
BAB 65
Setelah drama pagi yang sedikit menguras kewarasan, kini keduanya sudah berada di meja makan, menikmati sarapan yang koki siapkan.
Pagi ini Brian dan Riana berencana mendatangi kantor polisi, terkait kepentingannya sebagai korban, pelapor sekaligus saksi dalam kasus meninggalmya Alicia, serta niat Grace dan pedro melakukan percobaan pembunuhan pada Riana, sebenarnya Riana enggan mendatangi kantor polisi, tapi jika tidak demikian kasus ini akan diam di tempat, tak kunjung berjalan dan pelaku juga tak segera mendapatkan ganjaran setimpal.
Selama tiga jam lamanya, Riana dan Brian menjalani pemeriksaan, sekaligus memberikan pernyataan, dan hal itu cukup membuat keduanya tegang, Brian bahkan sangat merisaukan kondisi istrinya yang sedang mengandung, takut, juga cemas dan stress akan berpengaruh pada kandungan Riana.
Brian membawa Riana ke sebuah cafe.
“Kenapa membawaku kemari?”
“Aku takut kamu dan baby stress selepas kita memberikan kesaksian, termasuk kamu yang kemarin nyaris jadi korban, jadi kita makan yang manis dulu untuk meredakan stress.”
Riana tersenyum senang membayangkan Ice cream vanilla dalam porsi besar menantinya, “Tapi aku mau porsi besar.”
“Apapun untukmu dan baby,” jawab Brian senang.
Tak lama ice cream pesanan mereka tiba, “jika kurang, kamu boleh memesannya lagi.” ujar Brian ketika waitress mengantar pesanan mereka.
Riana menikmati ice cream dengan senyum yang tak lepas dari wajah cabi nya.
“Suka?” tanya Brian.
“Hmmm …” jawab Riana.
“Kenapa suka sekali dengan ice cream Vanilla?”
Riana menerawang, mencoba mengingat, tapi tak kunjung menemukan apa yang ingin ia ketahui, semua hal yang berkaitan dengan masa kecil nya, Riana dengar dari mama Nisya. “Entahlah aku tak bisa mengingat apapun tentang hal hal dari masa kecilku, mama hanya bilang, hari itu aku masuk rumah sakit, setelah jatuh dari tangga, hingga sekujur badanku memar, dan selama menjalani perawatan, yang kuinginkan hanya lah Ice cream Vanilla, aku bahkan marah ketika aku tak melihat boneka beruangku yang berwarna putih seperti ice cream vanilla.”
“Boneka yang ada di kamarmu?” tanya Brian penasaran.
Riana mengangguk, “Boneka hadiah ulang tahun dari papa.”
Deg … tiba tiba dada Brian kembali bergemuruh hebat, apa ini? kenapa semuanya tampak seperti serba kebetulan? Brian melihat anak lelaki menghadiahkan boneka beruang berwarna putih, dan Riana memiliki boneka yang sama persis dengan boneka yang Brian lihat dalam mimpinya.
__ADS_1
Brian semakin gugup, semakin banyak pertanyaan yang mengambang di kepalanya, mungkinkah semua yang paman Robin ceritakan adalah benar?, bahwa ia dan Riana memang saling mengenal ketika masih kecil? dan sedekat apa hubungan mereka? hingga ada peristiwa penculikan, bahkan semalam, paman Robin bilang Riana adalah gadis yang sejak dulu ingin ia jadikan istri.
Sebutir keringat menetes dari pelipis Brian, mungkinkah ketika masih kecil Brian sudah jatuh cinta pada Riana?
Lalu kemana perginya perasaan itu? karena ketika dewasa ia sama sekali tak mengenali Riana, bahkan Brian jatuh cinta pada wanita yang salah, dan menganggap Riana sebagai penghalang hubungannya dengan Alicia yang ternyata hanya memanfaatkan kekayaannya agar bisa hidup mewah dan nyaman.
Benang itu semakin kusut, semakin Brian coba mengingat semuanya, semakin kusut pula benang penghubungnya, kenapa ia juga seakan kehilangan memori masa kecilnya, bahkan ia tak ingat bahwa papa Roger memiliki seorang adik, yang kerap berlaku kasar padanya.
Riana mengibas ngibaskan telapak tangannya ke hadapan Brian.
“Brian …?”
“Brian … ?“
Hingga beberapa kali, barulah Brian menyadari jika dirinya sedang di panggil, “iya ada apa? kamu mau pesan lagi ice creamnya?” tanya Brian, ketika menyadari Riana memanggilnya.
“Sudah … ini mangkuk ke tiga.” jawab Riana tanpa rasa bersalah, apalagi malu karena kini memiliki selera makan yang besar untuk ukuran seoran wanita.
