Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan

Sepasang Mantan 2 One Night With Mantan
BAB 93


__ADS_3

BAB 93


Gadis kecil itu berlari lari kecil mengitari taman yang membentang luas di pekarangan rumah mewah tersebut, sesekali ia berhenti demi memperhatikan kupu kupu berterbangan di antara kelopak bunga warna warni yang tumbuh di sana, matanya yang kebiruan, kulit putih bersih dan rambut hitam legam, serta sedikit ikal membuat gadis kecil itu tampak semakin menggemaskan. 


Sejak kecil ia tumbuh di rumah besar tersebut, berlimpah kasih sayang dari orang orang disekitarnya, orang tua serta Grandpa dan grandma yang sangat menyayanginya. 


Lelah berlarian gadis itu berlari menghampiri Grandpa yang sedang mengawasinya dari kejauhan. 


"Glenpa…"


Sang grandpa menoleh dan meletakkan tabletnya di meja, tak ada yang lebih penting jika dibandingkan dengan perhatian untuk cucu satu satunya. 


"Iya Bee…" Sapa sang grandpa. 


Bee, itulah nama panggilan gadis kecil itu, Briana Cattleya Gustav Agusto adalah nama lengkapnya, gabungan dari nama kedua orang tuanya, mereka menyematkan nama tersebut, karena kehadirannya lah yang membuat Brian dan Riana kembali bersama dalam ikatan pernikahan. 


Gadis kecil itu langsung mengambil tempat di pangkuan sang grandpa, kemudian dengan antusias menghabiskan susu vanilla favorit nya.


Sang Grandpa mengambil selembar tissue untuk membersihkan sisa susu di sudut bibir cucu nya. 


"Sudah lelah mengejar kupu kupu?" 


Gadis kecil itu mengangguk, pipi nya akan mulai kemerahan jika ia selesai bermain di bawah sinar matahari. "Iya…" Gadis itu mengangguk. 


"Sekarang mau berkeliling taman kota bersama grandpa dan grandma?"


Bee menggeleng. 


"Kenapa? Bukankah biasanya kamu suka kalau grandpa membawamu ke taman kota, disana ada kembang gula, ada penjual balon warna warni, dan mini Carrousel favorit mu." 


Kesederhanaan, itulah yang sangat grandpa nya ajarkan, menjadi satu satunya pewaris keluarga konglomerat, membuat sang grandpa lebih getol memperkenalkan semua hal dengan cara sederhana namun tetap memperhatikan keamanan dan kenyamanan sang cucu, mulai dari makanan, hingga mainan pun semua di perkenalkan dari yang paling sederhana dan murah meriah, namun sungguh ajaib Briana menyukai cara sang grandpa, hingga gadis kecil itu tak merasa risih atau canggung bermain di taman kota, berbaur dengan anak anak sebayanya yang rata rata berasal dari kalangan menengah ke bawah. 


Bee mengangkat jari telunjuk nya, kemudian menggoyang gotangkannya kekiri dan kekanan, sebagai tanda penolakan, "NO glendpa, hali ini aku halus istilahat," Tolahnya dengan suara yang masih cadel, gayanya ketika menolak sesuatu dengan tegas sama persis seperti gaya Roger sang kakek, bermain bersama cucu nya membuat Richard selalu teringat pada Roger, banyak sekali kemiripan antara Roger dan Briana, namun itu tak membuat Richard iri, karena kini ia bebas bermain bersama lebah kecil kesayangannya sementara Roger sudah meninggal terlebih dahulu, setidaknya hal itu membuat Richard sedikit berbangga diri. 


"Kenapa harus istirahat, kalau kamu bisa bermain sepuasnya bersama grandpa, dan kemarin lusa kamu sudah puas menginap selama seminggu di Geraldy Kingdom, apa masih kurang juga istirahat nya."


Bantah sang grandpa tak mau kalah. 


Tak jarang sang kakek membawanya, ke Geraldy Kingdom, agar Bee bisa bermain dengan saudara saudara sepupunya, sikembar Dean Danesh dan Daniel Darren Luna, jika sudah demikian Bee akan susah untuk diajak pulang, karena di sana ia bebas bermain dan berkejaran dengan saudara sepupu yang sebaya dengannya. 


Namun gadis kecil itu tetap menggeleng, "NO glandpa, daddy bilang, jika seorang gadis ingin tumbuh sehat dan selalu cantik, salah satu diantala yang halus dilakukan adalah dia halus banyak istilahat serta makan sayur dan buah." Jawab si bibir mungil menegaskan tersebut. 

__ADS_1


Walau ia terlahir prematur, dengan berat badan hanya seribu gram, dan menginap di inkubator selama satu bulan pertama hidupnya, namun ia tumbuh dengan sehat, tanpa mengalami masalah kesehatan yang berarti, dan tetap membawa kebahagiaan bagi kedua orang tuanya, serta grandpa dan grandma nya. 


"Lagi pula, besok daddy kembali dali Singapula, dan lusanya daddy akan membawaku belibul ke Disneyland Jepang." Lagi lagi ia menjawab dengan suaranya yang lucu dan menggemaskan, membuat Richard tak ingin berhenti menggoda sang cucu. 


"Grandpa boleh ikut?"


"Boleh, asal janji glendpa tak lagi menculi pelmen pelmen ku."


"Tidak bisa, permen mu terlalu enak untuk di lewatkan."


"Kalau begitu glendpa tidak boleh ikut." Bee menjadi cemberut karena sang kakek tetap bersikeras memakan permen permen kesukaan nya, oleh oleh dari sang daddy ketika kembali dari perjalanan dinasnya di beberapa negara. 


