
BAB 67
"Entahlah, tiba tiba aku merasa tak nyaman berada di sini." Jawab Riana, seraya mengedarkan pandangan dari dalam mobil.
"Mungkin hanya perasaanmu saja, ada aku di sini bersamamu, tenang saja yah." Brian berusaha menenangkan Riana yang sikapnya mulai terlihat aneh.
Riana menatap wajah Brian sesaat, kemudian mengangguk pelan.
Brian turun terlebih dahulu, kemudian berjalan ke sisi lain mobilnya guna membukakan pintu untuk Riana.
Dengan senang hati wanita itu menyambut uluran tangan Brian, karena memang ia membutuhkan pegangan untuk menenangkan perasaannya, tapi justru tangannya mulai keluar keringat dingin.
Brian membawa Riana ke pelukannya, kemudian mereka berjalan bersama menuju pintu utama.
Seorang pria kira kira sebaya dengan paman Robin menyambut kedatangan mereka, pria itu tersenyum ramah dan bersahaja, rambutnya mulai memutih menyesuaikan usainya.
“Selamat datang tuan dan nyonya, silahkan makan siang sudah siap,”
“Kenalkan, ini paman Liam, pengurus rumah ini.” Brian mengenalkan paman Liam pada Riana.
“Selamat untuk pernikahan anda berdua, kenalkan saya Liam.” paman Liam berbasa basi menyapa kedua pengantin baru dihadapannya sekaligus memperkenalkan dirinya pada Riana.
“Terima kasih paman,” jawab Riana yang masih setia memeluk lengan Brian, karena sungguh ia merasa tak nyaman berada di rumah ini.
Brian membawa Riana mengikuti langkah paman Liam menuju meja makan, banar saja, diatas meja sudah tersedia banyak makanan yang menggugah selera, dan jika bukan karena bayinya, Riana mungkin tak akan bisa menelan apapun.
Brian yang melihat ekspresi tak nyaman dari wajah istrinya, hanya bisa membujuk sebisanya agar Riana mau makan, karena bayinya butuh nutrisi yang cukup, termasuk ketika Brian terpaksa menyuapi Riana yang enggan menghabiskan makanan di piringnya.
“Aku sudah kenyang,” tolak Riana ketika Brian memberikan suapan yang entah ke berapa.
“Sedikit lagi sayang …” bujuk Brian, tak ada amarah sama sekali, apalagi nada tak sabar.
Tapi Riana lagi lagi menggeleng, “please, aku gak mau makanan yang baru saja masuk malah berakhir di wastafel,”
Brian mengangguk, kemudian berlanjut menghabiskan makanannya sendiri.
Selesai makan siang, Brian membawa Riana berkeliling, tempat peristirahatan ini berada di pedesaan, udara terasa bersih dan segar menyapa indera penciuman mereka, pepohonan di pangkas dan di tata rapi menyesuaikan bentuk halaman.
“Kapan kamu tarakhir kali mengunjungi tempat ini?”
“Selepas kita bercerai,” jawab Brian singkat, tak ingin mengatakan bahwa saat itu ia dan Alicia mendatangi tempat peristirahatan ini untuk berlibur, sebelum mereka menikah, karena khawatir mood Riana kembali memburuk. “Masih merasa tak nyaman?” tanya Brian, Pria itu berjalan sambil memeluk pinggang Riana, berharap agar Riana merasa nyaman berada di rumah ini.
“Iya … berjanjilah kita tak akan lama berada di sini.” pinta Riana.
__ADS_1
“Baiklah, aku janji, besok kita kembali ke kota, tapi sekarang aku benar benar ingin menyepi bersamamu.”
Riana mengangguk, kemudian merapatkan tubuhnya ke pelukan Brian mencari kenyamanan.
Mereka kembali berjalan hingga melihat paman Liam dan beberapa pekerja sedang memperbaiki kincir angin.
kriiit
kriiit
kriiit
Bunyi kincir angin tersebut ketika berputar, Riana semakin gelisah manakala mendengar suara tersebut.
“Kincir anginnya rusak paman?” tanya Brian yang berjalan mendekati lokasi kincir angin.
“Tidak tuan, hanya perawatan rutin saja, kincir angin ini adalah bagian penting dari rumah ini, rasanya aneh jika kincir angin ini berhenti berputar.” jawab Paman Liam.
“Memang nya kenapa jika kincir angin ini rusak?” Riana iseng menimpali.
“Mendiang kakek buyut anda, sangat suka kincir angin, jadi beliau sengaja memesan Kincir angin ini langsung dari negeri kincir angin, dan di pasang tak lama usai pembangunan rumah ini.”
“Dengan kata lain, kincir angin ini seperti bagian tak terpisahkan dari rumah ini,” imbuh Brian.
.
.
.
Brian keheranan mendapati Riana yang berjaga di depan pintu kamar mandi, seringai jahil seketika menghiasi bibirnya, “Kenapa berdiri di sini, bukannya tidur duluan?” tanya Brian.
“Eh … itu … aku … menunggu mu,” jawab Riana kikuk, karena ia juga merasa aneh dengan dirinya sendiri, kenapa sampai menunggu Brian di depan pintu kamar mandi.
“Kalau tahu begini, kenapa tadi kita tidak mandi bersama saja?” seringai Brian semakin lebar, sementara Riana melotot semakin tajam.
