldy.


Wanita bernama Grace iu belum tahu sedang berhadapan dengan siapa, Riana hanya tak ingin terang terangan, jika Riana bersedia terang terangan, tentu Grace hanyalah lalat kecil yang bisa segera disingkirkan.


“Bagaimana?”


Hans langsung melempar pertanyaan tanpa basa basi, begitulah sifat aslinya, cool, cuek, tegas dan berwibawa, tak salah rasanya jika ia yang ditunjuk sebagai pemimpin “Agent AG”.


“Aku bahkan bertemu langsung dengan orang nya, dia ada di sekitar tuan Brian bahkan dia adalah …” Armand membisikkan kalimat selanjutnya.


Hans mengangguk paham, “kini semakin jelas motif dan tujuannya.” ujar Hans lirih.


“Nyonya ingin kita melanjutkan penyelidikan.”


“Maksudmu?”


“Nyonya menaruh curiga  pada Grace, sangat mungkin jika wanita itu juga terlibat dalam kecelakaan Alicia.”


Wajah Hans berbinar, ini adalah pekerjaan favoritnya, jadi ketika datang sebuah tantangan, ia merasa mendapatkan sebuah energi baru.


Semakin rumit tugasnya, semakin besar energi nya.


“Okey … kita mulai dengan Asal usul Alicia.” 


Hans segera memanggil tiga orang anak buah nya, memberi masing masing dari mereka tugas secara personal, agar mereka bisa selesai tepat waktu.


“Agent A, selidiki asal usul keluarga Alicia.”


“Agent B, selidiki pendidikan terakhirnya, serta apa pekerjaannya.”


“Agent C, selidiki pria pria di sekeliling Alica.”

__ADS_1


“Baik tuan.”


Ketiga Agen kompak menjawab, mereka sangat terlatih seperti AI yang sudah terprogram.


#AI (Artificial Intelligence) atau Kecerdasan buatan adalah kecerdasan yang ditambahkan kepada suatu sistem yang bisa diatur dalam konteks ilmiah, didefinisikan sebagai kecerdasan entitas ilmiah. Wikipedia.


Armand membeo menatap tiga orang yang dengan sigap segera bertindak sesuai permintaan Hans.


“Lalu tugasmu?”


“Aku melakukan tugas khusus dari tuan Richard, dan sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk bergerak.” Jawab Hans dingin.


Pria yang selalu misterius itu segera berdiri dari kursi, membuat Armand semakin penasaran.


“Tugas apa itu?”


“Rahasia, pergilah atau kamu mau menjaga markasku?”


Mengingat sifat Hans yang tidak suka berbasa basi, Armand pun bergegas meninggalkan markas.


.


.


.


“Alicia? bagaimana kabarmu dan anak kita?”


Pria itu tersenyum pahit, niatnya untuk pergi beberapa hari, rupanya harus menjadi beberapa Bulan, karena ia harus bersembunyi dari pihak berwajib, karena menyelundupkan narkoba, dan seperti jatuh tertimpa tangga pula, sekembalinya ia dari persembunyian, ia menerima kabar Alicia sudah menikah dengan pria lain.


Bukan tak ingin lagi memperjuangkan cintanya, tapi dia hanya ingin Alicia hidup dengan pria baik, bukan dengan pengedar narkoba seperti dirinya.


Berita kehamilan Alicia, ia ketahui dari sekretaris Brian, pria yang menjadi suami Alicia, entah apa motif wanita itu, hingga suatu ketika pernah mendatanginya untuk diajak bekerja sama memisahkan Alicia dan Brian, tentu saja ditolaknya mentah mentah, bagaimanapun Alicia berhak bahagia, jika memang Alicia memutuskan bersama Brian, dia bisa apa? toh tidak merugikannya, karena anaknya akan memiliki sosok ayah yang baik dan kaya.


Rasa terima kasihnya pada Brian sungguh tak terkira, karena Brian memberikan pemakaman yang layak untuk Alicia.