Brian terkekeh … “maaf, aku melamun,”
Brian membersihkan noda ice cream tersebut dengan ibu jarinya, kemudian menyesapnya tanpa rasa jijik, justru sangat menikmati, “Manis …” ujarnya.
Riana terperangah, “Iiih … jorok tau,” Seru Riana, yang segera menyambar selembar tissue untuk membersihkan sudut bibirnya, namun dicegah oleh Brian.
“Biar aku yang membersihkannya,” cegah Brian yang langsung menyesap Bibir istrinya tanpa permisi, begitu pelan dan lembut, sungguh momen menghanyutkan jika Riana tidak segera sadar situasi dan tempat dimana mereka kini berada.
Brian menghentikan aksinya, dan mengusap kembali bibir Riana yang basah dengan ibu jarinya, “Aku sudah membersihkannya dengan sempurna,” Ujara Brian senang.
PLAK !!!
Riana memukul lengan Brian, “Apa yang kamu lakukan? aku malu.” seru Riana dengan suara tertahan, bahkan pipi nya sudah semerah tomat masak.
Namun Brian menjadi semakin senang, ia memang sengaja mencium Riana di depan umum, untuk menggoda wanita tersebut, “kenapa memangnya, kita sudah menikah, tak masalah kan kalau aku menciummu? lagi pula kita berada di Singapura, kamu tak perlu khawatir, orang orang tak akan peduli dengan apa yang kita lakukan.” Brian mengakhiri penjelasannya dengan cengiran menyebalkan, dalam pandangan Riana.
“Sudah ah, ayo pergi dari sini.” Ajak Riana.
__ADS_1
Brian mengangguk menyetujui permintaan sang istri. kemudian menghampiri meja kasir dan membayar apa yang baru saja mereka nikmati.
Brian menggenggam tangan Riana ketika mereka menuju tempat mobil diparkirkan.
“Aku ingin ke suatu tempat, maukah kamu menemaniku?”
“Kemana?” tanya Riana.
“Ke suatu tempat, aku janji ini terakhir kalinya, dan setelah ini aku tak akan ingin lagi mengingat apalagi mendatanginya.”
Perasaan Riana mendadak tak enak, tapi tanpa sadar ia mengangguk.
Brian pun melajukan mobilnya, ke tempat yang ingin ia tuju.
Beberapa saat kemudian, tepat seperti dugaan Riana, Brian membawanya ke makam Alicia, kesal? marah? sudah pasti, tapi beberapa hari ini Brian sudah berusaha menunjukkan perubahan, dia manis, lembut dan perhatian, walau kadang masih suka memaksakan kehendak.
Riana ingin melihat, sejauh mana Brian menata perasaannya setelah mengetahui fakta tentang Alicia lengkap dengan sederetan daftar hitamnya.
Semakin lama Riana merasa genggaman tangan Brian semakin erat menggenggaman tangan nya, nampak sekali pria itu sedang marah, otot otot lengannya bahkan menyembul ke permukaan kulitnya yang terbuka, tapi tak ingin menunjukkan amarahnya di depan Riana, tak ingin perjuangannya beberapa hari terakhir ini sia sia.
Cukup lama Brian diam mematung di depan makam, hingga Riana jengah sendiri, “Kalau masih mau melamun dan mengenang nostalgia bersamanya, aku nunggu di mobil saja, cape.” keluh Riana kesal, karena Brian hanya diam, tak segera melakukan apa yang ingin ia lakukan.
Tapi Brian makin mengeratkan genggamannya, menarik nafas perlahan, semilir angin menerpa tubuh keduanya, “terima kasih …”
Riana terperangah tak percaya mendengar kalimat yang terucap dari mulut Brian, ingin rasanya ia menghajar pria yang kini berdiri di sisi nya.
“Alicia … ini terakhir kali aku mendatangimu, jangan berharap aku berbelas kasih lagi padamu, atau menangisi kepergianmu, aku begitu bersyukur atas datangnya hari ini, hari dimana aku tak lagi terbebani dengan kepergianmu, karena jika kamu belum meninggal, maka kupastikan kedua tanganku sendiri yang akan membunuhmu, ini kali terakhir aku mengingatmu, terima kasih karena telah menghianati ku, terima kasih karena kamu bukanlah wanita baik seperti dugaanku selama ini, selamat, karena kamu telah berhasil menghempaskan perasaan tulusku hingga ke dasar bumi, kamu pernah membuatku menghianati wanita ini, dan kini setelah semua yang kamu lakukan, membuatku tak lagi ragu untuk mencintai wanita ini, tak akan lagi ku lepaskan tangannya, aku pastikan akan merengkuh bahagia bersamanya, wanita baik yang sesungguhnya, dan beruntungnya aku karena tuhan menghadirkan nya kembali dalam hidupku.”
.
.
.
Tanda cintanya, jangan lupa gaes 🥰💃🤓
__ADS_1
Sarangeeeeeeee😘