“Gak usah mikir yang aneh aneh deh, aku hanya merasa tak nyaman, apa kamu lupa?” elak Riana.
“Ya … ya … ya … maaf nyonya Gustav Agusto.” jawab Brian mengalah, tak ingin perdebatan semakin panjang karena ulah jahilnya, ia hanya khawatir dengan Riana yang sejak siang tadi gelisah. “Ayo kita istirahat.”
Brian membawa Riana ke tempat tidur, dengan patuh Riana duduk menunggu di tepi tempat tidur, kemudian Brian mengganti handuknya dengan baju rumahan yang nyaman.
Riana merayap ke tempat tidur usai Brian berganti baju, menarik selimut hingga ke dada, demi menghindari tatapan Brian pada tubuhnya, Brian benar benar mewujudkan niatnya honey moon, termasuk meminta para pelayan menyiapkan baju tidur sexy untuknya.
__ADS_1
“Kenapa ditutup, kan aku mau lihat?” tanya Brian terus terang, dengan tatapan menggoda.
Riana melihat nya, ia tahu Brian mulai menginginkannya, wajar bahkan ini sudah sangat lama untuk ukuran seorang Brian, “No … kamu bilang mau bersabar, aku akan memberikannya dengan suka rela ketika hatiku sudah benar benar yakin.” jawab Riana dengan teganya.
Brian tertawa seraya menyembunyikan wajahnya di atas bantal, "kirain udah lupa." Ujarnya sendu, tak menyangka akan sesulit ini membuat mantan istrinya jatuh cinta pada dirinya. Padahal seluruh tubuhnya sudah meronta mendambakan belaian tangan wanitanya.
Brian merapatkan tubuhnya yang kini sudah nyaman berada di dalam selimut yang sama dengan Riana, "tapi peluk boleh kan?" Tanya Brian serius, dan hatinya seakan melompat lompat bahagia kala Riana mengangguk dalam mode malu malu menggemaskan.
"Kalau aku melukis bintang di 'sini' boleh?" Tanya Brian semakin ngelunjak, tapi sedetik kemudian ia kembali tertawa, tak peduli dengan Riana yang tengah mendelik mengajukan protes tanpa suara.
"Jangan ngelunjak … aku ingin kamu menepati janjimu, aku bersungguh sungguh, jadi lakukan yang terbaik, untuk menunjukkan keseriusan mu." Riana kembali mengingatkan.
"Baiklah, untung sudah terlanjur cinta." Jawab Brian lesu, tapi tetap senang karena Riana memeluk tubuhnya erat, seakan tak ingin mereka saling berjauhan.
Sementara Riana diam diam tersenyum, melihat ekspresi cemberut dari wajah Brian, meski begitu Brian tetap menuruti perkataannya.
'Oh hati, tubuh, dan pikiranku, kuharap kalian masih bisa bersabar menantikan saat itu tiba', akhirnya hanya kalimat itulah yang lagi lagi menjadi mantra penghibur bagi Brian.
.
.
.
Malam sudah larut ketika Riana merasakan tenggorokannya benar benar kering, tapi ia tak ingin membangunkan suaminya karena sepertinya Brian benar benar kelelahan.
Cahaya remang remang menerangi seluruh ruangan peristirahatan tersebut, Riana menuju pantry guna mengambil apa yang ia inginkan, termasuk meminum segelas air putih terlebih dahulu, kemudian mengambil kaleng sari buah, dan ekstra air putih untuk ia bawa kembali ke kamar dan melanjutkan istirahat.
Namun ketika ia hendak berbalik meninggalkan pantry, sayup sayup Riana melihat bayangan sepasang anak laki laki dan perempuan sedang duduk di sudut ruangan.
Sesaat Riana terdiam, “wah … Apa ini?”
Wajah kedua anak itu gelap karena terhalang cahaya, namun Riana melihat dengan jelas kedua tangan mereka saling menggenggam, memberi kekuatan satu sama lain, padahal wajah masing masing dalam kondisi yang sama sama tak baik baik saja.
Riana terduduk dilantai, begitu pilu melihat kedua anak tersebut, kenapa mereka tak bersama orang tua mereka, bukankah anak anak seharusnya didampingi ayah dan ibu mereka?
Riana merasakan sepasang lengan kokoh tiba tiba menggengam pundaknya, Brian dengan wajah cemas tengah memandangi wajahnya, yang menampakkan raut kesedihan.
“Ri … kenapa tak membangunkan aku? ayo kita kembali kekamar.” ujar Brian seraya membantu Riana berdiri, namun Riana seperti enggan beranjak.
“Kenapa?” Brian kembali bertanya dengan sabar, namun tanpa ia sangka air mata Riana menetes begitu saja, bahkan hidung Riana nampak kemerahan seperti sudah sejak lama menahan tangis. ”kamu baik baik saja?”
“Iya, aku baik baik saja,” jawab Riana serupa orang ling lung, namun hal itu tak berlangsung lama.
__ADS_1
“tapi apa kamu tidak lihat kedua anak itu?” pekik Riana, jari tangannya menunjuk ke salah satu sudut ruangan pantry, namun Brian tak melihat apapun ke arah yang di tunjuk Riana.
Brian bergegas menggendong Riana ala bridal style, kembali kekamar mereka, tak peduli Riana yang terus menangis memintanya menolong kedua anak tersebut.