
BAB 51.
BRAK !!!
Grace membanting pintu setibanya ia di apartemennya, sejak di rumah sakit ia sudah sangat bersabar menghadapi sikap Riana yang semakin pongah penuh kesombongan, bagaimana tatapan Riana, bagaimana kalimat kalimat Riana yang terdengar seperti goresan belati di hatinya.
Pada awalnya grace bahagia karena mendapat lampu hijau dari Riana, yang artinya, ia dan Brian bisa berbuat sesuka mereka, namun yang terjadi justru sebaliknya, ia begitu menginginkan Brian, namun pria itu tetap dingin dan kaku, seakan akan tak lagi berhasrat pada tubuhnya, padahal sebelum kepergian Brian ke Canada, Brian bisa meminta lebih dari sekali untuk dilayani, tapi kini Grace merasa Brian seakan mati rasa, dingin seperti balok es.
Mungkinkah ia mendapatkan kepuasan di ranjang Riana?
Bahkan membayangkannya saja membuat darah Grace mendidih karena menahan cemburu, tak mungkin jika Riana bisa menandingi kehebatannya melayani Brian di atas ranjang.
“Aaaaaaaaaaarrrrrrrggggghhhhhh …” jerit Grace marah,
Grace melemparkan apa pun yang ada di hadapannya, sebagai bentuk pelampiasan, kemudian duduk memeluk lututnya, dan menangis pilu, menangisi nasib buruknya, karena terlahir menjadi gadis yang kurang beruntung, tak memiliki keluarga, bahkan kekasih, karena sejak kecil Grace dibuang oleh ibunya di panti asuhan.
Kemudian Grace teringat seseorang yang mungkin kali ini bisa membantunya, Grace bangkit dan mencari cari keberadaan tasnya, rupanya tas itu sudah tergeletak mengenaskan di bawah buku buku yang berserakan.
Syukurlah ia tak pernah membuang nomor ponsel pria itu, pria yang dulu membantunya meneror Alicia, termasuk menutupi jejak nya.
Sambungan ponselnya sudah terhubung, namun seseorang di seberang sana seakan menantikan keseriusannya, benarkah ini telepon sungguhan atau panggilan yang tak di sengaja.
“Apakah aku sedang tidak berhalusinasi?” tanya sang pria itu dari ujung sana.
Grace terdiam tak menyahut.
“Baiklah, aku anggap ini salah sambung,”
“TUNGGU !!!” walau enggan kembali menghubungi pria tersebut, namun akhirnya Grace kembali bersuara.
Mendengar jawaban Grace, pria itu tersenyum smirk.
“Ada yang harus kamu lakukan untukku.” perintah Grace tanpa basa basi.”
“Ha ha ha ha … kamu memberiku perintah seakan akan aku adalah bawahan yang bisa kamu perintah kapan saja.”
“Tidak usah banyak bertingkah, toh aku membayar mu dengan layak.”
Pria itu tersenyum miring. “Baiklah … tapi kali ini aku ingin lima kali lipat dari yang dulu.”
“What ?? aku tidak punya uang sebanyak itu.”
“Kalau begitu diam, jangan banyak bertingkah, dan lihat saja apa yang tersaji di hadapanmu, aku tak peduli,”
__ADS_1
Diam dan melihat? oh tidak, Grace tidak akan sanggup menahan rasa cemburunya, terlebih melihat pesaingnya yang kini mulai mendapat perhatian lebih dari Brian.
“Baiklah tiga kali lipat, aku tak mungkin menaikkannya lagi, kamu pikir mudah mengumpulkan uang.”
“Lima kali lipat atau tidak sama sekali.”
Grace mengepalkan tangannya, benar sekali ia tak punya uang sebanyak itu, karena sejak beberapa bulan lalu, Brian tak lagi memberinya uang sebagai biaya karena memakai jasanya di atas ranjang.
“Aku tak punya uang sebanyak itu.”
“Baiklah, tiga kali lipat sebagai uang muka, lunasi sisanya, ketika kamu berhasil berdiri di sisi si bodoh Brian.”
Grace mengepalkan tangannya, rupanya kali ini ia tidak bisa memerintah pria ini dengan mudah seperti dulu.
“Boleh aku tahu alasanmu, kenapa meminta bayaran lebih tinggi?”
Grace mendengar pria itu tertawa, ia jadi semakin penasaran dengan jawaban yang akan dilontarkan pria itu.
