Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 81


__ADS_3

BAB 81 


Brian melangkah gontai hendak kembali ke ruang rawatnya, pembicaraannya dengan Richard belum menemukan titik temu, Richard belum ingin memberikan restu nya, dan Brian sampai kapanpun tak akan pernah melepaskan Riana dan juga bayi dalam kandungannya, karena menurut Richard, dengan memisahkan dirinya dengan Riana akan menyelesaikan masalah pelik yang kini membelit kedua keluarga.


Dari jarak beberapa meter, Brian melihat sepasang suami istri yang sangat ia kenal, tak lain tak bukan adalah saudara sepupu Riana, yah … mungkin ia bisa meminta bantuan mereka, karena sudah bisa dipastikan keduanya adalah dokter, dan pastilah Gadisya yang akan menjadi dokter kandungan yang akan bertanggung jawab pada kehamilan Riana, yah sepertinya mencoba mendapatkan sekutu bukanlah ide buruk, apalagi jie sekutunya adalah dokter yang pastinya akan menangani kehamilan istrinya, kenapa tidak dicoba? demi kelanjutan masa depan cintanya.


Brian mendekati sepasang suami istri yang sama sama berprofesi sebagai dokter tersebut, dilihat dari wajah mereka, Kevin dan Gadisya pun tampak keheranan melihat keberadaan Brian di rumah sakit pagi ini, lengkap dengan baju pasien dan wajah dan kepala yang memar sana sini.


“Aku ingin bicara dengan kalian …” tak menunggu lama Brian langsung mengutarakan niatnya.


“Atau … mmmm lebih tepatnya meminta bantuan.” sambungnya.


“Ayo keruangan ku,” ajak Kevin, karena tak mungkin mereka berbicara di lobi yang riuh dengan banyak pasien berlalu lalang.


Dengan patuh Brian mengikuti langkah Kevin dan Gadisya menuju ruangan pribadi mereka. 


#yang kangen duo MKW, merapat yuuukkk … kita sedikit bernostalgia bersama mereka 🤓😘


.


.


.


“Maaf kak, jika sudah berkaitan dengan urusan kedua keluarga, kami tak bisa membantu,” Jawab Gadisya usai mendengar penuturan Brian tentang masalah pelik yang melibatkan kedua keluarga, “Tapi jika ingin diam diam menemui kak Riana kami dengan senang hati membantu, itu pun jika kak Riana bersedia, jika tidak, kami pun tak bisa banyak membantu.”


Perkataan Gadisya benar, Brian sangat paham akan hal itu, mereka memang keluarga, tapi terlalu dalam ikut campur, juga tak bisa dibenarkan, terlebih ini masalah para orang tua yang tak bisa sembarangan dicampuri anak anak, hal ini diperparah dengan para pelaku yang sudah tak ada lagi di dunia.


“Gak papa, jika Riana tak mau, aku akan menunggu sampai dia mau menemuiku, kapan kamu akan memeriksa kandungan Riana.”


“Aku usahakan sore ini sepulang praktek, akan mampir menemui kak Riana, karena semalam paman Richard juga sudah memintaku memantau kondisi kak Riana,”

__ADS_1


“Tolong beri aku kabar setelah kamu memeriksa kandungannya, saat ini tak ada yang ku khawatirkan selain kandungan istriku, masalah ini mungkin terlalu berat baginya, aku takut akan berpengaruh pada kondisi bayi kami.”


Gadisya mengangguk, ia tak ingin menjadi seseorang yang egois dengan ikut ikutan memusuhi Brian, ia ingin jadi pihak yang netral, tanpa ikut memusuhi keluarganya, yah setidaknya ia mampu melakukan ini sesuai kapasitasnya sebagai dokter, tidak lebih, sementara Kevin sejak tadi hanya menyimak dalam diam, entah apa yang ada di pikirannya.


Beberapa saat setelah kepergian Brian barulah kevin mulai bicara, ia tampak melirik tak suka ke arah sang istri, “Kenapa menatapku begitu?” tanya Gadisya, kala menangkap pandangan tak suka dari wajah suaminya.


“Kenapa kamu seolah olah memihak keluarga Brian, bukannya memihak keluarga kita.”


“Bukan memihak bang, lebih tepatnya bertindak sesuai porsiku sebagai seseorang yang akan bertanggung jawab pada mengawasi kehamilan kak Riana, suka atau tidak, Kak Brian tetap suami kak Riana, serta ayah dari janin dalam kandungannya, apa abang tak melihat, kak Brian begitu mengkhawatirkan kondisi istri dan anaknya, lain dengan seseorang yang dulu pergi begitu saja meninggalkan istri dan anaknya.”


