
BAB 79
Riana duduk mematung bersandar pada headboard tempat tidur nya, pikirannya menerawang entah kemana, seharusnya ia sudah memejamkan mata, tapi ia sama sekali tak bisa tidur, padahal tubuhnya butuh istirahat agar kondisi janinnya tetap sehat di tengah semua kemelut peristiwa yang datang bersamaan, seolah sudah membuat kesepakatan sejak awal.
Sejenak ia menyingkirkan rasa sakit akibat kebohongan Brian, walau sakit Brian tetaplah daddy dari baby, syukurlah ia mengetahui rencana ini sejak awal, jika tidak ia akan tetap diam menjadi wanita bodoh di sisi Brian.
Tapi dikhianati seperti ini terlalu sakit, ternyata kebencian Brian terhadap dirinya sedemikian besar, hingga ia tega berencana memisahkan baby dari nya, Riana mengusap perlahan perlahan, kata kata manisnya palsu, perhatiannya palsu, bahkan Cinta nya sudah pasti palsu, ‘baby … daddy begitu jahat pada kita, mulai hari ini, kita hanya akan hidup berdua, tanpa daddy, doakan mommy kuat yah, mommy akan melakukan yang terbaik untukmu.’ bisik Riana lirih pada janin di dalam perutnya, bahkan air matanya meleleh begitu saja, tanpa bisa ia tahan.
Tapi diantara sakit hati yang kini tengah ia rasakan, terselip rasa khawatir pada Brian yang tengah terbaring sakit seorang diri, tanpa orang tua, atau istri yang menemani, Riana sungguh membenci sisi dirinya yang lemah tersebut, bisa bisa nya ia terpedaya, bahkan ini merasa iba pada pria yang tega membohonginya.
Jam tiga dini hari, Riana nekat menghubungi Fabian, tak peduli jika asisten suaminya tersebut mungkin sedang lelap dalam tidurnya.
“Jawab pertanyaanku dengan jujur.” perintah Riana pada Fabian.
Fabian menjauhkan ponsel dari telinganya, sekali lagi ia menatap layar ponsel, memastikan kebenaran bahwa yang sedang menghubunginya adalah istri dari atasannya, ah … benar rupanya, bahwa ia tidak sedang bermimpi.
Fabian beranjak dari sofa yang sudah beralih fungsi menjadi tempat tidur nya malam ini. “tanyalah nyonya, apapun akan saya jawab dengan jujur.”
“Apakah salah satu alasan Brian menikahi ku adalah karena Gustav.Inc?” tebak Riana random, tapi sejujurnya tak masalah jika penyebabnya hanya itu, toh Brian yang tetap akan memimpin Gustav.Inc untuk anak mereka, karena Riana tak pernah tertarik dengan perusahaan.
Fabian terdiam, mungkinkah kini tiba saatnya, jika itu benar, Brian sedang dalam masalah besar.
“Kenapa diam, kamu bilang akan menjawab pertanyaanku?”
“Benar nyonya, tapi …”
Riana memejamkan matanya, “Lalu, apa karena itu juga Brian memaksaku kembali menikah dengannya? agar Brian bisa membawa pergi keturunan terakhir keluarga Gustav Agusto?” lanjut Riana tanpa memberi kesempatan pada Fabian untuk melanjutkan kalimatnya.
Fabian tak bisa mengelak, jika hal itu benar adanya, “Itu juga benar nyonya, tapi izinkan saya menjelaskan yang sebenarnya.”
“Untuk apa? penjelasanmu hanya akan membuatku sakit, sudah cukup Brian berbohong padaku selama ini, tak perlu kamu menjelaskan, atau mungkin jika aku memberimu kesempatan untuk menjelaskan, kamu akan menutupi kenyataan yang sesungguhnya,” Riana mengusap kasar air matanya.
__ADS_1
“Tanyakan padanya, apakah begitu besar kebenciannya padaku? Hingga ia bisa setega ini padaku, dan anak nya? dan katakan padanya, aku memberinya selamat, karena ia sudah berhasil menjadi aktor yang hebat,
hingga berhasil membuatku jatuh sedalam ini, berhasil membuatku jatuh cinta pada nya, sayangnya cukup sampai disini saja, karena aku tak akan lagi menjadi boneka yang bisa di bodohi, Ambil saja Gustav.Inc, aku dan keluargaku tidak butuh, pengacaraku akan segera mengirimkan surat gugatan cerai.”
“Tapi …”
“Katakan padanya semua perkataanku, selamat tinggal.”
Riana mengakhiri panggilannya begitu saja, kepalanya menggeleng seiring dengan air matanya yang mengalir dengan deras membasahi pipi nya, kala ia mengingat semua hal hal manis yang Brian ucapkan.
“Aku ingin membuktikan kesungguhanku.”
“Aku akan merindukan kalian.”
“Aku mencintai kalian, kamu dan baby, dan aku ingin membahagiakan kalian dengan usaha dan kerja kerasku sendiri, bukan dengan campur tangan papaku.”
“Aku adalah pria beruntung, karena memilikimu wanita sepertimu sebagai istriku.”