Mendapati sang cucu yang tengah memanyunkan bibirnya, membuat Richard semakin bahagia, kini ia hanya pria tua iseng yang suka menjahili istri dan cucu nya, urusan rumah sakit sudah ia serahkan pada adik dan keponakannya, Richard sudah tak mau ambil pusing. 





"Ngemil dok…" Tawar suster Yuna, pada Riana yang baru saja menyelesaikan operasinya hari itu, ini hari terakhirnya karena 2 minggu kedepan ia akan cuti, dan menemani keluarga kecilnya berlibur. 


Riana melirik makanan yang di bawa sang perawat, belakangan ini para perawatnya sedang gandrung membicarakan makanan bernama SEBLAK. 


"Kali ini makanan apa lagi?" Jawab Riana malas. 


"Kalau saya bilang ngemil itu artinya makanan ringan dok, dokter coba deh ini enak seblaknya dok, pakai cilok, batagor kering, ceker dan tulang ayam, perpaduan bawang dan cikur nya juga mantap, pedas huh hah menggugah selera." Goda suster Yuna. 


Riana meringis mendengar suster Yuna menyebutkan satu persatu isi makanan ringan yang ia bawa, "Makin mam pus aja rayuan mu." 


"Harus dok… biar dokter juga menyerah dan mau mencoba camilan kesukaan kita kita." Sambung Wahyu, si perawat pria yang baru saja bergabung dengan Riana, dan beberapa perawat senior yang ada di bawah tanggung jawabnya. 


"Nih dok… lihat kuah nya aja udah bikin merem melek," Suster Frida mendekat membawa seporsi seblak miliknya, mendekati Riana yang masih memejamkan mata bersandar di kursi malas nya. 


Riana membuka mata nya, aroma rempah rempah itu menggelitik hidung nya, sungguh menggoda untuk di coba, ia memang belum pernah satu kalipun mencoba Makanan bernama seblak tersebut, "iya iya iya… mana sini bawa seblak ku, jangan bilang kalian tidak belikan seblak untukku."


Beberapa suster mendadak diam, saling pandang, sementara Suster Frida bernafas lega, hari ini ia sengaja melebihkan porsi seblak favorit nya, spesial untuk dokter Riana, "siap dok, sebentar yah," 


Suster Frida mengambil mangkuk baru, kemudian memindahkan satu porsi seblak untuk Riana, pedagang seblak ini, baru mangkal di depan rumah sakit bersama para pedagang yang lain, lapaknya bersih, rasa makanan nya menggoyang lidah, hingga dalam waktu sekejap saja langsung jadi buah bibir diantara para perawat William Medical Center. 


Riana mengunyah perlahan makanan rakyat, yang menurut para perawat, sangat enak dan menggugah selera. 

__ADS_1


"Gimana dok, enak kan seblak nya?" Tanya suster Yuna, dan jangan lupakan para perawat lain yang menatapnya penuh harap, sangat berharap jika mereka bisa sependapat soal seblak yang tengah viral dan menjadi buah bibir. 


"Not bad lah…" Jawab Riana yang kini menikmati suapan kedua nya. 


Seketika para perawat bertepuk tangan bangga, karena mereka berhasil merobohkan benteng pertahanan Dokter Riana, yang selama ini hanya mengkonsumsi makan sehat saja. 


"Tapi jangan sering sering yah?" Pinta Riana, ia sudah membayangkan wajah angker suaminya jika ia jajan sembarangan, "suamiku bisa marah marah jika ia melihatku makan seperti ini." 


"Siap dok… !!" Jawab para asisten nya serempak. 


"Oh iya dok, sedang di mana suami dokter, sepertinya sudah beberapa minggu ini saya tidak melihat nya menjemput anda di rumah sakit?"


Riana tersenyum, rupanya para perawat masih saja kepo dengan suami tampannya, yang jika sedang berada di jakarta, tak pernah absen menjemputnya, serta membawakan oleh oleh, sepulang dari perjalanan bisnisnya. 


"Sekarang sedang dalam perjalanan ke Jakarta, memang sudah tiga minggu ini ia mengurus pekerjaannya di Kanada." Jawab Riana. 


"Huuuu…" Sontak para perawat melakukan koor… "ada yang mau malam pertama…" Seloroh salah satu dari mereka. 


Riana melotot terkejut, rupanya para asistennya bukan hanya kepo, tapi pikiran mereka pun ikut mesum. 


"Maksudnya apa?"


"Dok… biasanya kalau habis ditinggal lama, semalam bisa berapa ronde?" 


Wahyu yang satu satunya pria bahkan tak malu melemparkan pertanyaan tersebut. 


"Aaahh… dok… aku jadi iri, gimana rasanya punya suami tampan dan kaya raya seperti tuan Brian." Fira si mahasiswi jomblo yang masih magang ikut ikutan menghayal. 


Duh jika sudah begini ingin rasanya Riana menggosok satu per satu otak para asistennya tersebut, mereka bukan hanya bertanya, tapi sudah membayangkan apa yang ia dan Brian lakukan selama di kamar, setelah LDR yang biasanya berlangsung lebih dari seminggu. 


"Tenang dok," Suster Frida yang juga sudah bersuami tampak menenangkan Riana, sebagai salah seorang yang sudah memiliki pasangan, tentu sama sama paham, terlalu memalukan jika urusan kamar menjadi bahan pembicaraan. "Saya paham, harap maklum, mereka semua masih jomblo, cukup yang sudah menikah saja yang merasakan nikmatnya."


Riana tersenyum mendengar ucapan Suster Frida, kemudian mengangkat telapak tangannya untuk melakukan tos. 


"Setuju…"




__ADS_1


💖💖💖


__ADS_2