Seandainya saja ia datang lebih cepat, seandainya ia adalah orang baik yang memiliki pekerjaan baik pula, tentu ia dan Alicia bisa berbahagia saat ini.


Hingga kini, Sesal itu selalu menghantui dirinya.


.

__ADS_1


.


.


Sepanjang sisa rapat Grace hanya diam tanpa sedikitpun mengemukakan pendapat, ia masih gemetar mendengar ancaman Riana, ia seratus persen merasa bahwa Riana sedang menyindirnya, karena itulah bukannya sibuk memikirkan pekerjaan, Grace justru sibuk memikirkan rencana selanjutnya.


Sementara menunggu Brian menyelesaikan urusan pekerjaan, Riana dengan sabar menanti, sesekali melempar sorot mata tajam ke arah Grace, Riana merasa tengah menikmati pemandangan indah di hadapannya, bagaimana kegugupan Grace dan pucatnya wajah wanita itu sepanjang rapat berlangsung, merupakan hiburan menyenangkan di tengah rasa bosan yang tengah melanda nya, karena tak bisa bertugas di rumah sakit seperti hari hari biasa.


Siang ini Riana menerima banyak menerima kunjungan dari rekan rekan kerjanya, perawat serta para sahabat, yah tak seperti dokter Risa yang merahasiakan identitasnya, sejak awal Riana bergabung dengan William Medical Center, Stella menentang keras keinginan Riana untuk merahasiakan identitasnya, karena itulah seantero William Medical Center mengetahui bahwa Riana adalah keponakan dokter Legend di William medical Center Singapura, juga cucu dari pemilik rumah sakit, dan selama di rumah sakit Riana selalu mendapat perlakuan istimewa, bukan berarti Riana jumawa, tapi Riana memang memiliki kemampuan dan menunjukkan dedikasi luar biasa pada pekerjaannya.


Riana juga menikmati tatapan tak suka yang Brian tujukan untuknya, ketika Rodrigo datang mengunjunginya, pria itu bahkan sengaja mengupas buah apel untuk Riana dan menyuapkannya pada Riana.


Sebenarnya Rodrigo tak ada maksud apa apa, sesekali menyuapi Rina adalah kebiasaannya selama mereka bersahabat, tapi dalam pandangan Brian tentu saja itu hal berbeda, Brian menatap dingin pada kedua sahabat yang tengah berbincang akrab tersebut, tanpa sadar ia bahkan mematahkan pensil yang ada di genggamannya, walau Brian menolak mengatakan ia sedang cemburu, tapi sikapnya seolah mengatakan sebaliknya.


PLETAK !!! 


Brian melemparkan pensil yang bentuknya sudah mengenaskan, ia berdiri begitu saja meninggalkan pertemuan yang masih berlangsung.


“Tuan, rapat belum selesai, ini kontrak penting untuk Gustav.Inc.” Fabian mengingatkan Brian yang meninggalkan rapat begitu saja. 


“Itulah kenapa kalian aku bayar dengan mahal, selesaikan dan segera urus kontrak perjanjiannya.” Jawab Brian acuh.


Brian berjalan mendekati Riana yang sibuk bercengkrama dengan Rodrigo, Brian bahkan merebut garpu yang digunakan Rodrigo untuk menyuapi Riana.


“Aku rasa sudah terlalu lama anda meninggalkan pekerjaan anda tuan Rodrigo.”


“Pekerjaanku sudah selesai,” jawab Rodrigo santai, ia bahkan mengambil selembar tissue lalu mengusap sudut bibir Riana.


Ekspresi Brian sungguh tak terbaca, tatapannya dingin dan menakutkan, gerahamnya saling beradu, hingga otot otot wajah nya nampak menyembul ke permukaan kulit wajahnya.


Tiba tiba …


BRAK !!!


.


.


.


.

__ADS_1


.


nah loh, setelah lemparan pensil, sekarang apa lagi?


__ADS_2