“Tahukah kamu, sedang berhadapan dengan siapa, keluarga Riana bukan orang sembarangan, William medical Center itu rumah sakit berskala internasional, dan Riana adalah salah satu pewarisnya, belum lagi Twenty Five Hotel juga ada di belakang Riana, bodoh kalau kamu mengira menghadapi Riana sama seperti kamu menghadapi si Alicia, setiap hari Riana pergi dengan beberapa lapis penjagaan, dan bukan orang sembarangan yang menjaganya, jika dilihat sekilas, Riana seperti hanya dikawal Armand, tapi ada banyak pasukan khusus yang mengawalnya secara sembunyi sembunyi, dengan kata lain resiko pekerjaan kali ini akan lebih besar dari sebelumnya.”
“Deal …” jawab Grace yakin.
.
.
.
“Fabian, kamu tahu tempat dimana aku bisa mendapatkan rujak?”
“Maaf nyonya?” tanya Fabian memastikan pendengarannya.
“Ru … jak.” Riana mengulang pertanyaannya.
Brian pun mengerutkan keningnya mendengar permintaan aneh sang istri, ia menatap wajah Riana yang kian hari kian terlihat cantik di matanya, dan jangan lupa pipi gembul itu, sungguh menggemaskan, membuat Brian ingin sering sering menggigitnya, mirip sekali dengan gadis kecil berpipi bulat didalam mimpinya.
“Kenapa? kamu keberatan kalau baby ingin makan Rujak?” tanya Riana, ketika melihat Brian menatapnya dengan pandangan tak terbaca.
“Tidak, aku hanya melihat wajahmu yang semakin bulat,” jawab Brian dengan sedikit senyum tersungging. “membuatku tak bisa berhenti membayangkan bagaimana rasanya jika aku menggigitnya setiap malam.”
Kedua telapak tangan Riana otomatis menutupi kedua pipinya yang memang mulai membulat, seiring semakin bertambahnya usia kehamilannya.
Melihat hal itu, Brian terkekeh geli, seraya memajukan bibir bagian bawahnya.
__ADS_1
Atmosfer itu tak berlangsung lama, karena …
“Ehem …” Fabian mulai menggoda Brian, karena ini pertama kalinya ia melihat Brian menggoda Riana.
PLAK !!! Brian memukul pundak Fabian menggunakan map yang ada di pangkuannya.
Tapi diluar dugaan Fabian justru tertawa keras setelah mendapatkan pukulan dari Brian.
“Fokus mengemudi, dan segera temukan tempat membeli rujak.” perintah Brian.
“Hahaha … baik tuan,” jawa Fabian sambil menahan senyum jahilnya.
“Nyonya … tak masalah kalau rujak Singapura?”
“Tak masalah, aku ingin makanan asam manis pedas segar.” Jawab Riana.
“Jangan makan terlalu ekstrim, bagaimana kalau pencernaanmu terganggu.”
“Tenang saja, perutku sudah terlatih dengan cabai dan asam dari indonesia, dan memang tidak pernah bermasalah.” jawab Riana santai, “Khawatirkan saja dirimu sendiri,”
Brian tersenyum samar, entah apa yang ia tertawakan, tapi rasanya menyenangkan, walau hanya saling melempar candaan, entah seperti apa perasaan Riana.
Masih lekat dalam ingatannya bagaimana tadi Rodrigo membisikkan kalimat yang membuatnya meradang.
“Aku akan senang sekali, bahkan menunggu, jika kali ini kamu kembali menyia nyiakan istrimu, karena kalau sampai hal itu terjadi, aku adalah orang pertama yang menunggu istrimu kembali menjanda, dia terlalu berharga untuk di sia siakan.”
Rodrigo terang terangan mengibarkan bendera peperangan terhadapnya.
Jika Brian mendengar kalimat itu dahulu, dengan senang hati ia akan mengabulkan keinginan Rodrigo, tapi kali ini, entah kenapa dadanya tiba tiba bergemuruh hebat, ia tak terima jika ada pria lain memiliki Riana, karena Riana hanya milik Brian, jika ada pria lain ingin merebut Riana, maka merek harus melangkahi mayatnya terlebih dahulu.
Entahlah, tapi belakangan ini Brian pun nyaris tak pernah lagi menanyakan sampai dimana tugas Fabian, apakah ia sudah selesai dengan plan B yang Brian inginkan, setelah Plan A mereka gagal.
Keinginannya untuk membawa pergi si bayi untuk dirinya sendiri pun kini mulai terkikis bahkan ia tepis, apa gunanya ia bahagia bersama anaknya, jika tak ada senyum, tawa, bahkan amarah Riana mewarnai hari harinya, akan lebih menyenangkan jika bisa membuat Riana cemberut setiap hari, pasti hidupnya jadi lebih berwarna.
.
.
.
Tanda cintanya jangan lupa ya gaeeess
Othor mau tanya nih, ramadhan nanti, kalian mau othor up jam berapa? Jam 3 saat sahur, atau jam 8 malam selesai tarawih bagi umat muslim yang menjalankannya? Plis komen yah 🙏
__ADS_1
sarangeeee💜💙🧡