“Aku kira, kamu sudah berubah, aku kira semua perhatianmu adalah wujud dari kata kata cinta yang ingin kamu buktikan, tapi ternyata …” Riana tak mampu melanjutkan kalimatnya, “Seandainya rencanamu hanya karena ingin mendapatkan kembali Gustav.Inc, mungkin aku bisa memaafkanmu, tapi … kamu bermaksud memisahkan aku dengan baby, itu yang tak bisa aku terima, mungkinkah pada awalnya kamu menganggap baby hanyalah bayi pengganti dari bayi Alicia yang telah meninggal? ternyata memang sebesar itulah cintamu padanya,”
“Ternyata kamu memang benar benar jahat, kamu tak pantas menerima air mata ku.”
.
.
.
Sementara itu, usai Fabian menjawab panggilan Riana, ia kembali kedalam ruang rawat Brian dengan perasaan yang entah seperti apa, tak bisa ia gambarkan, Brian benar benar sedang dalam kemalangan berlipat lipat, sudah jatuh tertimpa tangga pula, sudahlah ia babak belur di hajar oleh anak buah Richard, kini istrinya berniat mengirimkan surat gugatan perceraian, ‘apakah mereka benar benar kan kembali bercerai?’ gumam Fabian.
Setibanya ia dalam ruangan, Fabian sungguh terkejut, karena Brian sudah sadar dari pingsannya, dan kini tengah menanti kedatangannya.
__ADS_1
“Tuan, anda sudah sadar?”
Brian hanya memberi isyarat kedipan mata, “Apa kamu sudah mengetahui keberadaan istriku?” yah hanya Riana yang kini ada di pikiran Brian.
“Apa tuan tak ingat, tadi nyonya yang mengantar anda ke rumah sakit ini.” Jawab Fabian, yang membuat Brian terkejut, dan mulai mencari cari keberadaan wanita yang sangat ia rindukan saat ini.
“Lalu di mana dia?” tanya Brian panik.
“Nyonya ingin menemani anda di sini, tapi Tuan Richard memaksa nyonya pulang, bahkan menariknya dengan paksa.”
“Kenapa?
Fabian terdiam, rasa hati tak tega menyampaikan berita tersebut. “Sepertinya tuan Richard mengetahui rencana awal ada menikahi nyonya Riana.”
Lantas Fabian menceritakan semua yang ia bicarakan dengan Riana beberapa saat yang lalu, fabian bahkan merekam panggilan tersebut, agar bisa menyampaikannya langsung pada Brian
Brian memejamkan kedua matanya, tanpa sadar ia menangis kala mendengar kepahitan dalam nada suara istrinya, dadanya nyeri serasa tertusuk ribuan jarum tumpul, membayangkan rasa sakit yang dirasakan Riana, perjuangannya meraih cinta sang istri kini berada di ujung tanduk, padahal kata cinta yang ia tunggu sudah terucap dengan merdu, dari bibir gadis kecil kesayangannya, sang cinta pertama yang baru saja ia ingat kembali, tapi apa boleh buat, saat saat yang sudah Brian anggap terkubur begitu saja, nyatanya kini kembali ke permukaan, sejujurnya Brian sudah mengubur semuanya, bersamaan dengan niat jahatnya, seperti tersangka yang mengubur barang bukti kejahatannya, tapi ketika kini semuanya terbongkar, Brian tak boleh lari, justru perjuangannya baru saja dimulai, ia harus mempersiapkan diri, Bersiap memperjuangkan cintanya, terlebih kini ada bayi yang akan selalu menjadi penghubung antara dirinya dan juga Riana.
Brian bangkit dari brankar nyamannya, Fabian terkejut melihat reaksi atasannya, yang hampir mencabut jarum infus yang menancap di permukaan kulit tangannya, “Tuan anda mau apa?” cegah Fabian.
“Aku tidak bisa tinggal diam Fabian, aku harus memberikan penjelasan pada istriku, bahwa aku tak ingin lagi kehilangan dia dan bayi kami,” Jawab Brian.
“Sabar tuan, anda tidak bisa memutuskan semuanya dengan gegabah, karena saya yakin tuan Richard tak akan membiarkan anda dengan mudah menemui nyonya.”
Brian menghentikan gerakannya, apa yang dikatakan Fabian benar adanya, ia seperti akan pergi berperang tanpa amunisi yang cukup.
“Sekarang pun anda sedang berada di lingkungan tuan Richard, anda bisa menemui tuan Richard langsung di ruangannya, lebih mudah daripada anda harus mendatangi kediaman beliau.”
“Iya kamu benar, tapi aku ingin bertemu istriku, aku merindu …” ucap Brian sendu penuh harap, tanpa tahu bahwa Richard sudah memegang kartu penting yang mungkin akan membuatnya benar benar berpisah dari Riana.
“Bersabarlah tuan, akan ada saatnya, anda bisa mendekati nyonya kembali, tapi sebelum itu, anda harus berhasil menaklukkan tuan Richard, papa mertua anda adalah seorang yang sangat protektif pada keluarganya.”
__ADS_1