Kevin menatap memelas wajah ayu sang istri, “Yah yah yah … kenapa masa lalu kita jadi di bawa bawa sih?” gerutu Kevin tak terima.


“Karena kamu menyebalkan bang, dan aku mengagumi semangat juang kak Brian, dia berani menghadapi paman Richard, walau harus babak belur demi memperjuangkan istri dan anak dalam kandungan kak Riana.” jawab Gadisya singkat, kemudian meninggalkan ruangan suaminya, untuk menemui para pasiennya.


Dan jika sudah demikian, Kevin hanya bisa melongo, masih perih hatinya jika tanpa sengaja Gadisya menyindir masa lalu mereka.


.


.


.


Rasa rindu menguasai nya, alangkah nyamannya, jika saat saat gelisah dan galau bergelung di pelukan suaminya, tapi marah masih mendominasi mengingat ia marah dengan niat Brian menikahinya, jika Brian berpikir ingin memiliki baby untuk dirinya sendiri, kenapa ia tidak boleh egois, ia pun ingin memiliki bayi nya sendiri tanpa Brian disisinya.


Usapan lembut Riana rasakan di kepala dan rambutnya, siapa lagi jika bukan sang mama pelakunya, wanita lembut yang nyaris tak pernah meninggikan suara ketika berbicara dengannya.


Nisya tersenyum lembut ketika Riana mendongak menatapnya, mama Nisya membawakan segelas juice mangga untuknya, dan lagi lagi Riana rindu Brian yang selalu memperhatikan dan memastikan ada nutrisi untuk janin mereka, “Iya mah.”


“Minum dulu, tadi kamu hanya makan sedikit, setidak nya minum juice, agar baby tak kekurangan nutrisi.” 


Riana menerima juice tersebut, kemudian menyesapnya hingga tersisa sebagian, “Makasih mah.”

__ADS_1


“Sama sama sayang,” balas mama Nisya sembari mengusap perut Riana, “apa kabar cucu oma?”


“Baik baik oma,” jawab Riana dengan suara menyerupai anak kecil, bibirnya tersenyum, tapi mama Nisya melihat ada kesedihan di sana.


“Kenapa nak, ada yang kamu pikirkan?”


Riana menatap mama Nisya, kedua matanya berembun menyimpan kesedihan, ada sesuatu di dalam sorot mata itu yang tak bisa Riana ungkapkan, “mama sayang Riana kan?”


“Sangat sayang, kenapa kamu harus bertanya begitu?”


“Kalau begitu izinkan aku mengingat nya, sepahit apapun itu,”


“Tapi mama yang takut nak, mama takut ketika kamu ingat, kamu tak akan siap, dan mama juga tidak akan sanggup melihatmu menderita.”


“Aku harus siap mah, aku seperti orang bodoh yang tak memiliki kenangan masa kecil, bahkan aku baru tahu jika ada Brian dalam ingatan yang hilang tersebut.”


Akhirnya, mama Nisya menyerah, sekian tahun Riana bertanya seperti apa masa kecilnya, dan dia hanya bisa puas dengan apa yang mama Nisya ceritakan, tapi kini Riana sudah dewasa, dia berhak mengetahui seperti apa masa lalunya


“Baiklah mama akan ambilkan untukmu,”


Mama Nisya beranjak keluar dari kamar Riana, menuju kamar utama yang ia tempati bersama sang suami, ia mengira, rahasia ini akan ia kubur dalam dalam bersama suaminya, tapi rasa penasaran Riana ternyata lebih besar dari pada yang ia duga, terlebih setelah semalam Riana mendengar sendiri permintaan maaf yang papa mertuanya sampaikan untuk papa Richard.


Kardus berukuran sedang itu Nisya sembunyikan di kamar utama, bukan di gudang atau di kamar yang lain, karena ini adalah kunci ingatan Riana, dulu salah seorang psikolog yang menangani Riana, menyarankan sebuah terapi hipnotis untuk menghapus kenangan buruk yang pernah Riana alami, karena beberapa bulan setelah kejadian Riana di temukan, ia masih tak mau didekati orang yang tidak ia kenal, kecuali orang tua, dan para dokter yang menanganinya, dan terapi itu berhasil, walau Riana jadi cenderung memiliki kepribadian yang introvert, minimal Riana mau bergaul dengan teman teman baru dan orang baru, tentunya dengan pengawasan ketat dari kedua orang tuanya serta para pengawal yang selalu ada di sekitarnya.


.


.


.


💙💙💙💙

__ADS_1


__ADS_2